
Pria itu termenung, memandangi diri yang sudah jauh lebih baik di depan cermin. Tubuhnya semakin terlihat segar setelah lama tak mengkonsumsi barang haram tersebut.
Sebenarnya, Afin masih sesekali merasakan efek dari obat-obatan itu. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai bisa menahannya. Walau masih harus memanggil ahli medis demi memenangkannya ketika kambuh.
Aliran air yang deras dari keran wastafel menimbulkan bunyi semburan yang kuat. Diam-diam Dia masih memikirkan kata-kata Safa tempo hari yang sejenak membuat dia merasa sengatan api neraka selama berhari-hari.
Ini bukan tentang siapa yang menyampaikan. Namun tentang makna yang terkandung dari setiap kata yang dilontarkannya. Tak pelak membuat tubuh pria itu menggigil mengingat akan dosa yang sudah sangat menumpuk di dirinya.
Suara adzan subuh masih berkumandang dari masjid-masjid sekitar komplek perumahan tempat ibunya tinggal. Baru kali ini telinganya tidak tuli ketika mendengar adzan subuh dan ia bisa langsung terjaga. Ada dorongan kuat untuk melaksanakan sholat. Tapi ia sadar, betapa sedikitnya bacaan sholat yang bisa ia hafal di luar kepala. Saking lamanya meninggalkan ibadah yang menjadi tiang utama untuk agama ini.
Bibirnya masih mengatup rapat. Kemudian memilih untuk keluar dari kamarnya. Buru-buru menghampiri security yang sedang bersiap untuk melakukan sholat subuh di posnya.
"Pak, Pak Yono!" Panggilnya saat melihat pria usia lima puluhan itu memasang kopiah di kepala.
"Iya, Den?" Buru-buru keluar dari dalam sana dan berdiri di luar pintu masuk berhadapan dengannya.
"Bapak mau sholat?"
"Bener, Den. Aden mau ada perlu sama Bapak?"
"Iya– tapi, bukan perlu yang berkaitan dengan tenaga."
Laki-laki yang wajahnya sudah basah dengan air wudhu itu melirik kedalam ruangan kecil di pos satpam tersebut.
"Bapak ikut saya sebentar! Bawa sekalian pecinya," titahnya kemudian sambil melenggang lebih dulu yang sedikit menimbulkan kebingungan di wajah pria tersebut. Namun, tetap Pak Yono mengikutinya. Berjalan di belakang dengan tergopoh-gopoh.
Di kamar Arifin, laki-laki itu menggelar dua sajadahnya. Semakin di buat bingung pula satpam tersebut.
"Silahkan, di depan. Saya mau jadi makmum," katanya mempersilahkan. Pak Yono termenung cukup dalam memandangi dua sajadah yang di gelar. Satu di depan satunya di belakang agak ke samping. Namun, dalam posisi yang salah.
"Aden mau sholat sama saya?" Tanyanya yang di jawab anggukan kepala. "MashaAllah, menghadap kesini?" Dan laki-laki di hadapan mak Yono mengangguk lagi.
__ADS_1
Kok bisa Den Arif nggak tahu arah kiblat di rumah ibunya sendiri, ya? Batinnya sambil pelan-pelan berjalan mengambil sajadah itu lalu memindahkannya ke arah yang benar.
"Saya salah Arah?" Tanyanya polos. Pak Yono pun tertawa pelan.
"Iya, hahaha. Tapi nggak papa, udah Bapak benerin," jawabnya yang membuat laki-laki itu sedikit berdeham karena malu. "Tapi beneran ini mau jamaah sama saya, Den?"
"Iya Pak. Buruan," jawabnya yang sudah berdiri di atas sajadahnya. "Pokoknya setiap kali saya di sini. Pak Yono harus nunggu saya. Kita sholat sama-sama."
"Kenapa nggak ke masjid aja sama, Ibu. Biar enak. Karena saya bacaannya juga kurang bagus."
"Udahlah, sekarang langsung sholat aja!" Arif Semakin risih membawa laki-laki itu menghadap kedepan untuk menjadi imam. Sebenarnya ia apa yang di katakan Pak Yono tidak salah. Hanya ia belum siap saja untuk sholat berjamaah. Pak Yono pula lantas tersenyum tipis beliau membaca doa niat namun sejenak menoleh kebelakang.
"Den, Aden tahu niat sholatnya, kan?"
Nah, Arifin baru mengingat lagi tentang niat Sholat. Untungnya di ingatkan. Ia bergegas mengambil ponsel lalu mencari niat sholat di internet. Baca sebentar, sebanyak beberapa kali. Setelah itu meletakkan lagi ponselnya.
"Ayo!" Pria itu sudah kembali. Pak Yono pun mengangguk sebelum mengangkat kedua tangan takbiratul ihram.
Suara-suara menjijikkan, mengandung unsur-unsur birahi yang di keluarkan dari mulut Brodi setiap kali memaksanya untuk melakukan hubungan menyimpang terdengar di telinga. Dan belaian-belaian tak normal yang di berikannya pun seketika membuat Arif menurunkan kedua tangannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Sementara kedua kakinya langsung mundur dan keluar dari alas sujud.
