
Setelah Bunda Ayattul mengetahui semuanya. Bunda langsung melakukan tindakan. Bersama empat orang yang di percayanya sebagai Advokat. Bunda maju menjadikan dirinya sebagai garda terdepan bagi putranya demi menuntut Brody. Beliau hanya menginginkan keadilan. Bagaimanapun caranya, ia benar-benar tidak rela dengan apa yang sudah di alami putera kesayangannya selama ini.
Sambil membawa beberapa berkas laporan, beserta barang bukti yang di miliki Arifin. Serta data dari beberapa anak remaja di bawah umur yang menjadi korban laki-laki menyimpang itu.
Ia siap, melayangkan gugatan pada sang pedofil. Dan polisi pun kini menerima laporan itu serta berjanji akan memberikan keadilan sesuai tuntutan Beliau saat persidangan nanti.
🌲🌲🌲
Hari ini, angin berhembus lebih menyegarkan dari biasanya. Mentari pun mulai mengintip dari ufuk timur tatkala Safa yang sudah rapi dengan pakaian dinasnya turut membantu menyiapkan perlengkapan sang suami yang juga hendak pergi ke salah satu gedung stasiun televisi.
Setelah selesai. Ia memberikan kecupan di punggung tangan Afin meminta restu sebelum pergi mengajar. Begitu pula Afin yang membalas kecupan di kening kemudian perutnya. Laki-laki itu kembali berdiri memandang wajah penuh aura kesejukan.
"Doakan aku bisa ngomong semuanya di depan kamera, ya," ucapnya.
"Iya, Bang. Jangan lupa doa Nabi Musa..."
"Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii. Aku udah hafal, Fa," timpalnya yang di susul tawa dari keduanya.
"Alhamdulillah. Kamu makin hebat, Bang. Safa seneng dengernya."
"Itu karena kebaikan Allah. Yang telah memberikanku istri kaya kamu. Bikin aku mudah belajar."
"MashaAllah–" gumamnya merasa tersanjung.
"Jadi 'kan, pulang sekolah langsung ke rumah Ibu di Babelan?"
"Jadi, Bang."
"Ya udah. Pulangnya naik taksi aja... nanti ba'da Magrib aku jemput. Sekarang kita berangkat sama-sama. Aku anterin."
"Emmmm, nggak usah. Mending aku naik ojek online aja, ya."
"Kamu kenapa sih nggak pernah mau aku antar sampe sekolah?" Ada nada jengkel yang ditunjukkan Afin. Pasalnya sang istri memang tidak pernah mau di antar ke sekolah tempat dia mengajar.
Safa terkekeh sambil menyentuh dada Suaminya. "Bukan aku nggak mau. Tapi lebih ke rasa... nggak enak."
"Nggak enak sama siapa? Yang aneh-aneh aja. Di anterin supir lain nggak mau. Maunya ngojek setiap aku suruh jangan bawa motor sendiri."
"Astaghfirullah al'azim... jangan marah. Maaf deh, maaf." Safa mengalah ia menyandarkan kepalanya di dada Afin.
"Nggak marah sih. Tapi lebih ke gimana gitu..." Kedua tangan Afin membalas pelukan istrinya.
"Maksudnya, aku belum terbiasa, Bang. Ngajar pake kendaraan mewah. Jadi agak gimana gitu... nggak enak juga sama murid dan guru-guru yang lain. Sekarang aja setelah tahu aku istri seorang Selebgram ternama kaya Bang Arif aja udah canggung."
"Terus?"
"Ya, nggak terus-terus. Udah lah, Bang. Nggak papa ya, aku naik ojek motor aja."
__ADS_1
Afin menggeleng. "Aku tetep anterin. Yuk!"
"Tapi?"
"Kamu lebih paham loh, hukum membantah suami."
"Iya deh... tapi jangan di depan gerbang persis, ya."
"Faaa..."
"Iya, Bang." Tidak ada pilihan. Ia hanya tak mau berdebat panjang hanya karena perihal mengantar. Jadi, ya sudahlah... toh tidak setiap hari ini.
🌸🌸🌸
Mobil memasuki lingkungan sekitar sekolah. Dimana anak-anak muridnya mulai berdatangan untuk menimba ilmu di dalam gedung Madrasah Aliyah negeri tersebut.
Safa yang melihat situasi ramai itu, langsung membeku di tempatnya. Sambil menggenggam selempang tas yang masih terpasang di bahu.
"Kamu nggak turun?" tanya Afin sambil mengusap kepala Safa. Sementara tangannya yang lain menggenggam Tab di atas pangkuan. Akibat tangan yang belum begitu pulih, laki-laki itu masih belum bisa menyetir sendiri. Jadilah, ia memakai sopir untuk mengemudikan mobilnya.
"Rame banget... jadi nggak enak."
