
Beberapa jam yang lalu...
Seorang laki-laki dengan kaos oblong plus celana training sedang mengerjakan pekerjaannya di dalam kamar khusus yang diperuntukkan untuk menyervis benda elektronik.
Seperti printer, laptop, atau komputer. Pemuda dengan kacamata yang cukup tebal itu memang sudah bekerja sebagai guru di salah satu SMA Negeri sejak satu tahun ini.
Namun, di samping itu, ia juga punya pekerjaan sampingan yang berkaitan dengan hobinya mengotak-atik barang elektronik. Berawal dari beberapa teman dekatnya hingga banyak pelajar, mahasiswa, guru bahkan dosen sekalipun mengakui kemampuannya sebagai tukang service yang handal.
Dan siapa sangka, dari kesukaan itu rupanya mampu menambahkan pundi-pundi tabungannya. Karena itu juga sosok pria dengan jenggot tipis ini bisa kuliah S1. Tak puas dengan ijazah S1nya. Dia juga sedang menabung untuk persiapan Strata duanya. Bahkan kalau bisa lanjut sampai ke S3. Karena pemuda itu juga sangat menyukai belajar.
Sorot matanya nampak fokus pada komponen kabel warna-warni di hadapannya, beserta solder di tangan kanan. Pria yang kerap di Sapa Ilyas itu bergeming. Hingga sebuah suara panggilan dari benda pipih itu membuyarkan fokusnya.
"Astaghfirullah al'azim..." Pria itu menggeleng, melepas penan yang terasa menarik urat tengkuknya. Sudah sejak habis magrib tadi dia memegang laptop milik rekan seprofesinya. Bahkan Adzan Isya sudah terlewat sejak lima belas menit yang lalu.
Di ambilnya gawai dari jarak yang masih terjangkau oleh tangan kirinya. Pria itu membaca nama dari seseorang, lalu suara panggilan telepon itu mati. Karena terlalu lama tak kunjung di terima.
Triiiiiiiing.... Satu pesan Chat masuk. Pemuda itu menekan frame di bagian tengah kacamatanya. Menyipitkan mata lalu membaca dari layar yang masih terkunci.
[Assalamualaikum, Yas! Antum punya stok cooling pad tiga pcs, nggak? Kalau ada kira-kira bisa di kirim sekarang Ke Bekasi? Nuhun, di tunggu balasannya.]
Pria itu lantas membalas, jika malam ini dirinya sedang tidak bisa COD kemana-mana. Sebab pekerjaannya masih banyak. Kalau bisa di kirim besok sekalian menghadiri kegiatan penataran di dekat-dekat sana.
Setelah selesai membalas, Ilyas berniat untuk melangsungkan ibadah wajibnya sebagai seorang muslim. Namun, tangannya urung meletakkan ponsel keatas meja saat mendapati nomor tak dikenal mengirim pesan Chat padanya.
Sebelum beralih ke ruang Chat pribadi dari nomor yang belum di beri nama itu. Ilyas sudah bisa membaca kata salam tersebut. Dan membalas salam dengan bibir. Ilyas keluar dari aplikasi chatting warna hijau itu. ia berpikir lebih baik nanti saja saat sudah sholat baru dia balas.
__ADS_1
"Paling juga orang yang mau servis, atau tanya-tanya komponen komputerβ" gumamnya sambil meletakkan benda pipih itu kembali ke atas meja. Tangan kanannya meranggai peci bulat serta memasangnya di kepala. Kemudian melenggang pergi, keluar dari kamar kerjanya.
Beberapa menit kemudian, dia kembali. Wajah yang masih menunjukkan sisa-sisa wudu itu terlihat adem. Masuk kembali kedalam kamar kerja. Selepas sholat sekaligus melakukan perenggangan, tubuhnya merasa jauh lebih fresh. Dan siap untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
Sebelum itu, Ilyas ingat dengan pesan terakhir tadi. Hingga membuatnya kembali meranggai benda pipih miliknya. Belum juga membuka, ia sudah langsung di buat tertegun dengan pesan terbaru.
(Ayudia Qonniah...) Pesan terakhir itu mungkin sebagai cara Qonni memperkenalkan diri.
"MashaAllah, Ayudia? Beneran Ayudia yang itu bukan?" Buru-buru dia membuka pesan chat dari gadis yang ia kagumi saat masih menjadi mahasiswa.
[Assalamualaikum, Mas.]
[Maaf mengganggu waktunya. Saya dengar, Mas biasa menyediakan alat-alat untuk keperluan elektronik kantor. Kira-kira, ada Baterai laptop merek Asus, nggak?]
