
Selepas pertikaian kecil yang tak di sengaja antara Safa dan Afin sore itu, justru membawa keterasingan kembali bagi keduanya. Buntut panjang dari kejujuran yang tak kunjung di utarakan oleh pria yang memiliki brewok tipis di area tulang rahangnya.
Pengecut! Itu yang pantas di sematkan untuk seorang Afin Anka. Rasa takut kehilangan membuat akal sehatnya tak mampu menjangkau fakta yang akan terjadi. Karena yang dia lakukan justru menjadi awal dari sebuah kehancuran jika saja ia tak kunjung keluar dari zona nyamannya.
Sekarang saja, rasa kekecewaan Safa semakin menguat.
Belum lagi tidak adanya itikad baik untuk Afin berubah. Sifatnya yang terkesan manis namun sejatinya tidak demikian. Memetik keraguan semakin dalam di hati Safa.
Sebenarnya, perasaan Abang ke Safa itu gimana ya?
Batin Safa terus bertanya-tanya. Setelah laki-laki itu kian hari terus memainkan perasaannya. Membuat dia sejenak merasa di atas awan namun seketika terhempas begitu saja tanpa aba-aba.
Meski demikian, gadis itu tidak bisa kemana-mana. Karena, terlepas dari nafkah batin yang tak kunjung ia terima. Sejatinya Afin termasuk laki-laki yang lemah lembut. Benar, di layar kaca ia terkesan laki-laki gaul yang tak bisa menyaring setiap kata yang terucap dari mulutnya. Siapa sangka di balik kesan anak nakal, Afin memiliki kepribadian baik jika di rumah, dia tergolong laki-laki halus dan bertanggungjawab. Apalagi terhadap Bundanya.
...
Sudah berganti hari lagi sejak saat mereka tak saling bicara. Safa tidak mau ini berlarut-larut, karena bertengkar lebih dari tiga hari maka berdosalah keduanya.
Gadis itu meletakkan secangkir kopi di atas meja bundar, dekat dengan posisi Afin yang sedang duduk sendirian sambil menyusun proyek pekerjaannya dengan tab. Pria itu menoleh, merespon apa yang ia terima. Pelayanan Safa terhadap dirinya sama sekali tidak berubah. Meski ia terlihat terus mengabaikannya.
Senyum Safa mengembang singkat setelah itu berlalu yang di ikuti gerak kepala Afin. Ia benar-benar menginginkan momen mesra sebenarnya. Cuma sekali lagi, keinginan itu masih kalah dengan ketakutannya.
Sebuah helaan nafas membuat Afin semakin tidak nyaman. Ia ingin mengajaknya bicara. Namun lidahnya amat kaku. Di lihatnya gadis itu kembali dan duduk di kursi satunya sambil memegang mushaf.
"Aku mau ngaji di sini. Semoga Abang nggak terganggu," ujarnya sambil membuka Qur'an kecil di tangan.
"Aku nggak mungkin terganggu dengan ayat-ayat Allah. Silahkan ngaji aja." Afin menanggapi sebelum kembali memegang pena iPad.
Safa mengangguk pelan. Diliriknya sang suami sudah kembali fokus dengan pekerjaannya. Tanpa menyentuh secangkir kopi yang terhidang untuknya. Ia pun berusaha mengabaikan itu karena tidaklah penting perasaannya sekarang. Ia hanya sedang berusaha menunjukkan, bahwa mencintai suaminya dengan tulus adalah jalannya meraih surga Allah.
Jam terasa cepat bergeser. Sudah masuk waktu Maghrib. Gadis itu bersiap menutup mushaf-nya sebelum bergegas mengambil air wudhu.
Afin melihat istrinya sudah bangkit hendak masuk, tanpa menimbang-nimbang ia langsung meraih pergelangan tangan Safa menahan gadis itu masuk.
__ADS_1
"Ini malam Minggu, mau keluar sama aku sebentar, nggak?" Tanyanya tiba-tiba.
Seperti semburan air di tengah tanah yang kekeringan. Baru kali ini suaminya mengajak dia keluar bersama. Padahal selama ini tidak pernah. Boro-boro mengajaknya pergi. Mengobrol panjang lebar pun jarang. Afin terlalu sibuk dengan segala pekerjaan di dunia keartisan.
"Abang ngajak Safa keluar?" Setengah tak percaya Safa kembali menanyakan.
"Iya, Fa. Aku pengen makan di luar sama kamu." Tubuhnya berputar sedikit. Menghadap Safa.
"Tapi, apa nggak takut. Kalau ada yang ngenalin kamu?" Tanya Safa kemudian. Pria itu menggeleng. Tangan kanannya masih erat memegangi pergelangan tangan Safa.
"Nggak masalah. Biarlah, semua orang tahu siapa istri aku. Toh, udah banyak orang-orang tahu. Kalau aku udah nikah."
Safa merasa senang, ia pun mengangguk. Mungkin ini awal baik untuk hubungan mereka menjadi lebih lekat.
"Kita sholat dulu, ya."
"Iya..., Guzelim."
Safa tertegun sebentar melihat senyum tulus Arifin walau terlihat samar. Pria itu bangkit, memeluk tab dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya masih memegangi Safa. Melangkah masuk ke dalam kamar.
...
Beberapa saat setelah menjalankan ibadah, Afin memutar tubuhnya kebelakang. Hingga kedua pasang mata itu saling bertemu. Afin tersenyum kaku, demi mencairkan suasana begitu juga dengan Safa.
