
"Hai, long time no see, My Boy!" Seringai licik di berikan oleh laki-laki bertubuh besar. Dengan kemeja yang tiga kancingnya tak terpasang hingga dada berbulu plus kalung emas tanpa bandul melingkar di lehernya terlihat.
"Brody?" Gumamnya dengan wajah mendadak pucat. Laki-laki itu tertawa, ia juga menyapa Safa dengan ramah. Gadis itu tersenyum sopan pada laki-laki di dalam mobilnya.
"Sorry, menghalangi pintu. Biar gua benerin dulu ya posisinya." Mobil pria itu mundur sebentar lalu kembali dengan posisi yang benar. Ia pun turun dari mobil dan menyandarkan tubuhnya di pintu tempat Arifin duduk. "Huuuuuaaaaahhh... udara Jakarta yang ku rindukan. Plus aroma parfum yang tak pernah bisa gua lupakan."
Afin membisu. Tangannya yang masih memegang stir nampak gemetaran. Tapi Safa tak menyadari hal itu. Ia hanya bingung, kenapa suaminya tak kunjung keluar.
"Kalian mau makan disini? Kebetulan sekali, mumpung aku baru pulang. Sekarang kita makan sama-sama."
"Istri gua, butuh privasi. Sorry kita nggak bisa makan sama-sama."
"Jangan gitu, dong. Gua kan manager Lu." Brody memiringkan kepalanya mengarah pada Safa. "Mbak, nggak keberatan kan. Kalau makan bertiga?"
"Emmm, aku sih. Ikut Bang Arifin aja..."
"Bang Arifin? Hahahaha!" Brody tertawa cukup keras yang menimbulkan tanda tanya di benak Safa namun rasa tegang pada Arif. "Woy, Bro. Panggilan yang manis... Hahahaha. Maaf saya ketawa, Mbak. Hahaha."
Arifin tak menjawab apapun. Ia langsung menekan tombol untuk menyalakan mesinnya.
"Loh, kok di nyalain lagi mesinnya?"
"Sorry, mendadak gua berubah pikiran untuk makan disini."
"Kenapa berubah pikiran. Takut ada yang ngebongkar rahasia ya?" Tertawa lagi.
"BRODY! No! Please!" Arifin berkata dengan nada memohon. Namun justru menimbulkan seringai di bibir Brody.
"Why? Dia harus tahu fakta, Boy!" Laki-laki itu memasukan tangannya lantas menyentuh tangan Afin di bagian lingkar stir. Kontan, Afin langsung menarik tangannya menghindari itu. Dan tanpa menunggu lagi, saat Brody sudah mengeluarkan tangannya sambil tertawa. Afin langsung menutup kaca mobil, setelah itu mobil bergerak mundur dan pergi meninggalkan dia yang kini sedang menatap tajam kearah bodi belakang mobil.
"Anak nakal! Berani-beraninya meninggalkan Daddy yang sedang rindu. Sepertinya gua nggak mau main-main lagi. Sebelum keberadaan gua terendus aparat. Gau harus melempar bom untuknya. Lu nggak boleh bahagia sama perempuan itu. Cih!" Pria bertubuh besar yang tengah terlihat berang itu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Di sisi lain, Safa terlihat bingung. Mobil tiba-tiba berjalan lebih cepat dari saat mereka berangkat tadi. Ia juga melihat Afin seperti tegang menatap lurus kedepan. Nafasnya pun seperti memburu. Layaknya orang yang sedang ketakutan.
"Bang?" Panggilannya lembut yang tak langsung di respon.
"Bang Arif?"
Kali ini Safa sambil menyentuh lengannya. Pria itu menoleh sebentar.
__ADS_1
"Abang tahu, Abang bawa mobilnya terlalu cepat," ucapnya hati-hati. Arif yang menyadari langsung mengurangi kecepatannya.
"Astaghfirullah al'azim." Bergumam beberapa kali sambil berusaha menenangkan diri. Safa pun menghela nafas lega. Karena mobil sekarang sudah bergerak normal.
"Abang baik-baik saja, 'kan?" Tanya Safa.
"Ya Fa. Tapi, aku nggak nafsu makan lagi. Kita pulang aja gimana?"
"Nggak papa, Bang. Kita pulang..."
"Maaf ya, makan malam kita jadi batal."
Safa tersenyum. "Safa emang nggak tau, apa yang membuat Abang begini. Tapi, Safa ngerti kok."
"Terima kasih, Fa. Aku tetep akan pesan makanan di restoran itu. Kita makan di rumah aja."
"Iya, Bang," jawabnya. Walau ia penasaran tapi Safa memilih untuk tidak banyak tanya. Ia hanya berharap semuanya baik-baik saja. Dan mereka selamat sampai tujuan.
Sesampainya di rumah...
