Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 56


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, terdengar lantunan suara adzan dari masjid-masjid. Mereka semua gegas beranjak dan melaksanakan sholat Dzuhur.


Karena jarak rumah Safa sangat dekat dengan masjid. Mereka pun memutuskan untuk sholat di sana. Selama perjalanan menuju masjid. Ada beberapa anak muda yang berpapasan dengan mereka. Tentunya, anak remaja tersebut langsung mengenali sosok Afin Anka. Walau saat ini beliau menggunakan Koko gamis serta masker di mulutnya.


Beberapa orang bahkan ada yang mengambil video diam-diam. Mengikuti gerak langkah Afin dan Safa.


"Kak Afin! Ya Allah, ganteng banget sih. Minta foto dong!" Dua anak SMA yang mengendarai sepeda motor kontan menghentikan laju motor mereka demi mendekati sang Selebgram.


"Saya mau ke masjid dulu, ya." Afin menangkupkan kedua telapak tangannya dengan sopan menolak.


"Yaaaah, bentar aja. Bentar aja, kak." Gadis dengan hijab putih dan seragam putih abu-abu itu sudah siap dengan kamera. Mengambil posisi untuk berfoto bersama.


"Ayo kak, sebentar aja," pintanya sedikit memaksa. Tentu hal itu membuat Safa menyingkir sejenak dari Afin. Satu jepretan foto sukses. Mereka pun bergantian, terus meminta foto sampai beberapa kali.


"udah ya, saya mau sholat."


"satu lagi, Kak. Please..." pintanya memohon.


"Mbak! Fotoin kita dong!" Tanpa rasa tak enak hati salah satu yang lain langsung menyodorkan ponselnya pada Safa.


"Ah– ya..." Perempuan yang sudah memakai mukenah itu menerima benda pipih yang di sodorkan tadi.


Melihat hal itu tentunya Afin mendadak Badmood. Buru-buru menjauh dari dua orang itu juga beberapa yang lainnya sambil mengambil kembali gawai di tangan Safa.


"Nih, punya kalian." Tak banyak melontarkan kata, pria itu langsung menautkan jari-jarinya dengan milik Safa lantas melenggang pergi.


"Yah, kak! Kita masih mau foto nih."


"Iya, Kak Afin jangan pergi dong." Kedua gadis berseragam SMA itu saling tatap. Dengan perasaan kesal pun langsung kembali menunggangi motornya. Di susul beberapa yang lain turut menjauh.


Safa yang mendengar suara motor itu menoleh kebelakang. Langkahnya masih berusaha mengimbangi kaki suaminya.


"Bang, mereka kok di tinggal gitu aja?"


"Biarin lah... mereka aja nggak sopan sama kamu," jawabnya kesal.


"Nggak sopan gimana?"


"Masa minta istriku buat fotoin aku sama mereka. Nggak etis banget!"


"Owalah..." Safa tersenyum bangga. Itulah tanda Afin menghargainya sebagai istri. Ya, walau ia harus wudhu lagi karena tangan Afin ini. Tapi tidak masalah, karena tindakan manis Afin tadi.


🍃 🍃 🍃

__ADS_1


Selepas dari masjid, mereka ngobrol-ngobrol di ruang tengah. Rumah memang masih sepi karena Ayah masih mengajar, sementara Qonni sedang melakukan magang di salah satu sekolah swasta di daerah kelapa gading.


Afin mengambil kursi plastik lalu duduk di sebelah Safa, sedikit berjarak. Ia mengamati, tangan cekatan Safa menggunakan mesin obras.


Tatapan kekaguman di tunjukkan. Kedua netranya tak berkedip. Memandangi bagian mesin yang sedang berkerja.


Kepala Safa menoleh sebentar lalu tersenyum. "Ngeliatinnya ampe gitu banget," ledeknya hingga memecah tawa pelan Afin.


"Nggak aku heran aja. Kamu bisa pegang mesin jahit."


"Ibu yang ngajarin. Sejak SMP aku udah mulai belajar. Alhamdulillah setelah SMA aku udah mulai mahir..."


"Tapi keliatannya kaya gampang banget." Afin nampak tertarik.


"Gampang kalau yang udah paham, Bang." Safa meraih gunting besar, lalu memotong benangnya. Ia pun menyerahkan pekerjaannya pada Sang ibu.


"Udah cukup lama nggak gini, akhirnya bisa kerja bareng partner lagi. " Aida berkelakar.


"Hehehe, ibu bisa aja." Safa meraih baju yang lain. Sebelumnya ia menoleh ke arah Afin. "Abang mau istirahat?"


"Seharusnya kamu yang istirahat, Fa." Bisiknya pelan sebab kalah dengan suara mesin jahit. Tangan kanan Afin mengusap perut yang masih rata itu.


"Iya nanti aku istirahat. Habis selesaikan ini, ya. Satu aja. Udah lama nggak megang mesin. Safa agak rindu."


"Okay, ku tunggu di kamar. Aku duluan masuk, ya..." Pamitnya sambil mengusap-usap pipi istrinya.


🍂 🍂 🍂


Afin memasuki kamar yang di dominasi warna putih. Kamar yang rapih dan wangi yang menurutnya menggambarkan seorang Safa. Ada sekitar dua bingkai kaligrafi di dinding. Juga sebuah mading kecil di sebelah meja, berisi kertas-kertas warna-warni bertuliskan schedule-nya dulu.


Bukannya beristirahat, Afin justru tertarik dengan barang-barang milik istrinya. Semua nampak manis dan menggemaskan. Ia pun duduk di kursi, membayangkan istrinya selalu mengerjakan pekerjaannya di sudut ini. Sambil memandang jendela kaca yang tembus hingga ke jalan.


