
Beberapa bulan berikutnya...
Diantara riuh suara dencingan sendok yang menggores piring keramik. Ayah Umum berdeham, hingga beberapa di antara mereka melirik ke arahnya.
"Safa!"
"Ya, Ayah?" gadis itu menoleh sopan kearah Ayahnya.
"Bagaimana dengan jawabanmu? Ini sudah lebih dari empat bulan dari hari di mana Bu Ayattul melamarmu, loh," tanya Ulum hati-hati.
Safa pun terdiam, sorot matanya bergeser pada Ibunya sebentar lalu kembali pada piring di depannya. Memotong pelan tempe goreng tepung yang sudah tersisa separuhnya.
"Kalau kamu mau menolak, maka tolak dia dengan cara baik-baik. Tapi kalau kamu menerima maka sampaikanlah segera. Jangan menunda terlalu lama. Jatuhnya nggak baik, Nak. Sama aja memberi harapan palsu dan menghalangi laki-laki lain yang juga ada urusan sama seperti Arifin. Karena bagaimanapun juga, haram hukumnya menaruh lamaran sementara ada laki-laki yang sedang menunggu jawaban." Sambung Pak Ulum membuat gadis semakin berpikir dalam diamnya.
Ia sendiri juga tidak tahu. Antara ragu atau bagaimana. Sebenarnya ia tak begitu menyukai Arifin. Tapi kenapa mulutnya sulit untuk langsung menolak. Belum lagi dengan kebaikan-kebaikan perempuan paruh baya itu. Satu lagi, Arif. Yang akhir-akhir ini sering ia temui mobilnya di depan sekolah saat jam pulang.
Beberapa bingkisan kecil juga sering ia terima dari pemuda itu. Yang di titipkan pada satpam sekolah. Seperti sebuah petunjuk jika laki-laki itu juga sejatinya menginginkan dia. Karena terakhir mereka bicara. Arif sempat berkata ingin mencoba masuk dalam kriterianya.
"Ayah tahu kamu masih bimbang saat ini. Ambillah keputusan yang paling berat di hatimu."
Gadis itu menggenggam kuat sendoknya. Masih menunduk. "Safa sudah memutuskan, Yah," pelan-pelan dia bersuara.
__ADS_1
Aida yang hendak memasukan suapan nasinya ke dalam mulut pun terdiam. Menunggu jawaban dari putri sulungnya itu.
"Cukup berat bagi Safa memutuskan ini. karena Safa hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Dan bahagia bersamanya. Sempat Safa berpikir untuk menolak. Tapi setiap kali ingin menyampaikan penolakan pada Ayah agar di sampaikan ke Bu Ayattul. Rasanya berat sekali. Seperti ada yang mengganjal di dadaku."
Suasana meja makan semakin di selimuti keheningan. Gadis itu berbicara dengan bibir gemetar. Satu tangganya bergerak memainkan lauk di atas piring. Sementara tangan lainnya berada di bawah meja mengepal pelan. Terdiam sejenak untuk memutuskan sesuatu yang akan menentukan dia di masa depan.
"Ya..." jawab Safa kemudian. Ayah yang duduk bergeming. Sementara ibunya terdengar sedikit terbatuk-batuk. Dan Qonni? Kalian bisa tebak betapa berbinarnya wajah gadis itu. Bayangan untuk memiliki kakak ipar seorang Afin Anka akan menjadi kenyataan. Ini bukan sebab kekayaan laki-laki itu. Namun, lebih ke fans yang memiliki kakak ipar Idolnya sendiri. Bukankah sesuatu yang membanggakan.
"Ibu– nggak salah dengar, kan? Kamu nggak salah jawab, iya?" tanyanya terkejut dengan keputusan yang di ambil Safa. "Ya, yang kamu maksud itu? Iya, menerimanya? Laki-laki berandalan itu mau kamu jadikan suami? Fa! Ibu pikir kamu bakal bijak loh memilih suami. Kenapa yang jauh dari surga malah justru kamu jadikan suami. Emang nggak ada laki-laki lain yang lebih soleh!"
"Astaghfirullah al'azim, Bu. Tolong jaga lisannya. Nggak boleh menjuluki seseorang hanya karena penampilan."
"Tapi faktanya dia berandalan. Ayah lihat, Dia bahkan punya cincin tindik di telinganya? Belum lagi statusnya mantan narapidana kasus narkoba."
