
Berselang satu jam Arifin kembali masuk ke dalam kamar. Tepatnya di rumah pribadi milik pria itu mereka tinggal sekarang. Kondisi memang sudah mulai membaik, wartawan tak begitu sering mendatangi rumahnya. Walau tetap ada satu dua yang datang itupun tidak banyak.
Pria dengan brewok tipis membuka pintu. Berdiam diri disana untuk sejenak, menoleh kearah gadis yang sudah menyelami alam bawah sadarnya. Tidur dengan kepala tak tertutup kain hijab.
Dia secantik itu... batinnya merasa terpana.
Momen yang amat disayangkan sebenarnya. Seharusnya ia tak melewatkan itu. Ketika kedua tangannya membuka kerudung Safa. Seperti adegan yang ada di film-film bertema religi. Sekarang, gadis itu justru sudah membuka kerudungnya sendiri. Walau ia tetap terpanah. Tapi kalau melihat langsung saat kondisinya terjaga pasti akan sangat membuatnya berdebar.
Perlahan tangannya menutup rapat pintu tersebut. Sebelum berjalan lebih mendekat kearah ranjang. Netra abu-abunya tak terlepas dari wajah putih bersih yang syarat akan ketenangan.
Laki-laki itu berjongkok di sisi ranjang, hanya untuk melihat wajah Safa lebih dekat tanpa membuatnya terjaga. Karena kalau dia naik ke atas tempat tidur, pasti akan menimbulkan gerakan yang berkemungkinan besar bakal mengganggu tidur gadis itu. Bibirnya terus mengulas senyum. Membentuk lengkungan sempurna mengartikan sebuah kebahagiaan.
Fa, aku memang laki-laki kotor. Tapi kalau boleh jujur, ini kali pertamaku mencintai seorang wanita. (Arifin)
Tangan Kanan pria itu terangkat. Bergerak maju dengan amat hati-hati. Ia ingin menyentuh pipi Safa sedikit saja. Sebelum sebuah bayangan hina melintas dalam pikirannya.
Lu nggak malu dengan tubuh kotor itu menyentuhnya yang suci? Lu itu G*y, Fin! Penyuka laki-laki bukan perempuan. (suara Brody)
Belum sempat tangan itu mendarat di pipi kiri Safa ia sudah menghentikannya lebih dulu dan mengepalkannya. Sebab teringat kata-kata mengandung sugesti dari Brody.
Lu pikir bisa hidup normal. Setelah selama ini menikmatinya? (Brody)
Pria itu menarik kembali tangannya. Kemudian bangkit dan melangkah pelan menuju Sofa tunggal yang berada di sudut ruangan.
__ADS_1
Ia menyandarkan tubuhnya, sambil memijat kening. Sorot matanya tertuju pada gadis yang masih tenang dalam tidurnya.
"Maafkan aku, Fa... nasibmu nggak beruntung. Karena dapet suami kaya gini. Gimana responmu, saat tahu kelakuanku..."
Arifin menghela nafas panjang menatap langit-langit kamar. Melamun untuk beberapa saat, setelah itu kembali beralih ke Safa.
"Guzelim... Maaf!" Gumamnya. "Maaf, karena secara nggak langsung aku udah menipu kamu. Tapi hatiku ini nggak bermaksud membohongi."
Arif tidak bisa berkata-kata. Selain memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Diamnya Arifin saat ini memunculkan banyak persepsi.
"Aku tetap nggak mau membuatnya merugi. Sebagai gantinya, aku akan menjaga kesuciannya. Kalau-kalau suatu saat rahasia ku terbongkar, dan Dia memilih untuk meninggalkanku. Dia akan tetap menjadi bunga yang suci."
Rasa getir mencekak kerongkongannya. Dadanya merasa sesak saat mengatakan itu. Arifin menyadari, dia sudah membohongi Safa sejak awal. Maka ia tidak akan pantas menyentuhnya walaupun secara garis besar itu adalah pemikiran yang salah.
