Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 36


__ADS_3

Irama indah dalam dada, berdetak begitu kencang. Gerakan lembut itu terhenti seraya melepaskan pelan.


Afin menempelkan kening mereka. Setelah itu tertawa malu-malu bersama. Ya, suatu aktivitas yang berjalan beberapa detik namun mampu mengalihkan sementara dunia mereka. Manik mata abu-abu itu di tunjukkan padanya yang masih menunduk karena malu. Inilah ciuman pertama bagi Safa yang justru membuatnya semakin mencintai Afin.


Di dalam kamar yang sunyi, dengan pencahayaan minim. Berteman deru suara pendingin udara. Afin merengkuh tubuh Safa. Membawanya dalam pelukan.


"Aku mencintaimu, Fa." Afin berbicara pelan sedikit berbisik. Mengutarakan cintanya beberapa kali.


"Iya, Bang. Safa juga....Terima kasih sudah mau mencintai Safa." Gadis itu pun menitikkan air mata, ia senang bisa di cintai seperti ini.


Aku hanya ingin kamu dengar dan mempercayaiku. Sebelum badai benar-benar menghempas kita.


Afin menempelkan bibirnya di kepala Safa. Seolah tak ingin melepaskan dan semakin mempererat pelukannya.


🍃🍃🍃


Semalam mereka memang belum melakukan apapun. Afin masih meminta pengertian pada istrinya. Sampai ia benar-benar mampu menyentuh kekasih halalnya itu.


Pagi ini, mereka bersiap untuk mengunjungi rumah orang tua Safa. Sebuah kesepakatan yang di ambil setelah semalaman mengobrol. Ia ingin Afin meluangkan waktu demi bisa berkunjung ke rumah orang tuanya walau hanya satu jam. Alhamdulillah, Afin mengiyakan.


Gadis itu baru saja selesai memasang hijab segi empat jumbonya. Sementara Arifin masih di dalam kamar mandi.


Tiiiiiiiing... Sebuah kiriman video masuk dari nomor tak di kenal. Safa merasa aneh, dan tak ingin membukanya. Hingga satu pesan lagi masuk.


Tolong buka Videonya... Ini akan menunjukan siapa dia yang sebenarnya.


"Siapa sih. Apa anak muridku ya. Tapi ini bukan video aneh-aneh, kan?" Gumamnya. Gadis itu mengucap bismillah sebelum menekan tanda putar.


Pada durasi awal terlihat wajah Afin namun dengan tampilan yang berbeda. Wajahnya terlihat lebih muda tanpa memakai pakaian. Terekam dengan kamera amatir tipe dulu.


Mendesahlah, Fin... (Suara laki-laki di video itu.)

__ADS_1


"Astaghfirullah..."


Praaak! Ponsel di tangan Safa terjatuh. Sementara video masih di dalam mode putar. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Suara yang ada dalam video itu membuatnya bergidik geli.


Bersamaan dengan itu, Afin keluar. Ia melihat Safa dengan ekspresi aneh. Di tambah suara video yang sepertinya ia kenal


Buru-buru laki-laki itu mendekati, tangannya yang gemetar meraih ponsel Safa yang tergeletak tadi. Kedua matanya seketika melebar saat melihat video dirinya rupanya sudah sampai ke Safa. Sebuah ketakutan yang akhirnya menjadi nyata. Istrinya tahu apa yang dilakukan dirinya di masalalu.


Braaaak... Tubuh Safa mendadak lemas. Ia melangkah mundur sampai menyenggol beberapa barang di atasnya hingga berjatuhan.


"Fa–" bibir Arifin kaku. Ia langsung mematikan video tersebut kemudian melangkah maju.


"Jangan dekati aku!" Safa menahan Arif dengan kedua tangannya. "Tolong katakan, itu bukan kamu kan?"


Afin yang berdiri tak jauh dari Safa tidak bisa menjawabnya. Jujur ia sangat malu pada istrinya saat ini.


"Jawab, Bang. Jawab kalau itu bukan video asli."


"Apa?"


"Laki-laki yang ada di video itu memang aku. Ya, Aku pernah berzinah dengan sesama jenis, Fa... Dan itu beberapa kali ku lakukan sampai setahun sebelum kita menikah."


