Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 76


__ADS_3

Tausiyah Ustadz Irsyad masih berlangsung. Dimana semakin menjelang sore waktu berlalu, semakin penuh pula area dalam masjid yang terdiri dari dua lantai ini. Menandakan betapa antusiasnya jamaah saat mengetahui Kyai asal Magelang ini hadir untuk mengisi acara siraman qolbu di daerah mereka.


"Jamaah yang di rahmati Allah. Terutama para isteri. Janganlah kalian setelah di kasih tahu lantas menghakimi suami kalianlah penyebab hingga saat ini masih buta ilmu agama. Dan untuk para suami tidak perlu merasa takut apabila kita tergolong orang-orang yang belum berilmu saat membimbing isteri kita. Karena, hidayah itu tidak ada yang tahu. Dan membimbing seorang isteri itu tidak harus menjadi orang yang sudah modok di pesantren selama bertahun-tahun. Enggak!"


Mendengar sambungan dari kalimat sebelumnya. Afin kembali mendengarkan dengan seksama. Ia berpikir, masih ada harapan kah, untuk menjadi suami salih?


Bergegas ia merogoh tas cangklong yang biasa di bawa kemana-mana. Lantas mengeluarkan gadget-nya, sembari ia mempersiapkan stylus atau stick berbentuk seperti pulpen yang dapat dioperasikan di atas layar tablet. Hendaknya pria berpenampilan kasual itu mencatat sesuatu yang penting dari nasehat Kyai Irsyad.


"Innaka laa tahdiii man ahbabta wa laakinnallaaha yahdii may yasyaa (Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.)"


Afin mencatat bagian penting dari kutipan firman Allah itu. Bahwa tidak ada hidayah datang melainkan karena Allah yang sudah lebih dahulu tahu. Manusia mana yang paling pantas mendapatkannya. Kembali Beliau bertopang dagu, dengan tab berada dalam pangkuannya.


"Umar bin Khattab. Beliau masuk Islamnya terlambat. Dari pada sahabat Rosulullah Saw yang lainnya. Seperti Abu bakar, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurahman bin auf, ataupun Thalhah bin Ubaidillah."


Afin yang duduk di saf yang tak terlalu jauh dari mimbar nampak manggut-manggut.


"Sahabat Umar, saat yang lain sudah beriman. Beliau itu justru masih menjadi salah satu manusia yang sangat membenci Islam. Bahkan berniat membunuh Nabi Muhammad saw, tatkala mendengar adik dan iparnya sudah masuk Islam. Yang ketika Umar dapat hidayah. Beliau bisa nyalip semuanya. Dan berhenti di bawah Abu bakar. Kenapa? Karena memang Beliau tidak bisa menandingi imannya Abu bakar. Makanya hingga sekarang kita kenal Beliau menjadi orang nomor dua. Sahabat Rosulullah Saw dalam hal keimanannya."


Umar bin Khattab – Afin menulis besar-besar nama itu. Kemudian melingkarinya sebanyak dua kali.


"Makanya kalau kita melihat orang terlambat dapat hidayah. Kita nggak boleh menghujat dia. Karena apa? Bisa jadi orang itu akan menyusuli tingkat keimanan kita walaupun sudah berpuluh-puluh tahun lebih awal berhijrah."

__ADS_1


Kajian masih berjalan hingga waktu Ashar tiba. Dan di akhiri sholat berjamaah di masjid agung tersebut.


🌸🌸🌸


Pukul 01:30...


Pria yang tidur dalam posisi terlentang mulai membuka matanya. Di lihat langit-langit kamar yang tadinya nampak kabur perlahan mulai jelas. Dan benar kata orang, ia akan bisa terjaga setelah berniat untuk bangun lebih awal. Ia kemudian mengucap syukur, setelah meniatkan sejak kemarin siang untuk bangun di sepertiga malam, esok harinya.


Ia menoleh ke samping. Pelan-pelan mengangkat kepala Safa dan memindahkannya ke atas bantal, setelah tadi menjadikan lengannya sebagai bantalan. Kemudian beranjak duduk sejenak, demi mengisi daya setelah tidur beberapa jam.


Bismillah... Afin turun dari atas ranjang sebelum melangkah pelan menuju kamar mandi. Tubuhnya masih sedikit sempoyongan, ditimpali rasa kantuk.


