Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 46


__ADS_3

Blaaaaar!


Nyala lampu kamar hotel menyambut tubuh sepasang suami-isteri dari Indonesia itu. Setelah 11 jam lebih perjalanan dari Jakarta ke Istanbul akhirnya mereka bisa menikmati dinginya kota Istanbul yang mencapai minus dua belas derajat Celcius.


Seorang pria dari pelayanan kamar memberitahukan, apa-apa saja yang ada di kamar itu termasuk cara menggunakan barang elektroniknya menggunakan bahasa Inggris.


Setelah selesai pria tadi berpamitan keluar, tak lupa pula Afin memberikan senilai 300 Lira Turki sebagai tip. Pria itu lantas mengucapkan terimakasih.


Pintu kembali tertutup, udara hangat yang di keluarkan mesin penghangat udara pun mulai terasa, dan cukup untuk menetralkan hawa dingin dari luar tadi.


Safa melepaskan kedua sarung tangannya. Setelah itu menggosok-gosokkan tangannya agar bisa lebih hangat setelah tadi dirasa membeku.


"Ini belum masuk puncak musim dingin. Tapi udah sedingin ini–" Afin melepaskan Coat-nya, menyisakan sweater warna biru dengan kerah panjang menutupi seluruh bagian lehernya.


"Ya, karena kita terbiasa di cuaca tropis." Safa tersenyum, kedua pipi dan hidungnya sudah terlihat memerah. Pun wanita berjilbab itu merasakan hidungnya terus berair.


"Kamu pasti kedinginan sekali?"


"Iya..." wanita berkerudung coklat susu tersenyum tipis. "Tapi udah lebih baik sih, pas masuk gedung hotel," imbuhnya kemudian.


Afin sendiri langsung berinisiatif, menggosokkan kedua tangannya lalu menempelkan telapak tangan yang hangat itu ke pipi Safa. Gerakan itu ia lakukan berulang sampai Safa benar-benar merasakan hangat.


"Gimana?" Tanyanya masih pada posisi menempelkan telapak tangan di pipi istrinya. Wanita itu mengangguk.


"Hangat..." jawabnya senang. Bersamaan dengan momen romantis itu, terdengar suara perut yang kontan membuat keduanya terdiam. Namun seketika tawa Afin terdengar.


"Kamu lapar?"


"Sedikit, padahal kita tadi udah sempet makan di airport," jawab Safa sedikit malu-malu.

__ADS_1


"Nggak papa, hawa dingin emang bikin kita gampang lapar. Mau keluar lagi, nggak? Di dekat sini ada restoran Kofte legendaris yang enak banget."


Wanita itu berpikir sejenak namun kemudian menggeleng saat merasakan tubuhnya yang hangat.


"Enggak, Bang. Mager... di luar dingin banget. Aku udah nyaman disini."


"Ya udah, biar aku pesan aja ke pelayanan kamarnya." Afin gegas bangkit mendekati telfon kamar yang menempel di dinding. Setelah itu berbicara dengan bahasa Turki.


Abang benar-benar fasih bahasa Turki. Bahkan aksennya mengikuti orang asli. (Safa)


Laki-laki itu kembali menutup telfonnya dan menoleh kearah Safa.


"Sebentar lagi akan ada makanan yang datang. Kamu mau bebersih duluan, nggak? Shower-nya bisa hangat kok."


Safa mengangguk. Walau tubuhnya tak terasa lengket tapi ia tetap harus mandi setelah sebelas jam perjalanan. Dan beberapa menit ia lalui demi memanjakan diri dengan air hangat, tubuhnya yang tadi lelah seketika menjadi nyaman.


Di lihat Afin sudah duduk di sofa dengan makanan terhidang di atas meja kecil. Pelayanannya terbilang cukup cepat juga.


"Sini..." Afin menepuk-nepuk permukaan kursi. Pelan-pelan Safa duduk di sisinya melihat Afin mensuir-suir bagian roti tersebut sebelum memasukkannya sebagian kedalam krim sup.


"Cobain, ini namanya Mercimek çorbası. Salah satu sup yang sering aku makan kalau ada di sini. Kadang Bunda buatin sih, tapi agak beda kalau makan di negara asalnya." Afin mengarahkan suapan pertama untuk Safa.


Wanita itu langsung mengucap bismillah sambil menahan rambutnya dengan tangan kiri, agar tak turut termakan. Adapun Safa langsung memasukan suapan sup dari tangan Afin ke dalam mulutnya. Rasanya cukup asing di awal, namun ia masih bisa menikmati itu.


"Enak?"


"Lumayan, tapi lidahku masih butuh adaptasi. Tapi lama-lama rasa gurih mendominasi. Enak, Bang."


Pria itu mengulas senyum, ia pun mencicipi juga. Rasa rindu dengan makanan itu sedikit terobati. Afin manggut-manggut menikmati. Lebih dari dua suapan masuk ke dalam mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Dari tadi, kita cuma makan roti. Aku belum bertemu nasi selama di sini."


"Emmm... disini, memang menjadikan roti, kentang dan, nasi sebagai makanan pokok. Tapi sebagian besar mereka makan roti. Untuk di sandingkan dengan makanan pendamping lainnya. Seperti ini..."


Afin kembali mengarahkan satu suapan krim sup ke pada Safa yang langsung di lahapnya.


"Banyak olahan makanan yang bercampur dengan kentang dan kacang-kacangan. Atau mungkin roti. Dan kalau dalam makanan udah ada dua komponen tadi maka sudah tidak perlu lagi mencari nasi. Sangat bertolak belakang dengan Indonesia, kan?"


Safa mengangguk. "Kita nggak akan kenyang tanpa nasi."


"Nah..." Afin mengacungkan ibu jari hingga keduanya tertawa, larut dalam obrolan.


"Tubuhku jadi lebih hangat," tuturnya yang di tanggapi dengan anggukan kepala Afin tanda setuju.


Lidah Safa kini mulai cocok dengan Mercimek çorbası yang sedang ia nikmati bersama Afin. Hingga ke-dua banyak diam, demi fokus pada makanan di atas meja.


"Bang, Abang tuh sering kesini, ya?"


"Kenapa emang?" tanyanya sebelum menggigit ujung garlic bread yang memiliki tekstur garing itu.


"Abang fasih banget berbahasa Turkinya. Terus, Abang juga kaya hafal banget makanan-makanan disini. Sampai-sampai punya makanan favorit."


Pria itu tersenyum, menghabiskan bagian roti yang masih memenuhi rongga mulutnya. Setelah itu meminum susu hangatnya.


"Aku dulu sempat tinggal di sini, satu tahun setelah mendengar kematian Baba."


"Baba itu?"


"Ayahku," jawab Afin. Safa pun tertegun memandangi wajahnya, walau tak menujukkan ekspresi kesedihan. "Jadi, aku sempat mendatangi keluarga Baba. Untuk memperkenalkan diri. Ya... ada salah satu paman yang menerimaku. Beliau adiknya Baba, aku sempat tinggal sama Beliau selama satu tahun lebih. Belajar budaya, dan lain sebagainya. Besok kita akan bertemu Amca di makam Baba."

__ADS_1


Safa manggut-manggut, sepertinya perjalanan ke Turki tidak hanya untuk bulan madu semata. Namun tapak tilas, perjalanan suaminya menemukan keluarga besar dari Ayah dia di sini.


__ADS_2