
Masuk kedalam ruang tengah. Mereka berdua sudah di sambut Bibi Zaenab yang sedang mengaduk sesuatu dalam satu wadah. Tampak pula asap mengepul di atas wadah tersebut. Menujukkan makanan itu baru saja matang.
"Silahkan duduk–" ucap Paman Emir mempersilahkan dengan ramah. Kedua tangannya langsung sigap memasang sarung tangan anti panas setelah istrinya berbicara.
Tentunya Safa dan Arifin langsung mengiyakan. Mengambil posisi. Duduk di kursi kayu yang khas jika dilihat-lihat. Ukurannya tak terlalu besar, namun tetap nyaman.
Kedua tangan Safa masih enggan untuk keluar dari dalam kantong mantelnya. Sebab, ruangannya memang terkesan rapat. Namun, tak ada mesin penghangat ruangan di sana. Sehingga hawa dingin masih tetap terasa walau tak separah di luar.
Paman berjalan sambil membawa hot plate berisi hidangan sederhana khas Turki. Wadah berisi masakan yang baru matang itu di letakkan di atas meja oleh Paman Emir. Sementara Bibi Zaenab sudah siap dengan menu utamanya.
"Balikan piring kalian!" Pintanya menggunakan bahasa Turki. Afin langsung menerjemahkan sambil dirinya membalikkan piring di hadapannya yang di ikuti Safa kemudian.
Wanita yang usianya sudah menginjak lima puluh tahun itu tersenyum saat melihat mereka sudah membalikkan piring yang tertelungkup, tanpa terkecuali Safa.
"Yang pertama untuk memantu cantik kami," wanita berhijab itu mengisi piring Safa dengan adonan yang terbuat dari kentang rebus berbumbu yang di hancurkan bersama roti. Terlihat aneh memang bagi orang Indonesia yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Turki
Safa tersenyum manis sambil mengucapkan terima kasih menggunakan bahasa Turki. Mengikuti Afin sebelumnya. Tentunya respon Afin menampakkan ia senang dan juga dua orang lainnya.
"Kamu mudah belajar, Nak," puji Bibi Zaenab sambil tertawa. Yang mematik tawa mereka juga.
Disini mulut Afin aktif bersuara sebagai penerjemah. Mau bagaimana lagi, paman dan bibinya juga tidak fasih berbahasa Inggris jadi mereka masih berbicara dengan bahasa masing-masing.
Semua bahan pokok pengganti nasi sudah berada di piring mereka. Paman pun menyidukan dua sendok sayur yang di dalamnya terdapat kacang-kacangan dan daging. Benar-benar menu yang amat asing bagi Safa. Namun si pemilik mata peri itu tidaklah sedikitpun menolak untuk mencicipinya.
"Mungkin makanan kami agak asing untukmu, Menantu. Namun istriku ini adalah yang terbaik dalam hal memasak. Ku jamin, Kau tak akan kecewa," ujar paman sambil terkekeh. Pun Afin langsung menerjemahkannya yang membuat Safa merespon dengan senyuman sopan. Wanita itu mengangguk.
"Saya percaya makanan ini pasti enak," pujinya dengan bahasa Turki yang di ucapkan dengan terbata. Afin mengacungkan ibu jarinya memberikan pujian. Padahal kata-kata itu juga dari dia sendiri yang menuntunnya.
Sementara Bibi Zaenab menunjukkan respon terharu, sambil mengisyaratkan tanda kecupan melalui ujung telapak tangannya. Mereka pun tertawa kembali.
"Ayo di makan..." sambungnya mempersilahkan.
Safa menoleh kearah Afin. Laki-laki itu mengambil sedikit campuran kentang dan roti tadi lalu di campur dengan daging dan kacang yang sedikit berkuah. Setelah itu mengarahkan pada Safa.
__ADS_1
"Ini kombinasi yang menurut ku sangat sempurna. Makanan khas disini yang cocok saat musim dingin," ujarnya meyakinkan Safa untuk segera mencoba.
Pun wanita itu tak banyak berpikir. ia langsung membuka mulut sementara Afin mendorong makanan itu masuk kedalam mulut Safa.
"Coba sekalian saladnya." Afin kembali mengarahkan sesendok salad sayur khas Turki.
"Mulutku penuh..." Safa menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
"Buka aja sedikit ini bakal membuat makanan di mulutmu semakin pecah," pinta Afin lembut. Adapun mulut penuh Safa tetap terbuka sedikit. Untuk menerima suapan salad sayur itu.
"Gimana?"
"Hemmmm..." Wanita itu mengangguk tanda setuju. Tangannya masih sibuk menutup bibir yang penuh, tengah mengunyah.
Sungguh, ini kombinasi yang sempurna, dan pasti tidak berlemak. Bisa di bilang sangat sehat dan menghangatkan. –Batin Safa menikmatinya.
"Enak?" Tanya paman sambil terkekeh. Safa pun menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang membentuk lingkaran sambil mengangguk. Sebab mulut penuhnya tidak bisa terbuka untuk menjawab.
