
Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, Safa menerima pesan dari Afin yang katanya sudah berada di depan sekolah.
Buru-buru ia berkemas, setelah meminta Afin menunggu selama sepuluh menit. Pria itu lantas mengirimkan stiker okay pada isterinya.
Wanita berhijab panjang itu nampak tergesa-gesa. Memasukan ini dan itu kedalam tas sebelum berjalan keluar kantor. Saat hendak keluar ia berpapasan dengan seorang Ustadz yang sempat mengaguminya, hingga ia sendiri tak menyadari dompet yang ada pada tumpukan paling atas dari dua buku yang ia dekap terjatuh.
"Afwan, Ustadz Musa."
"Na'am... nggak papa, Ust." Laki-laki itu tertunduk sambil menyingkir dari pintu. Ustadzah Safa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah wanita yang sedang hamil besar itu menjauh, pria itu menoleh kebelakang. Entah mengapa, aura Safa yang sedang hamil amatlah terpancar. Ia jadi jauh lebih teduh dan menarik. Hingga membuat debaran jantungnya kembali terasa.
"Astaghfirullah al'azim –" pria itu mengusap dadanya. Salah satu alasan dia jarang di kantor sekarang adalah menghindari syahwatnya terhadap wanita yang sudah bersuami itu.
Kemudian beliau pun kembali melangkah masuk. Namun sejenak ia menemukan dompet yang tergeletak, buru-buru ia meraihnya sebelum berpikir antara mengembalikan langsung, atau melalui orang lain?
Tapi sepertinya Ustadzah Safa belum jauh...
Ustadz Musa lantas keluar lagi berniat mencari salah satu siswi untuk mengejar dan mengembalikan dompet Safa. Namun sepanjang jalan, dari pintu utama sekolah sampai hampir keluar gerbang Beliau tak menemukan satupun murid. Karena memang semuanya sudah pulang. Sementara Safa kini sudah mulai naik kedalam mobil Afin.
"Ust–" pria itu berseru sambil berjalan cepat. Namun terlambat, mobil yang di tunggangi Safa dan suaminya sudah melaju lebih dulu.
Beliau menghentikan langkahnya kemudian, sorot mata itu bergerak mengikuti arah laju mobil. Sebelum kembali tertunduk, menekuri dompet warna pink milik Safa. Sebelum akhirnya putar arah menuju kantor.
***
"Bang, mampir depan dulu. Aku pengen makan siomay."
"Suka banget sama siomay?" Afin menimpali sambil mengarahkan mobil ke tengah untuk menyebrang.
"Mau gimana lagi, enak," jawabnya sambil tertawa. Afin sendiri hanya tersenyum. Sekarang mobil sudah menepi. Tepat di depan kedai siomay dan batagor khas Bandung yang menjadi langganan Safa. Wanita itu menoleh ke sisi kanan, berniat untuk mengambil dompetnya yang ia kira ada di atas tumpukan buku.
"Hmmm..." Tak menemukan di sana ia pun gegas membuka tasnya. Mencari-cari dompetnya. "Eh, dimana, ya?"
"Apa?"
"Dompet," jawabnya sambil terus mengorek-ngorek isi tas. "Duh, Abang liat dompet Safa, nggak?"
__ADS_1
"Nggak liat." Afin mengambil alih tas Safa membantu untuk mencarinya.
"Nggak ada di dalam tas," tutur Safa mulai panik.
"Tadi yakin di bawa, nggak?"
"Yakin banget, kalo nggak salah di?" Safa mengingat-ingat. Dan, ya..., "Seharusnya ada di tumpukan buku ini. Apa jatuh ke belakang, ya?"
Wanita itu melepaskan seat belt dan melongok ke bagian bawah cabin tengah.
"Astaghfirullah al'azim, nggak ada, Bang."
"Coba inget-inget lagi."
"Aku yakin banget udah di bawa. Atau jatuh ya? Tapi di mana."
"Kemungkinan masih di kawasan sekolah. Kalau memang benar, inshaAllah bakal balik lagi."
"Iya, Bang. Aku teledor sekali..."
"Dua puluh ribu aja jangan sama dompet-dompetnya sekaligus."
"Udah lah, kaya Ama siapa. Pegang aja, selama dompetnya belum ketemu. Kamu pegang dompet aku." Afin masih menyodorkan dompet dengan logo ch..nnel miliknya.
"Tapi aku nggak terbiasa buka dompet kamu. Udah keluarin aja seberapapun."
"Sayang, apaan, sih! Udah ambil ini..." Afin meraih tangan Safa lalu meletakkan dompetnya di atas telapak tangan itu. "Kamu nggak papa kan turun sendiri? Di sana rame, nanti pesen aja terus kamu masuk lagi sambil nunggu."
Safa yang paham hanya mengangguk. Karena kalau Afin turut keluar semuanya pasti akan heboh.
"Ini beneran nggak papa aku buka dompet kamu?" Tangannya masih agak kaku memegangi dompet suaminya.
"Ya Allah..., nggak papa, Sayang. Pelan-pelan jalannya."
Sambil tersenyum, Safa membuka pintu mobil setelah itu keluar dengan hati-hati. Sementara Afin hanya memantau dari dalam mobilnya.
Ada beberapa anak-anak sekolahan yang memperhatikan mobil matic tersebut. Dan saat Safa keluar beberapa di antaranya saling berbisik. Mungkin mereka sedang bertanya-tanya siapa suami dari seorang guru yang baru saja keluar dari mobil mewah.
__ADS_1
Setelah menunggu 30 menit setelah membeli siomay, wanita itu kembali dengan wajah berbinar-binar. Menunjukkan bungkusan siomaynya kepada Sang Suami.
"Aku udah beli...," ucapnya setelah membuka pintu.
"Haha, kamu ini. Sini masuk," titahnya yang di balas anggukan kepala.
"MashaAllah, wanginya kecium nggak?" Safa menyodorkan bungkusan tersebut.
"Harum..."
"Ini siomay paling terkenal di kawasan ini. Lebih mahal tapi rasa ikan tenggirinya kerasa."
"Mau, dong." Afin menyalakan mesin mobilnya.
"Mau?"
"Iya!"
"Ntar, masih panas..." Safa menanggapi dengan nada manja. Hal itu pula yang membuat Afin mencubit pipinya karena gemas sebelum menggerakkan mobil ke jalan.
Selama perjalanan mereka memakan siomay secara bergantian. Sesekali Safa mengusap bibir Afin yang terkena bumbu kacang dengan tissue.
"Kalau nggak lagi nyetir aku minta yang nggak pakai tissue."
"Okay pakai tangan."
"Bukan, sama bibir kamu aja."
"Aiiiih!" Safa memukul manja bahu Afin hingga memicu gelak tawa suaminya. "Genit banget sekarang, sih."
"Nggak papa kan sama isteri. Aaaa, lagi... jangan gede-gede. Gigit dulu sama kamu."
"Hehehe... bawel, udah di suapin masih banyak permintaan."
"Utututu!" Afin menarik pipi Safa dengan tangan kirinya sambil tersenyum.
Mobil terus melaju menuju salah satu kompleks perumahan tempat tinggal Arifin. Sambil bercengkerama Afin sendiri menjanjikan sesuatu bahwa ia akan membawa isterinya ke suatu tempat sekitar dua Minggu lagi.
__ADS_1