
Sudah berjalan cukup jauh, tak terasa Arifin telah sampai pada salah satu komplek kuliner di Bekasi.
Pria itu memarkirkan mobilnya, agak jauh dari para kerumunan anak-anak muda. Perutnya yang sedikit lapar menginginkan sesuatu untuk di beli. Sebuah warung Mie ayam terlihat menggodanya.
"Pengen makan di sana, tapi gua takut mengundang kerumunan orang. Kalau di bawa pulang nanti nggak enak." Pria itu memeluk setir sambil mengintip kearah warung yang terlihat ramai. "Udah lah minta abangnya bungkus terus suruh anterin ke sini."
Arifin meraih masker dan topinya. Setelah semua atribut itu terpasang laki-laki itu pun keluar dari dalam mobil.
Cuaca yang masih terik terasa menyengat sekali ketika tubuhnya keluar dari mobil yang berAC.
"Panas banget!" Runtuknya sambil berjalan. Pria dengan celana pendek dan kaos hitam itu terlihat sedikit mencolok di kalangan banyak orang. Beberapa di antaranya mencermati saat pria itu mulai menyebrang jalan. Hingga Arif kini berpapasan dengan kelompok anak SMA.
"Eh, Kak Afin ya?"
Arifin yang mendengar itu tak menoleh apalagi menghentikan langkahnya. Ia terus saja melangkahkan kakinya mendekati kedai Mie ayam. Tanpa peduli yang di belakang.
"Kayanya iya, deh. Itu Kak Afin Anka! KA AFIIIIIIN!" Seru seorang yang lain. Hingga mengundang perhatian beberapa siswi SMA atau muda-mudi yang kebetulan sedang berada di sana.
Sial! Arifin langsung belok ke sebuah gang. Berjalan cepat sambil menoleh kebelakang setelahnya berlari seperti pria yang di kejar para bandit pembunuh demi menghindari para fansnya.
Sebenarnya, Arifin bukan seorang Selebgram sombong yang enggan menyapa penggemarnya. Justru sebaliknya, laki-laki itu akan selalu meladeni para fans-nya mau sebanyak apapun. Jika waktunya tepat. Namun, tidak untuk hari ini. Ia memilih untuk kabur karena mood yang sedang berantakan. Ya, dia paling tidak suka Me time-nya jadi terganggu.
"Ka Afin!" Teriakan mereka terdengar. Arifin terus berlari masuk dari satu gang ke gang yang lain. Namun, mau seberapapun ia menghindar. Ia tetap bertemu fans lainnya.
"Aaaaah, gua harus kemana? Kenapa jadi kaya maling di kejar massa begini, sih!" Pria itu sudah ngos-ngosan saat sampai di sebuah pertigaan gang yang agak sepi. Setelah itu memutuskan untuk belok ke arah kanan. Ia pun keluar gang lantas menyeberang jalan sebelum masuk ke area masjid.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita berhijab yang sedang menelepon di depan masjid. Dengan kerudungnya yang panjang, terlihat berkibar tertiup angin. Garis wajahnya yang teduh dengan senyum yang anggun seakan sedikit menyihirnya hingga ia pun terus berlari mendekat kearahnya.
Greeep!
Entah apa yang ada di kepala laki-laki itu. Ia langsung saja menarik gadis itu agar turut bersembunyi. Masuk ke dalam ruang wudhu khusus perempuan. Untungnya pada saat itu suasana masjid sudah sepi.
__ADS_1
"A–apa-apaan ini? K–kamu siapa?" Teriak Shafa. Melangkah menjauh dari pria asing yang wajahnya tertutup masker dan topi.
"Sssssttt, kecilkan suara Lu!" Pria itu hendak membungkam mulut gadis di depannya namun secepatnya Shafa menghindar.
"Jangan sentuh saya...!!"
"Sssssttt... Gua bilang kecilin suara Lu!" pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir. Sial, mikir apa si gua sampai bawa dia ke sini juga?
"A-anda siapa? An-anda bukan orang jahat, kan?!" Kaki Safa gemetaran. Ia benar-benar takut dengan laki-laki asing di hadapannya.
"Gua bukan orang jahat, sumpah!" ujarnya dengan suara lirih.
"Kalau bukan, kenapa tiba-tiba saya di tarik ke sini. Eh, Mas! Atau Bang! Ini masjid. Jangan pernah berniat jahat di rumah Allah, ya. Mau dosanya berdobel-dobel?!"
