Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 72


__ADS_3

Di tempat lain, seorang gadis berkerudung pink nampak maju mundur di balik pintu depan, sambil sesekali mengintip dari jendela yang tertutup gorden. Gadis dengan balutan piyama dress warna putih yang memiliki aksen bunga warna pink. Serta bagian tangan berbentuk terompet itu bergeming menggigit ujung ibu jarinya.


Baru beberapa saat yang lalu, Harun mengatakan bahwa ia akan datang sendirian dengan tujuan baik. Ahad besok. Yang jika di hitung-hitung sekitar empat hari dari sekarang guna meminangnya langsung.


Sontak saja, hal itu membuat Qonni langsung menjatuhkan gawainya di atas bantal yang ada di pangkuan. Buru-buru turun dari ranjang tanpa membalas pesan terakhir tadi, kemudian menyambar kerudung dan langsung memakainya.


Harun benar-benar ingin kepastian. Berhubung dia punya pengalaman dengan Zahra, yang meminangnya hanya lewat perantara dari Faqih saja. Jadilah keluarga gadis itu menganggap dirinya tak serius. Bahkan, dengan terang-terangan. Zahra langsung menolaknya.


Maka dari itu, kali ini dia ingin benar-benar menyambangi orang tua Qonni. Perkara nantinya akan di terima atau tidak biar menjadi urusan belakangan. Setidaknya dengan datang secara langsung ia jadi bisa menujukkan keseriusannya itu.


"Nduk!" Suara wanita paruh baya mengagetkannya dari belakang. Gadis itu menoleh. Dilihatnya Aida yang hendak keluar dengan membawa gelas besar berisi teh hangat menatapnya bingung, "ngapain di depan pintu mondar-mandir?"


"Emmm, mau liat Ayah," jawabnya salah tingkah sambil nyengir.


Aida semakin merasa aneh kepada anak bungsunya itu. "Jangan aneh-aneh, Kamu."


"Apanya yang aneh?"


"Kamu kalau salah tingkah gini biasanya mau minta sesuatu ke Ayah."


"Enggak, kok," sanggahnya sambil menggelengkan kepala.


"Lah, terus ngapain kaya gini? Mondar-mandir kaya setrikaan?"


"Orang Qonni cuma pengen ngobrol sama Ayah. Karena ada sesuatu yang mau di omongin." Gadis itu menunduk. Suaranya semakin mengecil sementara tangannya sibuk memilin ujung hijab di bagian depan.


"Mau ngomongin apa?"


"Ada lah... tapi Qonni bingung mau mulai dari mana ngomongnya. Ini masalah–" belum selesai melanjutkan kata-kata. Sorot mata Qonni sudah bergeser ke arah pintu. Tempat Ulum berdiri sambil menyilakan kedua tangannya di depan dada.


"Mau ngomongin apa?" Sambung Ulum ketika keduanya sudah menyadari kehadiran Beliau.


"Emmmm, itu..." Qonni menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Ayah langsung berinisiatif mengajak mereka duduk di kursi ruang tamu, setelah sebelumnya menutup pintu lebih dulu.


Di hadapan Ayah dan ibunya. Gadis itu kembali membisu. Seolah lisannya menjadi kaku, ketika ingin berkata perihal Kak Harun. Wanita yang tinggi hanya sekitar seratus lima puluh tujuh centimeter itu tertunduk sambil mengusap-usap bagian pahanya sendiri.


"Nduk!" Panggil Aida. Yang membuat Qonni kemudian menaikkan biji matanya. "Ngomong aja, apa yang mau kamu sampaikan?"


Gadis itu menghela nafas, melirik kearah ibu dan ayahnya kemudian. "Ayah, ibu. Maaf... Qonni belum bisa membalas budi semua kebaikan Ayah dan Ibu. Qonni bahkan masih merepotkan Ibu sama Ayah."


Mendadak gadis itu menjadi melow. Hingga Aida langsung menoleh kearah suaminya merasa bingung. Dan kembali berpindah pada gadis berwajah oval itu.

__ADS_1


"Kamu itu ngomong apa, sih? Kok jadi ngelantur begini."


"Ada laki-laki yang sudah sejak beberapa minggu belakangan ini mengganggu pikiranku. Dia bilang hendak mendatangi Ayah dan ibu untuk menyampaikan keseriusannya. Tapi, Qonni 'kan belum lulus. Iya 'kan, Yah?" Qonni memancing respon Sang Ayah. Ia ingin tahu, sikap apa yang akan ia terima dari pria paling ia hormati di dunia ini.


Melihat sang ayah dan ibunya membisu. Gadis itu langsung menggeleng.


"Aku tahu, aku nggak buru-buru, kok. Aku hanya menyampaikan amanah seseorang. lagian aku juga harus menyelesaikan study dulu. Habis itu menjalankan masa baktiku pada pendidikan. Dan?"


"Kamu kenal Dia?" Potong Ulum. Yang membuat Qonni pelan-pelan mengangguk. "Udah lama?" Sambungnya.


"Sebenarnya, dulu Dia senior Qonni di Kampus. Tapi cuma ketemu sebentar. Hanya satu semester itupun jarang, jika ada acara organisasi mahasiswa aja. Setelahnya dia lulus dan sempat kuliah di mesir juga, ambil S2. Kemudian ketemu lagi belum lama ini di tempat PKL. SMP Al-Azhar kelapa Gading..." Gadis itu menjawab amat lirih.


"Namanya siapa, Nduk?" tanya Aida. "Apa laki-laki yang waktu itu kesini pake motor gede warna merah?"


