Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 33


__ADS_3

Dua hari setelah acara di Singapura. Afin pulang dengan tubuh yang teramat lelah. Laki-laki itu terdiam sebelum turun dari dalam mobilnya. Nampak Safa menanti di depan pintu. Gadis berkerudung cream itu tersenyum dengan tangan memegangi gunting setelah memotong beberapa dahan kecil.


"Kamu lagi apa?" Tanya Afin sesaat setelah turun dari dalam mobil mendekati Safa.


"Aku cuma gunting batang-batang bunga yang udah mulai kering, Bang." Safa meraih tangan yang sedikit berbulu milik suaminya dan menciumnya dengan takzim.


Tiba-tiba kedua mata Safa mengembun tanpa sebab. Hatinya seperti tengah di permainkan selama ini. Namun ia tidak bisa memprotes itu.


"Ini kan bukan kerjaan kamu, Fa. Ada tukang kebun yang biasa mengerjakannya. Jadi buat apa kamu repot-repot?"


Safa tersenyum, "Aku nggak repot. Karena ini cara aku membuang jenuh. Mereka, tanaman-tanaman ini adalah teman-teman bisuku di sini. Selama aku menikah, nggak ada yang bisa ku ajak bicara selain mereka. Walau itu terdengar gila, Bang."


Afin terdiam, mendengar kata-kata yang cukup menohok. Ia juga menangkap kedua mata Safa yang berkaca-kaca. Sepertinya dia marah... Tapi wajar dia marah. Karena sampai saat ini haknya belum terpenuhi seutuhnya.


"Aku buatkan teh ya? Atau mau kopi?" Safa melanjutkan.


"Ada asisten rumah tangga yang biasa melakukan itu untukku. Kamu nggak perlu capek-capek melakukan semuanya, Fa."


"Lalu tugasku sebagai istri apa?" Desisnya menahan getir di hati. Mata Safa mengedar, ke beberapa crew di sekitar mereka. Yang tadinya serius mendengarkan pembicaraan keduanya jadi mendadak pura-pura sibuk.


Safa mengangguk sekali pada Abiyan dan yang lainnya sebelum meninggalkan pria yang sedang membeku di tempatnya itu tanpa berbicara apapun lagi.


Afin menoleh kebelakang, "Guys! Kerjain semuanya ya... gua mau masuk dulu. Jangan tungguin gua. Kalau laper, pesen aja delivery. Ntar gua yang bayar."


"Siap, Kak!" jawab Abiyan mewakili semuanya. Pria itu menghela nafas, langkahnya yang panjang mulai bergerak masuk.


"Pssst! Kalau nikah emang gitu, ya? Ada aja masalahnya," ujar Biyan pada salah seorang pria yang sedang menggendong tas kamera.


"Nggak hanya pasangan yang udah nikah aja, pacaran juga sama. Cewek ngambek mah hal biasa. Sebagai laki-laki ya kita harus banyak ngalahnya," jawabnya sambil mengambil tas lainnya.

__ADS_1


Abiyan termenung. Pria berusia dua puluh empat tahun itu geleng-geleng kepala.


"Untungnya gua jomblo. Jadi bisa santai nggak ribet kalau pergi-pergi jauh," gumamnya sambil membawa barang-barang lain.


***


Di dalam kamar, Afin mencari sosoknya yang tadi meninggalkan dia begitu saja. Dan Afin menemukan Safa, tengah menyirami taman yang ada di balkon kamar.


"Kamu marah?" Tanyanya bernada datar. Safa yang masih sibuk memperhatikan bunga tak menghentikan pekerjaannya.


"Abang ngiranya gitu?"


"Mungkin. Soalnya kamu tiba-tiba masuk gitu aja. Aku melarang kamu melakukan semua pekerjaan rumah karena kamu tuh istri aku, bukan asisten di rumah ini." Laki-laki itu berjalan lebih mendekat, lalu berhenti di sisi sang istri, melihat wajah sendu itu dari samping.


Safa mengangkat wadah plastik yang di pakai untuk menyirami bunga. Lalu memeluknya, memandang langit keemasan menjelang petang.


"Aku seperti apa sih, di mata Abang?" Tanyanya tanpa menggeser sedikitpun pandangannya. "Maaf, kalau penampilan Safa kurang menarik."


