Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 78


__ADS_3

Mobil matic yang di kendarai Afin baru saja tiba. Terparkir di depan pagar besi yang tak terlalu besar. Cahaya kekuningan menyambutnya yang kini sedang menutup kembali pintu mobil setelah keluar.


Di lihatnya seorang wanita hamil tengah berdiri di dekat pagar pembatas antara rumah orangtuanya dan rumah yang sedang di bongkar itu. Tengah menyiram tanaman tanduk rusa yang menempel di batang pohon rambutan.


Musim kemarau telah membuat tanah-tanah kering, serta tanaman jadi sedikit layu. Itulah kenapa Safa tidak bisa diam saja membiarkan tanaman-tanamannya yang dulu ia rawat jadi seperti ini.


Seruan salam di jawab oleh Safa yang gegas meletakkan gayung ke dalam ember berisi air. Kedua tangannya langsung meremas sisi samping gamisnya. Guna mengeringkan. Sebelum menerima tangan Afin yang terarah kepadanya.


"Abang sekarang pulang cepet terus?"


"Kenapa, nggak suka, ya, kalau aku pulang cepet? Ya udah, aku balik kerja lagi." Pria itu balik badan yang langsung di tahan Safa sambil tertawa.


"Ngambekan sekarang, ya?" Safa mengelus lengan Suaminya. Pria itu pun tersenyum, mengusap kepala sang istri.


"Nggak tau. Mungkin bawaan bayi," jawabnya kemudian mengikuti omongan orang-orang yang kerap kali mengait-ngaitkan suasana hati yang menjadi sensitif itu karena bayi dalam kandungan.


"Tapi kan aku yang hamil bukan Abang? Yang ada-ada saja." Safa berkelakar.


"Kamu nggak tahu, ya? sekarang itu, apapun yang anakku rasakan itu nyambung ke Ayahnya?"


"Masa?"


"Dih, nggak percaya." Afin mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih dekat dengan perut Safa. "Dek, kamu bete 'kan? Karena bundamu banyak aktivitas bukannya istirahat?"


Safa yang mendengar bisikan Afin pada anak dalam perutnya tertawa. Sambil tangannya memukul manja bahu suaminya.


"Dek, Bundamu KDRT, tuh! Sakit nih..." Afin berlagak sedang mengadukan Ibunya pada sang bayi. Sementara itu dia langsung menempelkan telinganya. "Apa? Cium obatnya?"


"Allahu Rabbi..." Safa kembali menutup mulutnya tak mampu menahan tawa.


"Si Dede suruh Bundanya buat cium Ayah. Gimana, nih?"


"Hahaha, Abang..."


"Serius, Fa!" Afin kembali menempelkan telinganya. "Tuh, bahkan kalau bisa sambil di rayu-rayu dulu."


"Idih, Dede nggak bilang gitu, ya..." Safa menyangkalnya.


"Nggak percayaan. Telinga ku lebih dekat ke dia loh. Dede bilang gitu, Bunda." Pria dengan jambang tipis itu mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Hiiiish... ya jangan di sini juga."


"Kalau di dalam, kata Dede malah suruh minta lebih. Aku mah, Ayah yang baik, Fa. Nurut aja apa kada Dia." Menunjuk perut Safa.


"Allah... Allah... calon bapak satu ini bisa aja, ya."


Keduanya berkelakar. Menyudahi candaan garing namun lumayan menggelitik Safa. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah karena sinar mentari semakin meredup.


🌸🌸🌸


Karena mereka tidak menginap. Afin dan Safa kini sudah dalam perjalanan pulang. Mereka berpamitan selepas Maghrib tanpa menerima ajakan makan malam sang ibu. Di samping Safa tidak ingin kemalaman sampai rumah. Ia juga tiba-tiba ingin menyantap sesuatu yang menjadi favoritnya saat masih kecil.


Dan sebelum adzan Isya berkumandang Afin mengajak sang istri ke salah satu tempat makan yang terletak di kawasan kaki lima. Warung tenda yang menjadi pilihan Safa adalah sate taichan.


Di tempat yang lumayan ramai itu. Afin berjalan pelan sambil menggandeng tangan Safa. Mencari tempat kosong untuk makan.


"Kak Afin, ya?" Seorang perempuan muda tak berhijab menegurnya tepat di depan Arifin yang sedang lewat di mejanya.


Pria itu pun hanya membalas dengan anggukan dan senyum ramah. Semakin kuat menggenggam tangan isterinya guna melewati perempuan dengan kemeja lengan panjang dan juga rok mini.


