
Sambil mendengarkan, Safa terus beristighfar. Ia berharap anak yang di tafsir akan berjenis kelamin perempuan dalam kandungannya itu mampu terhindar dari fitnahnya sebagai seorang perempuan.
Karena di jaman ini mungkin banyak wanita sadar akan masalah aurat hingga sebagian besar dari kaum hawa ini banyak yang berhijab. Namun sayangnya mereka buta dengan moral sebagai seorang muslimah. Sehingga ia merasa bahwa pacaran sebelum menikah adalah sebuah tindakan yang dinormalisasikan. Nauzubillah...
"Jadi sekarang udah berapa bulan?" Tanya Safa, saat gadis itu berhenti bercerita.
"Jalan empat, ust," jawabnya pelan.
"MashaAllah." Safa menyentuh perut anak itu. Ia pun merasakan tekstur yang aneh, seperti kain yang tebal dan kaku di bagian perut ramping itu. "Ini apa?"
"Saya pake korset, Ust."
"Astaghfirullah al'azim. Kamu pake korset?" Safa menyentuhnya lagi. Melihat posisi dia duduk saja sudah membuatnya engap. Pantas saja perutnya nampak rata. Tapi, justru yang ia pikirkan janin dalam kandungannya. "Sekarang ayo lepas aja–"
"Enggak, Ust." Ifa menolaknya sambil kembali menangis.
"Kasian janinnya, Ifa."
"Tapi aku nggak mau ketahuan orang, Ust! Lagian, biarin aja. Biar sekalian nggak selamat!" jawabnya sambil meremas pakaian di bagian perutnya.
"Astaghfirullah al'azim, Nggak boleh ngomong gitu. Gimanapun juga, janin ini darah daging kamu."
"Tapi aku nggak mau menanggung malu, Ust."
"Itu udah konsekuensinya. Setiap jalan yang sejatinya kita tahu itu tidak baik, lantas tetap kita ambil tanpa berpikir. Pasti akan berimbas pada keburukan. Maka bersabarlah dengan ujian yang datang dari kesalahanmu sendiri. Sambil menunggu datangnya pertolongan Allah. Lebih baik kamu banyak bertaubat."
Ifa diam saja. Air matanya masih bercucuran di kedua pipinya. Ia benar-benar menyesal. Atas semua yang telah menimpa dirinya. Safa kembali menghela nafas, ia mengusap air mata gadis remaja di hadapannya.
"Apa orang tua kamu udah tahu?" Tanyanya, yang di jawab gelengan kepala. "Seharusnya kamu jujur sama Bapak dan ibumu."
"Ifa nggak bisa jujur, Ust. Ifa takut."
"Terus mau sampai kapan menyembunyikan fakta ini?"
"Nggak tau. Ifa cuma nunggu waktu aja..."
__ADS_1
"Lalu, laki-laki itu? Dia juga udah tau, 'kan?"
"Udah, karena saat itu juga. Aku langsung kasih tahu Dia, Ust."
"Terus, apa responnya pas tau kamu hamil?"
Ifa kembali meremas ujung hijabnya yang terjulur sampai ke bagian pinggang. Gadis dengan hijab segi empat ukuran standar itu kembali tertegun. Membayangkan raut wajah remeh kekasihnya yang merasa tak percaya jika janin yang di kandungnya itu adalah anak hasil hubungan mereka malam itu.
"Apa Dia mau tanggungjawab?" sambung Safa.
Dari semua pertanyaan yang diberikan hanya pertanyaan kali ini yang tak di jawab oleh Ifa. Baik verbal atau hanya isyarat saja. Karena, bel istirahat berbunyi. Safa menghela nafas untuk mengakhiri.
"Nanti siang sepulang sekolah kita ngobrol lagi. Ustadzah masih banyak kerjaan. Nggak papa, ya?"
"Iya, Ust. Makasih, udah mau dengerin ceritaku."
"Sama-sama. Nanti siang inshaAllah, Ustadzah tunggu di serambi masjid."
"Iya, Ust."
Setelah beranjak Safa mengucap salam yang di balas dengan sopan oleh gadis yang sudah mulai bisa merasakan ketenangan dalam hatinya. Karena beban yang tertumpuk itu bisa keluar walau belum selesai menyelesaikan masalahnya.
–––
Pembicaraan bersambung di serambi masjid. Mereka berdua sudah duduk bersebelahan. Tepat pukul dua siang. Safa sengaja melarang supirnya untuk menjemput lebih dulu karena ia sedang ada urusan dengan salah satu muridnya.