"Maksudnya, Safa hanya ingin tau kekuranganku ini di mata Abang. Seenggaknya kalau aku tau, jadi bisa memperbaiki lagi. Dan mengusahakan sedikit agar bisa membuat Abang senang."


"Enggak, Fa. Nggak ada yang kurang di kamu. Aku menyukai apapun yang ada padamu."


"Aku tahu Abang bohong," tukasnya menampik kata-kata Afin dengan fakta yang ia terima selama ini.


"Aku nggak bohong, Fa."


Safa menggigit ujung bawah bibirnya sambil berpaling muka. Sebagai seorang wanita sejujurnya ia sangat malu mempermasalahkan hal ini. Karena sebagian perempuan tentunya sangat berat meminta hak batin lebih dulu walau itu pada suaminya sendiri. Afin meraih kedua bahu istrinya, membawa Safa untuk menghadapnya.


"Tolong percaya padaku."

__ADS_1


Safa menaikan manik mata yang menggenang itu, membalas tatapan Afin dengan perasaan gugup.


"Kalau bener, Abang menyukai apapun yang ada padaku. Kenapa Abang giniin Safa?"


Kontan kata-kata itu membuat Afin terhunus. Sorot mata yang tak lepas mengarah pada istrinya, ia tak bisa pura-pura buta lagi sekarang.


"Apa Abang senang, membuat Safa bahkan sampai ngemis meminta hak batin ke Abang?" Tanyanya dengan suara gemetar menahan tangis.


"Bukan begitu, Fa. Aku?" Kata-kata Afin terhenti. Ia benar-benar belum siap mengatakan fakta yang sesungguhnya. Bagaimana kalau Safa marah dan jijik padanya.


"Menurut Abang, apa sih fungsinya pernikahan itu? Apa hanya sebatas mencatatkan nama kita di atas kertas resmi milik pemerintah?" Tanyanya lagi. Ia menangkap bibir yang semakin membisu itu di diri suaminya. "Tolong jawablah..."


"Aku minta maaf, Fa. Semua kekeliruan yang ku lakukan ini memiliki alasan."


"Alasan apa?"


"Aku nggak bisa menjelaskannya. Karena kamu, mungkin nggak akan bisa menerimanya." Afin benar-benar merasa buntu. Ia tidak bisa mengatakan itu pada Safa, namun ia juga tidak bisa menemukan alasan jelas.


Safa mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti dengan kata-katanya yang menimbulkan pemikiran-pemikiran aneh.


"Kenapa Abang bilang gitu? Abang harus tahu, dengan alasan apapun. Abang nggak boleh meninggalkan kewajiban Abang sebagai seorang suami. Abang berdosa, Bang! Abang dzolim sama Safa namanya."


"Aku tahu, Fa! Aku ngerti... please! beri aku waktu untuk mempersiapkan diri ini. Kalau mental aku udah kuat, aku pasti memberikannya padamu."


Sambil melepaskan diri dari kedua tangan Afin. Safa menggeleng pelan, karena benar-benar tidak mengerti apa yang sedang di pikirkan Suaminya itu. Dan apakah ia memiliki rahasia selama ini?


"ku mohon, mengertilah. Aku janji akan memberikan hak mu sebagai istriku seutuhnya. Aku janji, Fa." suara Afin terdengar memohon.


"Baiklah, sekali lagi Safa katakan. Safa nggak akan memaksa suami Safa untuk melakukannya, jika saja ini bukanlah kewajiban Abang sebagai laki-laki, yang sudah mengikrarkan janji di hadapan penghulu dan para saksi. Walaupun aku sangat ingin sekalipun. Aku ridho Abang nggak menyentuh Safa. Tapi perlu di ingat, semua itu ada batasnya, Bang."

__ADS_1


Safa kembali meninggalkan Afin yang hanya diam saja di balkon itu. Memandangi sang istri yang kini sedang menangis di atas ranjang. Ia bisa mendengar suara tangisnya walau pelan. Dan itu justru membuatnya semakin merasa bersalah.


Maafkan Aku, Fa. Aku hanya laki-laki sampah yang punya banyak noda di tubuh ini. Aku merasa hina saat menyentuhmu. Tapi sejatinya aku juga mau memanjakanmu.


__ADS_2