
Kembali ke kediaman Safa.
Qonni mengambil satu toples camilan dan segelas es minuman serbuk rasa jeruk yang ia seduh sendiri di rumah untuk di bawa ke ruang televisi. Melewati Safa yang baru saja mandi.
"Dek, udah mandi?"
"Udah dong," jawabnya sambil duduk menyalakan televisi.
Jari telunjuknya bergerilya menekan tombol untuk mengganti channel satu persatu. Karena dirasa tidak ada acara yang bagus.
"Wiiih, Kakak ipar nih di acara Rumah Kunang." Qonni berseru. Safa yang mendengar itu saat hendak membuka pintu kamar tertegun.
Ada suara Afin yang sedang berbicara juga turut sampai di telinga Safa. Ia tidak yakin kenapa rasanya senang mendengar suara laki-laki itu. Apakah ia rindu? Tapi, itu wajar saja. Semua fakta ini seperti bom yang di jatuhkan tanpa aba-aba ia belum siap untuk melepaskan diri seutuhnya dari Arifin. Gadis itu menekan handle pintu kamar dan masuk saat pintu itu terbuka demi mengganti baju.
Beberapa menit kemudian, Safa sudah duduk di sofa ruang TV sederhana. Karena di rumah ini mereka hanya berdua jadilah kondisi rumah tidak terlalu rame. Ayah dan ibu pergi selepas Ashar tadi ke rumah teman Ayah yang sedang mengadakan hajatan.
"Kita udah bincang-bincang santai dengan Afin Anka nih. Sekarang gua tanya sama Lu, Fin. Kalau gua panggil Lia kira-kira Lu mau nemuin nggak?" Suara Unang sebagai Host Rumah Kunang terdengar memancing.
"Lia? Dih... itu kan mantan Kak Afin." Qonni langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan menoleh ke samping. Di lihatnya Safa menonton dengan ekspresi biasa.
Bakal cemburu nggak ya? Batinnya mulai waspada.
---
Saat ini di studio Afin terdiam. Menatap sang pembawa acara sambil tersenyum santai.
"Gimana, gua panggil sekarang? Kira-kira kalau ada Lia. Apa yang mau Lu sampaikan?"
"Emang apa yang mau gua sampaikan? Nggak ada, Bang." Afin menanggapi kemudian.
"Tanya aja, Bro. Kali aja kangen. Iya nggak sih?" Unang mengedigkan alisnya ke arah kamera. Hingga riuh penonton bayaran saling bersiul-siul ria bercampur tawa.
Pria itu menghela nafas. "Udah selesai semuanya. Dan kayanya dia juga nggak mau ketemu gua lagi." Maaf Fa, aku harus ngomong sesuai dengan yang ada di script. Pria itu menyesalinya.
"Oh, ya? Masa? Kalau beneran gua datengin gimana?" Unang mulai memancing perhatian Afin. Sementara dari arah lain Camelia masuk ke dalam studio. Riuh penonton kembali terdengar. Saat Gadis dengan riasan natural plus memasang tampang kalem itu datang dengan busana serba hitam.
"Nggak ada yang mau gua sampaikan, Bang Unang."
"Kenapa? Kasih tau alasannya."
"Karena emang udah selesai."
"Tapi, Lia? Emang beneran udah selesai di Lu? Bukannya ada gosip kalau Afin mutusin hubungan sepihak ya?" Ucapan Unang membuat Afin menoleh kebelakang sesuai instruksi yang di berikan dari sutradara di belakang kamera.
Wajah Afin terlihat santai walau dengan senyum mengembang. Menunggu Camelia semakin mendekatinya dan berhenti di sebelah Afin.
"Hai, apa kabar?" Senyum penuh ketegaran seolah menyihir orang-orang yang menontonnya. Namun tidak untuk Afin yang sudah paham seperti apa sosok Camelia itu.
"Baik..." Afin menjabat tangan gadis itu. Sebelum dia duduk.
__ADS_1
"Cieeee!" Semua saling bersautan.
- - -
Kembali ke rumah Ulum sejenak, di depan layar televisi Safa masih memandang datar. Namun berbeda dengan Qonni yang jadi kesal sendiri.