Begitulah kira-kira isi pesannya, yang berlanjut pada negosiasi panjang. Padahal Qonni hanya meminta besok saja, namun laki-laki itu tak menjawab dan bahkan tiba-tiba sudah ada di depan rumah. Pesanan cooling pad yang sebelumnya juga, mendadak langsung ia sanggupi untuk di antar mumpung masih searah.
Setelah mengantar, pria berkacamata plus rambut ikal yang tertutup helm BOGO warna coklat itu melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan senang. Ia punya firasat setelah mengobrol dengan Ayah Qonni kalau jalanya akan mudah. Bapaknya baik dan Welcome. Benar-benar membuatnya optimis untuk bisa menjadikan gadis itu sebagai pasangan hidupnya.
π π π
Tahun ajaran baru, memang waktu sibuk untuk guru-guru. Termasuk Safa yang notabene adalah seorang wali kelas sepuluh. Tentu ia akan bertemu wajah-wajah yang baru lulus Sekolah menengah pertama. Mengenalkan suasana yang akan berbeda dengan sekolah mereka sebelumnya.
Hari itu, ia mengabsen satu persatu siswa dan siswinya untuk mengenal nama-nama mereka. Dan ia bersyukur, sebagian besar adalah anak-anak yang aktif. Safa juga langsung mengadakan pemilihan demi mengisi struktur organisasi di kelas tersebut.
Di pilihnya beberapa murid untuk di jadikan ketua kelas, wakil, sekretaris, bendahara dan lain sebagainya.
__ADS_1
Ini adalah hari pengenalan, jadi belum ada pelajaran untuk mereka. Dan sekolah pun pulang lebih cepat dari normalnya waktu belajar di sekolah tersebut.
Triiiiiiiing... Sebuah pesan dari M-banking. Safa di buat melotot saat membacanya. Sebuah nominal tak normal masuk ke rekeningnya. Gadis itu masih saja belum terbiasa, dengan uang-uang yang rutin di kirim Afin Anka setiap sebulan sekali. Tidak! ini sepertinya belum berganti bulan. Tapi laki-laki itu sudah mengirimkan uang lagi.
Ini nggak bisa di biarin, sih. Safa mencoba untuk menelfon suaminya namun pria itu tak mengangkat.
"Ya udah, lah. Nanti aja di rumah. Mungkin Abang sibuk." kembali di masukan gawai ke dalam tas. Wanita yang masih memakai seragam dinas warna khaki itu kembali fokus dengan pekerjaannya.
βββ
Di tempat lain ...
Suasana suram menyelimuti tempat yang jika di perhatikan sekilas amatlah tidak nyaman untuk di tinggali. Seorang Laki-laki bertubuh tinggi dan gemuk, dengan tato di hampir seluruh tubuhnya itu menenggak minuman keras dalam botol yang sedang ia pegang.
Satu tangannya yang lain mengetik keyboard komputer layar datar. Beberapa kali mencoba untuk log in di hampir semua akun Afin, pria itu selalu gagal.
"AAAARRRGGGHHH!" Pria itu mengerang sambil melempar botol minum haram tersebut.
Di dalam ruangan yang sedikit lembab, gelap dan berantakan. Bahkan lebih mirip gudang kosong di tengah hutan. Laki-laki itu masih bersembunyi, sejak terakhir kasusnya yang ia kira sudah di tutup malah justru terbuka lagi. Bahkan lebih parah karena ia mendapat tambahan pelanggan hukum tentang penyalahgunaan narkoba.
"Hiiik! Lo bener-bener brengsek, Fin. Sekarang semuanya sudah nggak bisa di akses. Hiiik! Bahkan rekening ... yang sempat gua ambil alih sudah kembali dia pegang. Sialan! Lo benar-benar cari mati. Segitunya mau menyingkirkan gua dalam kehidupan Lo. Dasar kacang lupa kulitnya! Hiiik!" Pria yang tak memakai atasan itu terus meruntuk.
Tubuhnya yang sempoyongan karena mabuk berat masih berusaha untuk bangkit. Mencari-cari minuman yang lain, walau dia sudah sampai cegukan. Mengangkat satu persatu botol yang tergeletak di lantai, serta mengocoknya. Mencari yang masih isi. Namun, semua botol yang ia punya di rumah itu kosong.
"Aaaaaaargh! GARA-GARA BABY SUGAR SIALAN. GUA JADI NGGAK PUNYA DUIT!!" Pria itu menendang semua botol sebab frustasi. "Hiiik! Gua harus nemuin Afin. Gimanapun... Hiiiik! caranya... gua harus keluar dari sini buat nemuin dia. Gua harus keluar negeri lagi... AFIIIIN! Lu liat nanti!!"
__ADS_1