
Pukul tiga sore mereka baru tiba di rumah Ilyas. Dan Harun pula tangah duduk di teras rumah pria berkacamata itu. Setelah sebelumnya diminta mampir sambil menunggu waktu Ashar.
"Di minum, Run." Ilyas meletakkan dua gelas kosong, dan satu botol berukuran 2 liter berisi air mineral. Dimana botol berisi air itu nampak mengembun karena baru di keluarkan dari lemari pendingin. Sesuai apa yang di minta Harun setelah menolak kopi yang rencananya akan di buatkan oleh sahabatnya itu.
"Oh... makasih." Tangan Harun nampak sibuk mengetik sesuatu menggunakan gawai pintarnya. Diselingi senyum, ia pun meletakkan lagi kedalam tas. "MashaAllah... Anna minum, ya?"
"Iya..." Ilyas menyahut sebelum laki-laki di kursi lain mengambil gelas yang sudah di tuangi air oleh Ilyas.
"Alhamdulillah, seger banget air di rumah Antum."
"Seger lah, apalagi hati sedang berbunga-bunga." Ilyas menanggapi dengan candaan. Walau hatinya sedang patah ia tetap bisa menutupi semuanya dengan candaan khas dia.
"Antum, nih..." Harun terkekeh sambil mengusap-usap dadanya yang bidang itu. "Jantung Anna tadi berdebar-debar sekali."
"Oh, ya?"
"Iya. Sekarang udah lega. Bahkan bisa ketawa lagi. Alhamdulillah, semuanya lancar."
Ilyas menanggapi dengan senyum lebarnya. Kedua mata yang tak terlalu lebar itu semakin menyipit.
Jelas Antum bahagia. Andai aku di posisimu, pasti akan merasakan hal yang sama. Atau mungkin, lebih. –Pria berkacamata itu tak meredupkan sedikitpun senyumnya.
Ya, semenjak lamaran Harun yang mendapatkan respon baik dari orang tua Qonni. Harun jadi lebih sering tersenyum. Ia bahkan banyak berbicara saat perjalanan pulang tadi, tak seperti saat berangkat. Adapun Ilyas menghormati itu.
"Emmm, Antum sendiri gimana? Anna siap nih nganterin Antum juga."
Ilyas bergeming. Di genggamnya gelas berisi air yang sudah tandas lebih dari separuh isinya itu.
"Kok malah jadi diem?"
Senyum tipis Ilyas mengulas. Kembali ia meminum sisa air di dalam gelasnya.
"Ayo datengin langsung aja kaya Anna. Insha Allah, Yas. Pasti di terima. Antum ini ganteng, pekerja keras. Soal keimanan, inshaAllah... begini." Harun menimpali dengan ibu jari yang di arahkan kepadanya. "Top...!"
"MashaAllah– takut ujub jadinya kalau di puji gini... hahaha." Ilyas tertawa.
__ADS_1
"Jangan lah!" Harun turut tertawa. "Jadi gimana?" Sambungnya kembali pada topik awal.
Pria berkacamata itu menekan frame di bagian tengah sambil menuang air kedalam gelas miliknya dan juga milik Harun.
"Insha Allah, Anna ikut aturan Allah aja. Yang kemungkinan, sudah tidak ada harapan lagi untuk dapetin, Dia," jawabnya sambil meletakkan botol.
"Maksudnya?" Harun mengerutkan kening.
"Anna nggak mau maju dengan cara memaksa. Soalnya, Ukhti yang saya kagumi sudah memiliki pria pilihannya."
"Jadi, Dia sudah menikah?" Tanya Harun yang semakin penasaran. Adapun rasa penasaran itu langsung di jawab dengan gelengan kepala. "Terus?"
"Ada lah...," elak Ilyas sambil tertawa menutup pembahasan yang menurutnya cukup membuat hatinya kembali sedih. Tak lama adzan Ashar berkumandang. Mereka mengucap hamdalah hampir bersamaan kemudian bersiap untuk bertandang ke masjid yang paling dekat dari rumah Ilyas.
🌲🌲🌲
Keluarga yang hanya berisi tiga orang dalam kartu keluarga itu sedang menyantap hidangan makan malam. Selesai menyantap nasi yang di siram sayur daun singkong plus lauk ikan kembung balado. Qonni gegas membantu ibunya membersihkan meja makan.
"Nak, nanti ayah mau bicara, ya." Ulum bersuara, di barengi gerakan bangkit yang membuat kursi makan yang ia duduki berderit.
"Kamu keluar aja, ini biar ibu yang beresin."
Qonni mengangguk. Ia pun mencuci tangannya yang kotor terkena kuah sayur. Lantas melenggang keluar.
