
Masih asik mengobrol santai, dua orang pelayan menghidangkan makanan pembuka untuk meja keluarga itu. Sambil menunggu menu utama siap untuk di sajikan.
Di sela-sela mencicipi. Afin memberi kode pada Safa untuk mengatakan kabar gembira itu pada orangtuanya. Senyum Safa melengkung tipis. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, setelah itu meletakkan di atas meja. Dekat dengan Ibu dan Ayah.
Tiga pasang mata di hadapannya di buat bingung. Safa pun meminta kedua orang tuanya untuk membuka kotak tersebut. Dengan perlahan dan sedikit ragu-ragu, Aida menggesernya lebih mendekat. Lalu membuka isi kotak itu.
Rupanya, di dalam ada sebuah foto hasil USG serta alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif.
"MashaAllah–" Aida merasa terharu. Sambil menutup wajah dengan kedua tangan yang masih memegangi dua item tersebut. Ia mengucap syukur sembari berdoa.
"Mbak Safa dan Kak Afin akan punya anak?" Qonni merespon dengan cepat. Tentu keduanya mengangguk hampir bersamaan.
"MashaAllah, Alhamdulillah." Ulum baru merespon setelah tertegun cukup lama untuk mencernanya. Kedua matanya mengilat, terlapisi kristal bening yang tipis.
"Ya Allah, udah berapa Minggu, Nduk? Jangan-jangan saat kalian bulan madu udah hamil?" Terpancar rasa kekhawatiran di wajah ibu paruh baya itu.
"Kalau dari perhitungan dokter, udah masuk empat Minggu. Terhitung dari hari terakhir aku menstruasi, Bu."
"Ya Allah, Nduk. Sebelum kamu berangkat ke luar negeri. Kita sempat ngerujak nanas, to? Terus gimana?"
Safa terkekeh. "Nggak papa kata dokter. Alhamdulillah janin tetap sehat. Bahkan aku juga saat di sana banyak jalan-jalan. Sempat khawatir juga, tapi nggak papa, kok, Bu."
"Bersyukur, ya, Bu. Kita akan jadi nenek." Bu Ayattul menimpali dengan perasaan tak kalah bahagia. Apalagi, Beliau hanya punya Arifin. Sudah otomatis cucunya hanya akan berasal dari Safa dan Arif. Aida sendiri manggut-manggut, ekor matanya masih terlihat basah karena rasa syukur.
Selepas makan malam, mereka masih mengobrol santai hingga hampir dua jam. Hingga akhirnya, Bu Ayattul pamit lebih dulu karena waktu semakin malam. Di susul keluarga Ulum kemudian.
🍂 🍂 🍂
Mobil Afin kembali memasuki komplek tersebut. Klakson sesekali di tekan untuk menyapa orang-orang yang sedang duduk di gang-gang.
Tepat di depan rumah, mobil menyoroti salah seorang laki-laki dengan jaket warna coklat plus ransel yang sedang duduk di atas motor PCX warna merah.
"Ada orang di depan rumah–" ujar Afin. Yang lain pun bertanya-tanya kecuali Qonni.
"Mas Ilyas?" Tanpa sadar gadis itu menyebut nama pemuda berkacamata itu.
"Kamu kenal, Nduk?"
"Teman kampus, Bu," jawabnya lirih.
Menyadari mobil hendak parkir di depan rumah. Pemuda itu langsung buru-buru turun dan mendorong motornya lebih menjauh. Barulah setelah mobil berada pada posisi yang sekiranya tak mengganggu pengguna jalan lain. Mereka turun. Dan lebih dulu Ayah Ulum yang menghampirinya.
"Assalamualaikum–" sapa Beliau dengan ramah. Pemuda itu gegas membalas salamnya sambil meraih tangan Ulum. "Masnya udah lama disini?"
"Enggak, baru kok ini, Pak. Kebetulan mau Chat Ayudia." Menunjuk kearah gadis yang baru turun dari mobil. Ya, nama Qonni adalah Ayudia Qonniah. Dan hanya keluarga Ulum saja yang memanggil gadis itu Qonni. Sementara teman-temannya lebih sering memanggil Ayudia.