"Ku ganti aja siarannya ya, Mbak."
"Nggak usah, Dek. Mbak tahu itu nggak serius kok."
"Iya deh..." Ini karena suaminya yang jadi bintang tamu kayanya. Makanya dia mau nonton acara kaya begini. Sambungnya dalam hati.
- - -
Pembicara di sana terus berlangsung hingga bagian Afin sedang menjelaskan perihal pernikahannya kenapa harus diam-diam.
"Gua cuma mau privasi buat istri gua, gitu aja sih," jawabnya. Yang di sambut senyum ketegaran yang di buat-buat dari Lia. "Lagian pernikahan nggak perlu lah mewah-mewah, terus di pamerin ke media."
"Tapi ini aneh Lu. Kalian pacaran lama, tapi Lu Fin, malah nikahnya sama orang lain."
"Ini udah masuk pribadi, Bang. Hahaha... alasannya udah pasti. Nggak jodoh!" Afin berusaha menimpali dengan sangat hati-hati.
"Tapi nggak cuma Netizen, gua juga pengen tahu sih? Coba tanggapan Lia?"
"Aku perempuan, hanya bisa nunggu Mas. Kadangkala kita ada di posisi berjuang bersama selama bertahun-tahun tapi harus kalah dengan yang cuma beberapa hari aja. Tapi mau bagaimanapun juga, bener kata Kak Afin. Kita emang nggak jodoh."
"Definisi jagain jodoh orang ini, mah. Hahaha..."
Mereka masih berbicara omong kosong yang benar-benar membuat Afin semakin tidak nyaman. Sampai masuk pada sesi terakhir... Unang kembali menanyakan sesuatu.
"Okay, Fin. Lia dan Afin. Lia dulu deh. Terakhir nih. Kalau waktu bisa di putar, Lu bakal memilih memperbaiki yang mana?"
"Diriku, Mas. Mungkin selama ini banyak salahnya... sampai aku nggak menyadari ada sesuatu yang Kak Afin mau dari aku."
Afin mendesah kasar tanpa suara. Benar-benar acara ini penuh dengan sandiwara dan kebohongan. Sialnya dia bisa duduk di sini, di antara orang-orang gila rating dan pencitraan.
"Sekarang Lu, Fin. Kalau Lu sendiri gimana?"
"Kalau waktu bisa kembali. Tentunya gua akan milih memperbaiki masa remaja. Dan bertemu dengan istri gua lebih dulu dalam situasi yang berbeda."
Deg! Seisi studio mendadak hening. Seorang pria dari tim kreatif pun mengangkat naskah agar Afin mau berkata sesuai dengan yang sudah tertulis. Namun pria itu acuh tak acuh.
"Gua nggak akan menjadi laki-laki bejat seperti sekarang. Dan memilih jadi laki-laki biasa. Walaupun gua harus jadi seorang guru biasa."
"Jadi kamu menyesali pertemuan kita, Fin? Dan hubungan yang berjalan lima tahun sebelum ini?" Camelia mulai beraksi.
"Nggak ada yang spesial dari kita selama ini sih. Justru sebaliknya. Dan aku nggak salah mengambil pilihan. Jadi buat para netizen. Please! Stop menghujat gadis berhijab yang sekarang jadi istri gua. Gua tau kalian kecewa sih. Tapi jodoh seseorang nggak bisa di putuskan oleh keinginan kalian."
Suasana studio kembali riuh orang-orang bersorak. Dan itu tidak di pedulikan oleh Afin.
__ADS_1
Bener-bener acara sampah. Kaya gini masuk tv nasional. –umpatnya dalam hati.
"O...Okay, Fin. Kita closing dulu ya. Hahaha..." Unang Kunang bangkit sebelum berjalan lebih dekat kearah kamera berbicara panjang lebar sebagai penutup acara. Sementara yang di belakang, Lia masih terus memandangi pria yang justru tak tertarik untuk menatapnya balik.
Dan semenjak acara itu ujaran kebencian terus di layangkan pada Arifin. Laki-laki yang sudah tega mencampakkan gadis baik penyabar seperti Camelia.
