Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 52


__ADS_3

"Kyaaaaaaa! It's My Dream, Mbak! My Dream!" Qonni memekik histeris dari seberang, beberapa detik saat panggilan video di terima kakak perempuannya.


"Astaghfirullah al'azim, salam dulu aturan. Kamu, nih! Mau bikin Mbak jantungan, ya?" Safa bersungut sambil mengelus dada. Yang menjadi lawan bicaranya justru tertawa lepas.


"Ya Allah, Mbak ke Cappadocia? Iiiih, naik balon gede lagi."


Senyum Safa merekah. "Alhamdulillah, Dek."


"Bikin iri tau nggak, sih?"


"Ku doakan suatu saat kamu bisa merasakannya juga."


"Aamiin ya rabbal alamin..." Serunya penuh semangat. Safa pun geleng-geleng kepala.


"Omong-omong, kamu tahu dari mana. Mbak ke Cappadocia?"


"Dari postingan Kak Afin."


"Postingan?" Perempuan itu menoleh ke sisi kanan. Tempat Afin duduk di sofa sambil live di akun sosial medianya. Kemudian kembali ke layar ponselnya sendiri.


"Iya. Postingan... duh, auto rame banget tau yang komen. Semua mengagumi kata-kata Kak Afin," terangnya bersemangat.


Safa sendiri terdiam agak sedikit penasaran, memang postingan Afin seperti apa? Selama ini ia tidak pernah mau membuka sosial media. Bahkan hanya sekedar kepo tentang akun suaminya sendiri pun tak pernah ia lakukan.


"Mbak ada salam dari Ibu sama Ayah tuh." Qonni mengalihkan ke bahasan yang lain. Saat Ibunya masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelahnya hanya untuk melihat wajah Safa.


"MashaAllah, Bu."


"Nduk, apa kabar?" Tanya Aida senang. Saat melihat wajah cantik putri sulungnya.


"Alhamdulillah, Bu. Ibu sama Ayah gimana?"


"Baik Alhamdulillah. Di sana gimana Nduk? Katanya dingin banget ya? Ibu tadi lihat foto kamu loh. Cantiiiiik sekali. MashaAllah, tempatnya juga bagus sekali ya?"


Safa mengangguk. "Iya, Bu. Sangat bagus... ibu pengen kesini?"


Pertanyaan itu membuat netra Afin bergeser naik. Pelan-pelan mendengarkan pembicaraan istrinya dengan keluarga di jakarta, dan mengabaikan ribuan pertanyaan yang ada pada kolom komentar Live-nya. Ia tersenyum tipis, sepertinya kalau kesini membawa keluarga Safa dan Bundanya pasti akan lebih menyenangkan.


"Enggak lah... cukup kamu aja yang jadi mata ibu. Arahkan kameranya dan ibu bisa melihat dari sini." Mereka tertawa pelan.


"MashaAllah, besok... Safa akan rekam lebih banyak buat di tunjukkan ke Ibu, ya."


"Iya, Nduk. Harus itu. Hahaha... kamu udah makan?"


"Udah... Ibu sendiri? Emmm, hari ini masak apa?" Wanita dengan bergo instan warna kaki itu semakin hanyut dalam obrolan.

__ADS_1


"Udah juga. Hari ini Ibu masak balado terong sama Ayah tadi bikin tempe mendoan untuk makan malam."


"MashaAllah, Safa jadi pengen makan tempe mendoan buatan Ayah." Tak lama laki-laki dengan peci warna hitam menunjukkan dirinya sambil tersenyum.


"Beneran nih, kangen mendoan buatan Ayah?" Ulum nimbrung tiba-tiba. Kedua netra Safa kembali mengembun.


"Ayah, MashaAllah..." wanita itu mengangguk pelan. "Kangen banget. Di sini nggak ada makanan yang bisa mengobati kangennya masakan Ibu dan Ayah."


"Halaaaah, kamu bisa aja." Aida terkekeh.


"Ya jelas nggak ada. Masakan kita itu spesial, Bu." Ulum menimpali. Mereka pun kembali tertawa. Padahal baru beberapa hari meninggalkan Indonesia, tapi rasa rindu pada keluarganya sudah berdenyut di dada Safa.


"Iya... Di sini makanannya enak, cuman tetep kangen masakan di sana."


"Itu harus. Seenak-enaknya di Negara orang. Tetap, negara sendiri tak akan pernah terlupakan. Nanti kalau udah pulang ibu masakin balado terong kesukaanmu."


"Sama tempe mendoan..." Saut Ulum.


"Tahu Aci juga dong, Ayah!" Qonni tak mau kalah.


"Ya nanti kita bikin sama-sama semua itu. Kalau kedua kakakmu pulang dari Turki."


"Yess!" Balas Qonni senang.


---


Wanita yang sedang duduk di atas ranjang menoleh kearah suaminya yang masih berbicara dengan para fans.


Seketika kembali mengingat kata-kata Qonni tadi. Safa jadi penasaran dengan postingan yang di maksud adiknya tadi. Wanita itu pun membuka salah satu aplikasi yang jarang ia buka.


Untungnya, ia memiliki akun yang amat privasi. Tidak ada yang tahu, akun penuh foto dengan kata-kata mutiara islami adalah miliknya. Termasuk murid-muridnya sendiri. Karena Safa memakai nama, Guratan sang pendosa. Sudah lumayan banyak yang mengikuti, bahkan hampir dua puluh ribu follower.


