Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 57


__ADS_3

Laki-laki dengan brewok tipis itu terlihat menakutkan. Tatapannya sedikit tajam, tidak seperti biasanya. Mengarah pada perempuan yang mendadak mengalami tremor pada kedua kakinya.


"B–Bang?" Sedikit takut untuk membalas tatapan itu. Safa khawatir sifat emosional suaminya masih ada. Walau ia sudah hijrah sekalipun.


Bukankah sering banyak cerita, cemburu buta-nya seorang laki-laki itu acap kali mampu membuat nyawa seorang istri melayang. Beberapa berita kasus pembunuhan tiba-tiba menari-nari di atas kepalanya.


Allahu Rabbi... aku takut. (Safa)


Gyuuuut! Afin merengkuh tubuh Safa dengan kedua tangannya. Perempuan itu kontan membeku. Reaksi tak terduga dari sang suami, yang menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Padahal tadi ia terlihat seperti seorang Umar Bin Khattab yang sedang membawa pedang pajang, siap untuk memenggalnya. Walaupun ia tak pernah melihat seperti apa sosok Umar Bin Khattab itu.


Dengan sedikit gesekan wajah yang membuat dia jadi geli. Safa menyadari suaminya sedang cemburu dengan cara menciumnya di area yang masih tertutup hijab. Meski demikian Safa tidak berani tertawa karena rasa takut masih mendominasi. Tapi, 'kan dia tidak melakukan kesalahan. Itu hanya guratan pena di masa lalu, jauh sebelum dirinya bertemu Arifin. Yaya... tetap saja salah. Anggap saja seperti itu.


"Bagaimana perasaanmu terhadapku sekarang?" Tanyanya. Hingga membuat Safa bingung menjawabnya, namun sepersekian detik berikutnya paham.


"Perasaanku ke Abang? Tentu selayaknya istri pada suaminya."


"Apa aku berarti?"


"Iya, Bang. Abang berarti buat Safa." Safa mulai sesak nafas karena pelukan Afin yang begitu kuat. Mendadak Afin melepasnya. Beralih memegangi kedua bahu Safa.


"Kalau begitu tulis tentang aku di buku itu juga." Menunjuk kebelakang, area meja belajar.


"Hah?"


"Aku Adam-mu. Jadi tulis dengan indah... Seperti kamu nulis tentang Rumi Al Fatih." Mengucapkan kata Rumi Al Fatih dengan intonasi lebih menekan.


Safa ingin berkelakar melihat ekspresi kesalnya yang menggemaskan. Namun ia justru menahannya setelah itu mengangguk paham.


"Abang pasti belum baca banyak. Padahal, sudah ada nama Abang di buku itu."


"Maksudnya...?"


Safa menggandeng tangan suaminya membawanya pada meja belajar. Lalu membuka halaman, dimana hampir separuh halaman di akhir penuh dengan namanya.

__ADS_1


Afin membacanya pelan dari pertemuan di masjid. Ia pun menoleh...


"Brandal insyaf?" Tanyanya heran. Sementara yang di tanyai hanya tertawa. "Maksudnya aku berandal insyaf gimana, sih?"


"Nggak tahu tercetus aja karena kamu aneh, Bang, pada saat itu."


Afin mendengus, ia pun membaca yang lain. Matanya bergerak-gerak mengikuti lajur kata demi kata. Kemudian menoleh lagi.


"Jadi kamu pernah meminta untuk tidak berjodoh denganku, ya?"


"Emmm, itu? Nggak gitu maksudnya, Bang. Lihat konteksnya. Aku bilang aku terlalu ragu karena kamu Selebgram terkenal. Aku takut nggak bisa ngimbangin. Jadi nggak ada kata aku minta untuk nggak berjodoh... sedikit." Safa mengucapkan kata sedikit dengan amat lirih sambil memalingkan wajahnya.


Terdengar suara erangan halus di bibir Suaminya. Safa kemudian tertawa lirih. Memegangi wajah Afin dengan kedua tangan.


"Tapi Safa yang sekarang udah mencintai Abang. Kalau nggak buat apa Safa menerima pernikahan ini."


"Jadi kamu udah mencintai aku sejak belum nikah?"


Safa menggeleng, yang langsung memunculkan reaksi tak bersahabat dari suaminya.


Afin menekuri wajah teduh istrinya yang sedang berbicara demi meyakinkan dia. Laki-laki itu pun menghela nafas panjang.