"sama, aja! Nggak! Nggak! Faaaa... Mau sekaya apapun dia, tetap saja! ibu nggak ridho. Dunia-akhirat!" Aida meraih tangan putrinya kemudian menggenggam erat.
"Kenapa jadi nggak ridho?" Tanya Ulum. "Kita tidak pernah tahu seperti apa Dia aslinya."
"Sudah pasti yang namanya publik figur, image-nya nggak baik, Yah. Banyak loh kasusnya; yang pemakai lah, suka main perempuan. Ayah mau anak Solehah kita dapat yang seperti itu? Masa iya, Safa yang nggak jadi sama anak ustadz tersohor malah nikah sama yang seperti itu? Itu sama saja seperti penghinaan!"
Safa tertunduk, kata-kata ibunya seolah membuka luka masalalunya lagi. Apa benar ia salah telah memutuskan ini. Tapi, tatapan tulus Bu Ayattul yang tanpa henti-hentinya menemui dia seakan-akan menambah keyakinan untuknya menerima Arifin.
__ADS_1
"Bu! jangan bicarakan itu lagi, kenapa, sih?! Jangan bahas yang sudah selesai." Ulum berbicara dengan sedikit penekanan, hingga Aida pun terdiam sambil menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Ayah, sudah..." Safa memotong pembicaraan mereka. Lalu menoleh ke ibunya. "Bu, maafkan Safa. Safa juga nggak ngerti kenapa hati Safa condong pada mereka. Hingga Safa berpikir untuk menerimanya."
"Kalau kamu di duakan. Di sakitin gimana? Kamu itu butuh imam yang lebih baik dari dia, Fa."
"Kalau ibu ridho. Lalu merestui Safa serta mendoakan yang terbaik. inshaAllah pernikahan Safa akan diberkahi," tuturnya lembut. Aida yang melihat wajah teduh putrinya hanya menghela nafas pasrah.
"Terserah kamu. Ibu hanya berharap kamu bahagia."
"Aamiin..." Safa meraih tangan ibunya lalu menyandarkan kepalanya di lengan itu. "Terima kasih, Bu." Bulir-bulir bening seketika berjatuhan saat Ulum mengatakan akan memberitahu kabar ini pada Bu Ayattul.
Dan sampailah kabar gembira itu di telinganya. Wanita paruh baya itu langsung melakukan sujud syukur setelah panggilan telepon di tutup.
Terima kasih, Ya Allah..., Semoga kejernihannya mampu kami jaga. Buatlah anak laki-lakiku mampu menjaga mutiara yang Kau titipkan untuk kami sebaik-baiknya.
Bu Ayattul langsung menelfon putranya yang sedang melaksanakan syuting iklan brand ponsel ternama.
Laki-laki itu terdiam di kursinya. Tangannya gemetar. Manakala mendengar kabar jika gadis itu menerima lamarannya setelah sekian bulan menanti. Bibirnya tersenyum tipis walau berusaha ia tahan. Jantungnya pun berdegup kencang, ia benar-benar bahagia bisa merasakan cinta yang di tujukan untuk seseorang sebagaimana semestinya.
Langit di luar seolah menjadi saksi kebahagiaan. Cuaca cerah dengan matahari bersinar. Ia pun memeluk ponselnya mengucap syukur dalam hati sambil memejamkan matanya. Menyandarkan kepala di sandaran kursi.
__ADS_1
Di sisi lain, Brody melihat dia dengan keanehan. Sudah beberapa bulan belakangan Arif memang tidak mendatanginya seperti sebelumnya. Ia sempat kesal, namun mau bagaimana lagi. Laki-laki itu sudah tidak membutuhkan barang-barang haramnya. Ia juga belum bisa mengancam Arif lagi. Sebab, kartu As-nya ada di tangan Arifin. Bisa saja ia melaporkan dirinya ke polisi dengan berbagai bukti yang di miliki.
Sudah bagus saat Arifin di tangkap, laki-laki itu tidak menyeret namanya juga. Tapi, tetap saja laki-laki itu akan menyelidiki, apa yang di lakukan Arifin di belakangnya. Ia tetap tidak akan membiarkan Arif menjadi laki-laki yang memiliki hubungan serta memiliki rasa terhadap lawan jenis. Itu akan semakin menyulitkannya. Karena hatinya sudah terpatri untuk Baby sugarnya. Ia tidak akan pernah mau melepaskannya sampai kapanpun.