Di ruang tamu sederhana, Ulum sudah duduk sambil mengipasi diri dengan koran. Hawa panas kota Bekasi benar-benar amat terasa, walau langit di luar sudah gelap. Bahkan, kipas kecil yang terpasang di langit-langit atap pun seolah tak terasa baginya.
Qonni langsung duduk di sisi lain dari kursi sudut tersebut. Tak terlalu jauh dari Ayahnya.
"Ayah mau ngomongin apa?" tanyanya, setelah mendaratkan bokong ke permukaan kursi.
Ulum menghela nafas, sambil tersenyum. Beliau meletakkan koran yang tadi untuk mengipasi diri. Lantas, menepuk-nepuk permukaan kursi di sisinya. Hal itu membuat Qonni melebarkan senyum. Buru-buru Dia bergeser lebih mendekat lalu memeluk sisi samping sang Ayah yang sudah merentangkan satu tangannya siap untuk membalas pelukan.
"Anak ayah udah gede aja–"
"Iya lah, masa mau kecil terus. Hehehe." Dengan manja Qonni semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Jadi kamu udah yakin mau nikah muda?"
"inshaAllah, Ayah. Doakan Qonni bisa menjalankan ibadah terlama itu."
"Aamiin, Ayah doakan yang terbaik. Yang pasti selama menunggu masa kamu menjalani rumah tangga. Kamu mesti banyak belajar. Karena, kamu mungkin berpendidikan tinggi di bidang ilmu pengetahuan duniawi. Namun, perkara ilmu rumah tangga. Kamu masih nol. Ingat, ya. Tidak ada bahtera yang berlayar di daratan. Semua pasti akan bertemu gelombang-gelombang dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Apa kamu yakin udah siap?"
Gadis yang saat ini tak memakai hijabnya mengangguk. Karena pintu tertutup, jendela pula terhalangi gorden tebal. Jadi apapun yang ada di dalam rumah tak akan nampak dari luar.
"Minta doa restunya, ya, Yah. Semoga semua lancar. Semoga pasangan Qonni kelak juga laki-laki yang bertanggung jawab serta sayang sama Qonni."
"Aamiin. Semoga semuanya lancar sampai hari-H. Kalau Ayah lihat. Harun sepertinya anak yang baik. inshaAllah dia bakal sayang sama pasangannya. Namun karena kalian sama-sama anak terakhir, ya ... mungkin masih kuat dengan ego masing-masing."
Qonni mengangguk. Tanpa sepatah kata sanggahan pun keluar dari bibirnya. Bersikap tenang menerima segala petuah yang sedang di berikan sang Ayah.
"Jadilah wanita yang dewasa. Karena kedewasaan akan menjadikan kamu lebih jernih dalam berpikir. Juga membuatmu lebih bijak dalam menyikapi segala situasi."
"Iya, Yah. InshaAllah..."
"Oh iya, bulan depan. Harun dan keluarganya akan datang. Tadi calonmu sempat mengabarkan ke Ayah sebelum magrib."
Qonni tersenyum tipis. Dimana dadanya semakin berdebar saat Ayah menyebut Harun sebagai calonnya. Ia jadi membayangkan waktu untuk saling memandang selama beberapa detik di hari lamaran resmi mereka nanti.
"Jujur, Ayah sempat mikir kamu bakal sama yang tadi nganter Dia."
"Siapa?"
"Nak Ilyas."
"Hah?" Qonni langsung mengangkat kepalanya. "Mas Ilyas?"
"Iya, tadi Harun kesini sama Nak Ilyas."
Qonni langsung termenung. Ia tidak tahu kalau Harun datang dengan Ilyas. Ia memang bilang akan datang dengan temannya. Namun, siapa sangka kalau temannya adalah Ilyas. Hal itu lantas membuatnya merasa tak enak hati pada laki-laki yang selama beberapa Minggu ini ia abaikan chat-nya.
Sebenarnya, saat Harun mulai mengobrol ia mendengar suara yang ia kenal. Walau amat jarang untuk berkata. Dan itu sama sekali tak membuatnya penasaran apalagi berpikir kalau itu adalah Ilyas. Padahal Qonni sempat mengintip sedikit dari ruang tengah. Dan dari posisinya berdiri sama sekali tak menangkap sosok laki-laki berkacamata itu.
__ADS_1
Mungkin sebab tertutup tubuh Ayahnya. Terlebih laki-laki tadi banyak nunduk. Tak seperti Ilyas yang ia kenal selama ini. Laki-laki ekstrovert yang kadang membuat Qonni berpikir jika laki-laki itu pria robot yang memiliki baterai di punggungnya. Saking tidak bisa diamnya.