"Maafkan aku... aku salah, karena masih menyimpan catatan itu. Padahal seharusnya aku sudah merobeknya sebelum Abang berikrar untukku. Safa yang sekarang jauh lebih mencintai Abang, kalau dulu hanya sekedar kagum pada keimanannya. Kalau sama Bang Arif aku kagum, cinta sekaligus sayang. Karena kegigihan Abang untuk memperbaiki diri dalam hal akhirat."


Safa memeluk lingkar pinggang suaminya sambil mendongakkan wajahnya. Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Safa, manakala Afin menurunkan wajahnya. Menatap mata peri penuh dengan kejujuran itu sejenak lalu membawanya untuk duduk di atas kursi sementara dia kembali melanjutkan ciumannya beberapa saat. Dengan kedua tangan bertopang pada permukaan meja dan sandaran kursi.


"Aku maafkan kamu..." lirihnya setelah melepaskan. "Mau bagaimanapun juga, apa yang ku perbuat jauh berkali-kali lipat lebih fatal dari pada ini. Aku nggak sungguh-sungguh marahnya, kok."


"Alhamdulillah..." gumam sang istri merasa bersyukur.


"Tapi janji, ya? Cuma aku sekarang yang bertahta. Bukan RUMI AL FATIH!"


"Iya Abaaaaang." Safa tersenyum sebelum menempelkan sisi samping wajahnya di dada Arifin.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Malam datang, selepas shalat Magrib Afin membawa Safa serta keluarganya makan di luar. Tadi siang, saat Aida hendak pergi berbelanja guna menyiapkan makan malam. Afin menahannya. Ia meminta ibu mertuanya itu untuk tidak perlu masak apapun.


Sekarang, keluarga itu sudah sampai di restoran yang terletak di kawasan SCBD. Dimana Ibu Ayattul juga sudah tiba lebih dulu. Adapun Ulum masih saja canggung saat berada di dekat Ibu pejabat Kemdikbud tersebut. Padahal, Bu Ayattul sendiri tidak pernah memperlihatkan sosok dirinya yang seorang pejabat.


"Silahkan, Pak Fathul, dan Bu Aida." Menyerahkan buku menu pada mereka berdua. Kedua tangan Ulum menerimanya, lantas meletakkan di tengah-tengah antara Dirinya dan Sang Istri.


Melihat nama dan harga yang tertera, Ulum dan Aida saling pandang. Kemudian laki-laki itu kembali menutup buku menunya.


"Loh, kok di tutup, Yah?" Tanya Afin setelah selesai memesan menu untuknya dan Safa.


"Kami ikut aja, Nak." ucap laki-laki dengan batik lengan panjang tersebut yang di setujui Aida. Di samping bingung dengan nama-nama makanannya. Beliau juga ada rasa pekewuh atau tak enak hati dengan besan dan menantunya. Karena rata-rata harga yang tertera di atas enam puluh ribu.


"Nggak papa, Yah. Pilih aja apa yang di suka."


"Ndak, Ndak... pilihkan aja." Aida menolak dengan sopan sambil tersenyum.


"Sini biar Qonni pilihkan." Gadis dengan kerudung syar'i warna coklat susu itu mengambil alih, membantu ibu dan ayahnya memilih menu yang menurutnya enak namun mengenyangkan.


"Jangan yang itu... kemahalan, Nduk." Bisik Aida yang duduk di sebelah Qonni. Setelah gadis itu menulis menu gurame fillet saus pedas manis.


"Nggak papa. Semuanya memang harganya segitu, Bu," Qonni menimpali. "Lagian ini bisa dimakan untuk dua orang."


Aida mengangguk, tanda setuju untuk memilih satu menu lauk untuknya dan sang suami makan.


"Ini apa, Nduk, kok di pesan juga?"


"Smoke Water spinach. Semacam kangkung tumis, Bu." Gadis itu terkekeh.


"Owalah..."


Beberapa menu sudah di pesan. Sambil menunggu mereka mengobrol panjang lebar. Di temani lantunan musik yang masih terdengar dari lantai bawah. Karena mereka mengambil tempat di lantai atas. Dengan pemandangan jalan ibu kota berbatas dinding kaca, serta suara-suara deru kendaraan yang tak terlalu dominan walaupun Resto tersebut terletak di tengah keramaian.

__ADS_1


Kawasan SCBD memang cukup ramai di padati orang-orang berdasi. Maka tak heran jika restoran di area sini terkenal dengan menu-menu yang masuk katagori western. Namun mereka tetap, memasukan menu Nusantara.


__ADS_2