Sesuatu mencuri perhatiannya, Afin penasaran dengan notebook warna Pink. Yang terselip di antara buku-buku pentingnya yang lain.


"Istriku suka nulis diary?" Afin merasa gemas. Pasalnya, di era sekarang masih ada saja orang-orang yang mau menulis hal seperti ini. Atau mungkin hanya sebatas buku agenda saja.


Afin iseng membukanya. Rupanya, buku tersebut memang Diary. Kepala pria itu menoleh kearah pintu sambil tersenyum jail, kemudian kembali kearah buku. Ia bisa melihat, ada foto Safa saat masih balita, menjadi pemandangan pertama di halaman utamanya.


"So cute, istri Sholehah ku..." Afin mengusap foto jadul itu. Ia mulai membaca acak sambil terus senyum-senyum. Isinya berbagai curahan hati yang mungkin tak sepenuhnya ia bentuk dalam rangkaian kata.


Hingga sampai pada halaman yang membuatnya tertarik untuk membaca. Senyum Afin perlahan meredup. Berganti wajah serius.


Cinta pertamaku, adalah cambuk luka ku...

__ADS_1


Entah apa yang selama ini aku panjatkan dalam doa. Padahal aku selalu mengatakan pada diri untuk menjauhi perasaan haram ini. Tapi tetap saja aku selalu membiarkan dadaku ini berdebar-debar, serta menahan genangan air agar tidak menetes setiap kali melihatnya.


Afin bergeming, masih menekuri tulisan yang cukup panjang bahkan memerlukan beberapa lembar.


Semua perihal gejolak di hati yang semakin tak bisa ku kendalikan. Jujur saja, aku takut hal itu akan membuatku semakin berdosa. Namun, memaksa hati untuk berbelok itu juga tidak mudah. Sehingga diam, dan berserah kepadamu waha sang pemilik hati adalah caraku untuk meredam perasaan ini.


Tapi dalam hatiku, aku tetap mengharapkannya sebagai Sang Adam dalam kehidupanku ini.


Afin sedikit menghela nafas. Ia merasa ini sedikit menjengkelkan. Padahal hanya sebuah guratan pena di masa lalu. Ia tak mau melanjutkan. Dan memilih menutup buku itu kembali. Namun sepersekian detik berikutnya, kembali membuka-buka lagi hingga iseng membaca sebuah tulisan lain.


Hari ini aku pulang dari Bandung. Saat hujan mengguyur kota kembang itu, hingga membuat sebagian gamisku basah. Salah satu dari hamba solehmu itu meminjamkan jaketnya. Kata dia agar aku tidak kedinginan. Ya Allah... Aku tak bermaksud untuk terus meresapi perasaan ini. Tapi perbuatan manisnya walau penuh dengan batasan syariat membuat hatiku tak mampu berhenti untuk berdesir.


Afin masih saja membaca itu hingga beberapa. Walau dengan gestur ogah-ogahan tidak semangat seperti di awal. Laki-laki yang sedang menopang kepalanya dengan tangan kembali membuka-buka halaman ke depan.


lantas menemukan sebuah foto lawas lagi. Namun kali ini gadis kecilnya tidak sendirian. Melainkan ada tiga anak disitu yang sama-sama belum baligh. Dan di bawahnya, terdapat tulisan dengan kertas warna yang di tempelkan.


Kisah ku di mulai dari teman masa kecil...


Rumi adalah adik kecil yang cengeng, dan manja. Ia bahkan selalu menangis saat di ejek oleh Nuha. Seperti tidak pernah akur saja.


Namun, siapa di sangka?


Dia justru menjelma jadi kakak yang baik hati dan sangat menyayangi saudara kembarnya itu.


Satu hal yang membuat ku tertawa jika mengingat masa lalu. Dia selalu berebut mainan dengan Nuha dan melarang sang adik untuk menyentuhnya. Akan tetapi, tidak berlaku untuk ku.


Dia bahkan dengan sangat senang hati mengizinkan ku untuk menyentuhnya hehehe... Katanya dulu?


"Apapun milik Rumi, milik Safa juga." Menggemaskan, bukan?


Wahai Rumi Al Fatih. Akankah kita juga akan memiliki cerita yang sama persis, seperti kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib?


Di mana mereka adalah teman masa kecil, selalu bermain berdua, selalu bertukar makanan. Hingga mereka pun tubuh menjadi remaja, dan mulai saling membatasi diri. lalu saling jatuh cinta dalam diam, hingga akhirnya menikah?


"Rumi?" Afin bergumam pasalnya ia seperti tidak asing dengan nama itu.


Hingga ia mengingat pernah bertemu seorang laki-laki alim yaitu di momen pernikahannya dan di saat berkunjung ke rumah Ustadz Irsyad bersama Safa beberapa hari setelah insiden pemukulan yang di alami istrinya.


Saya Rumi, Kak.


Ingatan kuat Afin membawanya pada wajah itu. Ya... Anak Ustadz Irsyad rupanya.


Cklaaakkk...

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Safa melihat suaminya sedang tertegun membaca buku yang seharusnya sudah ia buang sejak lama. Namun sayangnya ia lupa dengan itu. Hingga kini ia tidak bisa menafsirkan ekspresi yang di tunjukkan Afin.


Laki-laki itu menoleh. Kemudian menutup buku tersebut sembari bangun. Setelahnya berjalan pelan mendekati Safa yang terdiam di balik pintu kamar yang tertutup.


__ADS_2