Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 20


__ADS_3

Beberapa hari berlalu...


Seorang laki-laki dari pihak ekspedisi datang menyerahkan kotak berukuran sedang yang terbungkus kertas warna coklat seluruhnya. Tertulis juga nama Ibu Ayattul selaku pengirim dan Bapak Fatkhul Qullum selaku penerimanya.


"Terima kasih, ya," ucap Ulum setelah menerima paket tersebut.


"Sama-sama, Pak. Saya permisi..." jawabnya sebelum pergi. Ulum tersenyum dan kembali mengarahkan pandangannya pada kotak yang ada di tangan Beliau, setelahnya melangkah pelan masuk ke dalam rumah.


Di dalam, suara mesin jahit yang sedang di gunakan Aida berdengung sesekali. Hari ini ada banyak vermakan yang harus di kerjakan. Lumayan lah, buat tambah-tambah uang belanja.


"Paket dari Bu Ayattul lagi?" Tanya Beliau memutar lingkaran besi sesekali sebelum memposisikan kain baju yang hendak di jahit di bawah jarum jahit.


"Iya, ini.., nggak tahu apa lagi yang Beliau kirim." Ulum menjawab sambil meletakkan kotak tersebut di atas meja. Deru suara mesin jahit kembali terdengar.


"Segitunya, demi mendapatkan hati putri kita. Beliau pikir dengan banyaknya barang yang di kirim kita jadi langsung tergiur mengiyakan?" ujar Aida sambil fokus melakukan pekerjaannya.


Ulum tak menjawab, Beliau lantas kembali melanjutkan kegiatannya. Mengetik laporan menggunakan Laptop.


"Safa kenapa nggak kunjung ngasih jawaban, ya? Apa jangan-jangan dia suka sama laki-laki itu. Kaya Qonni?"


"Mikirin tentang menerima atau enggaknya lamaran. Itu butuh waktu, Bu. Karena berkaitan dengan ibadah seumur hidup," jawab Ulum masih fokus ke layar laptop.


Aida menghentikan pekerjaannya lantas menoleh kebelakang. "Kenapa harus banyak mikir? Tolak aja lah. Laki-laki pecandu narkoba gitu, kok, masih mikir keras. Udah jelas, Yah. Dia nggak akan taubat. Susah kalau udah kecanduan barang kaya gitu."


"Emang Ibu tahu hati manusia? Malaikat aja nggak tahu kok."


"Emang nggak tahu. Tapi kebanyakan pecandu itu akan kembali mengkonsumsinya. Walau udah masuk rumah rehabilitasi. Nggak bisa bayangin, punya anak kaya gitu. Iiiih!"


Ulum menghela nafas panjang. Beliau menjuruskan sorot matanya kearah sang istri.

__ADS_1


"Ada seorang anak laki-laki. Dia selalu bangun di tengah malam untuk melakukan tahajud. Lantas suatu waktu, anak itu membuka jendela kamar dan mengamati rumah-rumah di sekitarnya yang masih gelap. Dia lantas mencela 'sungguh! Celakanya orang-orang itu. Jam segini, bukannya ibadah cari pahala malah masih tidur!' ucapan anak itu lantas di bantah oleh ayahnya yang berkata. 'lebih celaka dia. Orang yang suka mencela keburukan orang lain dan menganggap dirinya paling beriman. Dan ingatlah orang yang suka mencela itu tidak akan mati, sebelum Allah menumpahkan ujian keburukan yang sama kepadanya.' Bisa ambil hikmah dari kisah ini, Bu?"


Kalimat panjang Ulum yang mengisahkan seorang anak laki-laki itu membuat Aida berdeham.


"Mas, kok jadi ceramahin Aida, sih?"


"Bukan ceramahin. Aku cuma mau mengingat kisah itu aja. Jadi orang jangan suka mencela keburukan orang lain. Sebagai sesama Muslim pantang mencela dosa saudaranya, apalagi menganggap diri paling baik. Karena, kita nggak pernah tahu, kapan Allah memberikan dia hidayah. Dan, apa hak kita menilai orang. Kita sendiri yang harusnya menilai diri kita. Karena ciri-ciri orang beriman nggak akan pernah sibuk memikirkan noda orang lain apalagi menghujatnya. Justru sebaliknya, mendoakan yang terbaik. Dan fokus pada dosa sendiri."


Aida mengerucutkan bibirnya. Lalu memutar tubuh kembali melanjutkan pekerjaannya. Suara mesin kembali terdengar seiring heningnya suara Aida yang tak mampu lagi membantah.


"Maaf, kalau Ayah bikin ibu tersinggung. Ayah cuma mau, ibu lebih mampu berprasangka baik sama orang."


