
Di dalam kamar Afin meletakkan tas selempang dan topinya di atas meja. Sementara Safa masih berdiri di sisinya. Dekat dengan jendela kaca.
"Abang nyetir sendiri?"
"Enggak, sama supir. Tanganku masih nyeri kalau pegang setir lama," jawabnya sambil merenggangkan kedua tangannya. Tubuhnya benar-benar merasa lelah hari ini.
"Oh..." Melongok dari gorden yang ia buka sedikit. Terlihat seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan masih berdiri di sisi mobil milik Suaminya sambil memegang ponsel.
Sebuah kecupan mendarat di pipi. Bersamaan dengan kedua tangan Afin yang langsung memeluk lingkar pinggang istrinya. Safa kembali menutup gorden putih itu lalu menoleh kearah sang suami.
"Kok nggak di suruh masuk, Bang?"
"Dia lagi nunggu ojek online, kok. Dan mau langsung pulang."
"Ya tapi, 'kan? Seenggaknya suruh minum dulu..." Belum selesai melanjutkan kata-kata. Sebuah ojek motor yang di pesan sudah tiba. Kedua menoleh bersamaan ke arah jendela kaca.
"Bener, 'kan?" ucap Afin.
"Bang, lain kali jangan gitu, ya?"
"Jangan gitu gimana?"
"Ya, walau Abang udah bayar Beliau. Seenggaknya kalau disini suruh lah minum dulu, kalau bisa makan juga baru pulang."
Afin terkekeh sambil garuk-garuk kepala. Pasalnya kebiasaan seperti itu jarang ia lakukan. Karena baginya, tidak ada urusan bagi Afin untuk berbasa-basi lagi jika kerjaan mereka sudah selesai.
"Bang, ngerti, nggak?"
"Iya, aku ngerti, Safa. Besok pagi 'kan Beliau kesini. Ntar aku suruh sarapan juga deh... gitu kan yang kamu mau?"
Safa mengangguk sambil tersenyum. Sementara suaminya mengangkat salah satu tangannya sedikit hanya untuk mencium aroma tubuhnya sendiri.
"Aku bau badan. Mau mandi dulu..."
"Abang nggak bau, kok." Safa memeluk lingkar pinggang suaminya, lalu mencium dada yang tertutup kaos warna hitam dengan dua huruf C sebagai logo dari Brand ternama.
"Masa sih aku nggak bau?" Mengangkat tubuh Safa sambil tertawa saking gemasnya ketika wajah istrinya bergerak-gerak di dadanya.
"Abang! Ya ampun..." Wanita itu tertawa sambil berpegangan kuat pada lingkar leher suaminya. "eh, apa nggak papa ini? tangan Abang kan belum pulih."
"Kayanya udah nggak papa, Sayang," ujarnya senang ketika sejenak ia lupa jika tangannya sedang sakit. Namun tak lama kemudian merasa lega karena tak merasakan apapun.
"Udah turunin aja, aku. Nanti sakit lagi, loh."
"nggak lah–"
"Abang, jangan macem-macem deh..."
"Kok, macem-macem? Kan hanya minta satu macem aja." Afin berniat membawa tubuh Safa ke atas ranjang. Namun belum sampai dua langkah, bibirnya sudah meringis nyeri. Kemudian menurunkan tubuhnya istrinya pelan-pelan.
"kan? Sakit lagi tangannya." Safa mendadak panik saat melihat ekspresi nyeri yang di tunjukkan Arifin.
"sedikit–"
"Abang sih, ngeyel. Tangan kamu belum sembuh betul. Nyetir aja belum mampu lama-lama. Ini malah gendong aku!" ocehnya merasa khawatir.
__ADS_1
"Aku pikir kamu itu lebih enteng daripada gayung isi Air," elaknya yang langsung mendapatkan tatapan sinis. "Enggak... Enggak... Kamu jadi suka ngomel-ngomel sekarang..." timpalnya sambil mengusap-usap lengannya yang kembali terasa nyeri.
"Aku ngomel karena kadang kamu susah di bilangin."
Di kamar itu, Safa masih terus mengoceh. Sambil mengikat tangan Afin dengan biocrepe atau perban coklat khusus patah tulang. Demi menghindari peradangan karena beban berat yang baru saja di angkat Afin.
Sementara laki-laki itu hanya duduk sambil bertopang dagu. Bibirnya tersenyum sambil memandangi sang istri berkicau di hadapannya.
Beberapa waktu berselang adzan isya berkumandang. Rasa nyeri di tangan sebelah kanan berangsur-angsur menghilang. Afin pun kembali melepaskan Biocrepe-nya sejenak. Setelah itu gegas keluar kamar untuk mandi, setelahnya melangsungkan sholat Isya berjamaah bersama istrinya.
***
Di tempat lain.
Qonni menutup laptopnya. Berbenah sebelum pulang. Semua laporan program kerja sudah di susun rapi. Kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, saatnya untuk pulang. Sesuai janji pada Ayah, yang tak lebih dari jam delapan malam.
"Yu, kamu ingat Kak Harun?" Tanyanya pada gadis yang masih sibuk memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas ransel.
"Kak Harun, mantan kating di kampus yang sekarang ngajar di Al Azhar?" tanyanya balik tanpa menoleh.
"Loh, emang Beliau ngajar di SMP Al Azhar juga?" tanya Mutia, gadis yang berteman dekat dengan Qonni sejak SMA.
Gadis dalam balutan kerudung warna hitam itu mengangguk sambil tersenyum.
"Waaaah... pantesan."
"Pantesan apa? Emmmmm, kamu naksir, ya?" goda Qonni.