🍃🍃🍃
Selepas acara live Afin di acara Rumah Kunang. Pria itu kembali menjadi trending topik. Safa memang tidak aktif di sosial media. Jadi dia tidak tahu rumor apa yang sebenarnya sedang ramai di perbincangkan.
Ada satu, itupun tak pernah tercantum satupun foto dirinya. Hingga tak ada orang yang berhasil menemukan akun pribadi Safa.
Namun di sisi lain, akun adik kandung Safa justru yang menjadi santapan empuk netizen yang menganggap diri mereka paling benar. Ia terus menghujat setiap postingan kata-kata berisi motivasi di akun Qonni yang mulai di nonaktifkan.
Safa yang melihat semua isi kolom komentar adiknya merasa kasihan. Ia jadi turut kena imbas dari sesuatu yang tak seharusnya merambat kepadanya.
Ini konsekuensinya aku menikah sama seorang Selebgram papan atas. Tapi kenapa Qonni jadi kena, Ya Allah. –Safa menutup bukunya. Ia kembali berjalan menuju ruang kelas. Tempat ujian semester di langsungkan.
Sebenarnya ia merasakan keanehan sejak berangkat tadi. Tapi baru kali ini. Tatapan anak-anak muridnya amat terlihat tak biasa. Bisik-bisik tak jelas pun terdengar di belakangnya.
Kenapa ya? –Langkahnya terhenti, gadis itu menoleh sedikit. Dan mereka-mereka pun langsung membubarkan diri. Masuk ke kelasnya masing-masing.
Gadis itu menggeleng pelan. Kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tiga mapel ulangan telah selesai. Anak-anak pun satu persatu berhamburan keluar walau hanya sebagian. Sebagain yang lain memutuskan untuk duduk-duduk di masjid sekolah memanfaatkan fasilitas internet di sana. Ada juga yang memilih ke perpustakaan dengan kegiatan yang sama.
Safa sudah selesai. Ia pun hendak pulang. Meski dirinya sudah menikah dengan Afin ia tetap setia dengan skuter matic miliknya. Gadis itu mengucap bismillah sambil menyalakan mesin motor. Setelahnya keluar dari area sekolah sambil menyapa beberapa guru yang di laluinya.
Sepersekian detik berlalu saat Safa sedang menunggu untuk menyebrang di tepi jalan. Tiba-tiba segerombolan orang tak dikenal yang sebagian besar adalah perempuan muda berkumpul dan berhenti di dekatnya.
"Oh, ini nih... Plakor Solehah!" Tuding salah satu dari mereka hingga tak lama hujan balon air yang bercampur pewarna menimpuk tubuh Safa secara brutal.
"Kyaaaaa!" Gadis itu menjerit menahan sakit sambil menutupi area wajah dengan lengannya.
"M*mpus, Lu. Makan nih, dasar plakor!!"
"Dasar Guru nggak beretika!"
"Eh, ngaca dong Lu! Nggak punya kaca ya?"
Hujatan demi hujatan terus di layangkan. Bahkan ada beberapa yang dengan brutal menarik hijab Safa. Hingga gadis itu terjatuh dari motornya demi mempertahankan kerudung yang ia kenakan.
Gadis itu sudah benar-benar ketakutan. Di kepung orang-orang tidak dikenal. Dua orang sequrity pun terlihat kewalahan menghalau mereka yang justru semakin banyak mengepung Safa.
Anak-anak murid yang di sana turut menjerit berlarian. Menjauhi lemparan bola dengan isi yang beraneka ragam. Bahkan ada yang melempar dengan bungkusan berisi tepung.
Beberapa guru wanita juga merespon denga teriakan ketakutan. Saling menyuruh guru-guru lain untuk menyelamatkan Safa dari amukan para wanita itu.
Ya Allah, sakit... tolong selamatkan aku...
Safa mulai frustasi. Derai air mata membanjiri pipinya. Sambil menahan rasa sakit. ia juga melindungi map yang di bungkus tas tahan air, berisi kumpulan lembar jawaban dari para murid-muridnya.
__ADS_1
Hingga jeritan brutal itu berubah menjadi jerit histeris mereka. Bersaman dengan itu sebuah pelukan melindungi ia rasakan. Safa mencium aroma parfum yang ia kenal, yang membuat air matanya semakin menderas.