Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Ekstra part 5


__ADS_3

Ulum menghela nafas, langkahnya yang sempat terhenti di depan dapur mulai kembali ia ayunkan, demi menghampiri dua peri kecilnya.


"Assalamualaikum," tegur Ulum sambil tersenyum saat tubuhnya mulai memasuki area dapur. Kedua puterinya lantas menoleh hampir bersamaan.


"W–walaikumsalam." Terdengar suara Qonni yang mendadak gugup ketika menjawab salam dari Ayahnya.


"Hayo lagi ngomongin Ayah nih, pasti?"


"Kita nggak bermaksud ngomongin Ayah, Kok." Dengan nada sedikit gagap, Qonni gegas menepisnya.


"Tapi?" Ulum menghentikan langkahnya tepat di sebelah Qonni. "Ayah dengar loh tadi, saat mau masuk."


"Maaf, Yah. Sedikit..." lirihnya mengakui.


Ulum tertawa pelan, sementara satu tangannya yang kosong langsung terangkat. Mengusap lembut pucuk kepala Qonniah. Di sisi lain, Safa bangkit dari posisinya duduk tadi. Kemudian meminta gelas di tangan Ayahnya sebelum di isi air mineral.


"Ayah itu nggak pernah punya pikiran untuk menjadikan anak sebagai investasi. Jadi nggak perlu kamu berpikir Ayah kurang suka, ketika kamu menikah cepat sebelum balas Budi."


Kalimat menohok itu tak ayalnya membuat Qonni semakin terdiam sambil menunduk. Sepertinya sang Ayah sudah mendengar hampir semua dari pembicaraan Dia dan Safa.


"Ya, Dek?" Ulum mengangkat dagu Puterinya, hingga kedua mata Qonni bergerak naik kearah sang Ayah yang sedang tersenyum hangat padanya. "Ayah itu ikhlas, merawat kalian. Dan, ikhlas juga melepaskan puteri-puteri Ayah pada pasangan halal kalian masing-masing."

__ADS_1


Gadis itu menggigit ujung bawah bibirnya sebelum menitikkan air mata. "Wallahi Ayah. Qonni minta maaf, perkataan ku pasti menyakiti hati Ayah? Qonni percaya kok Ayah nggak seperti itu."


"Enggak, Nak." Sosok berwibawa itu kembali tertawa lepas sembari merengkuh tubuh puteri bungsunya yang mulai berderai air mata dengan perasaan bersalah. "Ayah yang salah. Karena tadi nggak langsung menanggapi apa yang kamu katakan. Di samping kepala Ayah sedang pening, Ayah juga sedang bingung ingin menjawab apa."


Tangan laki-laki paruh baya itu mengusap kepala bagian belakang Qonniah dengan penuh kasih sayang, yang karena itu pula mata gadis bermata kecoklatan dalam dekapannya semakin berlinang.


"Tapi Ayah nggak pernah berniat untuk memberatkan anak-anak Ayah jika ingin ikut pasangannya. Itu tandanya tugas Ayah sudah selesai untuk kalian."


Safa yang masih berdiri di antara mereka hanya tersenyum, kedua matanya turut mengembun melihat pemandangan di hadapannya.


"Ayah justru lagi mikir kekurangan Ayah ini. Dulu, kalian betah sekali main di rumah Pade Irsyad. Bahkan selalu bilang ingin punya rumah seperti itu, kan?" Tanyanya sambil melirik kearah Safa juga.


Perempuan di hadapannya hanya mengangguk pelan seraya menyeka air mata.


"Ayah sudah sangat bekerja keras untuk kami, Yah. Nggak perlu lagi untuk berusaha lebih keras." Safa menyela setelah di rasa sang Ayah selesai mengatakan apa yang ada di dalam benaknya akhir-akhir ini. "Kami udah cukup berterima kasih dan bersyukur dilahirkan sebagai anak-anak Ayah dan ibu. Kalian orang tua yang luar biasa. Wallahi."


Pria paruh baya itu manggut-manggut, lalu mengarahkan satu tangan yang lain untuk menyambut puterinya agar turut masuk ke dalam dekapannya.


"Jadilah Isteri yang baik. Jadilah jalan Ayah dan Ibu kalian ke surga. Ya?"


"inshaAllah, Yah." Keduanya menjawab hampir bersamaan sembari sama-sama membalas pelukan Ayah mereka.

__ADS_1


Suasana mengharu-biru tadi tak berdurasi lama. Mereka sudah kembali tertawa lagi sambil menonton Aina yang sudah mulai latihan mengangkat bokongnya siap untuk merangkak. Bahkan tubuh Ulum kini menjadi lebih segar, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin karena uneg-uneg dalam pikirannya yang sudah ia lepaskan, hingga membuat beban yang tak seharusnya ada menjadi hilang.


🌸🌸🌸


Hari pernikahan pun tiba.


Jantung gadis dengan pakaian pengantin Syar'i itu amatlah berdebar. Karena dari jarak yang lumayan jauh, Harun sedang menjabat tangan Ayah Ulum berikrar untuknya.


"Qobiltu nikahaha..."


Allah... Qonni semakin menggenggam erat tangan ibu dan kakak perempuan yang duduk di sisi kanan dan kiri. Mendengarkan ikrar Harun menggunakan pengeras suara.


"Wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq..." Dengan lancar, Harun menggaungkan akadnya untuk Qonniah di depan para saksi. Yang kebetulan, pria dengan kacamata tebal bernama Ilyas turut ada di antara mereka menyerukan kata 'SAh' untuk keduanya.


Bulir-bulir bening berguguran, rasa syukur ia ucapkan terus menerus saat laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya selesai berakad. Qonni memeluk ibu dan Kakak perempuannya secara bergantian. Tak lupa pula, Nuha, Debby dan para kerabat perempuan lainnya mengucapkan kata selamat sambil memeluk juga.


Langit kebiruan dengan awan-awan putih yang seperti kapas halus nampak mendukung acara pagi ini yang memang sengaja di adakan dengan gaya outdoor di salah satu garden yang berdekatan dengan masjid agung.


Senyum Harun mengembang sempurna saat melihat wajah cantik Qonniah tanpa rasa takut seperti sebelumnya. Pria itu mengulurkan tangan kearah gadis yang baru saja ia halalkan. Pelan-pelan, gadis bernama lengkap Ayudia Qonniah membalasnya.


Kali pertama menyentuh tangan pria selain ayah dan Pakde Irsyad, gadis itu mendadak mengalami tremor. Namun ia tetap sukses mengecup punggung tangan suaminya dengan durasi yang cukup lama, yang di tutup dengan kecupan di kening.

__ADS_1


Tepat berada di tengah-tengah mereka dengan jarak dua meter dari posisi Harun dan Qonni, Ilyas mengembangkan senyum sebelum mengangkat kedua tangannya memanjatkan doa untuk kedua mempelai. Setelah itu mengusap wajahnya sebelum membalik badan dan menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang bahagia hari ini.


__ADS_2