Malah khutbah ni orang! –runtuknya dalam hati. Ia pun membuka masker dan topinya. Safa yang melihat laki-laki itu menunjukkan wajahnya hanya diam saja. Tak menujukkan ekspresi lain selain ketakutan.
"Lu kenal gua, kan? Tolong jangan teriak, jangan bersuara lah pokoknya. Okay! Entar gua kasih kesempatan buat foto bareng asal Lu mau bantu gua."
Laki-laki itu berjalan keluar untuk mengintip situasi di luar masjid.
"Sa–saya mau keluar." Safa berusaha untuk keluar.
"Eh! Entar dulu, gua bilang kan bantuin dulu."
"Jangan mendekat! Sa-saya harus bantu apa?"
"Nanti gua jelasin. Tapi tolong pinjami dulu, apa gitu untuk gua nyamar," pintanya.
"Maksudnya?" Safa mengernyitkan kening, bingung. Hingga tak lama riuh suara di luar, semakin terdengar. Seperti suara para gadis.
"Sial...! Pelase, tolongin gua. Pinjamin gua kerudung Lu. Cepetan!" Pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya sambil mengangkat sebatas wajahnya.
__ADS_1
"Saya tidak ada kerudung selain yang saya pakai ini. Anda ini siapa sih? Maling ya?"
"Setau gua nggak ada maling tampan kaya gini. Kalau begitu mukena... jangan tanya-tanya dulu, nanti gua jelasin." Pria itu memohon.
"Tapi?"
"Tolong, demi hidup dan mati gua. Gua akan balas budi kalau Lu mau nolong gua sekarang. Cepetan Mbak...!" Tuturnya. Safa yang menatap aneh pun akhirnya mengiyakan. Ia mengeluarkan mukena dari dalam tasnya lalu menyerahkan pada pria itu dengan tangan gemetar.
"Makasih!" Hendaknya ia meraih mukena yang di sodorkan, namun ketika tangan laki-laki itu menyentuh kulit tangan Shafa. Gadis itu kembali menjauhkannya.
"Jangan sentuh saya!"
"Apa sih? Gua mau ambil mukenahnya, bukan tangan Lu! Geer banget jadi cewek!" Ia merebut mukena itu sedikit kasar, tanpa menyentuh tangan Safa, lalu memakainya. "Nih, bawahannya nggak saya butuhkan. Saya butuh atasannya saja." Melemparkan begitu saja.
Gadis itu memandangi aneh. Karena ia memakai atasan mukena, namun betisnya terlihat.
Arifin kembali berjalan untuk mengintip sejenak sebelum kembali masuk.
"Banyak banget orangnya!" Gerutunya. Sementara Safa hanya geleng-geleng kepala. Ia merasa laki-laki itu sangat mencurigakan, apa namanya kalau bukan maling. Karena sampai di kejar masa seperti itu. Dia pun kembali berjalan santai setelah memasukkan bawahan mukenanya kedalam tas, melewati pria itu dengan hati-hati.
"Tunggu! Gua ikut jalan di belakang Lu."
"Eh..." Shafa sedikit menjauh saat pria itu sudah bersembunyi di balik tubuhnya. "Jangan gini, saya nggak bisa ada laki-laki di belakang tubuh Saya."
"Alahhh... Sebentar saja. Cepetan jalan." Titah pria itu dalam posisi membungkuk di belakang Shafa.
"Tapi...?"
"Cepet!"
Apa boleh buat, gadis itu akhirnya menurut. Ia berjalan dengan laki-laki di belakangnya. Walaupun sebenarnya tidak baik jika dalam pandangan syariat. Namun, demi melindungi orang dari amukan masa. Ya sudah lah... mudah-mudahan Allah mengampuninya.
__ADS_1
Keduanya berjalan santai menerobos para gadis-gadis remaja yang mengidolakan Afin Anka. Dan sayangnya, penyamaran laki-laki itu terendus akibat jelih-nya mata para fans. Hingga ke-dua kembali berlari menjauhi para kerumunan yang masih saja memangil nama Arifin.
Tahu gini mending tadi nggak usah kabur. Udah nggak jadi beli mie ayam. Sekarang malah lari nggak jelas kaya maling. –Arifin yang terus berlari.