"Kamu?"
__ADS_1
"Saya Abdul Aziz Ilyasa, Pak. Sapaannya, Ilyas–" pemuda itu memperkenalkan diri. "Temannya Ayu."
"Oh..." Pak Fatkhul Qulum manggut-manggut sambil tersenyum. "Ada perlu dengan putri saya?"
"Sebenarnya saya hanya ingin mengantarkan baterai laptop yang di pesan Ayudia tadi," jawabnya sopan walau agak cengengesan dikit.
Di depan pagar hanya tertinggal Ulum dan Qonni yang berdiri di belakang agak samping tubuh Ayahnya. Sementara Ibu masuk lebih dulu membuka kunci. Di susul Safa dan Afin.
Sempat pemuda itu gagal fokus saat melihat Afin Anka di rumah Qonni. Benaknya bertanya-tanya apakah itu Afin sang Selebgram, atau hanya mirip saja. Tapi kalau mirip, kenapa bisa sampai 99%. Ia belum tahu, kalau Afin adalah kakak ipar gadis itu.
"Sebenarnya, besok juga nggak papa. Aku nggak buru-buru kok." Qonni bersuara dengan tatapan menghindari mata Ilyas. Senyum laki-laki itu nampak sumringah saat mendengar suara Qonni.
"Masalahnya, aku besok pagi ada pekerjaan mendadak, Dek. Makannya nyempetin kesini... sekalian jadi tahu rumah kamu dan kenalan sama Bapak."
Ayah Ulum melirik kearah Qonni. Gadis itu langsung menggeleng cepat. "Qonni nggak ngasih tahu rumah ini ke Ikhwan manapun, Yah. Wallahi."
"Anu– saya dapat dari teman Ayudia, Pak. Saya pikir ini pertama kali Ayu pesan barang ke saya. Karena kebetulan ada pesanan lain yang searah makanya mending di anterin sekalian."
Pesen baru dua jam yang lalu. Laki-laki dari kelompok pemuda hijrah kampus ini langsung nyamperin. Tahu gini nggak ke dia, mending besok-besok beli di toko gadget. –Qonni bersungut dalam hati.
Pemuda itu memang sejak beberapa tahun belakangan mulai mengejar Qonni bahkan acap kali mengajaknya ta'aruf dan menikah setelah Qonni lulus. Namun gadis itu justru tak menggubris. Di samping dia orangnya hebohan Qonni juga kurang suka dengannya. Padahal Ilyas terkenal laki-laki yang cukup tampan dan manis di kampus. Walau kulitnya tidak terlalu cerah dan lebih condong sawo matang. Tapi dia banyak di kagumi para akhwat yang ikut dalam organisasi mahasiswa itu.
Dia memang selalu heboh dalam urusan agama, tak heran jika pemuda berusia dua puluh lima tahun itu sering menjadi yang terdepan dalam mengorasikan agama Islam.
"Iya nggak papa. Kamu asalnya mana kalau boleh tahu?" Tanya Ulum.
"Cileungsi, Pak."
"Emang boleh, Pak?" Berbinar.
"Ayah, masa di ajakin mampir?" Qonni berbisik sambil memegangi lengan Ayahnya. Laki-laki itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Sebelum kembali menatap pada pemuda di hadapannya.
–––
Beberapa menit berikutnya...
Qonni duduk di kursi sudut ruang tamu. Menguping pembicaraan Ilyas, ayah dan Afin yang turut nimbrung. Tangannya menggenggam erat paper bag berisi barang yang di pesannya dari mantan katingnya (kakak tingkat). Karena Ilyas sudah lulus lebih dulu dari dia.
Terdengar pembicaraan mereka sangat hangat. Ilyas memang sosok yang mudah berbaur, tak heran dari dulu dia termasuk laki-laki yang punya banyak kenalan. Termasuk beberapa dosen pun banyak yang dekat dengannya. Mungkin karena dia juga dagang sejak masih jadi mahasiswa. Jadi public speaking-nya sangat pintar. Ilyas mudah merangkul siapapun, dan kini Ayah sepertinya sangat menikmati obrolan. Bahkan sudah lebih dari satu jam laki-laki itu belum juga pulang.
