Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 88


__ADS_3

Malam datang, membawa kesunyian yang berpadu dengan senyapnya hati. Riuh serangga malam mulai terdengar menemani dia yang sedang duduk di beranda rumah sambil menikmati satu gelas kopi sendirian.


Ilyas masih memikirkan, apakah ia akan mampu datang di pernikahan sahabatnya itu? Jika di hitung-hitung, waktu setahun itu tidaklah lama. Sementara keikhlasan belum kunjung hadir dalam jiwanya. Ia masih menyayangkan wanita yang ingin ia ajak hidup bersama dalam satu bahtera itu rupanya akan menjadi milik orang lain.


Pria berkacamata tebal itu menyesap kopinya yang masih mengepul dengan hati-hati. Seiring pikirannya mulai berkelana ke masa lalu. Masa dimana seorang gadis berkerudung hitam dengan kemeja lengan panjang warna putih dan rok panjang yang sama hitam dengan hijab itu sedang berdiri di antara deretan orang-orang yang mendapatkan hukuman karena terlambat lima belas menit.


Flashback on...


Ilyas yang menjadi ketua kating saat masih dalam masa orientasi mahasiswa kala itu tampak tengah berdiri memandangi mereka yang harus menerima hukuman yaitu meminta tanda tangan para kakak tingkat sebagai syarat agar bisa bergabung dengan barisan para mahasiswa baru.


Beberapa orang sudah berhasil mendapatkan tandatangan Ilyas, hanya tertinggal satu orang terakhir sekaligus perempuan satu-satunya yang mendapatkan hukuman.


Pria itu sempat tertegun saat gadis dengan penampilan sederhana yang memiliki wajah bening walau tanpa riasan itu menyodorkan kertas beserta bolpoin kearahnya.


"Assalamualaikum.... Afwan, saya terlambat hari ini, Kak. Dan saya di minta untuk mendapatkan tandatangan ketua Kating."


"Ehemmm!" Pria itu berdeham sebelum mengucap istighfar. Wajah manis Ayudia Qonniah sejenak menyihirnya. "Telat berapa menit?"


"Lima belas menit," jawabnya sambil menjaga pandangannya.


Pria itu pun mengangkat lengannya sedikit hanya untuk melihat jam. "Kamu bohong. Ini telatnya lebih dari empat puluh tujuh menit loh."


"Tapi, saya telat kan karena di hukum kating lain juga, Kak. Tadi saya cuma lima belas menit."


"Ya nggak bisa gitu. Tetep aja kamu sampai di hadapan saya hampir satu jam."


Qonni menghela nafas. "Ya udah, Kakak mau saya gimana?"


"Dih, nantangin!"

__ADS_1


"Siapa yang nantangin? Kan saya tanya karena udah telat empat puluh tujuh menit."


"Nah, tadi katanya cuma lima belas menit, kan? Sekarang ngaku telatnya empat puluh tujuh menit."


"Itu karena Kakak tadi bilang gitu!"


"Jadi yang bener yang mana? Lima belas menit atau empat puluh tujuh menit?"


"Terserah Kakak yang mana! yang penting aku harus ikut barisan. Kasih tandatangan sekarang!" Qonni yang kesabarannya hanya setebal tissue di belah dua mulai dongkol.


"Kok malah jadi ngegas? Niat minta tanda tangan nggak, sih?"


Gadis itu diam-diam menghela nafasnya lagi setelah itu mengangguk. Lebih baik bersabar daripada bikin perkara sepele ini menjadi tambah runyam. Karena dimana-mana senior kalau lagi ngospek begitu lagunya, tengil!


"Kamu tulis data diri kamu dulu di situ." Ilyas menujuk kertas yang masih di tangan Qonni. Gadis itu pun menurut, langsung menuliskan nama lengkap, fakultas yang ia ambil, dan jurusan.


"Udah, Kak." Qonni menyerahkan lembar kertasnya. Adapun Ilyas langsung membacanya.


"Alamatnya mana, sama nomor telepon?"


