
Safa mengambil sedikit sup yang sudah matang, dan memasukkannya kedalam dua mangkuk kecil sebagai wadah untuk menghidangkan.
Wanita itu meletakkan salah satu mangkuk berisi sup daging tadi keatas meja, dekat dengan Afin yang sudah bersiap untuk menyantapnya.
Sebenarnya sup sudah matang sejak tadi. Namun mereka tunda makannya demi mengerjakan sholat Dzuhur lebih dulu. Asap beraroma lezat masih mengepul. Dan baru kali ini laki-laki itu langsung berselera melihat makanan yang terhidang di hadapannya. Apa mungkin karena buatan seseorang yang ia cinta ? Mungkin saja.
"Abang mau pakai sambal?" Tanya Safa menawarkan. Wanita itu sudah siap memegangi cobek kecil yang terbuat dari tanah liat.
"Sedikit aja." Ia mengangkat piringnya mengarah pada Safa. Wanita itu tersenyum sambil tangannya menyendokan sambal bawang untuk suaminya.
"Segini?"
"Ya..."
Gadis itu meletakkannya di atas nasi hangat. Setelahnya Afin kembali meletakkan piring tadi, dan beralih pada sendok yang terbuat dari logam. Pria itu sudah tidak sabar mencicipi kuah sup buatan Safa.
Satu suapan pertama masuk kedalam mulutnya. Sensasi hangat yang gurih langsung menyebar. Pria itu terdiam, mengecap-kecap bibirnya.
"Gimana, Bang?" Tanya Safa harap-harap cemas.
"Aku sih, Yes!" jawabnya dengan logat ala salah satu juri Indonesian idol. Ia lantas tertawa, sambil mengusap kepala yang tertutup bergo instan itu. "Enak banget..."
"Alhamdulillah..." Safa merasa senang, karena berhasil membuat suaminya memuji masakan dia. Wanita itu pun turut mencicipinya dan ia setuju. Ya, setidaknya makanan itu tetap enak walaupun sepanjang memasak banyak mendapat gangguan dari Afin.
🍂🍂🍂
Satu minggu berlalu, tiba masa liburan sekolah. tiba pula waktu untuk keduanya melakukan perjalanan bulan madu ke Turki. Cukup jauh memang, dari jarak pernikahannya karena sengaja mengambil di masa liburan sekolah, agar tak mengganggu pekerjaan Safa yang seorang pendidik.
Sore ini Safa sudah mulai berkemas sedikit-sedikit. Karena dua hari lagi, ia dan Afin akan take off menuju kota Istanbul. Tempat dimana nama Muhammad Al-Fatih dikenal khalayak ramai karena keberhasilannya menaklukkan kota konstantinopel.
Seorang gadis dengan hijab segi empat mengangkat tinggi-tinggi salah satu coat musim dingin khusus wanita, yang sering ia lihat di pakai para wanita kantoran di drama Korea.
"Ini harganya berapa ya, Mbak?" Tanya Qonni yang sejak siang tadi betah menemani kakak perempuannya beberes.
"Nggak tau, Abang ipar mu yang beli semua ini. Nggak langsung sekaligus sih. Dan sebagian kecilnya di belikan Bunda Ayattul."
"Hmmm..." Qonni membaca mereknya yang seketika membuat mulutnya melongo. "MashaAllah! Ini mah setara Coat yang sering di pakai Song Hye Kyo. Mahal, Mbak!"
"Masa sih? Emang sampai berapa harganya?" Tanya Safa yang juga turut penasaran. Sementara gadis yang duduk di hadapannya masih sibuk membaca merek pakaian mereka satu persatu. Dan semakin di buat geleng-geleng kepala saat mengetahui semuanya masuk dalam katagori barang mewah.
"Haduh! Semuanya ini kalau di gabungin bisa buat bangun rumah Pakde Irsyad loh, Mbak. Bahkan beserta isinya, ckckckck..."
"Hah! Masa sih?" Safa yang tak mengenal merek branded terperangah.
__ADS_1
"Serius, Mbak. Tapi nggak kaget sih. Namanya juga Kak Afin Anka. Udah jelas semua pakaian yang di gunakan bukan merek kaleng-kaleng. Contohnya baju harian dia, kaos-kaos itu. Satunya bisa mencapai belasan sampai puluhan juta loh Mbak?"
Safa baru tahu, selama ini ia pikir kaos yang sering di gunakan Afin adalah kaos biasa. Seperti G*cci dan Bal*nciaga.
"Tapi, Bukankah orang-orang biasa juga suka pakai merek-merek itu?"
"Hahaha..." Qonni menutup mulutnya menertawakan Kaka perempuannya yang polos itu. "Emang, tapi yang KW jauh. Kalau sekelas Kak Afin itu nggak mungkin pakai yang palsu. Mending pakai baju murah tapi nggak KW dari pada branded tapi KW, Mbak."
"Ooh, aku baru tahu."
"Aku juga sadar gamis yang Mbak Safa pakai akhir-akhir ini merupakan merek-merek terkenal. Harganya udah nggak ratusan ribu lagi itu. Bener-bener beruntung deh..., jadi iri aku."
"Semuanya pasti berat," gumam Safa sambil memandangi semua pakaiannya.
"Apanya?"
"Hisabku...," jawab Safa dengan ekspresi sendu yang seolah langsung mengultimatum adiknya.