"Dek–" Safa menyentuh pundak Qonni, gadis itu kontan menoleh padanya. "Dia siapa, sih?"
"Temen, Mbak. Lebih tepatnya mantan kakak tingkat, dulu. Ketua organisasi Islam yang Qonni ikuti di kampus juga," jawabnya dengan tangan menggenggam erat tali paper bag itu.
"Tapi kalau Mbak liat-liat anaknya suka sama kamu. Dia juga kayanya baik. Manis juga–" ledeknya yang membuat Qonni melirik dengan tajam.
"Aku nggak suka dia, Mbak."
__ADS_1
"Loh, kok gitu?"
"Tau, ah! Kapan, sih, dia pulang?" runtuknya.
"Astaghfirullah al'azim, nggak boleh gitu, Dek."
"Ya habis, tau-tau dateng ke sini. Kan jadi nggak enak sama Ayah, sama Kak Afin juga."
Ada penyesalan kenapa harus order baterai laptop ke dia. Kalau saja tidak di butuhkan cepat, mungkin ia akan mencari ke toko pekan depan. Padahal perjanjiannya Qonni hanya ingin bertemu di tempat lain, bukan malah dia datang kesini. Ini sudah jelas, Si Ilyas cari kesempatan.
"Dek, teman kamu mau pulang itu," seru Ayah di depan pintu. Qonni menghela nafas lega.
Akhirnya pulang juga... ia berdiri tanpa keluar. Sementara Ilyas hanya berpamitan di depan pintu cukup jauh dari posisinya.
"Ayudia, aku permisi pulang dulu. Ini makasih, ya udah order. Lain kali kalau butuh apa-apa ngomong aja. Nomor aku di save, ya... kalau perlu."
"inshaAllah–" jawab Qonni singkat. Pemuda itu mengucapkan salam dengan tangan saling bertangkup. Ia juga mencium tangan Ulum dan menjabat tangan Afin sebelum berbalik pulang.
Tak lama terdengar klakson motor dan deru mesin yang mulai menjauh. Gadis itu menghela nafas.
"Kayanya Ayah mau kehilangan satu anak gadis lagi ini?" cibir Ayah Ulum dengan candaan mendekati putri bungsunya. "Inget, nggak boleh pacar-pacaran loh, Dek."
"Ayah ngomong apa, sih?" gadis itu mengerucutkan bibirnya jengkel. Sementara yang di sana langsung berkelakar, lebih-lebih Ulum yang langsung merangkul pundak anak gadisnya.
"Tapi lumayan, kok. Nggak cuma tampang, inshaAllah akhlaknya juga bagus."
"Ayah!" Qonni bercicit. Ia tidak suka diledeki seperti ini.
"Halah, Halah!!" Ulum menekan kedua pipi Qonni dengan satu tangan, gemas. Setelah itu berjalan bersama masuk ke ruang tengah. Menyusul Ibu Aida yang sudah asik dengan rutinitasnya menonton sinetron favorit.
Sekarang tertinggal Afin dan Safa di ruang tamu. Mereka berdiri bersebelahan.
"Abang, makasih, ya. Udah ajak keluarga makan malam kaya tadi. Sejujurnya, ini kali pertama keluarga ku makan di restoran mewah kaya tadi."
Afin tersenyum tipis, ia mengangguk. "Kamu capek nggak?"
"Enggak, sih..."
"Yakin? Ke Kamar aja, yuk. Ngobrol di dalam, biar sekalian aku pijitin kamu," ajaknya yang mengandung arti lain.
Safa tertawa lirih. "Ngobrol di sini bisa, 'kan?"
"Nggak mau, maunya di dalam."
"Ya Allah –"
"Ayo!" Ajaknya yang tak mau menunggu lama lagi. Safa sendiri menuruti. Ia menutup pintu utama lebih dulu setelahnya masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat. Setelah itu mereka tidak keluar lagi hingga subuh datang.
__ADS_1
###
Follow Instagram @Picisian_Imut94 😘😘