Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 60


__ADS_3

"aaaaah..." Sedikit erangan halus saat mata jarum yang tajam itu menusuk jarinya cukup dalam. "Astaghfirullah al'azim, bisa sampai ke tusuk gini."


Wanita yang sedang duduk di teras balkon sambil menjahit kancing gamisnya yang hampir lepas itu langsung menutupi jari yang berdarah dengan jari yang lain. Mendadak tercenung menatap langit senja di luar. Baru beberapa menit yang lalu dirinya saling bertegur sapa dengan suaminya lewat panggilan suara, namun sudah mendapatkan firasat yang tak enak.


Ia mencoba mengalihkan segala pikiran buruknya namun semakin membuatnya tak tenang. Hingga tangan wanita dengan hijab instan warna hitam itu langsung meranggai ponsel di atas meja. Namun, belum sempat di sentuh benda pipih itu justru berbunyi. Tertulis juga nama suaminya di layar, membuat dirinya tersenyum tipis.


"Assalamualaikum, Bang."


"Walaikumsalam. Selamat, sore... Maaf, Mbak. Apakah benar saya sedang berbicara dengan isteri dari Mas Afin Anka?"


Mendengar suara di sebrang bukan milik suaminya. Safa langsung terdiam dengan pikiran yang melayang-layang kemana-mana.


Hingga beberapa saat, setelah mendapati kabar. Wanita itu langsung meluncur ke rumah sakit demi mengetahui kondisi terkini suaminya yang di kabarkan mengalami cidera setelah tertabrak mobil berjenis Fortuner di Basemen salah satu kantor media.


Sebuah ruangan VVIP terbuka. Safa langsung menghampiri sosok pria yang sedang duduk diatas single Bed dengan perban melingkar di kening.


"Assalamualaikum, Abang, Bunda. Ya Allah..." Wanita itu langsung menghambur pada Tubuh Afin dengan kedua mata berkaca-kaca menahan kesedihan, ketakutan yang bercampur menjadi satu. "Apa yang terjadi, Bang. Kenapa Abang bisa ketabrak mobil di basemen?"


Pria yang sedang mengunyah bubur dari tangan ibunya itu tersenyum. Mengingat kejadian mengerikan yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Ketika mobil Brody yang mundur dengan kecepatan tinggi siap untuk melindas, tiba-tiba oleng ke samping beberapa centi dari posisi tubuhnya terkapar.


Hingga bodi belakangnya menabrak mobil lain yang terparkir di sana juga. Suara alarm mobil pun berbunyi keras. Brody yang panik langsung tancap gas dan langsung melarikan diri dari sana.


Afin mengusap punggung tangan Safa dengan tangan kirinya. "Namanya juga apes. Siapa yang tau... Kalau aku akan ketabrak mobil orang yang mau keluar."


Arif tak ingin bercerita tentang percobaan pembunuhan yang di lakukan mantan manajernya itu. Jadilah, ia sedikit berbohong agar istrinya tak jauh lebih khawatir lagi.


"Ya Allah, terus gimana dengan kondisi Abang. Kata dokter apa?"


"Alhamdulilah cuma lecet, Nak. Sama ada bocor di kepalanya tapi udah di jahit kok. Serta tulang tangan kanan agak retak. Tapi Arif tetap harus melakukan CT-SCAN lagi. Biar tahu, takutnya ada luka dalam. Berdoa saja, tidak ada luka dalam yang di alaminya." Bu Ayattul yang sudah sejak tadi datang menjawabnya.


Safa manggut-manggut. Kedua tangan erat memegangi lengan kiri suaminya, sebab tangan kanan harus di gips agar mengurangi cedera yang lebih parah lagi.

__ADS_1


"Kamu mau lanjutin suapi Arif? Bunda mau sholat Maghrib dulu."


"Ah, sini, Bunda..." Buru-buru Safa mengambil alih mangkuknya. Lalu menyuapi pelan-pelan sang suami. Sementara Bunda mengambil Mukenah dari dalam tas sebelum keluar dari bangsal rawat inap itu.


Krieeeeet... Pintu kembali tertutup. Kini hanya tertinggal mereka, ditengah suasana ruangan yang menyeruak aroma medis. Sorot mata Afin menoleh pada penampilan Istrinya yang memakai busana tabrak warna. Dan yang paling membuatnya ingin tertawa adalah alas kaki isterinya.


"Kamu pasti buru-buru kesini?" Tanyanya dengan tatapan penuh arti mengarah pada wajah sendu tanpa riasan sedikitpun di hadapannya.


"Iya, Bang. Aku buru-buru banget. Panik kamu kenapa-kenapa..." jawabnya sambil tangannya bergerak mengumpulkan bubur dengan sendok.


"Pantesan. Sampai asal pakai..."


