Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 49


__ADS_3

Adzan Ashar sudah berkumandang. Wanita dengan hijab abu-abu itu bergegas masuk kedalam Saf wanita, yang sebagian besar di isi oleh orang-orang tua. Tentunya penampilan Safa sedikit menyita perhatian sebagian dari mereka yang hanya segelintir saja. Beberapa kali Safa menunduk tanda sapaan khas orang Indonesia, pada mata-mata yang tak terlepas mengamati dari atas ke bawah.


Sebuah mukena berwarna hitam dikenakannya. Wanita itu pun duduk di sebelah wanita lanjut usia sambil tersenyum. Tak lama, Iqamah di kumandangkan. Mereka pun mulai melaksanakan sholat.


Selesai Sholat, Safa berdzikir dan berdoa sebentar. Sebelum sebuah tangan renta menyentuhnya. Wanita itu menoleh ke sisi kanan.


"seni yeni gördüm güzel kız.." ucap wanita berusia lanjut itu sambil menunjukkan tatapan kagumnya. (Aku baru saja melihatmu, gadis cantik)


Safa sendiri tidak tahu harus menjawab apa selain tersenyum. Karena ia tidak mengetahui artinya.


"Adınız ne?" Sambung ibu-ibu yang lain sambil memiringkan kepalanya menatap Safa. (Siapa namamu?)


Semakin banyak pertanyaan membuat Safa kebingungan. Namun, ia paham kata terakhir ini. Pertanyaan yang di lontarkan Paman Emir dan Bibi Zaenab saat pertama bertatap muka.


"Ahhh... My Name is Safa. From Indonesia."


"In?" Pertanyaannya menggantung.


"Indonesia, Asia..." Sambung Safa menjelaskan.


"Aaah, Endonezya..." Sebuah tawa renyah ditunjukkan wanita berpawakan tambun itu. (Aaah, Indonesia)


"O ülkenin adını duydum. MashaAllah..." ujarnya dengan wajah berbinar. (Saya pernah mendengar nama negara itu.)


Safa sendiri hanya manggut-manggut tidak paham, sambil turut mengucap MashaAllah. Sedangkan ibu-ibu tadi masih memandang takjub sambil pelan-pelan menunjuk mukena berenda itu. Kembali menghayati dari atas ke bawah.


"Ve bu, ne giyiyorsun?" Menunjuk mukena Safa. (Dan itu, apa yang kamu kenakan?)


"Emm, this?" Safa memegangi mukenanya. Wanita itu pun mengangguk. Memang jika dilihat-lihat hanya dirinya yang menggunakan mukena. Sementara yang lain tidak. "In our country, we call it Mukenah."


Wanita lanjut usia itu menyentuh tangan ibu-ibu lainnya. "Bu ne anlama geliyordu?" (Apa artinya?)


"Bilmiyorum. İngilizce kullanıyor..." jawabnya sambil tertawa. (Aku tidak tahu. Dia menggunakan bahasa Inggris...)


"This is Mukenah. Mu-ke-nah..." Safa menjelaskan sebisanya. Setelah menangkap sinyal bahwa mereka juga bingung. Kemudian di ikuti dengan ibu tadi menyebutkan kata Mukenah. Safa pun tersenyum sambil mengangguk.


"MashaAllah..." Sambil terus berbicara bahasa Turki mereka memuji pakaian sholat milik orang Indonesia. Belum lagi dengan kaos kaki yang memiliki ruang untuk ibu jari kaki, seperti yang Safa gunakan. Itu benar-benar hal baru yang mereka lihat selama hidup. Karena di Turki tidak ada jenis kaos kaki seperti itu. Beliau bahkan sampai memuji kalau orang Indonesia begitu kreatif.


Ya semua di ungkapkan menggunakan bahasa Turki. Sedikit yang ia tahu dengan cara menangkap ekspresi mereka. Menandakan jika mereka sedang mengagumi dari ujung kepala hingga ujung kaki Safa. Wanita itu pun berpamitan menggunakan bahasa Inggris. Karena baginya sudah cukup lama berbicara, suaminya dan Paman Emir pasti sudah menunggunya.


...


Benar saja, di luar Afin sudah menunggu cukup lama. Pria dengan coat tebal itu berdiri sendirian di depan masjid setelah meminta Paman kembali lebih dulu.


Sambil berkali-kali menghembuskan nafas, serta gerakan-gerakan kecil demi menghalau dingin yang sudah benar-benar menusuk hingga ke tulang.

__ADS_1


"Bang, maaf ya, aku lama." Safa buru-buru menghampiri. Pria itu menoleh kebelakang. Seketika bersyukur, akhirnya Safa keluar juga. "Abang pasti kedinginan. Seharusnya tadi nunggu di dalam aja."


"Nggak papa, Fa. Kalau nunggu di dalam nanti kamu malah nggak liat aku. Aku paham, kamu pasti abis dzikir lama seperti biasanya ."


"Aku nggak dzikir lama kok."


"Terus?" Tanyanya sambil meraih tangan Safa lalu memasukkannya ke dalam salah satu kantong.


Safa sendiri bisa merasakan dinginnya tangan Arifin walau tertutup sarung tangan tebal. Keduanya pun mulai melangkahkan kaki.


"Tadi aku ngobrol sama ibu-ibu, sampai melupakan waktu. Sebab, Mereka semua welcome."


"Iya, kah?"


"He'em..." Mengangguk.


"Mereka pake bahasa Turki?" Tanya Afin penasaran.


"Iya!"


"Kamu bisa menanggapi obrolan mereka?"


