Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Extra part 2


__ADS_3

Qonni yang sudah lama menanti pesan sambil menahan rindu untuk Harun lantas meraih bantal untuk di peluk. Jarinya masih belum berani membuka pesan tersebut, sementara matanya berbinar memandangi gawai di tangan. Hingga pendar di layar ponselnya meredup kemudian mati.


Ia menekan tombol samping agar kembali menyala. Sebelum pesan susulan masuk hingga membuatnya tertawa.


[Kamu nggak mungkin udah tidur, 'kan? Di luar lagi membicarakan hal penting loh.]


Okay, sudah saatnya untuk membalas. Dirasa sudah cukup untuk mengulur sebentar, sementara tangan sejak tadi sudah gatal ingin membalas.


[Kenapa tiba-tiba minta maju, A'?] Qonni membalas dengan kalimat pertanyaan, yang tak lama dari itu dua centangnya langsung berubah biru. Lantas terlihat kata mengetik dibawah tulisan A' Harun. Durasi menunggu balasan kali ini lebih lama, yang bisa di tebak kalau pemuda di sebrang sedang menulis kalimat yang cukup panjang.


Tiiiiing!


Qonni yang belum keluar dari chating-nya langsung membaca pesan tersebut.


[Aku tahu, kamu mungkin masih ingin menikmati waktu lajang-mu lebih lama. Namun, adakalanya rindu membuat kita kehilangan akal sehat. Ku harap kamu tidak merasa terbebani dengan kedatangan keluarga ku, Ayu. Di sini aku tetap tidak memaksamu. Tapi jangan salah paham kalau aku kian terlihat menjauhimu.]


Gadis dengan alis yang cukup tebal itu mengangguk paham. Seolah Harun sedang berbicara langsung padanya hingga ia reflek menggerakkan kepala.


[Ada hal yang mau aku omongin lagi nih, Yu.] Pesan susulan kembali datang, yang lantas membuat kening gadis manis itu berkerut.


Qonni: [Apa, A'?]


Harun: [Langsung aja ya, aku ngomongnya. Ini soal tempat tinggal kita setelah sah. Kira-kira, kamu bersedia nggak kalau kita tinggal di rumah Ummi aku?]


Cukup lama Qonni membaca pesan tersebut bahkan sampai berulang-ulang. Sejenak ia lupa, kalau menikah sudah pasti harus hidup bersama. Ia bahkan belum mempersiapkan diri untuk keluar dari rumah ini setelah menikah nanti.


Harun: [Ummi nggak maksa, sih. Kalau kita nggak tinggal sama Beliau juga nggak masalah. Namun, aku anak Bungsu, Yu. Entah kenapa aku nggak bisa keluar dari rumah ku. Aku berharap kamu memahami ini. Dan bersedia untuk ikut aku tinggal disini.]


Kedua bola mata yang di naungi bulu mata lentik itu masih tertegun, memandangi benda pipih di atas bantal yang berada dalam pangkuan. Sebagai anak bungsu, ia juga belum bisa jauh dari Ayah dan Ibu. Bahkan, kadang Qonni masih suka bersikap layaknya anak kecil yang jika sulit tidur maka ia harus di peluk oleh ibunya. Dan setelah menikah, tiba-tiba harus pindah meninggalkan kamar barunya ini? Apakah dia mampu?


Harun: [Kamu keberatan, kah?]

__ADS_1


Pesan susulan dari Harun membuat Gadis manis itu kembali menyadari, bahwa ia belum sama sekali membalas pesan chat dari Harun.


"Bismillah," gumamnya sambil mengetik sesuatu.


Qonni: [Aku akan jadi isteri. Dan bukankah sebaik-baiknya isteri adalah yang taat terhadap suaminya. InshaAllah, aku bersedia kok, A'. Kalau harus ikut dan tinggal di rumah A'a.]


Senyum dari pemuda di sebrang mulai terbit. Laki-laki yang sedang tidur terlentang di atas ranjang dengan menjadikan lengan kiri sebagai bantalan merasa lega. Dulu, saat ia melamar Zahra dan memintanya untuk turut tinggal di rumah ibunya gadis itu langsung menolak tanpa berpikir lebih dulu. Dan sekarang ia merasa senang saat mendapati jawaban dari Qonni yang sesuai dengan harapannya. Harun kembali membalas pesan terakhir dari sang calon Isteri.


Harun: [Alhamdulillah, berati kamu ikhlas ya ikut aku. InshaAllah, aku akan berusaha untuk membuatmu nyaman. Walau mungkin masih ada celah untukku melakukan kesalahan, tapi semoga kamu mampu bersabar terhadap apapun. Karena pernikahan yang ku tahu tidaklah selamanya berjalan diatas permadani sutra.]