Pak Yono sudah mulai membaca surat Al Fatihah. Sebagai surat wajib yang harus di baca saat sholat. Arifin justru menggigil seperti ketakutan. Ia sangat takut, seperti melihat api yang berkobar-kobar di hadapan. Ia juga khawatir pendosa sepertinya mungkin saja sholatnya tidak akan di terima.
Ya Allah, aku masih belum berani. Aku masih benar-benar malu menghadapmu.
Pria itu menangis tanpa suara. Menutup mulutnya rapat-rapat sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamarnya. Meninggalkan Pak Yono yang masih melanjutkan sholatnya sendirian.
Di luar ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Mengingat segala dosa yang ia lakukan, seolah mencambukinya dengan ketakutan yang teramat. Seperti inikah hati pendosa yang sudah amat melanggar jauh? Untuk melakukan ibadah saja ia gemetaran takut karena saking malunya?
Ya Allah..,
Sentuhan lembut ia rasakan di punggungnya. Laki-laki itu menoleh kebelakang masih dengan belinang air mata. Bunda yang masih mengenakan mukena terlihat berbinar ketika melihat Arifin menggunakan Koko gamis yang pernah ia beli dulu. Untuk pertama kalinya ia melihat Arif mengenakan itu, amat terlihat gagah sekali. Membuat kedua netranya turut menggenang haru.
__ADS_1
"Bu–Bunda?" tuturnya saat melihat wanita itu mengusap kedua bahunya sambil mengatup bibirnya menahan tangis.
"Anak Bunda Sholat?" Tangan halus yang sudah memiliki garis halus penuaan itu menyentuh ujung rambut di kening anaknya yang basah akibat air wudhu. "Bunda senang melihat ini. Demi Allah Arifin... Bunda senang akhirnya Bunda melihat kamu mau sholat di rumah ini."
Mendengar kata-kata itu. Dada Arifin kembali di hentak kuat.
Tidak ada larangan untuk siapapun yang mau bertaubat. Justru sebaliknya, Allah SWT itu amatlah senang dengan semua hamba-Nya yang mau kembali. Jauh lebih senang, berkali-kali lipat, dari senangnya seorang ibu ketika melihat anaknya pulang setelah berpuluh-puluh tahun merantau tanpa memberi kabar.
Kata-kata Safa kembali terngiang-ngiang di telinganya. Arifin tertunduk, bersamaan dengan kedua tangan Bunda yang langsung merengkuh tubuhnya.
"Bunda senang sekali, Nak! Ya Allah, terima kasih..."
Bunda, Arif belum sholat. Arif justru melarikan diri ketika hendak melaksanakan sholat tadi. –kedua matanya terpejam. Deras air mata itu luruh membasahi pipinya. Setelah itu melepaskan pelukan sang ibu.
"Maaf, Bun. Sebenarnya Arif baru mau sholat. Sama Pak Yono di dalam," ucapnya hingga membuat kening Bu Ayattul mengernyit. "Arif masuk dulu–"
Laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup rapat pintunya.
Di lihat Pak Yono sudah berada di rekaat terakhir. Arif pun mencoba untuk kembali berdiri di belakangnya. Walaupun ia tidak pernah Sholat, namun ia sering memasuki masjid. Dan melihat beberapa orang yang terlambat jama'ah akan langsung mengikuti di belakangnya. Iya, untuk saat ini ikut saja dulu. Tidak apa, masalah bacaan sholat akan dia pelajari lagi setelah ini.
Bismillah,
Dengan jantung yang berdegup kencang. Pria itu memasang kembali kopiahnya. Setelah itu bertakbir walau Pak Yono sudah mulai ruku'. Ia pun langsung mengikuti Beliau.
Bu Ayattul yang ada di depan pintu kamar tak henti-hentinya tersenyum sambil bibirnya mengucap hamdalah berkali-kali. Inikah hasil dari doa yang ia panjatkan setiap kali habis shalat untuk putranya itu?
Akhirnya, Bu Ayattul bisa melihat anaknya sholat subuh. Padahal selama ini. Dia paling sulit di bangunkan. Apalagi ketika sudah tidak satu rumah dengan Beliau. Kini hanya tinggal hajat lainnya, yaitu gadis Sholehah yang datang sebagai cahaya dalam mimpinya beberapa hari belakangan. Beliau berharap, Allah SWT merestui dan gadis itu bisa benar-benar menjadi istri untuk Arifin. Wanita itu menyeka air matanya sebelum menjauh dari kamar itu.
# epilog...
"Assalamualaikum warahmatullah..." Pak Yono menoleh ke samping, lalu mengucapkan salam lagi sebelum menoleh ke sebaliknya. setelah itu memutar tubuhnya kebelakang hendak bersalaman. Namun ia terkejut saat melihat Arifin kembali berdiri.
__ADS_1
Lah, tadi perasan si Aden sholat bareng. Kok Dia, berdiri lagi? –batin Pak Yono terheran-heran. Memandang kekhusyukan Arifin ketika sedang melanjutkan sholatnya. Karena ia tidak sadar sejak tadi sholat sendirian. Dan menganggap ketika selesai baca Alfatihah, Arifin sengaja tak mengeluarkan suara Aamiinnya.