Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 62


__ADS_3

🍂 🍂 🍂


PLAAAAAAAAAAKKK!


"Astaghfirullah al'azim–" guam Safa terkejut saat menyaksikan sendiri ibu mertua yang baru saja tiba langsung menampar pipi putranya tanpa aba-aba.


Tatapan penuh amarah di tunjukkan pada pria yang sedang menunduk karena tamparan tadi.


"Manusia kotor!! Hina!! PUAS KAMU MEMPERMALUKAN BUNDA DENGAR TINGKAH LAKU BEJATMU!!!"


Wajah Afin kembali terangkat. Hendak meraih kedua tangan Bundanya yang langsung di singkirkan oleh Beliau. Kini Afin hanya memandang wajah sang ibu dengan perasaan bersalah. Sementara dari kedua netranya yang nanar itu sudah menampung air mata.


"Bunda pikir kamu hanya terjerumus obat-obatan itu, Rif. Tapi rupanya kamu juga...?" Bunda menarik nafas dalam-dalam sambil menekan dada. Beliau benar-benar seperti kehabisan nafas saking sesaknya. Kembali ia mengarahkan jari telunjuknya. "Kamu?"


Dengan seluruh tenaga yang ia kerahkan. Bunda kembali memukul Arifin dengan tangan kosong. Tanpa melanjutkan ucapannya. Karena entah mengapa rasanya sangat menjijikkan jika harus menyebut kata pelaku h*mos*ksual. Sehingga ia lebih memilih kembali memukul putra semata wayangnya sambil menangis.


Sementara yang di perlakukan tak mampu berkutik apalagi berusaha menangkisnya. Ia hanya menunduk sembari terus menerima pukulan Ibunya yang sama sekali tak terasa sakit baginya.


Sebuah kenyataan menjijikan benar-benar membuat hati Bunda Ayattul bergemuruh. Kakinya yang lemas langsung membuatnya tersungkur ke lantai granit.


"Bunda..." Arif turut berjongkok memeluk Bundanya.


"Enyah kamu! Bunda nggak punya anak menjijikkan seperti kamu. Bunda nggak sudi sama kelakuan kamu Arif! Bunda nggak sudi..."


Safa yang masih berdiri disana tidak bisa berbuat apa-apa selain turut sesenggukan menyaksikan kecewanya seorang ibu yang sudah payah membesarkan anak. Namun anak itu justru tumbuh dengan kelakuan yang amat sulit di terima masyarakat bahkan agama.


"Maaf, Bunda. Maafkan aku–"


"Teganya kamu Arif! Tega kamu melakukan perbuatan tercela itu... Astaghfirullah al'azim, Arifin... Apa dosa bunda sama kamu, Fin?"


"Ampun, Bunda... tolong maafin Arifin. Maafin Arif bunda." Suara tangis yang mendayu-dayu itu tak pelak membuat hati Arifin turut terluka.


Ia bahkan sampai bersimpuh mencium kaki Bundanya berkali-kali. Walau dengan tangan masih belum sembuh dari cideranya. Ia masih bertahan pada posisinya bersimpuh.


–––


Selama hampir satu jam, mereka pada posisi itu. Kini keadaan sudah mulai tenang.


Safa menyerahkan segelas air mineral hangat kepada Sang suami untuk di berikan ke Bunda Ayattul yang terbaring di atas pembaringan mereka berdua.

__ADS_1


Arif tak sedikitpun beranjak dari posisinya. Bahkan satu tangannya terus menggenggam tangan Sang Bunda yang sedang memejamkan mata sambil terus merintih menyalahkan dirinya sendiri.


"Bunda– ayo minum dulu, biar enakan," bujuk Afin hati-hati. Pada posisinya, Bunda tak merespon. "Bunda–"


Kembali tubuh itu berguncang hebat karena tangis. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan anak laki-lakinya itu.


"Bun–" kedua netra Arif kembali menggenang. Genggamannya semakin erat ia angkat dan di kecupnya kemudian. "Maaf, Bunda... maaf–" lirihnya kemudian.


"Abang!" Safa menyentuh pundak Arif. "Coba Abang keluar sebentar. Biar Safa yang menemani Bunda dulu."


"Aku takut Buda sakit karena aku, Fa."


"Bunda hanya shock, Bang. Biar Bunda tenang dulu. Abang keluar sebentar, ya," bujuknya sekali lagi.


Afin yang sejenak tak ingin menjauh pun akhirnya mengiyakan. Ia turun dari atas ranjang kemudian keluar kamar dengan ekspresi lesu.


Kini Safa yang mengambil alih. Ia mengusap wajah ibu mertuanya dengan penuh kasih sayang. Lalu membisikan kalimat tauhid berkali-kali. Menuntun ibunya agar lebih tenang dengan kalimat yang di cintai Allah.


Pelan-pelan, dari istighfar yang di bisikan Safa dekat telinga Bu Ayattul. Wanita paruh baya itu pun pelan-pelan mengikutinya. Bergumam istighfar, walau dengan mata berlinang.


