Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 29


__ADS_3

Safa menutup pintu kamar dengan pelan, sebelum mengedarkan pandangannya di kamar yang luas dan lengkap dengan segala fasilitasnya. Ia masih saja takjub dengan semua yang ada di rumah mewah ini.


Hal yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Kalau Safa akan menikah dengan laki-laki yang memiliki level kekayaan seperti ini. Bahkan jauh lebih di atas dari level kekayaan yang dimiliki keluarga Ustadz Irsyad.


Dulu saat kecil, setiap kali di bawa ke rumah Ustadz Irsyad ia juga selalu takjub dengan segala perabotan yang ada di rumah tersebut. Rumah yang bagus berlantai marmer. Berbeda dengan rumah sederhana orangtuanya di Babelan.


Ia juga sempat memiliki keinginan kecil untuk dapat memiliki kamar bagus di lantai dua seperti milik Nuha. Kamar yang penuh dengan hiasan cantik dan rapih bertema merah muda. Tapi semua itu sangat sulit terwujud. Gaji sang ayah yang tak begitu tinggi hanya cukup untuk menyambung hidup mereka sehari-hari. Kalaupun ada lebih, itu tak seberapa. Biasanya di gunakan Ayah untuk mengajak anak-anaknya liburan ke kebun binatang atau pantai terdekat.


Sekarang, di sini. Ia bisa mendapatkan lebih dari sekedar rumah berlantai dua. Ia juga bisa menikmati segala fasilitas apapun yang tak pernah ia pikirkan sekalipun. Jika benda itu ada di dunia nyata.


Seperti smart home yang sering ia lihat di tv atau insta reels. Rumah Arifin tentunya tak kalah canggih bahkan membuat ia kebingungan sendiri. Sebab banyaknya alat-alat yang menggunakan sistem otomatis disini. Seperti shower, atau keran wastafel yang akan seketika mengeluarkan air saat tangan menengadah di bawahnya.


Termasuk lampu-lampu sensor. Yang jika siang akan padam, dan menjelang malam semua akan menyala dengan sendirinya. Benar-benar membuatnya melongo untuk beberapa saat. Memikirkan seberapa mahal semua yang ada di rumah ini.


Gadis itu duduk di atas ranjang. Tidak tahu mau apa, semua pekerjaan rumah sudah di pegang tiga asisten rumah tangga. Sementara Arifin terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Sejenak ia merasakan adanya kejenuhan dirumah ini. Hubungan yang seharusnya lebih intim agar membuat mereka bisa lebih mengenal setelah mencoba menyatukan hati. Semua tak ia rasakan selain perhatian sederhana yang tak berlebihan tadi pagi.


Benar-benar jauh dari yang ada di bayangnya. Seperti apa sih pengantin baru itu? Tak jauh berbeda dengan saat ia masih sendiri. Jika seperti ini, apa bisa hatinya terbuka untuk laki-laki itu.


Dengan helaan pelan. Safa pun membuka laci nakas. Ia memutuskan untuk membaca buku saja. Dari pada tidak tahu harus apa.


Sudah berlembar-lembar bahkan dua buku ia tamatkan. Matanya mulai lelah memandang tulisan komputer di media kertas itu sejak tadi. Melirik angka di jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ada rasa kantuk sedikit. Namun ini jam tanggung, ia harus menahannya sebentar sampai adzan Dzuhur berkumandang.


"Bang Arif kayakanya belum juga selesai." Gadis itu menguap sebelum mengucap istighfar. "Aku mau ambil air minum aja lah, biar lebih seger–" gumamnya kemudian sambil meletakkan buku di atas nakas.


Saat langkahnya berjalan mendekati pintu. Terlihat gagangnya bergerak turun. Pintu pun terbuka, aroma wangi parfum di tubuh Afin menyeruak seiring terlihatnya tubuh laki-laki itu. Safa masih belum terbiasa dengannya. Hingga rasa gugup masih aja mendominasi.


"Fa?" Panggilnya terkejut saat melihat istrinya sedang berdiri di hadapannya. "Maaf aku lama, ninggalin kamu sendirian."


"Nggak papa, Bang. Apa teman-teman Abang udah pada pulang?"


"Belum. Mereka biasa di sini sampai jam kerja selesai. Karena banyak konten yang harus di buat hari ini."


"Biasanya sampe jam berapa?"

__ADS_1


"Nggak tentu. Tergantung proyek..," jawabnya santai.


Safa bergeming. Ia melihat bungkusan di tangan Suaminya yang jika dilihat seperti makanan. Namun tak berani bertanya.


"Aku bawa sesuatu. Kamu suka makanan manis, nggak?" Tanyanya. Safa menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala.


"Kita makan di sana, yuk." Afin mengajaknya namun ia berjalan lebih dulu di depan Safa. Gadis itu kembali menutup pintu kamar lantas mengikuti suaminya hingga ke balkon.