"Hahahaha... MashaAllah, MashaAllah..." Mereka tertawa senang. Apalagi Bibi Zaenab. Suasana ruangan yang masih terbilang dingin itu menjadi lebih hangat karena rasa kekeluargaan yang erat.
Beberapa menit setelah menghabiskan makanan mereka. Afin mengajak Safa untuk berjalan ke sekitaran rumah Paman. Di sana memang mayoritas tinggal di rusun yang tinggi. Namun berbeda dengan paman, Beliau tinggal di bagian terbawah dari salah satu gedung tersebut.
Angin dingin berhembus menerpa tubuh mereka. Tangan Safa kembali merasa membeku, sementara Afin masih terus berjalan di sisinya menunjukkan ini dan itu.
"Di sana ada kebun zaitun, namun biasanya ada buah tin juga. Mau lihat-lihat?" Afin menawarkan.
"Apakah kebun yang akan kita datangi milik Paman Emir?"
"Iya tapi nggak semua. Sebagian lahan milik orang-orang penghuni gedung ini. Kita lihat, kali aja masih ada buah tinnya."
Safa mengangguk mengikuti langkah panjang Suaminya. Satu tangannya terus bersembunyi di dalam kantong Coat yang tebal. Sementara tangan satunya terasa lebih hangat. Bertaut dalam kantong Coat yang di gunakan Afin.
Lahan seluas seratus hektar itu sebagian sudah mulai tertutup salju tipis. Beberapa tanaman pun sudah banyak yang berguguran.
__ADS_1
"Sayang sekali. Kalau lagi summer, biasanya lebih banyak buah-buahan tumbuh. Bahkan liar pun ada."
"Tapi ini tetep indah, Bang." Kedua mata perinya mengedar. Dimana kerudungnya sedikit berkibar di permainkan angin.
Afin menoleh kearah Safa. Ia tersenyum, sebelum mengusap pipi yang sudah memerah akibat hawa dingin, membawa wajah jelita itu kembali mengarah padanya.
"Kamu udah kedinginan banget kayaknya."
"Lumayan. Tapi masih aman kok." Terkekeh.
"Kita balik aja ke hotel ya? Penghangat ruangan di rumah paman nggak begitu maksimal."
Safa menggeleng pelan. "Nggak papa, sesuai janji. Kita akan pulang selepas Ashar. Nggak lama kok. Lagian, Abang lama nggak ketemu paman dan bibi."
"Iya kamu benar. Bahkan mereka sebenarnya mau kita menginap, tapi aku justru mengkhawatirkan kamu. Kamu belum terbiasa ditempat dingin kaya gini. Khawatir kamu bakal mengalami hipotermia pas malam nanti."
"Sebenarnya aku nggak masalah. Tadi kita sempat istirahat di kamar yang udah di sediakan. Menurutku itu nggak terlalu dingin."
Laki-laki itu mengecup kening yang tertutup hijab dengan lembut. "Nggak untuk hari ini. Suatu saat kalau kita kesini lagi mungkin iya. Itupun aku akan memilih waktu yang tepat.... Guzelim."
Wanita berhijab abu-abu itu tersenyum senang. Afin benar-benar manis sekali baginya dalam memperlakukan wanita. Padahal penampilannya yang terlihat berandalan sebelumnya sempat membuat dia khawatir.
Afin menoleh ke arah berlawanan. Lalu menemukan sesuatu yang membuatnya langsung tersenyum lebar.
"Lihat batu besar itu." Afin menujuk sebuah batu berukuran besar setinggi dua meter di antara pohon-pohon yang berada di sana. "Benda mati itu masih ada," pria itu lantas mengajak sang istri lebih mendekat. Kemudian menyentuh batu yang dingin itu dengan tangannya yang terbungkus.
Safa sebenarnya tidak mengerti. Kenapa laki-laki itu terus menghayati batu besar yang dingin ini. Seperti ada sesuatu yang membuatnya berharga.
"Aku pernah menulis harapan disini dulu...," gumamnya membuat kening Safa mengernyit.
"Harapan?" tanyanya. Namun Afin hanya diam saja membalas tatapan itu dengan serius. Karena ia pernah berpikir akan bunuh diri di tempat ini. Sebab mustahil, hidupnya akan baik-baik saja setelah di hancurkan oleh Iblis pria itu.
Aku bersyukur, aku bisa membawamu pada batu keputusasaan ini. Dan aku sempat berjanji pada diriku akan membawa siapapun yang tulus menerimaku suatu saat nanti. Dan aku bisa membawamu sekarang, ketempat ini. –Laki-laki itu meraih tangan Safa lalu mengecupnya.
__ADS_1
Safa merasa tersentuh. Walau Afin tidak berbicara panjang lebar namun ia paham, jika laki-laki itu sedang menujukkan cinta terhadap dirinya.
Tangan Afin langsung merengkuh pinggang ramping istrinya. Kemudian mengalihkan pandangan mereka pada hamparan lahan yang sebagian kecilnya tertutup salju. Dan itu tidak lama, sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju masjid tempat Paman Emir di tugaskan sebagai imam di masjid tersebut.