"Astaghfirullah, enggak lah. Aku kan udah ada calon. Kamu itu, ya..."
"Emang sekarang, Beliau seorang Ustadz, ya?" tanyanya dengan ekspresi lemot.
"Aku terbiasa manggil Ustadz, karena memang mengikuti panggilan di sana."
Mutia manggut-manggut, sambil membulatkan bibirnya. "Yu, tapi kamu tahu nggak, sih? Kalau Kak Harun itu ternyata masih ada hubungan keluarga sama calon ku?"
"Iya kah?" Qonni mulai tertarik dengan pembicaraan yang menyangkut tentang sang mantan aktivis di kampusnya dulu.
Ya, satu tingkat di atas Ilyas. Namun, Harun terkesan lebih kalem dari pada laki-laki berkacamata yang tempo hari mengantarkan baterai laptop untuknya.
"Iya. Dan kata calon ku itu, Kak Harun lagi cari jodoh. Dia sempat mau ngelamar anaknya Ustadzah Siti. Kamu tahu 'nggak?"
"Ustadzah Siti?" Berpikiran sejenak. Karena nama itu seperti tidak asing.
Namun, sejenak wajah wanita paruh baya dengan hijab syar'i itu terlintas. Ustadzah yang kajiannya tak pernah terlewatkan Mbak Safa. Istri dari teman Pakde Irsyad.
"Ooooh,,,, Yang suaminya Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam?"
"Iya itu."
"Terus, terus... Dia mau nikah?"
"Enggak. Kak Harun di tolak sama ceweknya."
"Ya Allah... kok, bisa? padahal Ustadz Harun itu termasuk kece loh."
__ADS_1
"Nah, makanya. Maklumlah– ku dengar-dengar ceweknya itu kerja di kantor perpajakan. Jelas dia akan memilih yang lebih dari Kak Harun yang belum PNS."
"Kasian..."
"Kasian 'kan, kamu mau sama Beliau nggak?" Tembaknya langsung hingga menimbulkan suara keras Qonni sebagai respon terkejutnya.
"Kok jadi ke sana, sih?"
Gadis itu tertawa sambil memegangi tangan Qonni. "Ini bukan kebetulan, penolakan itu udah terjadi sekitar hampir dua tahunan. Sebelum kamu magang di Al Azhar. Makanya aku bilang pantesan, pas tahu ternyata Beliau juga ngajar di sana."
Qonni semakin di buat tak mengerti. Hingga Mutia bergeser lebih mendekat padanya yang sedang membisu.
"Kak Harun, tertarik sama kamu, Yu."
"A–apa? Se–sejak kapan?"
"Nggak tau. Tapi katanya, dia mau memantapkan hati sama kamu. Hanya saja dia bingung cara ngomongnya. Nggak ada yang pas untuk dijadikan perantara."
Qonni termenung, masih mendengarkan temannya berbicara dengan nada penuh semangat.
"Dan, pas seminggu yang lalu, inget nggak? Kamu lagi di sini, terus calonku datang pakai mobil?"
"Iya–" jawabnya lirih.
"Nah, calonku itu nggak datang sendiri. Tapi pas kebetulan sama Kak Harun. Dia liat kamu lagi duduk di teras rumahku. Sebelum masuk ke dalam saat calonku datang. Dan Kak Harun yang bilang ke Calonku untuk ngomong ke aku. Tentang ini, terus suruh sampaikan ke kamu."
Qonni kembali terdiam. Sebenarnya, sebelum ini ia juga mengagumi sosok laki-laki itu sejak dirinya masih jadi Maba di kampusnya. Selain karena sikapnya yang pendiam. Harun juga merupakan hafiz tiga puluh jus. Namun, karena baginya yang tak memiliki hafalan lebih dari juz tiga puluh. Qonni tak berani membayangkan untuk bisa memiliki pasangan seperti Harun.
Dan siapa sangka, di saat dirinya sudah mulai lupa dengan Dia. Sosoknya justru muncul lagi di tempatnya magang. Dan jika tidak salah, Harun juga pedagang kurma seperti suaminya Nuha. Bahkan mengajar di rumah Tahfis juga setelah pulang ngajar di SMP.
"Yu, gimana?" Tanya Mutia sambil menggoyangkan tangan Qonni.
"Aku nggak tau mau jawab apa, Mut. Ini terlalu terburu-buru. Lagian, Dia Hafiz tiga puluh juz."
"Emang kenapa kalau, Hafizh?"
"Nggak setara aja sama aku."
"Menurut aku nggak papa. Aku aja bukan Syarifah, tapi malah mau di nikahi Habib." Terkekeh, sementara lawan bicaranya masih membisu. Memikirkan sosok Harun yang adem jika tersenyum. "Emmmm– gini! semisal... Kak Harun minta nomor kamu, boleh?"
Qonni menoleh tanpa menjawab. Jantungnya mendadak berdebar-debar.
"Boleh, nggak?" Mutia kembali bertanya untuk memastikan.
"Aku ragu, Mut."
"Kenapa, ragu..."
"Ya kalau udah punya nomorku mau apa?"
"Hanya memastikan aja, Yu. Kalau kamu mau, Beliau mungkin akan mendatangi orang tua kamu."
Qonni membisu lagi walau sepersekian detik berikutnya mengangguk pelan. Tangannya mendadak gemetar.
"Alhamdulillah. Nanti aku sampaikan ke Calonku ya. Biar di sampaikan ke Kak Harun."
__ADS_1
Gadis itu tersenyum samar sambil mengangguk. Sementara bibirnya buru-buru beristighfar saat mendapati wajah Harun membayangi pikirannya.