Di depan masjid yang sepi. Mereka berbincang dengan suara yang amat lirih. Dimana Safa masih mendengarkan cerita tentang si gadis yang sudah berjuang untuk mengajak laki-laki itu bertanggungjawab. Dan bukannya beritikad baik untuk sama-sama mengakui kesalahan. Laki-laki itu justru memperlihatkan hubungannya dengan gadis lain secara terang-terangan kepada Ifa.
Tentu saja hal itu membuat Safa amat miris. Sebuah mahkota wanita yang hanya di milikinya satu kali seumur hidup, selagi belum tersentuh laki-laki. Harus patah begitu saja, setelah Dia yang belum berakad menerobos masuk perisai kaca yang tak terkunci itu.
Ifa terus berbicara tentang penyesalannya. Ia bahkan berharap untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya. Namun, mau menyesal seperti apapun itu. Tetap saja tidaklah terpengaruh.
Sekarang, nasipun sudah menjadi bubur. Penyesalan sebesar apapun yang di rasakan Ifa tidaklah mampu meleburkan semua yang telah terjadi. Sekarang tugasnya hanya menyerah pada keadaan. Ia harus mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya. Apapun yang akan ia terima setelahnya.
🌲🌲🌲
__ADS_1
Di rumah, Safa mencoba untuk meraih kakinya sendiri. Untuk diolesi body lotion agar tidak kering. Setelah itu memakai kaos kaki. Rencananya malam ini Safa akan ikut Afin ke suatu tempat.
"Sini biar aku aja." Pria yang sudah siap dengan penampilan kasualnya berjongkok di bawah ranjang. Mengambil cairan kental lotion dari dalam botolnya sebelum mengaplikasikan ke kaki Sang istri.
"Makasih, Abang–" Safa mengusap-usap pipi Afin lembut.
Pria itu mengangkat wajahnya sambil tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
"Sama-sama, Sayang," balasnya sebelum kembali fokus pada kedua kaki, Safa. Perempuan yang hanya duduk di bibir ranjang itu tersenyum senang.
"Bang, kata dokter 'kan. Kemungkinan anak kita perempuan..."
"Terus?"
"Entah kenapa mendadak aku merasa takut–"
"Takut kenapa?" tanyanya sambil memasang kaos kaki ke salah satu kaki isterinya. "Dede sehat, 'kan?"
"Sehat. Tapi, ngurus anak perempuan pasti harus benar-benar ekstra hati-hati, 'kan?"
"Harus lah. Kan anak perempuan. Aku juga nggak mau anakku nantinya gemar bersosialisasi. Biar Dia di rumah, aku akan cukupi semua kebutuhannya. Apa perlu kita cari bodyguard dari sekarang?"
"Ya nggak gitu juga."
Afin tersenyum. "Aku cuma bercanda. Gini..! Salah satu alasan kenapa aku bersyukur punya anak dari kamu. Kamu kan wanita beriman, pasti anak kita akan sama memiliki iman seperti kamu."
"Tapi seperti ilmu yang kudapatkan dari Ustadz Irsyad. Bahwasanya, iman itu tidak bisa di wariskan, Bang. Mereka membawa nasibnya masing-masing."
"Ya aku tau. Tapi bukankah Ustadz Irsyad juga menyampaikan, kalau hidayah itu seperti air hujan. Yang di turunkan kepada semua orang tanpa terkecuali?" Afin telah selesai memasangkan satu kaos kaki kedua. Pertanda ia telah selesai dengan pekerjaan remeh itu, namun bermakna bagi Safa. Kini wajahnya kembali terangkat. Walau masih dalam posisi berjongkok.
Safa mengangguk. Memang benar sih tentang hal itu. Semoga saja, anaknya kelak tak memiliki payung perisai untuk menampik hidayah itu.
"Tugas kita hanya bagaimana caranya menanamkan keimanan terhadap Allah. Mulai dari hal-hal kecil dulu. Pelan-pelan, kalau sudah terbiasa pasti akan mudah bagi dia." Afin melanjutkan dengan suara mengikuti gaya bicaranya Ustadz Irsyad. Safa pun terkekeh gemas.
"Masih terlalu dini buat bahas hal itu."
__ADS_1
"Ya kan kamu yang bahas duluan bukan aku. Tapi aku pasti akan over protektif padanya." Afin mencium perut Safa sebelum bangkit. "Ayo jalan, keburu malam. Nanti."
"Pancing..." Kedua tangan Safa terangkat. Pria yang sudah gemas itu malah justru mengangkat tubuh Safa dan membawanya keluar kamar sambil tertawa. Yang setelah sampai ke ujung tangga ia menurunkannya.