Gadis itu kontan menghentikan senyumnya. Seakan-akan dunia yang melayang-layang di atas kepalanya langsung runtuh seketika.
"Makanya, jangan pernah iri sama keadaan ku. Justru aku yang takut, kalau terlalu lama di pengadilan Allah," sambungnya kemudian.
"Kalau udah ngobrol sama Mbak Safa, ujung-ujungnya pasti akhirat," gumamnya amat lirih. Karena memang seperti itulah Safa.
"Udah terlalu sore nih, Mbak. Aku pulang ya?"
"Kirain mau nginep?" Safa gegas beranjak mengikuti adiknya yang sudah bangkit lebih dulu sebelum mengambil tas gendongnya.
"Nggak lah. Nanti malam aku mau kondangan ke rumah teman SMA," jawabnya sambil memasang ransel di punggungnya.
"Oh, iya deh..."
Cklaaakkk!
Keduanya spontan menoleh kearah pintu. Terlihat tubuh Afin tengah berdiri dibibir pintu kamar sambil mengucap salam. Keduanya pun kompak menjawab salam itu bersama.
"Kak..." menyapa dengan anggukan kepala.
Afin tersenyum menanggapi sapaan itu sambil menghampiri Safa. Wanita itu pun langsung meraih tangan Arifin dan mengecup punggung tangannya. Kemudian beralih pada Qonni.
"Kamu lagi di sini, Dek?" tanyanya pada Qonni. Gadis itu pun mengangguk.
"Iya, Kak. Tapi sekarang udah mau pulang, kok."
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? santai aja."
"Aku udah dari tadi Kak. Jadi, Qonni pamit dulu ya. Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam warahmatullah," jawab Safa dan Afin hampir bersamaan. Tak lupa Afin menyerahkan dua bingkisan untuk di bawa Qonni sekalian.
Claaap pintu tertutup rapat. Meninggalkan keduanya yang menjadi hening.
Afin kembali fokus pada wanita berambut panjang di sisinya. Terlihat pula dua koper pada posisi terbuka di atas karpet berbulu.
"Aku kangen..." Tanpa ba, bi, bu, Laki-laki itu langsung merengkuhnya erat. Hujaman kecupan di berikan beberapa kali yang berakhir pada ciuman kilat di bibir.
"Ku pikir Abang pulangnya nanti malam."
"Emang kenapa kalau aku pulang lebih cepat, kamu nggak suka?" Mencubit pipi Safa gemas. Wanita itu pun hanya tertawa meminta ampun.
"Aku hanya tanya kok. Kan jadi nggak menyambutmu di depan kalau kamu pulang dadakan begini." Mengusap pipinya sendiri di bekas cubitan Afin. Wanita itu berjalan pelan kembali ke posisinya tadi saat mengemas pakaian.
Pria itu pula tak menjawab lagi selain mengambil posisi nyaman. Ia langsung merebahkan kepala di atas pangkuan Safa.
"Abang Mau Safa buatin teh hangat?" Tanya Safa, jari-jarinya menyisir rambut Afin sementara tangan satunya mencubit-cubit pelan pipi laki-laki itu.
"Nanti aja, kamu pasti capek habis packing?"
"Nggak juga, kan dibantuin Qonni. Kira-kira bawa dua koper begini terlalu banyak, nggak sih. Tapi pakai-pakaian tebel ini bikin nggak muat banyak. Ini aja masih belum masuk semuanya."
"Enggak lah, kita kan sepuluh hari di Istambul. Jadi stok pakaian harus banyak. Dan kita harus nambah koper lagi, Fa. Hal wajar kok orang-orang bawa banyak barang saat liburan ke luar negeri."
Safa mengangguk. Ia menghitung-hitung pakaian yang masuk ke koper mereka di mana lebih dominan baju musim dingin. Ia pun gegas bangkit sehabis menghalau Afin lebih dulu guna mengambil koper lain. Karena memang baju yang di siapkan belum sepenuhnya masuk.
"Di sana lagi winter, ya?" Kembali duduk di sebelah Afin yang juga sedang melihat-lihat jas musim dinginnya. Semuanya sudah sesuai dengan keinginan dia. Safa benar-benar paham pakaian yang ia suka.
"Iya. Kamu ada masalah fisik dengan suhu dingin? Besok kita periksa kesehatan lagi, ya?" Tangan Afin menyentuh kening Safa yang putih bersih itu.
"Nggak juga sih. Tapi takut hipotermia."
"Tenang, ada aku yang akan menetralkan suhu tubuh kamu. Aku siap kok, berhari-hari di hotel sama kamu."
"Dih, emang kita bakal ngehabisin waktu liburan di hotel aja?"
"Ya, kiranya kamu mau demikian. Nggak papa... aku nggak akan bosan." Afin mengedigkan kedua alisnya.
"Apaan sih, tentu aku nggak mau lah. Pengennya jalan-jalan. Menikmati waktu di sana..." Kedua tangan Safa menggampit pipi Afin dengan gemas.
__ADS_1
Laki-laki itu justru malah membalas tatapannya nakal. Hingga sebuah sergapan cinta di berikan. Jerit refleks Safa bergaung dikamar itu yang di akhiri tawa saat tubuhnya sekarang terlentang di atas karpet bulu setelah menerima dorongan tiba-tiba dari Afin. Yang langsung menyatukan bibir mereka kemudian.