"Wah, boleh minta foto?" kembali dia menahannya.


"Ngapain nyari lagi. Di sini aja, Kak. Kita udah hampir selesai, kok." Wanita itu menawarkan. Yang di setujui tiga orang lainnya di meja itu.


"Sini, Kak!" Saut yang lainnya. Adapun Safa yang berdiri di belakang Afin hanya diam saja.


"Maaf, ya. Kami mau ambil yang di pojok aja. Permisi." Afin berusaha menolak secara halus. Di samping posisinya terlalu ramai. Ia juga tidak yakin kalau mereka sudah benar-benar akan pulang. Terlebih satu di antara mereka masih menyantap sate yang hanya tersisa dua tusuk di atas piringnya.


"Yah, nggak di kasih!" Perempuan yang di taksir merupakan pekerja kantoran itu langsung menghempaskan bokongnya dengan kesal di kursi plastik. Sementara tiga perempuan yang lain hanya menertawakan.


"Sombong 'kan, Afin Anka sekarang sama para Fansnya? Gua udah nggak nge-fans sama dia lagi semenjak nikah! Udah nggak ****. Bahkan sekarang gua udah unfollow juga." Salah satunya menimpali.


"Bener! Dasar Selebgram songong!" cacinya geram.


Wanita yang tadi di tolak itu gegas menyalakan kamera ponsel dan mengarahkannya ke pria yang baru saja melewatinya.


"Artis sombong, nih guys! Di mintain foto malah nggak nanggepin, dong!"


"Iya, nih. Kaga di bolehin kali ama bininya..." Seloroh salah satu wanita dengan gaya rambut pendek.

__ADS_1


"Laki takut isteri dong, Dia. Hahaha." Yang lain menimpali lagi.


"Bini spek ustazah. Siap-siap kena ceramah tiap hari. Kena, Lo..."


"Makan tuh ustazah!"


Mereka tertawa. Dan cibiran-cibiran itu sejatinya tak terlalu keras. Jadi tidak terdengar sampai ke mejanya Safa. Namun rekaman yang mereka buat lantas di unggahnya ke salah satu aplikasi video pendek paling di minati orang-orang saat ini.


...


Seorang pelayan meletakkan dua porsi sate taichan di meja yang berada paling ujung belakang. Lengkap dengan lontong dan dua gelas minuman mereka. Safa sendiri memesan jeruk hangat. Sementara suaminya lebih memilih Es teh tawar.


"MashaAllah –" Safa melihat semua makanannya nampak menggugah selera. Namun karena masih panas, ia pun menunggu sebentar.


"Kok cuma di liatin aja?" Tanya Afin yang sudah menggigit ujung sate miliknya. Rasa pedas dan gurih yang pas, seolah langsung menari-nari di lidahnya. Safa tidak salah menjadikan warung tenda ini sebagai warung favoritnya.


"Masih panas, Bang," jawabnya dengan tangan masih berada di bawah meja.


"Nggak begitu panas, kok. Kan pakai sambal yang udah dingin." Afin meraih satu tusuk di piring Safa. Lalu menggulingkannya berkali-kali pada sambal cabe pedas yang diulek kasar kemudian diberikan garam dan perasan jeruk nipis itu.


"Nih, makan. Ku jamin udah nggak panas lagi," pintanya sambil mengarahkan satu tusuk sate itu ke arah Safa.


Perempuan yang duduk di hadapan Afin kemudian tersenyum dan menerimanya, dengan cara menggigit.


"MashaAllah, enak kalau disuapin," ucapnya sambil menutup mulutnya tertawa lirih.


"Ohooo... Bumil ngada-ngada, nih."


"Haha, iya. Lontongnya sekalian, Baba," timpalnya yang lantas membuat Afin tertegun dengan mulut menyunggingkan senyum.


"Baba?" Tanyanya lirih.


"Aku inget itu artinya Ayah."


"Yaya... Baba percaya dia ibumu, Nak."


"Ya ampun, kok ngomongnya gitu?" Safa bertanya dengan disisipkan tawa lirih.


"Karena telepati anak kita sampai ke Kamu," Kelakarnya.

__ADS_1


"Ngaco terus, nih." Safa menanggapi dengan tawa juga. Mereka lantas melanjutkan santap malamnya. Belum lagi ketika adzan Isya berkumandang. Tanpa terburu-buru namun tidak juga sengaja di perlambat mereka langsung menghabiskan seluruh makanan yang di pesan itu.


__ADS_2