Keterasingan yang di rasakan sebelumnya mulai terkikis kembali. Tatkala menahan tangan Gadis dengan mukena hitam yang hendak melepaskan tali di kepalanya.
"Biar aku aja yang melepaskan," pintanya. Afin melepaskan tali mukenah sekaligus menanggalkannya. Sebuah tatapan penuh cinta di tunjukkan. Afin tersenyum, memandangi wajah cantik yang teduh milik Safa.
Sebuah kecupan mendarat di kening dengan durasi yang tak sebentar. Sejatinya ia ingin lebih dari itu. Tapi sudahlah, kening saja. Ia takut akan melakukan lebih daripada sebuah ciuman di bibir yang sejatinya itu halal untuk di lakukan.
"Yuk, siap-siap," ajaknya kemudian setelah melepaskan kecupannya sembari mengusap wajah Safa dengan kedua tangannya.
"Iya, Bang." Gadis itu mengangguk kaku. Rasanya jantungnya seperti hendak copot. Ini hanyalah ciuman di kening. Sudah membuat hatinya serasa di tumbuhi ribuan bunga-bunga yang bermekaran secara bersamaan.
__ADS_1
Kini mereka mulai bersiap. Memakai baju terbaik, belum juga Safa selesai memasang hijab. Laki-laki dengan postur tinggi terlihat sudah siap. Memakai celana jeans serta baju lengan panjang berwarna hitam. Tentunya dengan merek brand yang tak murah, tertulis besar di bagian dadanya. Safa benar-benar terpukau dengan penampilan suaminya itu. Yang sedang menata rambut dengan krim khusus rambut.
Ya Allah, suamiku se keren itu. Apa aku bakal pede ya jalan sama dia. –Safa memandang dirinya di cermin. Gamis warna hitam dengan pasmina hitam bermotif bunga warna putih yang akan ia gunakan. Sebenarnya membuat gadis itu terlihat anggun. Tapi, seolah dunia dia dan Afin berbeda. Safa tetap saja merasa tidak setara dengan penampilan suaminya malam ini.
"Fa?" Suara Afin membuat gadis itu terperanjat kaget sambil menoleh ke sisi kanan. Tempat Suaminya berdiri sambil menata rambutnya sendiri. "Kok malah ngelamun? Ayo!"
"Iya, Bang." Gadis itu kembali memasang pasminanya. Walaupun di bentuk sebagus mungkin ia tetap tidak melupakan syari'at untuk menjulurkannya hingga ke dada.
Afin menyadari pakaian yang di pakai istrinya memiliki warna senada dengan warna kaos yang ia gunakan. Tentunya itu membuat Afin merasa senang. Karena tanpa adanya kesepakatan. Mereka sudah memakai busana yang serasi.
Mungkin ini yang di sebut sehati. Bibir Afin mengulas senyum. Safa benar-benar terlihat cantik dan cocok dengan riasannya. Terlihat natural dan segar.
Beberapa menit berlalu. Setelah semua siap mobil pun jalan. Menyusuri jalan ibu kota yang masih terlihat ramai. Gerimis kecil terlihat dari kaca mobil.
Gadis itu terus-menerus melirik ke arah Afin. Aroma wangi parfumnya benar-benar membuat dia semakin berdebar. Arifin memang ganteng, dan memiliki aroma yang khasiatnya. Ia mengakui itu sejak awal pertemuannya.
Tapi terkhusus malam ini, sepertinya laki-laki itu benar-benar memaksimalkan penampilannya jadilah level kegantengannya mengalahkan seluruh keindahan di dunia ini. Ya, itu hanya kiasan yang di lebih-lebihkan. Hehehe.
Semoga penampilanku nggak malu-maluin. –Safa terus mengkhawatirkan penampilannya walaupun tak mendapat respon buruk dari Afin. Namun tetap saja ia takut akan membuat Afin malu.
"Kamu mau makan apa?" Tanyanya sambil menoleh ke Safa sebentar.
"Safa ikut Abang aja. Safa nggak tahu mau makan apa."
"Seafood doyan, nggak? Atau makanan Jepang?"
"Aku suka seafood," jawabnya. Karena ia tahu laki-laki nggak suka kata 'terserah' yang biasa di jawab perempuan jika di tanyai.
"Baiklah, kita makan itu. Aku mau cari restoran yang ada private room. Biar kita leluasa makannya." Arifin menoleh sambil tersenyum. Gadis itu pun membalasnya. Seraya kedua tangannya meremas seat belt yang menyilang di dada karena gugup. Ia kembali menatap kedepan.
Sesampainya di area parkir restoran. Pria itu kesulitan membuka pintu gara-gara mobil lain yang tiba-tiba turut terparkir di sebelahnya.
"Permisi, mobil anda terlalu kesini...!" Afin menegur pelan setelah menurunkan kacanya. Tapi sepertinya mobil di sisinya tak merespon. "Maaf! Bisa tolong posisikan mobil dengan benar? Saya nggak bisa buka pintu."
__ADS_1
"Bang, dia nggak denger mungkin," ujar Safa yang belum turun dari dalam mobil mereka.
"Per?" Afin yang hendak berbicara lagi seketika membisu saat kaca mobil di sebelahnya terbuka. Ia terkejut saat melihat siapa yang ada di dalamnya. Seseorang yang langsung membuatnya terpaku di tempat.