Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Extra part 4


__ADS_3

Tak lama setelah memberi kabar, tepatnya sebelum adzan Magrib berkumandang. Mobil yang di kendarai Arifin memasuki pelataran rumah Ulum. Sekarang, setelah rumah itu di renovasi menjadi lebih besar, mobil jadi bisa masuk. Padahal sebelumnya, hanya bisa terparkir di depan pagar besi kecil yang hanya setinggi satu meter.


Wanita yang sudah mengganti pakaiannya gegas menghampiri sang putri yang duduk sendirian di atas Car seat miliknya. Karena Afin memang sengaja tak membawa pengasuh Aina ikut. Katanya, agar lebih nyaman saja saat pulang nanti.


"Assalamualaikum, Anak Umma." Wanita yang menggunakan kerudung warna hitam itu langsung meraih tangan Afin lebih dulu dan mencium dengan takzim. Sebelum kemudian melepaskan pengaman di dekat perut sang anak. "Maaf, ya Bang. Aku malah langsung kesini."


"Nggak papa. Kan, nggak setiap hari juga kamu pulang terlambat."


Perempuan yang kini sedang menggendong anaknya hanya tersenyum tipis.


"Gimana, Ayah?" Tanyanya yang belum keluar dari dalam mobil.


"Udah agak mendingan. Tadi abis di kerik juga punggungnya sama Ibu."


"Udah di bawa berobat?"


Safa menggeleng. "Ayah mah, nggak pernah mau berobat kalau sakit-sakit ringan gitu."


"Gitu, ya?" Afin menurunkan jok mobil kebelakang lalu melakukan peregangan.


"Abang kaya capek banget."


Pria itu tersenyum setelah menguap. "Lumayan, Fa. Hari ini tuh, ada hal tak terduga."


"hal tak terduga, apa?"


"Orang-orang mulai ngeuh, kalau Afin Anka itu buka resto di MOI. Alhasil, para Selebgram dari yang terkenal ampe yang biasa berlomba-lomba dateng buat review makanan di restoran kita. Tak terkecuali fansku." Afin tertawa, ia mengingat seharian ini entah berapa kali dia di mintai foto oleh para customer. "Kayanya aku bakal jadi owner di belakang layar aja."


Safa menutup pintu mobil. Lalu mengambil jalan berputar mendekati suaminya, dan membuka pintu tersebut.


"Apa?" Afin yang masih menyandar di kursi mobil nampak bingung saat Safa mendekati wajahnya lalu mengendus bagian dada suaminya.


"Bau parfum perempuan, Bang. Abang kontak fisik sama lawan jenis, ya?"


"Astaghfirullah, ya enggak lah, Sayang."

__ADS_1


"Itu, baunya..." bibir Safa mengkerucut.


"Kamu nggak ngeuh ini bau parfum siapa?" Afin memajukan tubuhnya, sehingga Safa bisa mencium tubuh sang suami lagi.


"Emmm?"


"Ini tadi aku salah nyemprot parfum kamu. Gara-gara terburu-buru."


"Masa, sih?" Safa kembali mengendus namun justru mendapatkan kecupan di pipinya. Wanita itu menoleh karena terkejut, sementara Afin langsung nyengir.


"Bang?" Protesnya.


"Demi Allah ini parfum kamu yang kecampur sama parfum aku. Jadi gini, baunya." Afin mempertegas, namun tatapan mata Safa seolah tidak mempercayai itu. "Masih nggak percaya? Nanti deh pas pulang kita buktikan."


Safa terkekeh, saat melihat suaminya buru-buru menekan tombol untuk menaikan kembali jok mobilnya, kemudian turun.


"Iya, iya, Bang. Aku percaya...," balasnya sambil menahan dada Afin yang dibusungkan ke arahnya.


"Main-main! Kamu mau aku melakukan aksi tak terduga setelah magrib di kamar?"


Afin menghela nafas, sebelum menggigit bagian dalam telapak tangan Safa dengan bibir beberapa kali yang kontan membuat isterinya tertawa.


Di luar langit senja semakin meredup. Mentari mulai kembali ketempat peraduannya, adapun mereka gegas masuk sebelum adzan Magrib berkumandang.


🍂🍂🍂


Setelah makan malam, Safa dan Qonni membersihkan meja makan. Nampak gadis dengan hijab instan warna grey itu sangat bersemangat sekali, sejak saat masak hingga sekarang mencuci piring. Seolah semua pekerjaan ingin di lahapnya habis.


