Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 61


__ADS_3

Kembali lewat beberapa hari, media di hebohkan dengan tertangkapnya pria yang di duga telah melakukan tabrak lari hingga menyebabkan Selebgram Afin Anka cidera.


Di tempat persembunyiannya yang jauh dari pemukiman warga. Pria dengan tubuh tinggi besar itu di ciduk pihak kepolisian dengan paksa. Bahkan polisi sampai melemparkan timah panas demi melumpuhkan Brody yang mencoba melawan.


Namun, hal lain yang lebih menggemparkan negara ini adalah pengakuan laki-laki itu. Yang mengaku patah hati dengan pernikahan Afin. Ia bahkan membeberkan tentang hubungan terlarang antara dirinya dan Afin beserta barang bukti foto hubungan mereka selama lebih dari sepuluh tahun.


Banyak media menafsirkan kalau keduanya sempat adu mulut. Karena pelaku yang masih tidak terima pasangannya menikah dengan seorang wanita membuatnya gelap mata hingga memutuskan untuk menabrak Afin. Terbukti dari munculnya rekaman CCTV detik-detik sebelum penabrakan itu terjadi.


Sekarang kabar tentang Afin yang masuk dalam golongan kaum pelangi semakin menjadi buah bibir. Menggiring semua akun media untuk membangun opini. Akun-akun gosip itu bahkan semakin liar, berlomba-lomba menuliskan artikel dari yang real hingga menciptakan sebuah fakta yang di lebih-lebihkan.


Di bantu oleh pengakuan tak langsung dari Camelia, di salah satu acara podcast.


"Lia! Lo udah denger kabar Si Dia yang lagi ramai, 'kan?" tanya sang pembawa acara. Yang di balas anggukan kepala dengan senyum dari gadis berbusana seksi itu. "Terus gimana tanggapan, Lo?"


"Ya gimana... emang sebenernya udah kepikiran kesana."


"Berpikiran kesana gimana?" Sang pembawa acara itu sedikit mencondongkan tubuhnya maju. Dengan kedua tangan saling bertaut di atas pangkuan.


"Gimana, ya? Hubungan Gue dengan Si Dia dulu terbilang sepah sih, dan emang nggak bisa berjalan harmonis. Lo harus tahu, Dia sedekat itu sama manajernya. Hubungan mereka sangat-sangat abnormal kalau di sebut hanya sekedar Artis dan manajer."


Pernyataan itu lantas memberikannya dukungan dari banyak orang. Yang merasa bersyukur Camelia dan Afin telah putus. Hingga gadis yang di anggap Dewi kecantikan ini bisa terlepas dari laki-laki yang mereka kira memiliki berkepribadian menyimpang itu. Tanpa mau tahu hal yang terjadi sebenarnya.


Safa tertegun, saat menonton video itu dari benda pipih miliknya. Beserta ratusan komentar yang membuatnya geleng-geleng kepala. Buru-buru di tutup video yang tak sengaja muncul saat membuka akun sosial media.

__ADS_1


Lantas berganti membuka aplikasi chatting warna hijau. Membuka pesan yang masuk dari sang ibu dan adik. Mereka menanyakan kabar dirinya selepas kabar negatif Afin menyeruak. Dan Safa memilih untuk menjawab dengan kata baik-baik saja.


Ya, dia memang baik-baik saja karena sudah tahu sejak lama. Dan ia percaya Afin sudah benar-benar berubah. Terbukti dengan adanya janin muda di dalam rahimnya.


Justru, ia lebih khawatir pada suaminya. Walaupun laki-laki itu memilih untuk bungkam. Sebagai teman berbagi selimut. Safa tentunya memahami perasaan Suaminya saat ini.


Perempuan itu melirik kearah Afin yang sedang menyendiri di balkon. Sejak sehabis Magrib tadi, Suaminya masih tak bergerak di tempatnya. Pelan-pelan Safa menurunkan ke-dua kakinya, berjalan mendekati Arifin.


"Bang..." Sentuhan lembut di area bahu membuat pria itu menoleh sambil menyentuh punggung tangan Sang istri.


"Ya, Fa?" Afin menghela nafas.


"Abang pasti kepikiran banget, ya?" Tanyanya sambil duduk di kursi. Pria itu kembali tak menjawab selain mengalihkan perhatian ke langit. "Abang nggak perlu merasa terbebani. Pasrahkan semua sama Allah. Biarlah mengalir seperti air."


Safa tak menyanggahnya. Memang, pemberitaan ini pasti akan membuat Bunda termasuk dirinya menjadi lebih tersorot. Tapi, mau bagaimana lagi. Sudah resikonya, sebagai istri dari seorang publik figur.


Sorot mata ketegangan terlihat jelas di wajah Arifin menatap ke arah layar ipad yang ada di atas pangkuan. Sekarang kehidupannya kembali merasakan terusik. Yang di tengarai dengan munculnya satu persatu wartawan di depan pagar rumah.


Dia bahkan memilih vakum bersosialisasi di media sosial dan menutup kolom komentarnya. Sesuai arahan sang manajer baru.


Tak lama, Adzan Isya berkumandang. Safa memegangi tangan suaminya lembut.


"Kita sholat yuk, Bang. Biar hati lebih tenang, karena nggak ada satupun wadah untuk kita berkeluh-kesah selain alas sujud dan memaparkan seluruh masalah kita pada Allah," ajaknya hati-hati. Sementara sang suami kembali menghela nafas, kemudian mengangguk.

__ADS_1


Mereka beranjak, untuk menjalani ibadah sholat itu bersama-sama.


Di sudut kamar, Afin menggelar dua sajadah untuk dirinya dan Safa yang sudah siap dengan mukenanya.


Laki-laki itu menatap dinding, sambil mengosongkan pikiran yang tidak perlu. Kemudian membaca niat sholat Isya.


"Allaaaaaahu Akbar!" Afin bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya sebatas telinga. Yang di ikuti Safa di belakangnya.


Saat ini Safa merasakan, sholat yang benar-benar khusyuk dari pada sebelumnya. Suara lantunan ayat yang di bacakan Afin makin kesini makin baik saja. Seolah membawanya pada ketenangan. Mungkin karena, Pria itu membaca suratan yang lebih panjang dari biasanya.


Hingga sampai pada tahiyat akhir. Air mata Arifin luruh dari salah satu sudut matanya. Wajah sang ibu mendadak muncul bagaikan sebuah burhan di depan mata. Yang membuat hati ini semakin sesak, tak tahu ingin menjelaskan seperti apa. Jika saja semua berita ini sudah sampai ke pada Bundanya.


***


Pagi ini, Bunda Ayattul membeku. Kesibukan di tempat kerja membuat Beliau baru sempat membuka aplikasi sosial medianya. Dan langsung di suguhkan berita tentang sang anak yang diduga pelaku Hom******al.


"Astaghfirullah al'azim, Arifin... nggak mungkin!"


Kedua tangannya gemetaran. Tubuhnya limbung hingga menyandar ke dinding. Mendadak pandangannya kabur, namun beliau masih berada dalam kesadarannya.


Sambil menekan dada, Isak tangis ibu Ayattul pecah, merasa tidak percaya dengan apa yang ia baca.


Bahkan yang lebih membuatnya merasa hancur. Putra kesayangannya itu sudah melakukan hubungan intim itu berkali-kali dengan sesama jenis selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun.

__ADS_1


"Astaghfirullah... nggak mungkin anakku Arif. Ariiiif... Ya Allah, Rif...." Bu Ayattul sesenggukan sendiri di dalam kamarnya selama beberapa menit.


__ADS_2