
Langit sudah kembali terang. Mentari juga sudah mulai meninggi. Menyengat kulit-kulit sawo matang mereka yang bekerja di jalanan tanpa atap berteduh.
Setelah memeriksakan sang istri ke Dokter kandungan dan mengetahui usia janin dalam kandungan Safa. Keduanya gegas melanjutkan perjalanan untuk menemui keluarga Safa di Babelan. Hal ini sudah di rencanakan sebelumnya. Mereka akan berkunjung ke rumah Fatkhul Qulum sekaligus bermalam. Jika Afin tak berubah pikiran.
Lampu lalulintas baru saja berubah hijau. Suhu yang amat terik diluar tak melunturkan rona kebahagiaan yang terpancar di wajah laki-laki itu sejak subuh tadi.
Afin masih tidak menyangka, secepat itu dia akan jadi Ayah. Padahal dalam hidupnya baru sebentar menyatakan dia beriman. Namun, Allah SWT sudah memberikan kebaikan yang luar biasa untuknya. Sebuah kepercayaan hadirnya buah hati di tengah-tengah kebahagiaannya.
Sesekali tangan Safa di kecupnya sembari dirinya fokus menatap jalan yang cukup ramai lalu lintasnya. Mungkin setelah ini ia akan lebih over lagi dalam penjagaan. Ia tidak mau, kesehatan istrinya terganggu yang akan mempengaruhi kesehatan calon anaknya juga.
Di rumah sederhana milik Ulum, sebuah mobil matic berhenti, serta terparkir di depan pagar. Halaman rumah orang tua Safa memang tidaklah luas, itulah mengapa mobil Afin tidak bisa masuk. Gerbang besi yang sebagian besarnya berkarat itu pula hanya mampu di masuki sepeda motor.
Dari ruang tamu, tepatnya di depan jendela kaca, terlihat seorang wanita tengah menjahit seragam sekolah milik seorang pelanggan. Wajahnya terlihat sumringah, saat mendapati mobil menantunya itu.
"Ya Allah, Safa dan Arifin!" Wanita itu buru-buru menghentikan pekerjaannya hanya untuk menyambut anak dan menantunya di luar.
"Assalamualaikum–" perempuan dengan hijab segi empat itu menyapa ibunya. Di susul Afin di belakang dengan beberapa tas belanjaan berisi oleh-oleh dari Turki.
"Walaikumsalam warahmatullah... kalian udah pulang. Kok nggak ngabarin ibu mau dateng?" Tanya Aida yang buru-buru memeluk tubuh Safa setelah keduanya mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Iya, Bu. Kita putuskan untuk pulang cepat. Karena?" Ia men-jeda perkataan sambil menoleh kearah suaminya. Lantas tersenyum, kembali pada sang ibu. "Ada satu alasan yang membuat kita harus kembali lebih awal," jawabnya kemudian.
Wanita paruh baya yang mengenakan daster batik lengan panjang beserta kerudung sederhana yang menutup dada itu hanya mengangguk. Tak peduli apapun alasannya, mereka kembali dengan selamat sudah amat membuatnya bersyukur.
Safa memang sengaja tak langsung memberi tahu kabar kehamilannya pada Ibu. Baginya nanti saja saat semua sudah berkumpul. Toh, malam ini juga ada niatan untuk menginap. Hal itu di minta langsung oleh Arifin sendiri yang ingin sekali-kali tidur di rumah mertuanya.
"Masuk yuk...," ajaknya pada mereka berdua.
Kini Safa dan Arifin sedang duduk di sebuah kursi sudut yang sudah cukup usang namun masih bagus. Perempuan dengan hijab segi empat itu kembali bangkit hanya untuk memeriksa kamarnya.
Cklaaakkk....
"Assalamualaikum–" gumam Safa seraya masuk ke dalam. Ruangan kamarnya memang sudah lama tidak terpakai. Namun udara tetap masuk karena ibunya rutin membuka dan menutup jendela kamarnya.
Ibu Aida kembali keluar dengan teh hangat serta camilannya.
"Seharusnya nggak usah repot-repot, Bu. Kan kami bisa bikin sendiri," Afin membantu menurunkan dua cangkir teh dari atas nampan.
__ADS_1
"Nggak papa. Orang ibu kok yang mau. Lagian kalian capek," ujarnya sambil tersenyum. Afin sendiri membalas itu dengan ucapan terima kasih.
Dari dalam kamar, terdengar suara Safa sedang menepuk-nepuk kasur busa tanpa seprai dengan sapu lidi. Aida pun beranjak, menghampiri putrinya.
"Kamu ngapain ngebutin kasur? Udah istirahat aja. Ini biar ibu yang beresin." Aida berusaha mengambil alih pekerjaan Safa namun anak perempuannya itu menolak.