Pemandangan kolam outdoor di bawah menjadi teman mereka yang duduk berhadapan di kursi yang terbuat dari besi. Angin sepoi-sepoi pula menerjang tubuh mereka. Afin memasang tripod di dekat makanan tersebut lalu merekamnya tanpa memperlihatkan wajah dirinya ataupun Safa.


Tangannya bergerak pelan saat sedang membuka bungkusan. Safa sudah melihat isinya adalah mocci berukuran satu kelal tangan dengan berbagai rasa. Sepertinya enak...


"Hemmmm–" suara Afin menunjukkan kesan bahwa makanan yang ada di hadapannya amat menggugah selera. Ia menyebut brand dari makanan tersebut hanya untuk formalitas. Setelah itu mengambil salah satunya yang berwarna merah jambu, dan mengarahkan makanan itu pada Safa.


"Kamu yang gigit pertama," pintanya.


"Ini, buat bahan promosi 'kan?" Tanya Safa sebelum menyentuh makanan itu.


"Enggak, Fa. Ini aku beli sendiri. Udah pernah aku promosikan dulu. Sekarang aku benar-benar order buat kita makan. Karena rasanya emang enak banget. Ini limited edition, khusus aku yang pesan," terangnya berkata jujur.


"Agak banyakan. Di dalamnya ada isi yang enak, soalnya." Arifin menarik secarik tissue, membersihkan sisa tepung di bibir Safa lalu menengadah di bagian bawah dagu gadis itu.


Safa kembali menggigit lebih ke tengah. Rasa segar langsung menyebar di mulutnya. Bercampur air alami dari buah yang ada di dalam mocci tersebut.


"Emmmm–" Safa terkejut. Sensasi asam, manis, segar. Langsung menari-nari di dalam mulutnya yang sedang bekerja mengunyah benda kenyal itu.


Arifin tersenyum gemas melihat ekspresi makan istrinya.


Ya Allah, kenapa ada mahluk se imut dia di dunia ini. -Batinnya sambil mengusap bibir Safa lagi dengan tissue tadi. Safa yang di perlakukan seperti itu terlihat malu-malu.


"Enak 'kan?"


"Iya, Bang. Ini enak banget. Dan jujur, Aku baru pernah maka ini..."


Arifin tersenyum. "Ini edisi premium. Stoknya juga nggak banyak," jelasnya.

__ADS_1


"Oh, ya?"


"Iya," jawabnya lagi sebelum menggigit mocci di bekas gigitan Safa. Gadis itu tak menyangka seorang Afin sudi makan dibekas gigitannya itu. Cukup membuat Safa bergetar.


"Lagi..., buka mulutnya lebih lebar."


"Sedikit aja, Bang. Mulutku nggak akan cukup mengunyah." Safa tertawa sambil memegangi pergelangan tangan Afin, ia pun menggigit moccinya.


Tatapan mata Afin tertuju pada bibir Safa yang manis dan segar walau tak menggunakan lipstik.


Gleeeek! Ia menelan ludah. Tangan satunya reflek mengusap bibir Safa yang terkena bubuk tepung di permukaan moccinya.


Gua nggak yakin bisa menahan ini sampai kapan. Tapi gua bersyukur, ini adalah bukti kalau gua berhasrat terhadapnya. Gua bener-bener normal. –Afin merasa senang. Terus memandangi bibir Safa sambil terus mengusapnya tanpa henti. Gadis itu pun diam saja, belum lagi saat Arif mendekati wajahnya seperti hendak menciumnya.


Bang Arif akan menciumku? –Safa tak berkutik. Gadis itu diam saja di tempatnya. Tanpa tahu harus merespon yang seperti apa.


Dan lagi... belum sempat tersentuh. Arifin justru menghentikan perbuatannya. Lantas kembali terdiam.


Fin, sadar! Lu mau apa? –Ia langsung melepaskan wajah Safa dan menjauh. Tentu perbuatannya itu membuat Safa terkejut.


"Tiba-tiba aku inget sesuatu," ujarnya sambil bangkit dari posisi duduknya.


"Inget apa, Bang?"


"Ada sesuatu yang mau ku sampaikan. Masalah pekerjaan. Kamu lanjut makanya, ya. Sebentar lagi masuk makan siang. Nanti kita ketemu di meja makan." Arifin langsung pergi meninggalkan Safa.


Gadis yang ditimpahi rasa keheranan hanya bisa terdiam sambil memandangi tubuh Arifin yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Abang, kok?" Safa menghentikan ucapannya. Ia hanya sedang memikirkan sesuatu yang lantas membuatnya membantah itu.


–––


Di luar pintu kamar. Pria itu terlihat kesal sambil meruntuk dirinya sendiri.


"Bodoh! Lu itu normal, Fin. Lu punya hasrat ke wanita. Tapi Lu juga harus tahu diri. Sebelum Safa tahu semuanya. Lu harus menahan diri."

__ADS_1


Mendadak moodnya tidak baik. Arifin langsung buru-buru menuju tempat teman-temannya berkumpul di bawah.


__ADS_2