Afin tersenyum. "Ya udah. Terus gimana? Ini masih jam enam lewat tiga puluh. Mau nunggu sampai bel sekolah?"
Safa menggeleng. Ia kembali meraih tangan suaminya, cium tangan.
"Iya, Sayang." Dengan iseng pria itu menahan tangan Safa yang hendak membuka pintu. Menyadari tangannya masih di pegang erat, wanita itu menoleh lagi.
"Bang?" Belum selesai bicara Afin langsung mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk minta cium. Safa pun mendelik. "Jangan macem-macem, Bang."
"Satu kali aja... secepat kilat juga nggak papa." Pintanya masih terus memegangi tangan Safa.
"Kalau keliatan murid ku gimana?"
"Kacanya gelap kalau dari luar, Fa."
"Tapi, 'kan? Dari depan masih keliatan."
"Posisi mereka jalan kan membelakangi mobil kita. Jadi nggak akan keliatan. Ayo cepetan, nanti nggak ku lepasin nih," ancamannya. Safa pun menghela nafas. Sebelum memberi kecupan secepat mungkin di pipi suaminya.
"Udah, ya. Lepasin..."
"Satu lagi–"
"Abang..."
"Hahahaha... ya udah sana. Selamat mengajar, Bu guru."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk. "Hati-hati juga untukmu. Semoga Allah membuat segala urusanmu hari ini lancar."
"Aamiin... daaaa!" Afin melambaikan tangan saat sang istri sudah keluar hendak menutup pintu mobilnya lagi.
Wanita itu juga sama membalasnya sebelum pintu mobil itu tertutup, dan mobil pun mulai melaju. Meninggalkannya yang masih berdiri di tepi jalan.
"Assalamualaikum, Ustadzah Safa–" seorang muridnya menyapa sambil meminta salim.
"Walaikumsalam warahmatullah –" jawabnya. Tak lama murid-murid lainnya bergantian menyapa Beliau. Mereka pun melangkah bersama masuk ke dalam gerbang sekolah.
***
Semakin kesini, semakin santer pula pemberitaan jika Afin adalah korban dari sang pedofil. Sehingga perlahan demi perlahan nama Afin menjadi semakin bersih di kalangan masyarakat.
Ya, setelah lebih dari dua bulan menghindari paparazi. Afin kembali muncul ke publik, sebagai bintang tamu dalam sebuah acara talk show.
Awalnya, ia menolak jika harus membicarakan hal ini lagi. Namun, ia tidak mau semakin jadi fitnah itu menyebar dan menjalar kemana-mana lagi. Sehingga, memberi klarifikasi adalah pilihannya.
Afin mulai bercerita tentang kisah masa lalunya. Alasan kenapa ia bisa terjerat laki-laki itu, dari awal kekecewaannya yang tak ia paparkan seluruhnya. Hingga hari naas itu, masa pertama kali ia mendapatkan tindak asusila dari pria dewasa.
"Jadi selama ini ada ancaman?" Tanya sang pembawa acara nampak serius.
"Iya, Mas," Afin menjawab dengan santai.
Di hadapannya kamera-kamera menyala untuk merekam percakapan hari ini. Suara para tim kreatif pun tak terdengar semua fokus padanya.
"Tapi, apa nggak pernah sekalipun untuk mencoba melaporkan kejadian itu?"
"Sebagai korban yang masih remaja. Ketika mengalami hal seperti itu, saya bisa apa selain memilih untuk bungkam dan menghindari keramaian. Saya nggak berani speak up, Mas."
Afin menjeda kata-katanya. Mengingat masa-masa menjijikan itu.
"Termasuk ke orang tua sendiri? Kamu nggak berani bicara?"
"Ya..." Afin mengangguk mantap. "Gimana, ya? Satu, sudah jelas akan takut. Entah takut karena malu, nantinya akan menjadi bahan olok-olokan. Atau takut akan di duga pelaku. Karena nggak gampang, Mas. Bahkan menceritakan ini lagi aja, muncul perasaan jijik juga. Yang kedua, lebih menjaga nama orang tua."
"Okay, tapi mohon maaf ya, bisa sampai selama itu, Fin. Kamu terjerat..."
Pria itu mengangguk. Sebelum host acara melanjutkan kata-katanya.
"Saya pecandu, pada waktu itu. Orang-orang udah tahu soal itu..."
"Ya, ya..."
"Jadi, susah bagi saya untuk menolak. Karena taruhannya... saya nggak bisa dapat barang yang saya inginkan. Sementara kalau nggak mengkonsumsi seluruh badan akan sakit semua."
Pria itu geleng-geleng kepala, "sangat paham sekali."
__ADS_1
Mereka terus berbincang dari A sampai Z yang di tutup kata-kata Afin tentang kebahagiaannya saat ini tak terlepas dari peran wanita hebat di rumahnya.