Seperti petir yang menyambar tiba-tiba. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat.


Tubuh Safa terhempas kelantai. Afin yang melihat itu mendadak panik.


"Fa?"


Ia pun langsung mendorong kedua tangan Arifin yang hendak menolongnya sekuat mungkin. Setitik air mata terjatuh tanpa aba-aba. Safa benar-benar sakit mendengar pengakuan itu.


"A–Abang bercanda?" Tanyanya lirih. Ia terlihat sangat shock saat ini.

__ADS_1


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Fa," tuturnya. "Aku pelaku, h*mos*ks."


"Astaghfirullah al'azim, Abang!" Gadis itu pun menggeser tubuhnya menjauh. Meremas pakaian di bagian dadanya. "Ja–jadi ini alasannya. Alasan, Abang nggak bisa menyentuh Safa? A–abang penyuka sesama jenis?"


"Aku memang pernah melakukan itu beberapa kali. Tapi aku bersumpah, aku bukan G*y, Fa!" Tangan Afin hendak menjangkaunya. Namun gadis itu justru menjauh.


"Bukan g*y. Tapi Abang melakukan itu berkali-kali?" Safa menepis tangan suaminya yang terus berusaha meraihnya. "Kenapa Abang lakukan ini? Kenapa Abang nggak jujur dari awal! Abang sudah membohongi Safa selama ini!! Abang juga telah membohongi semua orang!"


"Aku minta maaf, Fa. Aku nggak bermaksud membohongimu."


"Lalu apa, hah?! Teganya Abang menikahi Safa, hanya untuk menutupi kelakuan menyimpang Abang? Pantas saja Abang mengabaikan nafkah batin untukku selama ini? ABANG JAHAT SEKALI...!" Air matanya sudah berderai-derai. Safa tidak percaya, ia benar-benar mengharapkan jika semua ini adalah mimpi dan ia pun berharap agar mampu terjaga.


"Demi Allah, Fa. Semua yang ku lakukan bukan atas dasar keinginanku. Aku terpaksa, Fa. Aku terpaksa!"


"Terpaksa?" Desisnya.


"Ini yang aku takutkan selama ini. Saat kamu tahu masalalu aku. Kamu nggak akan bisa menerimanya."


"Hiks!" Safa tidak tahu lagi harus apa. Tubuhnya terasa lemas. Tak mampu berdiri untuk menjauhinya.


"Aku kotor! Aku juga menjijikan! Aku sadar akan itu. Saking kotornya, aku sampai takut menyentuhmu. Bukan berarti aku tidak berhasrat terhadapmu! Aku mengormati mu, Fa." Afin berusaha meyakinkannya.


"Abang Bohong–"


"Demi Allah, Fa. Aku menikahi kamu karena cinta. Bukan demi menutupi kelakuanku yang menjijikkan ini. Aku nggak bisa menyentuh kamu, sebelum kamu tahu kebenaran yang ada pada diriku. Aku butuh ketulusan dari wanita yang akan aku tiduri. Aku butuh ketulusan sebelum menyiram rahimmu dengan cintaku. Aku butuh kamu tahu fakta ini, dan mau menerimaku."


Afin menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Karena tatapan Safa terlihat benar-benar takut di dekatnya.


"Aku minta maaf, Fa. Ku akui, aku salah karena udah nggak jujur dari awal. Tapi kamu harus tahu, semuanya amat berat bagiku mengatakannya. Ku mohon... semua itu bukan kehendak ku, Fa. Aku bersumpah, aku pria normal. Tapi jika kamu tidak bisa menerima ini, aku tidak akan mungkin memaksamu."


"Kasih waktu aku untuk berpikir, Bang. Tinggalkan aku sendiri." Safa menyeka air matanya yang semakin menderas itu.

__ADS_1


"Aku akan keluar. Silahkan gunakan waktumu untuk berpikir. Aku akan siap menerima apapun keputusanmu." Afin bangun. Dengan tubuh lunglai melangkah keluar dari kamarnya. Meninggalkan Safa yang kembali menangis memeluk tubuhnya sendiri.


__ADS_2