
Selama tiga malam, Harun turut menginap di rumah Ulum sebelum perjalanan ke Jogja di hari ketiga setelah pernikahan mereka.
Pengantin baru itu memutuskan untuk menggunakan transportasi umum kereta dengan rute pagi. Kenapa memilih perjalanan pagi, karena udara di pagi hari memang cukup nyaman untuk safar.
Gemeratak roda-roda yang berjalan di atas rel menemani perjalanan mereka berdua, Qonni menatap keluar jendela, melihat pemandangan dengan cahaya kekuningan yang menembus kaca gerbong.
Senyum yang indah terus terarah pada jalan-jalan yang ia lalui. Ia benar-benar bersyukur, akhirnya bisa menjadi seorang isteri dari laki-laki yang ia kagumi. Sosok Harun yang halus jika bertutur kata, dan amat menyukai anak-anak menjadi nilai plus di matanya.
"Sayang, tehnya." Harun mengarahkan satu cup teh hangat kepada Sang isteri. Kontan, semua lamunan tentang kekagumannya yang bertambah pada sang suami cerai berai.
"Wooaaah..., makasih A'." Perempuan dengan pasmina warna moca yang sepadan dengan setelan sweater rajut warna krem ber-aksen garis biru muda, serta rok plisket warna moca juga nampak ceria menerima teh hangat dan satu cup mie instan dari tangan suaminya.
"Kok cuma satu mie-nya?"
"A'a nggak begitu suka mie yg di seduh begini," jawabnya sambil menghempaskan bokong di atas kursi cabin kereta.
"A'a itu laki-laki, tapi makanya lebih susah dari pada aku yang perempuan. Jadi khawatir, nanti bakal aku yang gemuk sendirian."
"Ya enggak lah, sayang. Kamu liat aja tangan kamu se-sekurus itu?" Harun menyentuh tangan Qonniah sebentar. "Kayanya bakal susah gemuknya."
"Susah gemuk gimana? Baru tiga hari loh jadi isteri A'a. Aku udah dijajanin terus. Mana aku doang lagi yang makan, A'a sukanya cuma nontonin aku makan. Lama-lama bakal gemuk juga nih."
Pria di sampingnya tertawa tanpa suara. Sambil menatap sang istri yang sedang mengaduk mie instan dalam cup di tangannya.
"Pelan-pelan, panas." Harun menghimbau agar isterinya tak langsung memakan mienya yang masih mengepul itu.
"Kalau di tunggu nanti keburu melar, dong. Aku suka yang masih agak keras begini." Qonni menggembungkan pipinya seperti hendak meniup.
"Ya, jangan di tiup juga. Nggak boleh..." Harun menutup bibir isterinya dengan tangan agar angin dari mulut kecilnya itu tak keluar. "Di angkat gini aja, nanti juga dingin sendiri."
Qonni tersenyum saat pergelangan tangannya di pegang Sang suami, sambil menahan mie tersebut agar sedikit lebih dingin karena ruangan gerbong tersebut ber-AC.
"Udah, A'. Ini udah dingin..."
"Ya udah."
"A'a mau cobain dulu?"
__ADS_1
"Nggak usah, Kamu aja."
"Serius?" Qonni mengarahkan mie instan tersebut ke dekat suaminya.
"Enggak, Sayang. Sok! Di makan..."
"Okay." Qonni memasukkan helaian mie tersebut kedalam mulutnya. "Entah kenapa A'a tuh kalau ngomong agak mirip suaminya, Kak Nuha."
"Masa, sih?" Tanyanya sambil bertopang dagu, yang di jawab anggukan kepala dari Qonniah. "Logatnya mungkin?"
"Nah itu..."
"Ya, kan sama-sama keturunan Sunda."
"Iya juga, sih. Emmmm, sedikit persamaan! Bedanya A' Harun banyak ketawa dari pada A' Faqih."
"Hahaha! Dia mah kulkas dua pintu. Paling killer kalau di Rumah Tahfiz. Kemana-mana bawanya rotan. Mau ngajar, mau lagi ngobrol sama siapapun. Rotan selalu di tangan–"
"Masa? Berarti, A' Faqih suka mukul murid-muridnya?"
"Ya nggak buat mukul ke muridnya. Biasanya dipukulin ke white board, atau kelantai kalau anak didiknya pada berisik tanpa harus ngeluarin suara dari mulutnya."
"Kamu nggak eneg, makan mie seduhan gitu?"
"Enggak lah... cobain, deh."