Selepas membersihkan sebagian tubuhnya, pria yang sudah merasa segar itu meraih Koko gamis yang tergantung di lemari kaca. Ia pun menggelar sajadahnya setelah selesai memakai busana untuk sholatnya.


Baru dua reka'at selesai, di jalankan. Afin sempatkan menoleh kebelakang. Lantas tersenyum, sebelum kembali menghadap depan saat mendapati sang Istri masih tertidur. Lantas kembali bertakbir untuk menambah reka'at-nya.


Memasuki reka'at keempat. Safa terjaga, setelah menyadari tak ada Sang suami di sisinya. Hingga sepersekian detik berikutnya Dia tertegun, tatkala melihat Suaminya sedang melakukan shalat di sudut kamar. Tempat mereka biasa melaksanakan sholat.


Hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Padahal selama ini, dirinya lebih sering sholat sendirian. Karena Afin memang selalu tidur lebih dari jam dua belas malam. Jadilah dia agak susah di bangunkan untuk di ajak sholat malam. Dan sekarang, apa yang ia lihat, sungguh membuatnya sempat tak percaya.


"Subhanallah–" wanita dengan busana tidur warna pink itu nampak berbinar sekaligus terharu. Pelan-pelan, dia turun dari ranjangnya. Gegas mengambil air wudhu.

__ADS_1


Setelah selesai, Afin yang hendak menyambung dua reka'at lagi. Kemudian menoleh kebelakang kala mendapati Safa yang baru keluar dari kamar mandi bergegas meraih mukena, dan memakainya.


"Aku mau jadi jamaah Abang," katanya sambil mendekat dengan kain mukena sudah terpasang. Pria yang membalut tubuhnya dengan Koko gamis warna grey tersenyum, sebelum mengangguk.


Dua reka'at sudah di jalankan. Afin pelan-pelan memimpin dzikir setelah beberapa bulan menghafalkannya. Setelah semua rangkaian ibadah sepertiga malam mereka selesai. Afin yang merasa lelah setelah menjalankan sholat enam reka'at langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Safa.


"Aku langsung bengong, pas liat Abang lagi sholat tadi."


"Saking nggak pernahnya. Kamu pasti hampir menganggap hal ini adalah mimpimu."


Safa terkekeh, mengiyakan. Sambil mengusap kepala sang suami. Memainkan rambutnya yang hitam dan tebal dengan jari-jari tangannya.


"Ustadz Irsyad tadi bilang golongan orang-orang yang masuk katagori munafik. Adalah dia yang berat melaksanakan sholat subuh dan isya. Aku tertohok loh. Karena saking seringnya bikin kamu kewalahan setiap pagi buat bangunin aku, Fa."


"MashaAllah, aku nggak pernah kewalahan, tuh. Apalagi kamu nggak pernah marah setiap kali di bangunin." Safa masih memainkan rambut di kening suaminya. "Aku ikhlas, Bang."


Kedua mata Afin menatap wajah polos tanpa riasan. Kulit yang nampak segar setelah dibasuh air wudhu itu semakin cerah saat tersorot lampu tidur di dekat mereka.


"Maaf, ya. Aku belum bisa jadi suami yang baik. Aku nggak punya cukup ilmu untuk membawamu pada ketaatan. Aku khawatir, selama ini kamu menyesal karena mendapatkan suami, pria tengik sepertiku."


"Astaghfirullah al'azim. Kok Abang ngomong gitu? Lagipula, kata siapa kamu nggak cukup baik? Kamu bahkan jauh lebih baik. Bukankah, Allah SWT sangat menyukai hambaNya yang senantiasa bertaubat. Sejauh ini, aku merasa Abang jauh lebih baik. Bacaan Qur'an Abang juga udah mendekati bagus."

__ADS_1


Afin tersenyum. Berharap apa yang di katakan Safa benar. Hingga membuat dirinya semakin bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Perlahan pria itu merubah posisi nya menghadap perut sang istri. Kemudian mengusapnya sambil mencoba untuk berbicara dengan calon anak mereka. Sementara Safa hanya tertawa, menanggapi celotehan Afin yang terdengar manja pada calon bayi di dalam rahimnya.


__ADS_2