Mereka langsung menjalankan sholat isya, karena saat di perjalanan tadi sudah masuk waktu shalat. Hingga ke-duanya langsung bergegas menjalankan empat rakaat tersebut.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Selepas makan dan bersantai sebentar keduanya beranjak tidur. Safa bisa merasakan kegelisahan di diri Afin. Ia pun meraih tangan pria yang kini beranjak duduk setelah berkali-kali mengganti posisi tidur.
"Aku nggak papa. Aku mau keluar dulu," tuturnya sambil menyibak selimut. Namun belum juga ia menurunkan kaki. Safa sudah menahannya.
"Abang sebenarnya kenapa? Abang punya masalah?"
"Enggak, Fa. Emmm, maksudnya sedikit. Tapi itu nggak penting."
"Aku rasa itu hal yang cukup penting. Aku sering melihatmu seperti ini. Maaf..." Safa terdiam sejenak. "Apa Abang masih mengkonsumsi obat itu di belakang Safa?"
Pria itu menggeleng cepat. "Demi Allah, enggak Fa."
"Lantas kenapa Abang kaya menghindari Safa? Jujur, aku menangkap ekspresi ketakutan di wajah Abang hampir setiap kita berada di tempat yang sama berdua. Kita ini suami-istri loh. Kalau Abang selalu menyendiri setiap kali merasakan kegelisahan. Maka Abang akan selamanya terkurung rasa tidak nyaman itu," ujarnya tanpa melepaskan pandangan.
Gadis berambut panjang itu benar-benar sudah penasaran dengan kondisi suaminya. Ia juga yakin, pasti ada sesuatu yang selama ini di sembunyikan. Walau ia pura-pura tidak tahu keanehan itu.
"Apa ada hal yang membuat Abang nggak suka di diri Safa? Apa selama ini Safa mengecewakan Abang?" Tanyanya hati-hati. Kali saja benar, ada sesuatu pada dirinya yang membuat Afin tidak nyaman.
__ADS_1
Sejengkal jarak pun dipangkas laki-laki itu. Afin bergeser maju seraya memberikan kecupan di kening. Setelah itu menatap wajah itu lekat.
"Semua yang ada pada dirimu. Nggak ada satupun yang membuatku kecewa." Afin berbicara dengan tutur kata yang halus. "Justru sebaliknya, aku yang udah buat kamu kecewa, Fa."
Sebuah ketulusan terlihat. Saat kedua tangan Safa diangkat hingga menempel bibir Afin. Pria itu mencium tangan Safa dengan durasi yang tak sebentar.
Gadis itu termenung, bingung mau merespon apa. Hatinya masih takut untuk menerka.
"Aku sayang sama kamu."
Sebuah pengakuan yang tak pernah keluar dari bibir laki-laki itu kini akhirnya terdengar. Desir halus, berhembus. Meniup batin Safa hingga menimbulkan rasa sejuk di dadanya.
"Aku bersyukur, Fa. Aku bisa menyadari perasaan ku ke kamu. Karena selama ini, aku mengkhawatirkan itu. Aku takut, cinta ini tidak di semayamkan pada tempat yang sebenarnya."
Safa tersenyum, kedua matanya berkaca-kaca. Ia bisa merasakan ketulusan itu. Sesuatu yang ia nanti-nanti akhirnya keluar dari bibir suaminya.
"Kamu percaya 'kan?" Tanya Afin meyakinkan. Gadis itu menjawab dengan anggukan kepala.
"Iya, Bang. Safa percaya."
"Aku mau jujur sesuatu. Tapi aku takut kamu akan meninggalkanku. Karena aku punya kekurangan yang bisa jadi, nggak akan bisa kamu terima."
"Kekurangan? Yang nggak akan aku terima? Maksudnya?"
Laki-laki itu kembali terdiam. Mendadak kembali takut mengatakan rahasia kelamnya itu pada Safa.
"Bang, semua orang punya kekurangan. Dan punya kesalahan di masa lalu."
"Tapi untuk kesalahanku, nggak semua orang bisa menerimanya Fa," desisnya lirih.
Safa sendiri semakin di selimuti rasa penasaran. Belum lagi saat melihat tatapan serius Afin sambil mencengkram area pipi hingga ke tulang rahang.
"Aku?" Terasa berat saat hendak mengatakan semuanya.
"Katakan, Bang. Jangan bikin Safa takut."
Aku nggak bisa mengatakannya. Aku terlalu takut jika semuanya akan membuatku kehilanganmu, Fa.
"Bang, Safa nggak akan marah, asal Abang jujur sekarang. Aku akan berusaha menerima kekurangan Abang itu."
__ADS_1
Afin tersenyum, "Akan kukatakan, saat aku siap." Pria itu mendaratkan kecupan di bibir Safa. Sebuah gerakan tiba-tiba yang membuat gadis itu terperanjak. Gerak pelan dan halus, bermain lembut di bibirnya. Membuat mata itu perlahan terpejam.
Ini kali pertama ia merasakan itu. Rasanya seperti melayang jauh ke langit. Cinta yang bersembunyi selama ini, akhirnya keluar juga. Menunjukkan keindahannya.