
Sudah lewat beberapa bulan. Kandungan Safa makin terlihat. Bahkan ia sudah memakai seragam khusus ibu hamil ketika mengajar.
Hari ini dia pulang ke rumah orangtuanya. Mampir sebentar karena sang ibu bilang hari ini adalah hari pertama para pekerja yang hendak membongkar rumah di sebelahnya melakukan tugasnya.
Ya, setelah deal. Sambil menunggu surat tanahnya jadi berpindah nama. Mulai hari ini rumah sederhana Ulum akan di renovasi. Seperti kejatuhan durian runtuh. Afin bahkan sampai menyewa jasa arsitek guna mendesain rumah yang rencananya akan di bikin dua lantai.
Seperti biasa Ayah sebenarnya sudah melarang Afin membiayai renovasi rumah ini. Namun pria yang satu bulan lagi akan menginjak usia tiga puluh empat tahun itu tetap kekeuh untuk membantu. Sehingga Ayah mengambil jalan tengah. Afin boleh membantu namun tak semuanya. Entahlah, walau ibu Ayattul tak mempermasalahkan anaknya membantu keluarga Ulum untuk renovasi rumah. Tapi Ulum tetap merasa sungkan pada besanya itu.
Sampai di rumah, Safa menyapa dengan salam. Seorang wanita berperawakan tak begitu kurus namun tidak gemuk juga, nampak tergopoh mendekat anaknya yang tengah berjalan dengan perlahan sambil memegangi pinggang.
"Masha Allah..." Di sentuhnya perut yang sudah membesar itu. Rasa gemas karena bentuk lonjongnya membuat Aida tertawa. Seolah melihat perut Safa seperti bayi.
"Qonni belum pulang, Bu?" Tanyanya sedikit ngos-ngosan. Semakin besar usia kandungannya. Semakin cepat lelah pula dirinya.
"Belum... katanya ada sidang hari ini."
"Oh, ya?" Safa yang sudah berdiri di dekat Sofa perlahan-lahan menghempaskan bokongnya.
"Iya."
"Syukurlah, semoga lancar dan cepat lulus. Soalnya dia nggak sabar mau nikah sama calonya." Seloroh Safa sambil tertawa. Sang ibu pun turut serta.
"Kamu udah makan?"
"Udah, tapi rasanya kaya laper lagi."
__ADS_1
"Wajar kalau jadi cepat laper. Ya udah, makan dulu, yuk. Ibu masak sayur sop tulangan."
"MashaAllah. Ayo!" Safa gegas bangkit. Memang saat datang tadi ia sudah mencium aroma lezat dari masakan ibunya. SOP tulang ayam adalah menu spesial di keluarga itu. Keduanya kemudian memasuki area dapur untuk makan. Di temani riuh para pekerja yang sudah mulai membongkar rumah di sampingnya.
🌲🌲🌲
Semakin kesini. Afin semakin jarang live di semua akun sosial medianya. Bahkan, ia juga memerintahkan admin-nya untuk mulai menghapus sebagian postingan sejak dirinya menjadi Selebgram secara bertahap.
Yang tentu saja titahnya itu sedikit membuat Crew-nya khawatir. Tentang pekerjaan mereka. Pasalnya, disamping semakin jarangnya Sang Selebgram berinteraksi dengan para penggemar, Afin juga mulai jarang menerima endorse dari berbagai owner pemilik brand ternama. Sudah jelas, bosnya akan berhenti dari dunia hiburan. Walau belum di konfirmasi secara lisan.
Rasa penasaran pula mulai hadir dari para penggemar juga beberapa pemburu berita. Pun Opini-opini mulai bermunculan. Dari sikap Afin yang bahkan selalu menghindari wartawan. Tentu saja. Semua desas-desus pemberitaan tentang dirinya tak dihiraukan oleh pria itu.
Justru Afin sendiri sedang fokus pada bidang lain. Ada rencana untuk membuka restoran makan siap saji bergaya Turki. Karena ia memiliki kenalan chef dari Turki yang kebetulan bersedia untuk bekerjasama dengannya.
Di salah satu gedung mall terbesar, Jakarta. Tempat yang ramai orang-orang berdatangan guna berbelanja atau hanya sekedar nongkrong saja. Seorang Pria dengan Jambang tipis itu sedang fokus dengan rencana bisnisnya. Melihat-lihat lokasi yang akan ia ambil, ini adalah gedung ke terakhir dari lima gedung yang menjadi pilihannya.
"Gimana, Pak?" Tanya seorang perantara. Laki-laki itu melihat lokasi ruangan yang cukup lebar. Dan yang paling utama baginya, adalah dapur. Juga dinding kaca yang langsung menghadap ke jalan utama.
"Saya cocok sih sama tempatnya." Pria dengan topi hitam itu manggut-manggut sambil mengelus dagunya sendiri.
"Tempat ini strategis. Dari eskalator langsung terlihat pintu masuk. Toko ini termasuk banyak yang ingin mendapatnya, Pak. Saya juga sudah di datangi orang-orang untuk menyewa tempat ini."
Afin terdiam sejenak. Sambil memandang dinding kaca. Kayanya kasih meja panjang tipe bar disini akan banyak menarik konsumen.
"Bagaimana?" Tanyanya hingga memecah lamunan Arifin.
__ADS_1
"Baiklah. Akan saya ambil."
"Baik, Pak. Untuk transaksi. Bisa langsung transfer pada nomor rekening yang akan saya kasih lewat aplikasi hijau. "
"Baik. Terima kasih banyak."
Triiiiiiiing... Dering telfonnya berbunyi. Pria itu gegas mengeluarkan gawai dari dalam tasnya dan menerima panggilan suara dari sebrang. Yang tak lain telfon itu berasal dari salah satu petugas rutan.
Beberapa menit kemudian...
Afin telah tiba di rumah sakit Bhayangkara. Setelah mendapatkan laporan jika kondisi pria bertato itu tengah kritis. Sesuai penjelasan sekilas dari salah satu pengurus rutan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?" Tanya Afin setelah duduk di kursi. Dan berbincang dengan petugas yang menanganinya.
"Iya, Mas. Jadi kami ini sebenarnya juga baru tahu, kalau laki-laki itu rupanya sering mengalami pengeroyokan di dalam sel. Oleh para rekan-rekan sesama penghuni rutan," jawab pria berseragam aparat yang duduk di bangku lain. Berhadapan dengan Afin. "Beberapa penghuni tahanan juga sedang melakoni pemeriksaan."
Afin bergeming merih mendengarkan penjelasannya.
"Hal itu di duga karena adanya rasa solidaritas para penghuni rutan. Yang menganggap kasus pelecehan dan pencabulan adalah kasta terendah bagi mereka. Sehingga Saudara Brody banyak menerima kekerasan sebagai cara mereka melampiaskan emosi. Terlebih, kasusnya lebih kearah penyuka sesama jenis."
Memang selama ini di antara mereka tidak ada yang sudi berada dekat dengan laki-laki bertato yang kini terlihat semakin kurus itu. Bahkan baru tiba saja tatapannya sudah membuat mereka ngeri.
Malang sekali dia. Batinnya. Tujuan polisi mengabarkan hal ini karena hanya Afin yang tercatat dirinya sebagai keluarga. Dan ia di mintai persetujuan untuk memindahkan Brody ke rumah sakit yang lebih besar guna penangan serius.
Beberapa menit berlalu, Afin lantas berpamitan untuk berunding dengan sang istri masalah ini. Sebab, saran dokter untuk memindahkan Brody itu.
__ADS_1