"Nggak papa, Bu. Cuma mau bersihin dikit, abis itu pasang seprai."
Mendengar itu sang ibu langsung merasa berbinar.
"Emangnya, kalian mau menginap?" Tanya Aida sambil memegangi tangan Safa.
"Iya, Bu. Safa sama Bang Arif mau nginep di sini semalam."
"MashaAllah...! tahu gini kenapa nggak ngabarin dari awal. Kan jadi bisa di jemur dulu kasurnya."
"Ya ampun, nggak perlu sampai ngejemur kasur segala, Bu. Masih nyaman kok–"
"Hemmm, ya udah sana duduk aja temenin suami kamu. Ini biar ibu yang selesaikan."
"Tapi kan ibu lagi banyak jahitan..."
Perempuan bermata bening itu mengulas senyum. Ia mengalah, sambil menyerahkan sapu lidi yang di khususkan untuk membersihkan permukaan kasur.
"Maaf ya, Bu. Jadi ibu yang beres-beres kamar untuk tidur Safa dan Bang Arif."
"Haiiiih! Nggak papa, Nduk. Kaya apaan aja..." Kekeh Sang ibu dengan semangat langsung melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Safa kembali ke luar. Menghampiri Afin yang rupanya sudah pindah ke teras rumahnya. Teras yang hanya di lapisi semen halus karena bagian yang di keramik hanya di dalam saja. Pria itu nampak menikmati teh seduhan, buatan ibu mertuanya.
Pelan-pelan Safa menghempaskan bokongnya ke permukaan kursi yang terbuat dari besi. Tepat di sisi Afin yang berbatas meja bundar di tengah-tengah.
"Abang bosen nggak di rumah ini?"
"Bosen? Kenapa harus bosen?"
"Karena Rumah orang tua Safa sempit dan?"
__ADS_1
"Ya nggak, lah!" Afin langsung menyanggahnya. "Ini rumah orang tua istri aku. Ya harus betah..." Afin tersenyum. Pria bertopi hitam itu masih memegangi cangkirnya. Meniup sedikit lantas menyeruputnya sangat sedikit.
"Ini teh apa, ya?" Tanya Afin sambil meletakkan cangkir tehnya keatas lambar.
"Kalau nggak salah, itu teh Tambi. Favoritnya Ayah."
"Teh Tambi?"
"Iya, teh yang cukup terkenal di daerah Wonosobo dan sekitarnya. Tehnya harum melati, 'kan?"
Afin mengangguk. "Iya, enak. Tapi karena di nikmati saat siang hari. Di tambah airnya panas sekali, rasanya kaya kurang pas aja. Terlalu lama menikmatinya," tuturnya sambil tertawa sedikit.
"Yah, begitulah orang tua yang tinggal di perkampungan. Paling sering menyuguhkan minuman panas," Safa menimpali. Ia menyentuh cangkirnya sendiri dan merasakan panasnya. "Di tunggu aja sampai dingin, Bang. Karena meniup minuman juga sebenarnya nggak baik."
"Begitu, ya?" tanyanya. Nampak Safa sendiri mengangguk. "Emmm, sebenarnya aku pengen minum yang lain."
"Boleh, Bang. Bang Arif mau Safa bikinin Es?"
"Iya, aku mau yang dingin. Tapi, nggak usah yang repot-repot. Air mineral aja, asalkan dingin."
"Biar ku ambilin ya?"
"Ya, Fa." Pria itu mengangguk. Kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat istrinya sudah kembali masuk ke dalam rumah.
Rumah ini sederhana sekali. Kayanya, nggak pernah mengalami renovasi lama. Modelnya masih tipe dulu.
Ia melirik ke rumah di sebelahnya. Rumah itu sepertinya memang kosong. Sebelum ini Afin sudah memperhatikan kalau rumah sebelah tak berpenghuni, dan baru sekarang ia melihat tulisan di jual.
Ia yang merasa tertarik langsung bangkit dan berjalan. Mengintip bagian rumah dari pagar yang tak terlalu tinggi.
Kayanya luasnya sama dengan rumah ini. –Nampak ia memikirkan sesuatu, sebelum kemudian mengeluarkan ponselnya. Setelah itu mengetik satu demi satu digit angka yang tertera sebagai nomor telepon orang yang menjualnya.
"Bang?" Safa memanggil saat laki-laki itu baru selesai mengetik nomor telepon.
"Ya?" Afin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Abang lagi ngapain?"
__ADS_1
"Cuma lihat-lihat..."
"Ooh... Ini air dinginnya." Safa meletakkan nampan kecil yang terdapat teko kaca berisi air es dan gelas kosong. Pria itu pun menghampirinya, kembali duduk di kursi yang sama.