"Sini, Mbak. Biar aku aja," pintanya pada Safa yang hendak mencuci piring sisa makanya dan Aina. Karena punya Afin sudah di letakan di wastafel oleh Qonni, bertumpukan dengan piring ibunya.


"MashaAllah, yang mau jadi calon pengantin. Sekarang jadi rajin banget, Dek." Safa tersenyum jail.


"Hehehe, aku rajin itu udah dari lama. Mbak Safa aja yang nggak pernah liat," balasnya sebelum melenggang pergi. Safa sendiri hanya geleng-geleng kepala, mendengarkan nada lagu nasyid bertemakan cinta halal yang di senandungkan lembut oleh adiknya.


"Dek!" Panggil Safa sambil membereskan sisa makanan di meja makan.

__ADS_1


"Ya?"


"Kamu beneran udah yakin mau menjalani rumah tangga?"


Gadis yang sedang asyik membersihkan piring dengan spon yang berbusa itu tersenyum.


"Menikah itu, bukan suatu kondisi yang isinya hanya madu saja, Dek." Safa membalik badan, sebelum duduk di atas kursi meja makan. "Adakalanya, duri-duri tajam menjadi alas untuk kaki kita berpijak. Kamu butuh kedewasaan."


"inshaAllah, Mbak. Qonni sedang berusaha untuk menjadi wanita yang baik. Walau, mungkin belum sematang itu." Suara gemeratak piring yang beradu di bawah lengkungan stainless steel tersebut menjadi teman berbicara mereka. Gadis itu menghela nafas. "Mbak, gimana rasanya tinggal dengan suami?"


Pertanyaan Qonni cukup membuat kening Safa berkerut, namun tak menunggu lama wanita itu kembali menjawab.


"Tinggal sama suami? Tentunya ada asam, manis, dan pahitnya. Nggak bisa di pungkiri, masalah dalam rumah tangga itu pasti ada, Dek. Dan di saat getir menjadi teman sehari-hari, rasa penyesalan kenapa dulu aku menerimanya acap kali juga muncul. Tapi suami Mbak, bukan laki-laki yang amat jauh dari iman. Sekurang apapun dia, Suamiku tetap berusaha lebih banyak menciptakan rasa manis di dalam rumah. Itulah kenapa Mbak memilih untuk terus bersamanya sampai saat ini."


Qonni meletakkan piring terakhir kedalam rak kecil yang di peruntukan untuk meniriskan air sebelum di pindah ke rak yang besar. Kemudian membalik badan, sambil meremas kain kering dengan kedua tangannya.


"A' Harun memintaku untuk ikut tinggal di rumahnya setelah menikah, Mbak."


"Terus, kamu sendiri gimana?" balas Safa.


"Aku sih senang, karena mau bagaimanapun juga aku harus tetep ikut suami, 'kan?"


Safa mengangguk tanda membenarkan, sambil terus memandangi wajah manis adik satu-satunya itu mendengarkan dia berbicara.


"Tapi, pas aku ngomong gitu ke Ayah. Kenapa Ayah jadi mendadak diam? Bahkan, Dia nggak ikut makan malam."


"Sebelum ini Ayah udah makan, Dek. Makanya dia nggak ikut kita makan."


"Bukan itu. Ayah kaya kurang antusias..." Qonni mendadak murung. "Apa karena aku belum membahagiakan Ayah, kaya Mbak dulu?"


"Kok, kamu ngomong gitu?"


"Ya, aku belum lama membebani Ayah selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, belum pula Qonni membalas jasa Ayah. Eh, malah mau langsung nikah."


Tanpa sepengetahuan mereka berdua. Pria paruh baya itu berdiri di dekat pintu masuk area dapur sambil memegangi gelas kosong. Ulum tercenung, mendengarkan keluhan puterinya. Memang, semenjak anak itu di lamar, Ulum jadi lebih sering murung. Dan terkadang, seperti tak ingin terlalu sering membahas perihal pernikahan. Padahal, semua bukan karena ia tidak suka puterinya akan menikah, hanya hatinya semakin kesini semakin berat melepaskan si bungsu. Yang menandakan, setelah ini ia akan benar-benar hanya berdua dengan isterinya.

__ADS_1


__ADS_2