Safa mengetik nama Afin Anka. Dengan pengikut mencapai dua puluh juta lebih, laki-laki itu benar-benar menjadi pujaan para kaum hawa.


Pelan-pelan ia menggulir layar naik. Semua penuh foto Afin sendiri dengan berbagai gaya. Dan, hanya ada salah satu foto dirinya yang baru dua jam di unggah sang Selebgram.


Gadis dengan coat warna moka, yang terpotret dari samping. Wajah Safa memang tak begitu terlihat jelas, namun Afin benar-benar pintar mengambil foto. Senyum manis Safa dari samping masih terlihat, dengan semburat cahaya sunrise. Keteduhan wajahnya terpancar sempurna.


Foto itu bahkan mendapatkan jutaan like dari penggemar Arifin. Namun yang lebih membuatnya terdiam adalah captionnya.


Caption: Kalian tahu, di dunia ini kita bisa dengan mudah menemukan keindahan. Namun, bagaimana rasanya ketika kamu menemukan satu keindahan yang tak pernah sekalipun memperlihatkan sinar keindahannya itu pada sembarang orang. Dan, itu menjadi milikmu seutuhnya ... You are the best thing that happened to me. (Kamu adalah hal terbaik yang terjadi padaku)


Wanita itu menutup mulutnya. "MashaAllah –"


Menoleh kearah Afin lagi. Laki-laki yang duduk di sofa menghadap ponsel yang di letakan di tripod itu semakin asik membaca satu persatu komentar lalu membalasnya. Ingin rasanya ia langsung memeluk suaminya saat itu juga. Dan mengucapkan kata terima kasih atas apa yang sudah ia tulis untuknya. Belum lagi, komentar para netizen cukup banyak yang positif. Walau ada beberapa yang menyebalkan tapi tidak banyak.

__ADS_1


Iseng Safa menekan gambar profil Afin. Ia jadi masuk ke dalam live suaminya. Namun, belakangan Afin tahu akun Safa. Pria itu tersenyum melihat nama Guratan sang pendosa masuk dalam siaran langsung miliknya.


Pria itu pun mengangkat netranya. "Ehemmmm..." Dia berdeham hingga sang istri menoleh padanya juga. Lalu Afin mengulurkan tangannya hingga ke belakang ponsel. Menunjukkan bentuk love dari jari telunjuk dan ibu jarinya.


Safa pun tersenyum manis... Ia langsung buru-buru keluar dari siaran Afin, dan meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah itu melepaskan hijabnya. Bersiap untuk tidur.


Sementara sang suami tersenyum gemas. Sebelum kembali pada layar ponsel menyambung balasan beberapa pertanyaan dari para penggemar. Hanya mengambil dua komentar terakhir sih. Sebelum mengakhiri.


"Guys, kita akhiri Live malam ini. Maaf, nggak bisa lama, selama beberapa hari. Okay! Thanks untuk semuanya... See you." Afin langsung mematikan acara Live-nya lalu beranjak mendekati Safa yang sudah memejamkan mata.


Sebuah gerakan pelan dirasakan Safa yang belum benar-benar lelap. Afin duduk di sisinya lalu mencium pipi Safa.


"Kamu capek banget, ya?" Bisik Afin sambil mengusap pelan kepala sang istri.


"Enggak terlalu, Bang...," jawabnya sambil kembali membuka mata.


Afin pun masuk ke dalam selimut tebal itu lantas menyusupkan tangannya ke bagian leher setelah itu memeluknya.


"Aku sebenarnya boking hanya dua malam di sini. Kalau besok kamu capek, kita tunda perjalanan kembali ke Istambulnya."


Wanita di sisi Afin menggeleng. "Nggak papa. Aku udah nggak sabar untuk mendatangi monumen bersejarah itu."


"Okay!" Satu kecupan di berikan Safa pria itu pun tertegun.


"Makasih, Bang."


"Makasih lagi?" Afin mengulas senyum.


"Makasih untuk kata-kata di akunmu. Aku nggak nyangka kamu bakal posting foto aku."


"Sebenarnya aku sempat khawatir kamu nggak suka kalau aku posting foto kamu."


"Sebenarnya aku memang nggak mau fotoku di publish."


"Kalau begitu, akan aku hapus," ucapnya langsung. Safa sendiri mengangguk...


"Tapi untuk kata-katanya luar biasa. Abang puitis juga ternyata."


"Itu tercetus aja di kepala saat melihat kamu di balon udara tadi. Aku kan bilang, kamu cantik. Itu sungguh-sungguh."


"Iya, iya, Bang. Jangan puji aku terus, ah... jadi malu."


Pria itu terkekeh. "Kan aku ngomong jujur. Ngapain malu?" Mencubit-cubit pipi Safa gemas.


"Ya malu aja... lagian aku takut pujian. Ke depannya akan merubah sikapku menjadi buruk."

__ADS_1


"Nggak lah, Sayang." Afin memejamkan matanya sambil mempererat pelukannya. "Ayo tidur, ini udah cukup larut.


"Iya, Bang." Safa membalas pelukan Afin kemudian turut memejamkan matanya.


__ADS_2