Pria itu kembali beranjak, mematikan lampu kamar serta menyisakan penerangan dari lampu tidur. Setelah berjam-jam bertarung dengan pikirannya sendiri. Ia sudah bertekad akan menyentuh istrinya dalam kurun waktu yang tak ia tentukan. Mungkin ia akan jujur, walau entah kapan.
Arifin memberikan batas di tengah-tengah mereka dengan bantal. Setelahnya tidur dalam posisi miring, memunggungi Safa. Ia mencoba untuk tidur walau sulit. Jantungnya terus berdebar kencang, serta hasrat untuk memeluk Safa amat kuat.
Gua tau dia istri Lu, Fin. Tapi ini konsekuensinya. Buat pecundang kaya, Lu. Laki-laki itu semakin membenamkan wajahnya ke bantal, kedua matanya terpejam rapat.
🌸🌸🌸
Sebelum tiba waktu subuh. Seperti biasa, Safa terjaga dari tidurnya. Ia melihat jam di layar ponselnya sudah menujukkan pukul 02:58. Gadis itu menoleh ke sisi yang lain.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ikhwan?!" Terdiam beberapa saat sambil membungkam mulutnya sendiri.
Sebuah situasi lain yang membuatnya terkejut beberapa saat, karena belum terbiasa. Safa lupa kalau ia sudah menikah. Walau sepersekian detik kemudian kembali sadar, bahkan ingin menertawai dirinya sendiri.
"Astaghfirullah al'azim, Fa– kenapa bisa lupa kalau udah punya suami?" Safa mengelus dada, menganggap keterkejutannya tadi amat keterlaluan. Ia tersenyum tipis, menutupi tubuh Arif yang tidur dalam posisi tengkurap itu dengan selimut hingga sebatas leher.
Ia terjaga sendiri tanpa membangunkan Arifin untuk sholat malam. Karena ia tahu, laki-laki itu pasti belum terbiasa. Sebuah konsekuensi yang harus ia sadari ketika menikah dengan laki-laki yang tidak begitu dalam ilmu agamanya. Ia akan melakukan ibadah di luar wajibnya. Sendirian.
Beberapa menit berlalu, adzan subuh berkumandang. Gadis itu menyelesaikan tilawahnya dan kembali menghampiri Arifin.
Dengan langkah ragu-ragu, ia berjalan pelan sambil memikirkan kosa kata apa yang akan di gunakan saat membangunkan suaminya. Tangannya pun bergerak lambat saat hendak menyentuh punggungnya yang lebar itu.
"B–Bang!" Safa menggoyangkan pelan dengan jari telunjuk. "B–Bang Arif. Abang!"
Sepertinya cukup sulit ketika Pria itu tak kunjung bangun walau sudah diguncangkan dengan kedua tangannya.
"Bang, bangun! Bangun Sholat Subuh. Bang Arif!"
Arif yang merasa tidurnya terusik langsung meraih tangan Safa serta menariknya kuat. Tentunya yang di lakukan Arif membuat Safa kontan menjerit. Sebab gerakan tiba-tiba itu membuat tubuh Safa langsung jatuh kedalam pelukannya.
Laki-laki itu pun terjaga karena teriakan Safa tadi. Sementara yang dipeluk langsung mematung menanti pria itu membuka matanya. Drama saling tatap pun tak terelakkan. Afin bergeming memandangi wajah yang sebagiannya tertutup kain mukena. Helaan nafas beradu karena jarak yang sangat dekat. Selaras dengan irama jantung yang seakan turut tak beraturan.
"Guzelim–" gumamnya serak. Panggilan yang tak di ketahui Safa artinya. Gadis itu hanya mengernyitkan keningnya merasa amat gugup terlebih saat wajah Arifin mendekat seperti hendak menciumnya.
__ADS_1