"Harus ya?" Tanya Qonni yang tak menaruh curiga sama sekali.


"Harus lah!" jawaban tegas itu langsung membuat tangan Qonni kembali meraih kertas di tangan Ilyas dan menulis alamat serta nomor telepon. Kemudian menyerahkannya lagi yang di baca oleh Ilyas.


"Nama pacar?"


"Apa?" Qonni mengerutkan keningnya.


"Nama pacar. Kali aja kamu punya pacar... tulis sekalian."

__ADS_1


Aneh banget sih? Baru kali ini ngisi data diri pake nama pacar?


"Saya nggak pacaran. Orang tua juga melarang saya untuk pacaran," jelasnya pendek. Hingga memunculkan lengkungan tipis di bibir Pria berkacamata itu tanpa di sadari Qonni.


Gadis yang inshaAllah terjaga... mashaAllah. Entah bagaimana tiba-tiba saja hati Ilyas berdesir. Mungkinkah ia terserang sindrom cinta pada pandangan pertama? Tidak, tidak ada cinta yang datang hanya dengan satu kali bertatap muka kecuali nafsu. Ilyas langsung berbenah diri.


"Orang tua nggak ngebolehin kamu pacaran? Berati bolehnya langsung nikah?"


Apaan sih nih orang? –Qonni yang merasa risih mulai tidak nyaman dengan pertanyaan dari Ketua Kating tersebut.


"Emang bagusnya gitu sih. Pacaran itu nggak akan menghasilkan apa-apa selain dosa. Good, pertahankan."


"Jadi gimana tanda tangannya?" Qonni memotong. Ia benar-benar sudah tidak mau berlama-lama di hadapannya. Karena walaupun banyak orang, tapi mereka hanya berbicara berdua saja.


"Langsung aja masuk ke barisan sana."


"Loh?"


"Ya udah sana masuk aja. Kamu nggak perlu lagi tanda tangan. Ini kan kertasnya udah ke isi sama data diri kamu." Pria itu meremasnya lalu memasukan kertas itu ke tong sampah yang kontan membuat mata Qonni sedikit membelalak.


Di buang? –batinnya berang. Susah payah ia menulis di selembar kertas tanpa tatakan, sekarang ia melihat kertas itu di buang begitu saja? Jadi untuk apa ia minta Qonni menulis itu semua! Gadis itu menggerakkan kedua netranya naik. "Makasih, Kak. Saya permisi. Assalamualaikum!"


Dengan perasaan dongkol gadis itu membalik badan dan berjalan sambil menghentakkan kakinya karena kesal. Sementara Ilyas nampak tersenyum kemudian mengambil lagi kertas yang sudah masuk kedalam tong sampah itu sebelum memasukkannya ke dalam saku almamaternya.


Flashback off ...


Dari obrolan panjang untuk yang pertama kali walau tak pernah terulang lagi. Pria itu semakin penasaran dengan gadis yang bahkan turut dalam satu organisasi keislaman di kampus mereka.


Dalam melakukan kegiatan, Qonni pun tak pernah sedikitpun menonjolkan dirinya dihadapan Ilyas. Tak pernah pula ia melontarkan pertanyaan saat rapat seperti anggota lainnya. Justru sebaliknya, gadis itu malah terus berusaha menghindar. Entah yang jika hendak berpapasan maka ia tiba-tiba berbelok lah, yang nunduk. Atau bahkan langsung putar arah. Intinya Qonni seperti benar-benar menghindari Ilyas.

__ADS_1


Pria itu menghabiskan kopinya hingga tersisa ampas di dasar gelas. Sambil menenangkan jiwa yang akhir-akhir ini mendadak tak bersemangat dalam menjalani hari-harinya.


"Uhuk...uhuk...! Uhuuuuk!!" Samar-samar terdengar suara batuk yang tak kunjung berhenti dari dalam. Ia pun beranjak demi menengok kondisi ibunya yang terbaring di tempat peraduan.


__ADS_2