"Emmmm..." Safa menggeleng. "Sayangnya, aku nggak paham bahasa mereka. Jadi cuma jawab semampunya dengan bahasa inggris. Tapi, aku senang mereka ramah. Mereka bahkan mengagumi apa yang Safa kenakan..."


"Cuma asal tebak, Bang. Hehehe..." Kepala Safa menyandar ke sisi samping. Menggelayut manja di lengan Afin Anka. Kedua pasang kaki itu kembali terayun.


"Andai aku biasa lancar berbahasa Turki. Pasti obrolan tadi seru..." Sambungnya pelan.


"Habis ini kamu harus belajar bahasa Turki sama aku."


"Boleh? Emang Abang mau ngajarin Safa?" Wanita berhijab abu-abu itu mengangkat kepalanya. Mengimbangi wajah suaminya.


"Mau lah, masa enggak." Mencolek hidung Safa gemas. Wanita itu terkekeh senang.


"Jadi nggak sabar."


"Aku juga. Kiranya, nanti pelajaran apa aja yang akan aku kasih ke Bu Guru, ya? Kayanya akan lebih dari sekedar belajar bahasa."


"Maksudnya?" Safa mengerutkan keningnya. Dan mendapati seringai nakal dari bibir suaminya.


"Obrolan akan bersambung dia atas ranjang, kalau disini nggak asik!" bisiknya di dekat telinga. Wanita di sisinya mendelik seketika yang mengundang tawa gemas Arifin.


Asap dingin dari nafas mereka benar-benar tebal setiap kali keduanya membuka mulut untuk berbicara. Perjalanan pun di lanjutkan dengan sedikit mempercepat laju kaki mereka. Agar segera sampai ke rumah Paman Emir sekaligus berpamitan. Dan saat dipamiti, pria paruh baya itu justru menawarkan diri untuk mengantarkan mereka berdua sampai ke hotel.


❄️❄️❄️

__ADS_1


Langit sudah mulai gelap. Tubuh Safa yang sebenarnya sudah mulai lelah masih memaksakan diri untuk berjalan di trotoar sebelum kembali ke hotel.


Malam ini, sebenarnya mereka bisa makan malam di hotel tempat keduanya menginap. Namun karena Safa bosan, dan ia ingin makan nasi. Jadilah mereka berjalan sedikit jauh guna mencari restoran yang menyediakan nasi sebagai hidangan pokok.


"Suhu semakin turun–" ucap Afin sambil mengecek termometer di ponselnya.


"Kayanya kita harus buru-buru sampai di hotel."


"Iya..." langkah panjang Afin sedikit memelan saat menyadari Safa yang seperti tidak sanggup berjalan cepat. "Kamu pasti udah capek banget?" Tanya Afin.


"Sedikit. Tapi aku senang kok..." Senyum Safa mengembang.


"Besok kita istirahat seharian di hotel. Karena besoknya lagi aku akan membawamu ketempat yang mungkin akan kamu suka."


"Tempat apa itu?" Tanyanya sambil menghentikan langkah.


Afin tersenyum sejenak sebelum menjawab. "Cappadocia," jawabnya kemudian sambil mengusap salah satu pipi istrinya.


"Cappadocia?" Safa mengulangi. Wanita itu tidak tahu tempat seperti apa Cappadocia itu.


"Sebuah dataran tinggi yang indah. Kawasan kuno di salah satu wilayah Turki tengah selatan. Tempatnya bagus. Dan, kita bisa naik balon udara yang besar disana."


"Balon udara? Sungguh?" Kedua matanya seketika berbinar. Belum lagi saat Afin mengangguk. "MashaAllah –" gumamnya melanjutkan.


Di barengi usapan lembut di pucuk kepala Safa. Sesuatu mulai berjatuhan. Afin dan Safa kompak menatap ke langit. Titik-titik salju yang putih mulai turun. Orang-orang di sekitar mereka pun turut fokus pada rintik salju itu.


"Bang, Salju! Salju Turun, Bang!" Pekik Safa girang setengah tidak percaya. Pelan, Afin menoleh kearah wanita yang ada di hadapannya tengah menengadahkan kedua tangannya menangkap salju itu dari langit.


Sebuah senyum gemas di perlihatkan Afin. Merespon tindakan Safa yang mencoba menyentuh salju itu.


"MashaAllah, lihat ini, Bang...!" serunya sambil menunjukkan bintik-bintik putih di atas sarung tangannya pada Afin. "Ternyata gambar salju yang selama ini ku lihat nyata. Bentuknya seperti salju yang menempel di sarung tanganku ini."


"Iya Fa..." Afin menyentuh. Walau ia sendiri sudah tahu sejak lama tentang bentuk asli salju. Namun ia tetap menunjukkan kesan takjub di depan Safa.


"Aku mendadak penasaran. Ini rasanya kaya apa?" Safa mendekatkan tangan ke bibirnya sendiri.


"Jangan di makan itu kotor, Sayang." Afin terkekeh seraya mencegah, saat Safa hendak mencobanya.


"Hahaha, aku hanya penasaran. Subhanallah... Allahu Akbar!" Kalimat-kalimat tauhid terus di ucapkannya. Mengagumi salah satu fenomena alam yang baru sekali seumur hidupnya melihat itu.


"Kita harus bergegas kembali. Nanti baju kita basah semua."


"Ahh, iya... Aku keasikan. Soalnya ini pertama kali Safa liat salju yang turun dari langit, Bang. Sangat cantik."


"Aku rasa nggak ada yang lebih cantik dari pada kamu di mataku." Bisiknya sambil meraih tangan Safa kemudian membawanya pergi, tanpa peduli kedua pipi Safa yang bersemu karena pujian tadi.

__ADS_1


__ADS_2