
Mentari menyapa para penduduk bumi dengan sinarnya yang hangat. Menyelimuti sebagian alam dengan manfaat baik yang Tuhan sisipkan untuk semua makhluk-Nya.
Sebuah mobil yang di kendarai pria berusia empat puluh dua tahun itu menerjang jalanan yang nampak lengang. Tujuan pertama adalah sebuah gedung sekolah tempat wanita berkerudung syar'i itu mengajar. Ya, semenjak tempo hari Afin mengantarkan Safa. Sekarang malah justru hampir setiap hari pria itu mengantarkan isterinya bekerja. Semuanya ia lakukan dengan alasan kehamilan jadi Safa sudah tidak boleh lagi naik motor sendiri.
Wanita dengan hijab senada dengan pakaian dinasnya itu memandang jalan. Sambil mengusap terus perutnya sementara bibirnya bersholawat. Di sampingnya Afin, sedang melakukan siaran langsung di laman penyiarnya.
Banyak pertanyaan dan doa terbaik untuk Afin yang hendak menjadi seorang ayah. Sebab konfirmasinya tempo hari sudah menyebar seperti putik dandelion yang di tiup angin. Membuatnya dihujani banyak dukungan plus doa.
––––
Waktu istirahat pagi di manfaatkan beberapa murid dan guru untuk melakukan sholat Dhuha. Tak terkecuali Safa, yang baru saja menyelesaikan empat reka'at shalatnya. Berselang beberapa detik. Seorang guru lain menghampirinya.
"Assalamualaikum, Ush...."
"Walaikumsalam warahmatullah." Safa menjawab sambil melipat mukenanya.
"Ustazah Safa tadi di cari Bu Inayah. Suruh menghadap ke ruangannya Beliau, katanya."
"Emmm, memang ada apa, ya, Ust?" Tanya Safa sambil mengernyitkan dahi.
"Saya nggak tahu, Ustadzah langsung kesana saja. Tadi Bu Inayah hanya menyampaikan itu."
Wanita yang sudah selesai melipat mukenanya langsung mengucapkan terima kasih dan bangkit dari sana.
Dua kali ketukan di bunyikan oleh wanita yang masih berdiri di ambang pintu. Di dalam, rupanya tidak hanya ada Bu Inayah sebagai kepala sekolah. Melainkan seorang laki-laki yang di sinyalir usianya sudah menginjak lima puluh tahun, bersama dengan seorang wanita tak berhijab yang berpenampilan menarik bak ibu pejabat.
"Assalamualaikum–" Safa menyapa sopan. Yang di sambut senyum Bu Inayah.
"Walaikumsalam warahmatullah, silahkan Ustadzah Safa. Mari masuk," pintanya yang langsung di iyakan wanita itu. Ia pun duduk di kursi lain yang bersebelahan dengan Bu Inayah. Berhadapan dengan mereka yang kemungkinan adalah pasangan suami-isteri.
"Nah, Pak Roby. Inilah Bu Safa, atau biasa para murid memanggilnya Ustadzah Safa. Wali kelas dari Thalita," ucap Bu Inayah memperkenalkan Safa pada pria yang memandangnya tak ramah. Wanita berhijab itu langsung menyapa dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Jadi ini, yang membiarkan anak saya minggat dari sekolah? Penampilan Anda sama sekali tidak mencerminkan kepribadian Anda."
Safa tercengang mendengar deretan kata yang mengandung sarkasme.
"Afwan, Bapak. Ini ada apa, ya?" Safa bertanya dengan nada yang amat tenang.
"Jangan pura-pura nggak tahu! Siapa yang kemarin memberikan izin anak saya pulang setengah hari. Anda, 'kan?"
"Iya benar saya, Pak. Saya juga yang memberikan tanda tangan surat izin pulangnya."
"Benar, 'kan!" Hentaknya keras. "Sekarang ibu tahu nggak? Gara-gara ibu gegabah ngizinin Thalita pulang cepat. Anak saya jadi nggak pulang selama tiga hari!"
"Astaghfirullah al'azim... tapi–sebentar, Pak." Safa mencoba untuk mengingat sesuatu. "Bukankah, yang meminta izin ibunya sendiri? Ibu Indriani."
"Benar, 'kan, Pa? Indriani biang keladinya..." bisik wanita tak berhijab di sebelah pria yang nafasnya naik turun itu. Terlihat tangannya mengepal kuat menahan amarahnya.
"Ini, nih..." Roby menudingkan jari telunjuknya pada Safa. "Anda tahu nggak, kalau wanita itu sudah bukan lagi ibu untuk anak saya?"
"Ma–maksudnya?" Safa terbata.
"Permisi bapak, mohon untuk menahan ya. Pasti disini ada kesalahpahaman." Bu Inayah mencoba untuk melerai agar situasinya tak semakin panas.
"Kesalahpahaman bagaimana? Ibu ini kan sarjana! Guru, lagi." Roby masih menunjuk wajah Safa tanpa ragu. "Kenapa Beliau bisa gegabah melepas anak saya dengan orang lain?"