Selama beberapa menit. Bunda sudah benar-benar tenang. Beliau bahkan sudah membuka matanya. Memandangi sang menantu yang sedang tersenyum padanya.


Dengan di bantu Safa, wanita itu beranjak duduk. Sementara Safa kembali mengambil gelas berisi air yang tingkat kehangatannya sudah mulai berkurang.


"Bismillah, di minum, Bunda." Tangannya membantu memiringkan gelas berisi air setelah bibir gelas itu menempel dengan bibir pucat Bunda.


"Alhamdulillah –" gumamnya pelan setelah setengah dari isinya tandas.


"Lagi, Bunda?"


"Engga, udah cukup, Nak," jawabnya lemah. Safa pun kembali meletakkan gelas ke atas meja.


"Bunda istirahat, ya. Bunda tidur aja–"


"Kalau tidur, apa semuanya akan berubah? Bunda berharap ini mimpi, Nak."


Safa menggeleng. "Semua bukanlah mimpi. Melainkan hal nyata yang terjadi pada Bang Arif."


Setitik air mata kembali menetes dari salah satu netra yang sudah mulai menunjukkan penuaan itu.

__ADS_1


"Bunda mohon maaf atas nama Arifin, Nak Safa. Andai bunda tahu anak Bunda itu nggak normal. Bunda pasti nggak akan menjodohkan kamu dengan Arif."


Safa tersenyum tipis. Sambil mengusap air mata di pipi ibu mertuanya.


"Qadarullah... itu garis takdir yang sejenak tidak bisa diterima. Tapi nyatanya, Bang Arif sudah menujukkan semuanya pada Safa. Pembuktian bahwa dia itu laki-laki normal."


"Maksudnya, apa kamu udah tahu jauh sebelum ini?" Tanyanya. Perempuan dengan hijab instan warna grey itu mengangguk.


"Awalnya amatlah berat. Bahkan, jalan pisah pernah ingin menjadi jalan akhir untuk kami berdua."


Bunda tertegun. Ia semakin membisu karena pengakuan menantunya itu.


"Tapi Abang sudah berhasil menyakinkan Safa dengan pengakuannya. Dan sejak saat itu Safa memutuskan untuk menerima kekurangan suami Safa itu, Bunda. Suami Safa bukanlah pelaku. Melainkan korban kejahatan seksual sejak SMA."


"A–apa?" Bunda semakin gemetaran. "Maksudnya? Tolong jelaskan sama Bunda semuanya, Nak."


"Iya, Bunda. Safa akan jelaskan, asal satu... Bunda harus kuat, ya," pintanya yang di jawab dengan anggukan kepala. Hingga perlahan, Safa kembali memaparkan apa yang ia dengar dari Afin.


Di tengah kisah masa lalunya. Hingga saat dimana proses laki-laki itu berubah. Sepanjang bercerita, Bunda terus menangis tersedu-sedu. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga Afin tumbuh tanpa pengawasan.


"Disini, Safa memberi saksi sebagai istri Bang Arif. Bahwa Abang benar-benar laki-laki baik, yang masih memiliki iman kuat. Dia sudah berikrar untuk bertaubat. Lagipun bukankah, Allah maha pengampun?"


Wanita di hadapan Safa tertegun, sesekali menghapus jejak air matanya dengan tissue.


"Wallahi, sepengetahuan Safa. Sesuai yang Safa lihat di keseharian. Abang itu orang baik, Bunda. Abang laki-laki tulen yang bertanggung jawab. Sangat menyayangi Ibunya, aku sebagai istri, dan bahkan calon anak kami yang masih berbentuk janin belum bernyawa ini."


Bu Ayattul menyentuh perut menantunya. Sejenak ia lupa kalau di dalam rahim itu ada darah daging Arifin. Bukankah itu sudah bukti?


"Bunda percaya, 'kan? dan Bunda juga maafin Bang Arif?"


Beliau mengangguk. "iya, Nak. Bunda maafin Arif... Bunda maafin, hiks!" sambil menangis Beliau beranjak, dan keluar dari kamar mencari anaknya.


Di sisi pintu. Afin rupanya masih berdiri di sana, sambil menyandarkan punggungnya Kedinding.


"Arif–" langkah Bunda terseret pelan mendekati anak semata wayangnya. Dengan kedua tangannya yang terentang, beliau langsung memeluk tubuh jangkung di hadapannya. "Maafkan, Bunda... Bunda minta maaf, Arif."


Laki-laki itu membalas pelukan ibunya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil terisak, Afin melepaskan pelukannya sejenak hanya untuk meraih kedua tangan Bundanya. Kemudian menciuminya berkali-kali, lantas kembali memeluk tubuh sang Bunda erat sambil meminta maaf.


Safa yang berdiri sambil berpegangan pada kerangka pintu nampak tersenyum haru. Sesekali mengusap air matanya. Ia bersyukur, Bunda sudah tahu dan memahami kondisi yang di alami Arifin. Setidaknya, satu-persatu beban mental suaminya berkurang. Harap-harap Ia akan hidup lebih baik lagi di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2