"Asal pakai apa?" Safa menghentikan gerakan tangannya. Fokus memperhatikan wajah suaminya yang sedang menujuk ke bawah dengan lidah yang di tekankan ke area samping rongga mulutnya. Spontan Safa langsung melirik ke bawah, ia mendapati dirinya pakai sandal dengan pasangan yang berbeda.


"Astaghfirullah al'azim..." gumamnya terkejut, sementara sang suami malah justru tertawa. "Kok bisa aku pake sendal beda pasangan ini?"


"Dih selingkuh tuh sendal..."


"Haaaa..." Gerak kakinya refleks melepaskan sendalnya yang salah pasangannya itu. Satunya milik dia dan satunya lagi adalah selop milik Afin.


"Aaaa, iya, Bang. Safaa juga heran. Ya Allah, pantesan... beberapa orang memperhatikan Safa saat kesini."


"Biarlah, namanya juga nggak tahu." Afin mengusap pipi istrinya dengan punggung jari telunjuk. Gadis itu pun manggut-manggut. "Sini deketan, aku pengen peluk calon ibu."


"MashaAllah..." Safa merasa di atas awan saat Afin mengatakan itu. "tapi abisin dulu makanya."


"Peluk dulu maunya." Satu tangan Afin sudah menarik-narik tangan Safa agar lebih mendekat. Wanita itu pun menurutinya, langsung masuk ke pelukan dada sebelah kiri. Sebuah kecupan pula tak lupa di layangkan Afin. "Makasih sudah mengkhawatirkan aku sampai salah pakai sandal."


"Jangan di bahas terus dong, malu..."


"Hehehehe." Afin kembali mencium pipinya. Sebuah rasa syukur yang tak tergambarkan. Pria bermata elang itu merasa dirinya telah dilindungi sang maha pencipta, serta memberikannya kesempatan hidup untuk semakin merubah menjadi yang lebih baik.

__ADS_1


Andai saja tidak karena pertolongan Allah. Mungkin ia tidak akan bisa turut menunggu anak pertamanya itu lahir.


🍂 🍂 🍂


Setelah hampir sepuluh hari di rumah sakit. Afin di perbolehkan pulang asal tetap harus di awasi makan dan kegiatannya. Selama beberapa hari ke depan. Selagi gips masih terpasang, ia tidak melakukan kegiatan apapun selain beristirahat di kamarnya. Suasana rumah yang nampak hangat, Safa dengan setia mendampingi serta merawat suaminya.


Siang ini udara amatlah terik. Safa membawa satu piring buah yang sudah di potong-potong ke dalam kamar. Saat itu, sang suami sedang memejamkan matanya, tertidur.


"Bang–" tangan halus Safa menggoyangkan bahunya pelan membangunkan sang suami yang sudah lelap dalam tidur siangnya. "Abang! Bang Arif, makan buah dulu, yuk."


Tubuh laki-laki itu menggeliat, melakukan perenggangan pelan sebelum membuka mata. Netranya bergerak, tertuju pada Sang Istri.


"Makan buah, yuk," ajaknya.


"Emmmmmmm..." Pelan-pelan ia bangkit untuk duduk. Mengusap-usap matanya sembari menunggu potongan buah itu di arahkan padanya.


"Bismillah–" gumam Safa dengan suaranya yang lembut. Namun, bukannya makan buah laki-laki itu justru menyingkirkan pelan tangan Safa lalu m*l*mat bibir isterinya sebentar.


"Ini baru segeran," ucapnya setelah puas membasahi bibir Safa. Wanita itu langsung melebarkan kedua matanya, kaget.


"Abang kebiasaan banget deh ..." salaknya sambil memukul pelan lengan yang tak cidera. Sementara yang di pukul hanya tertawa.


"Jackpot yang luar biasa," kelakarnya sambil mengusap bibir Safa dengan ibu jari.


"Huuuh..." Safa langsung memasukan potongan apel ke dalam mulut suaminya sekaligus agar tidak tertawa terus. Menunggu sampai apel di mulut tertelan, pria itu baru menanggapi.


"Mau gimana lagi, aku puasa lama loh karena ini." Menunjuk lengannya yang di gips.


"Jangan protes dong. 'Kan lagi di terpa ujian."


"Ujian yang berat karena nggak bisa nyentuh kamu." Pria itu meletakkan tangannya di bagian paha yang tertutup piyama gamis bermotif bunga.

__ADS_1


Safa tertawa sambil menutup mulutnya. "Lagian Bang... ini tuh ada hikmahnya. Di dalam ada janin yang sedang berkembang, seenggaknya dia jadi nggak terganggu aktifitas Ayah dan ibunya."


"Iya juga, sih." Garuk-garuk kepala. Sementara obrolan terus berlanjut. Tanpa sadar satu piring buah berisi buah naga, apel, dan kiwi itu habis. Tentunya karena waktu siang masih panjang, Safa memilih untuk merebahkan tubuhnya di sisi Afin, beristirahat.


__ADS_2