Harun gegas membuka mulutnya setelah membaca bismillah, sambil sedikit mencondongkan kepalanya lebih mendekat ke wadah mie instan yang di arahkan oleh Qonni.
"Gimana, enak 'kan?" tanyanya yang hanya di jawab dengan anggukan kepala karena pria di sebelah Qonni sedang mengunyah. "Entah kenapa kalau makan Mie gini di Bus, kereta, atau tempat wisata kolam renang itu lebih nikmat ya?"
"Mungkin karena hawa dingin. Jadi makan hangat-hangat kaya gini enak," jawabnya, menanggapi.
"Lagi?"
"Nggak, udah..." Pria itu membenahi gorden agar tidak terlalu menyoroti kedua mata isterinya.
"A'a, aku udah lama banget nggak ke Jogja. Kayanya terakhir itu saat masih kecil. Kenangan ku pas naik delman sama Ayah, Mbak Safa, dan ibu di Malioboro. Sekarang, pasti udah banyak perubahan, ya?"
__ADS_1
"Aku juga terakhir pas masa kuliah. Saat dimana Aku banyak berkelana." Pria itu terkekeh sendiri.
"A' Harun suka bepergian, ya?"
"Banget! Dari jaman SMP. Bahkan berkali-kali naik gunung. Nggak kaya Gus Mukhlis, banyak belajar di pondok sampai bertahun-tahun. Kalau A'a, lebih suka tadabbur Ayat di alam langsung." Mendengar itu Qonni hanya manggut-manggut sambil terus menikmati Mienya. "Emmmm, sebenernya, aku ada keinginan untuk ke Semeru sama kamu. Tapi...?"
"Tapi?" Qonni mengulangi sambil menoleh kearah Sang suami.
"Khawatir kamu nggak kuat naik-naik gunung gitu."
"Kata siapa? Kan belum di coba."
"Emang kamu mau, mendaki maha meru denganku?" Harun mengusap ujung bibir sebelah kanan isterinya dengan ibu jari.
"Mau, lah. Kalau bukan karena larangan Ayah, aku juga sebenarnya pengen mendaki. Saat SMA aku suka ikut ekskul pecinta alam. Sayangnya kalau di ajakin naik gunung sama kelompok PA, suka nggak dapet izin. Padahal, gunung deket-deket yang nggak terlalu tinggi loh."
"MashaAllah." Harun berbinar. Suatu nilai plus saat tahu isterinya diam-diam punya hobi yang sama. "Tapi wajar, atuh! A'a juga kalau kita di kasih kesempatan memiliki anak perempuan ya bakal gitu juga."
Pipi Qonni bersemu, saat sang suami membicarakan tentang anak walau tanpa di sengaja. Tapi jika di amati, Harun memang seperti sudah sangat ingin punya anak. Bahkan, ia terus saja menggendong Aina, membawanya kesana-kemari yang kebetulan selama beberapa hari ini sengaja di titipkan di rumah ibu Aida sesuai keinginan Ulum dan Aida.
"Jadi beneran, nih. Mau mendaki gunung sama A'a?"
"Beneran, A'...," tegas Qonni.
"Kapan-kapan, ya? Kalau sekarang kita tour romantis aja dulu di Jogja. Mudah-mudahan liburan anak-anak sekolah selanjutnya kita bisa mendaki gunung Semeru. Pastinya kalau kamu belum dalam keadaan isi." Harun menyentuh perutnya, yang kontan membuat Qonni tertawa geli.
"Aaaamiin!" Qonni mengangguk semangat. "Aku nggak sabar."
"Aamiinnya yang mana? Sama nggak sabarnya yang mana?"
"Naik Gunung."
"Kirain punya dedenya."
"Emang A'a udah pengen banget punya anak? Nggak pengen berduaan dulu, gitu?"
Harun hanya tersenyum tipis sebelum mencondongkan wajahnya ke area telinga.
__ADS_1
"Jangan tunda ya. Aku mau sedikasihnya aja..., Syukur-syukur secepatnya," bisiknya sebelum mengecup kepala yang tertutup hijab. Kebetulan, kursi gerbongnya tak saling berhadapan. Sehingga Harun berani melakukan itu, pun dengan gerakan secepat kilat.
Perempuan di sebelah Harun mengangguk tanda setuju sambil menyandarkan kepalanya di lengan sang suami. Menghabiskan sisa mie instan dalam cup yang sudah mulai dingin, bertemakan keindahan alam dari balik jendela kereta.