"Tapi mohon maaf, yang di katakan Bu Safa ini sudah benar. Thalita pulang dengan ibu kandungnya! Bu Indriani bukan orang lain."
"Dia bukan lagi ibu kandungnya!! CAMKAN INI!" Pria yang di kenal sebagai juragan kontrakan itu semakin naik pitam. Walau apa yang dia paparkan adalah sebuah kesalahan. Mana ada mantan ibu kandung di dunia ini.
"Pa, sabar ..." sang istri mencoba untuk menahan laki-laki yang semakin memajukan posisi duduknya.
"Dengar ya, Bu Safa! Saya mau anak saya pulang. Bagaimanapun caranya, kalau Anda tidak bisa membuat anak saya kembali sampai jam pulang sekolah nanti. Maka saya akan menuntut Anda! Saya akan seret nama Anda sebagai komplotan penculikan anak."
__ADS_1
"Astaghfirullah al'azim–" Safa menyentuh dadanya sendiri. Serumit inikah masalah yang tengah di hadapi anak muridnya itu. Apa mungkin alasan Thalita minggat juga karena sikap keras Bapaknya?
"Mohon maaf, Pak. Bapak tidak bisa mengancam seperti itu pada staf saya. Lagipula ini adalah urusan keluarga Anda sendiri, di luar wewenang kami sebagai pihak sekolah..." Bu Inayah mencoba untuk membela Safa.
Namun di hentikan oleh wanita di sebelahnya. Sebelum laki-laki di hadapan mereka semakin meradang.
"Bapak, sebelumnya saya mohon maaf. Saya tahu, saya salah. Saya keliru karena hal ini. Tapi bukankah seorang anak, memiliki hak untuk bertemu ibunya. Begitu juga seorang ibu yang–"
BRAAAAAAAAAAK! tangan lebar pria itu menghantam meja kaca dengan keras. Hingga tiga orang yang ada di tempat itu kontan tersentak.
"Pa..." Kembali wanita di sisinya menahan sang suami dengan gerakan halus di dada.
"Jangan Anda mengkhutbahi saya. Sebagai manusia yang belum lama menapaki dunia pernikahan. Anda tahu apa?!" Sarkasnya
"Saya memang belum berpengalaman betul, Pak. Tapi alangkah baiknya. Bapak lebih bijak dalam menyikapi masalah ini, apalagi soal hak asuh. Maaf, tak berniat mencampuri, apakah selama ini bapak menyadari, kalau Thalita itu..."
"Bu Safa!" Roby kembali memotong. "Saya datang kesini hanya untuk meminta pertanggungjawaban Anda sebagai wali kelas. Bukan untuk mendengarkan petuah apapun dari Anda. Suruh wanita itu memulangkan anak saya secepatnya, karena ancaman saya tadi tidak main-main!"
Bu Inayah langsung menggenggam tangan Safa. Beliau menganggukkan kepalanya pada Safa, agar wanita itu menyanggupinya. Beliau hanya tidak ingin masalahnya semakin panjang apalagi sampai membawanya pada meja hijau.
"Anda paham, 'kan?" Roby mengulangi dengan nada menekan.
"Iya, Pak Roby. Saya paham. Saya akan hubungi Bu Indriani, agar memulangkan ananda Thalita."
"Saya tunggu konfirmasinya." Pria itu langsung bangkit dari kursi. Lantas melenggang keluar tanpa mengucapkan salam. Sementara wanita tak berhijab yang mendampinginya tadi turut menyusul sebelum sempat mengucapkan salam untuk berpamitan.
"Ustadzah nggak papa?" Tanya Bu Inayah yang mengkhawatirkan stafnya itu.
"Enggak papa, Bu kepala sekolah." Senyum Safa mengembang tipis, sementara jantungnya masih berdegup kencang.
Baru kali ini selama masa baktinya sebagai seorang guru, bertemu dengan situasi yang menegangkan. Ia tidak pernah tahu kehidupan orang di luar sana. Karena selama ini, walau di uji dengan masalah ekonomi sejak kecil. Safa termasuk orang yang beruntung. Di kelilingi orang tua yang tak pernah berbicara keras. Dan sekarang memiliki suami yang baik pula.
__ADS_1
Namun, jika di pikir-pikir. Banyak orang yang mengalami masalah sama. Perkara rumah tangga yang harus berakhir cerai pasti berujung pada kasus perebutan hak asuh anak.
Tangan Safa menyentuh pelan perutnya yang berdenyut. Ia tidak pernah tahu masa depan seperti apa? Hanya berharap pada sang Maha Pencipta, agar hubungannya dengan sang suami tetap baik-baik saja sampai hari tua. Merawat serta membesarkan anak sama-sama dengan keikhlasan, hingga mengantar anak-anak mereka pada gerbang kesuksesannya. Dunia dan akhirat.