Qonni menggeleng, "bukan Dia, Bu. Ini orang lain, yang belum pernah sama sekali kesini. Namanya Harun Azmi–" semakin lirih suara itu tatkala menyebutkan nama laki-laki itu. Karena hanya dengan menyebut nama lengkapnya saja sudah membuat Qonni berdebar.


"Kapan dia akan datang?" Tanya Ayah.


"Ahad besok."


"Ahad?" Ulum bergumam, seolah tengah memikirkan sesuatu. "Sama siapa?"


"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Ulum, yang kontan membuat Qonni terhenyak. "Kamu mau sama dia?"


"Qonni ikut Ayah aja."


"Kok, ikut Ayah?"


"Qonni hanya merasa masih kecil. Jadi, semua keputusan ada pada Ayah. Soalnya, Aku sadar. Aku masih menumpang hidup sama Ayah dan Ibu."


Ayah tersenyum tipis. "Kalau ayah udah jelas. Ayah masih belum bisa melepas kamu untuk menikah sekarang."


"Gi–gitu, ya, Yah?" Terlihat raut kekecewaan di wajah Qonni. Sejatinya ia mengharapkan bisa bersanding dengan Harun walau menurutnya benar juga, usianya masih terbilang dini untuk menikah. Namun, kalau akhirnya Kak Harun menyerah dan mencari wanita lain yang mau di ajaknya menikah segera, bagaimana? Aaaah.... Qonni langsung beristigfar. Saat pikiran tak pantasnya itu melintas.


sekarang ia hanya bisa pasrah. Apalah daya, kalau Ayah belum ridho anaknya menikah, masa iya dia harus memaksa untuk di nikahkan.


Belum lagi, dunia pernikahan itu sangat abu-abu. Tak terlihat jelas kedepannya. Akankah ia akan bahagia, atau mungkin sebaliknya. Maka dari itu. Pentingnya patuh dengan orang tua, agar terhindar dari hal buruk yang di sebabkan egonya ssndiri. Yang penting ia sudah mendengar jawaban Ayahnya, dan akan langsung ia sampaikan pada Kak Harun sebelum datang ke sini.


"Kalau hanya lamaran lantas menikahnya nunggu lulus, InshaAllah Ayah mengizinkan," sambungnya. Yang langsung membuat Qonni mengangkat kepalanya. "Suruh saja dia datang menemui, Ayah. Asal, kamu tetap di dalam. Nggak turut menemuinya selama kami berbincang. Terlebih dia 'kan datang sama temannya."


Wajahnya lantas berseri. Gadis itu pun mengangguk setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Setelah Qonni kembali ke dalam kamarnya. Aida langsung menoleh.


"Mas?"


"Apa?" Ulum meraih gelas cantel berukuran sedang berisi teh yang sudah mulai berkurang tingkat kepanasannya.


"Mas yakin mau melepas Qonni? Dia kan belum dewasa? Dia masih kekanak-kanakan buat nikah."


Ulum belum menjawab, ia masih menikmati teh miliknya.


"Ibu khawatir dia belum mampu membina rumah tangga dengan benar. Karena menikah butuh kedewasaan," sambung Aida.


"Anakmu itu sepertinya udah ada rasa duluan kepemudaan itu. Liat aja, gerak-geriknya..."


"Tuh, 'kan? aku masih trauma sama masalah Safa dulu. Agak gimana gitu. Apalagi ini cuma bawa temen. Kalau batal lagi dan anak itu jadi seperti Safa gimana? Qonni imannya nggak setinggi kakaknya, Yah!"


"Kenapa jadi menyamakan dengan Safa, sih. Yang dulu itu lain sama yang sekarang situasinya."


Aida menghela nafas panjang. percuma juga berbicara dengan suaminya.


"Bismillah, Bu. Niat menikahkan anak karena Allah... Itupun kalau jodoh. Selepasnya ya terserah mereka yang menjalankan. Karena terkadang, menikah bisa mendewasakan seseorang. intinya nanti, kita lihat dulu pribadi pemuda itu seperti apa? Setelah itu baru kita tanyakan lagi pada putri kita. Udah yakin, atau belum?" jelas Ulum yang lumayan mampu menenangkan Aida.


......................


Baru saja mendapatkan jawaban dari Ayahnya. Qonni lantas terdiam memandangi gawainya yang masih berada dalam kolom chat pribadi antara dirinya dan Harun.


Sementara di posisi Harun. Pria itu masih menunggu, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan lengan menutup bagian mata yang terpejam.


Triiiiiiiing... denting pesan chat membuat pria itu membuka tangannya sebelum menoleh kearah nakas. Pelan-pelan tangannya meranggai gawainya. Lalu membaca sebuah pesan dari Ayudia.


[Ayah bilang, silahkan datang saja.]


Sebuah jawaban yang sukses membuat senyum Harun mengembang.


"Alhamdulillah–" gumamnya. Sambil membalas Qonni dengan stiker bergambar yang terdapat tulisan hamdalah.


Ia pun keluar dari kolom chat pribadinya. Kemudian beralih pada nomor seorang teman.


[Assalamualaikum– Yas! Alhamdulillah, ada titik terang. Ahad besok temani saya ke rumah Ukhti yang ingin ku khitbah itu, ya.]


Harun kembali meletakkan gawainya di atas meja. Tak menunggu lagi balasan, ia bergegas menyambar bantal guling di sisinya. Kemudian memeluk erat. Tidur dalam posisi miring kanan.

__ADS_1


__ADS_2