"Iya, iya! Nggak papa. Terserah Ayah aja sama Safa. Ibu nggak mau ikut-ikutan. Alih-alih ngasih perhatian biar nggak salah memilih jalan, malah jadi kena ceramah panjang dublikaat ustadz Irshad," runtuknya lirih. Bahkan hampir kalah dengan suara mesin jahit yang sedang di gunakan.


Ulum tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Begitulah Aida, wanita yang sejatinya baik namun terkadang memang masih harus di arahkan dalam mengontrol ucapan dan emosinya. Tapi, bukankah itu manusiawi.


Di tempat lain Safa dan Qonni menghentikan laju motornya di depan toko kurma milik Ustadz Faqih. Bukan suatu kesengajaan mereka kesana. Karena Minggu ini, keduanya habis menghadiri acara seminar di salah satu tempat yang berada di kawasan Pasar Asemka.


Mereka tak sengaja lewat jalan dimana toko Faqih dan Nuha berdiri. Mampir sebentar sambil beli kurma ajwa. Kali aja bertemu Nuha di toko itu. Begitu pikir mereka. Kebetulan, tokonya sedang tidak begitu ramai pengunjung.


"Assalamualaikum!" Seru Qonni menyapa lebih dulu saat gadis itu melihat Nuha sedang bersama Faqih dan anak semata wayangnya di meja kasir.


"Walaikumsalam warahmatullah!" jawab keduanya hampir bersamaan. Nuha yang tadi sedang duduk langsung berdiri. Karena Ziya kecil berada di atas pangkuan Abinya.


"Wah, MashaAllah... Qonni. Kak Safa?!" Dengan amat senangnya Nuha langsung menghampiri mereka berdua. Padahal mereka saja sedang berjalan ke arahnya. "Kalian dari mana? Apa jangan-jangan sengaja ke sini? Kok nggak ngabarin Nuha?" tanyanya setelah memeluk keduanya secara bergantian.


"Kita habis jengjeng, dong! Cari bujang!"


"Hus! Ngawur kamu, Dek." Safa langsung membantah jengkel. Hingga memecah gelak tawa dari Nuha dan Qonni yang saling merangkul. "Kita itu habis ikut seminar tantenya Debby. Dia kan juga fansnya Ce Maryam," sambung Safa sambil menunjuk adeknya.

__ADS_1


"Oh, emang di dekat sini, Ya? Duh sayang banget aku nggak tahu. Kalau tahu pasti dateng. Aku suka karyanya yang terbaru." Kata Nuha.


"MashaAllah, ngapain repot-repot ikut seminar. Dateng aja langsung ke rumahnya sama Kak Debby. Lebih puas, Kak! Bisa foto plus minta tanda tangan tanpa antre." Qonni menimpali.


"Aaaiiih, emang sih bisa ketemu langsung kerumahnya. Maksudnya kalau ikut seminar kan enak..., Sekalian cuci mata..." bisik Nuha di akhir.


"Dih! A' Ustadz, dengerin tuh yang istrinya ngomong. Masa mau ikut seminar biar bisa cuci mata."


"Eh–" Nuha menoleh.


"Nggak papa, nanti biar Aa bilas matanya pake air Zamzam," balas A' Faqih yang ternyata sudah ada di belakang Nuha.


"Neng cuma bercanda, A'. Suka gitu baperan."


"Hemmm, nih pegang dulu. A'a keluar sebentar cari camilan." Tuturnya sambil menyerahkan Ziya dengan tatapan tajamnya beberapa detik sebelum bergeser pada kedua gadis berkerudung di hadapan Nuha. "Kalian mau minum apa?"


"Nggak usah repot-repot, A'. Kita nggak lama kok," jawab Safa sopan.


"Nggak papa, nggak repot kok. Masuk dulu sama Nuha. Maaf kondisi warung lagi berantakan," ujarnya terkesan dingin. Tapi mereka paham. Karena memang seperti itu pembawaan Beliau.


"Nggak papa."


"Yang dingin aja, A'." Qonni menjawab.


"Okeh..." Pria itu langsung berlalu. Sementara pukulan pelan dari Nuha langsung mendarat di bahu Qonni yang kontan tergelak.


"Dasar nggak bisa di ajak kompromi," runtuk Nuha yang tentunya tidak serius. "Yuk, kesana. Yang ada kipasnya biar nggak kepanasan."


"Ayo..." Mereka semua masuk ke sudut yang di kelilingi oleh etalase berisi deretan jenis madu. Tempat Faqih melakukan transaksi dengan pembelinya juga.

__ADS_1


__ADS_2