Lagi-lagi gadis yang masih memakai jilbab instannya mengangguk. Seolah sedang berbicara langsung dengan Harun. Ia kemudian membalas dengan jawaban yang kontan membuat Harun semakin yakin untuk mempersunting-nya. Pemuda itu kembali melengkungkan senyum sebelum mengakhiri percakapan via chat ini. Dan setelah itu meletakkan gawai di atas nakas, sebelum kembali ke posisi semula. Tidur terlentang sambil memandang langit-langit kamar.


"Ah...! Kayanya bakal kesulitan tidur lagi. Ayu...Ayu!"


Harun merubah posisinya, miring kanan sambil memeluk bantal. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan Ummi dan A' Mukhlis belum pulang. Mungkin sedang dalam perjalanan, ia kemudian bangkit sebelum mengambil air wudhu. Persiapan menjelang tidur, karena pemuda itu tak pernah tidur larut malam jadi di jam segini dia sudah merasakan kantuk yang sebisa mungkin tidak akan ia tahan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Ini, Nak." Laki-laki paruh baya itu mengulurkan selembar uang lima puluh ribu setelah setengah berlari mengejar Puteri bungsunya.


"Masih aja Qonni di kasih uang saku. Aku udah dapat gaji pertama, Yah. Jadi untuk uang saku udah nggak perlu lagi."


Ulum menghela nafas, mendengar kata-kata itu seolah membuat hatinya tercubit. Ia bahkan menurunkan tangannya dengan lesu. Dan saat Qonni menyadari itu, gadis yang sudah duduk di atas motor maticnya kemudian bangkit.


"Maaf, Yah. Kata-kata Qonni menyinggung, ya?"


Pria yang menggunakan seragam dinas yang sama dengan puterinya itu menggeleng. Dari kedua netranya nampak berkaca-kaca.


"Ayah cuma masih mau ngasih uang saku buat kamu. Karena setelah ini, udah nggak ada lagi yang minta uang jajan ke ayah lagi."


"Duh, kok Ayah ngomongnya gitu? Kan Qonni jadi gimana." Gadis yang sudah menghias wajahnya dengan makeup tipis itu seketika turut berkaca-kaca.

__ADS_1


"Anak-anak Ayah udah dewasa semua. Padahal baru kemarin Ayah nuntun kalian untuk belajar jalan." Ulum mengusap kedua matanya yang berair.


Ya Allah, Ayah. Apa ini alasan Ayah meminta A' Harun untuk sabar menunggu. –batin Qonni sambil mengusap lengan Ayahnya menenangkan.


Jika di pikir-pikir, dulu saat Safa baru lulus jedanya cukup lama sampai mendapatkan jodohnya. Sementara belum lama dirinya kehilangan puteri sulung, si bungsu malah akan segera menyusul.


"Ini!" Ulum meraih tangan Qonni lalu meletakkan uang lima puluh ribu itu keatas telapak tangannya. "Pokoknya gaji mu silahkan di tabung. Selama kamu belum di nafkahi laki-laki lain. Tetaplah minta jajan sama Ayah. Paham?!"


Qonni menitikkan air mata, sambil mengatupkan bibir serapat mungkin. Kemudian mengangguk-angguk.


"Udah sana, berangkat. Jadilah pendidik yang baik untuk murid-murid mu dengan keikhlasan."


Gadis dengan balutan kerudung senada dengan pakaian yang ia kenakan buru-buru meraih tangan Ayahnya. Ia lantas menciumi sebanyak tiga kali.


"Makasih, Ayah. Makasih udah menjadi Ayah paling baik di dunia ini bagiku. Qonni tetep sayang kok, sama Ayah. Ayah tetap cinta pertama dalam hidupku."


"Ya, Nak." Senyum Ulum merekah. Satu tangannya mengusap kepala gadis berhijab syar'i itu.


"Qonni jalan dulu. Assalamualaikum, sekali lagi makasih uang jajannya. Jangan lupa pulang beliin, cakwe yang ada di deket sekolah ayah, ya?"


"Iya, nanti ayah beliin dengan porsi yang banyak."


"Hehehe! Sorenya kita kulineran? Ayah kan baru gajian."


"Siap, siap! mau bakso malang, atau sate-satean. Terserah kamu, silahkan makan sepuasnya. Nanti kita kencan berdua."


"Janji loh, ya?"


"Nggak janji juga, sih. Tergantung suasana hati ibumu. Kalau dia abis masak banyak, gimana? Habis nanti Ayah kena ceramah."


Qonni tertawa. Suasana mengharu-biru tadi seketika sirna. Gadis itu pun mengangguk paham dengan karakter ibunya yang suka manyun apabila sudah masak namun anak-anak dan suaminya malah jajan di luar. Yah, mungkin dia akan seperti itu pada Harun dan anak-anak nantinya. Tak menunggu lama lagi, gadis itu kembali berpamitan. Sementara Ayah gegas masuk untuk mengambil tas dan memasang sepatunya.

__ADS_1


__ADS_2