
[Kak Alex makasih ya udah mau kabulin permintaan calon baby Ayura. Sebenernya Ayura sedikit gak tega sama kak Alex. Tapi mau gimana lagi, Ayura lebih gak tega kalau baby Ayura nanti ileran pas udah lahir karena ngidamnya yang gak di kabulin.
Ohh..iya, Ayura bakalan tungguin kakak turun ke ruang makan saat makan malem. Sekali lagi makasih uncle Kikim]
"Alesannya ngidam terus. Emang ngidam sampai berapa bulan sih?" gerutu Alex dengan wajah kesalnya. Andai bukan persahabatan dan benda pusakanya yang menjadi taruhan, sudah pasti Alex akan langsung membuang dan membakar isi paper bag pemberian Ayura.
"Kak..." Tepukan di bahu membuat Alex tersentak.
"Sayang kamu ngagetin aja," ucap Alex begitu melihat istrinya yang sudah selesai berganti pakaian.
"Kakak ngelamunin apa?" tanya Keyra penasaran kenapa suaminya bisa begitu kaget saat mengetahui kehadirannya.
"Kakak gak ngelamun Yang," elak Alex. Dan detik selanjutnya dia menarik tubuh Keyra hingga terduduk di pangkuannya.
Kedua mata Alex terpejam, sejenak dia mecium wangi tubuh harum sang istri yang masuk ke indra penciumannya. Rasanya begitu nyaman hingga sejenak dia bisa melupakan permintaan konyol Ayura.
"Kamu wangi banget Yang. Kakak suka," ucapnya sembari mengecupi pundak istrinya gemas. Bahkan dengan sengaja dia sedikit menarik kaos Keyra agar bibirnya bisa langsung menyapu kulit mulus istrinya.
"Kakak ihh..." Keyra mencoba berdiri namun tubuhnya di tahan oleh sang suami. "Udah ayo kak, kita turun buat makan malem bareng dad and mom. Lagian kita juga udah seharian gak keluar kamar. Key gak enak sama mommy."
__ADS_1
Alex mendengus sebal. Memang benar mereka seharian hanya berada di kamar. Bahkan untuk makan siang saja, Alex meminta mbak Siti untuk mengantarkannya ke kamar.
"Kamu duluan aja Yang. Nanti kakak nyusul," ucap Alex sembari melepaskan rengkuhannya. "Sebentar ya, kakak telfon mommy buat jemput kamu." Alex hendak mengambil ponselnya di atas nakas. Namun dengan cepat Keyra menahan gerak suaminya itu.
"Keyra bisa turun sendiri kak," ucap Keyra memelas. Dia senang Alex begitu peduli padanya. Tapi tak sampai seperti ini juga. Bahkan tadi saat mandi pun Alex memaksa untuk memandikannya. Hingga mau tak mau Keyra hanya bisa pasrah daripada di larang mandi oleh suami posesifnya itu.
"Tapi kamu masih sakit Yang," ucap Alex sembari menyisir dan merapikan rambut Keyra dengan jari-jari tangannya.
"Tapi Key bisa jalan sendiri kak. Kakak liat, Key udah sembuh. Bahkan kalau kak Alex gak percaya, Keyra bisa jingkrak-jingkrak untuk membuktikannya," ucap Keyra hendak berdiri dan membuktikan jika dirinya sudah sangat sehat.
"Udah-udah gak perlu. Kakak percaya sama kamu," ucap Alex menahan aksi Keyra. "Tapi kalau terjadi sesuatu saat kamu jalan ke ruang makan, kamu langsung teriak yang kenceng ya, biar kak Alex denger dan bisa langsung nolongin kamu," pesan Alex pada istrinya.
'Ya ampun timbang ke ruang makan aja berasa kayak gue mau perjalanan jauh ke Hongkong,' gerutu Keyra dalam hati. "Iya kak. Nanti Keyra bakalan teriak sekenceng mungkin."
Karena tak mau berlama-lama lagi dengan suami posesifnya, akhirnya Keyra langsung menghadiahi Alex dengan beberapa kecupan singkat di setiap sisi wajah suaminya.
"Anak pinter. Sekarang istri kakak boleh pergi," ucap Alex. Hingga Keyra dengan cepat turun dari pangkuan suaminya. Jujur saja dia sudah cukup bosan seharian di kurung di dalam kamar bersama Alex.
Disepanjang jalan menuju ruang makan Keyra terus bergumam kecil saat mengingat tingkah suaminya. "Hanya terluka kecil seperti ini aja kak Alex udah sangat berlebihan jagain aku. Gimana kalau aku sampai terluka parah?"
__ADS_1
"Key, dimana suami kamu? Kenapa turun sendirian?" Pertanyaan mom Lisa menyadarkan Keyra jika dirinya telah sampai di ruang makan.
"Ehh..." Keyra tersentak kaget saat malam ini ruang makan keluarga Kim begitu ramai. "Kok ramai?" Bukannya menjawab pertanyaan mom Lisa, Keyra justru balik bertanya.
"Kita mau nengokin kamu sayang. Kata Lisa semalam kamu masuk rumah sakit." Sembari menjawab pertanyaan Keyra, mama Rani mendekat ke arah istri Alex. "Apa ini sangat sakit nak?"
"Ehh.. enggak kok ma. Keyra udah gak pa-pa," ucap Keyra tak enak hati karena ternyata semua orang datang hanya untuk menjenguknya yang sebenarnya sudah sangat sehat.
"Ya udah sekarang kita duduk." Mama Rani menuntun Keyra menuju meja makan. "Tapi dimana Alex nak? Kenapa dia gak ikut turun?" tanya mama Rani sembari menatap sekilas ke arah tangga.
"Katanya bentar lagi nyusul ma," ucap Keyra tak enak hati. Apa lagi sekarang di meja makan bukan hanya ada kedua mertuanya saja. Melainkan ada Mama Rani dan suaminya. Ada juga Papi Genta bersama kedua anak dan menantunya. Dan tak ketinggalan pula Papa Jo dan juga Mike juga ikut hadir untuk menjenguknya.
"Kita mulai aja makan malemnya. Biarin nanti Kikim nyusul," ucap Dad Kim dan di setujui oleh semuanya. Apalagi sejak tadi mereka sudah bersabar menunggu Alex dan Keyra untuk bergabung.
Sejak memulai makan malam, Keyra merasa sangat gelisah. Beberapa kali dia melirik ke arah anak tangga dan berharap agar suaminya segera turun. Hingga setelah sekian lama menunggu, Keyra melihat sosok yang sangat dia kenali menuruni tangga.
"Kakak... Are you okay?" pertanyaan Keyra yang cukup melengking membuat pandangan semua orang di meja makan beralih ke arah tangga.
"Kim are you okay?" Mom Lisa bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Alex yang saat ini justru diam mematung di tangga terbawah.
__ADS_1
'Sial.. kenapa disini banyak orang?' Alex menelan salivanya dengan susah payah. Dia pikir di meja makan hanya akan ada Keyra, kedua orang tuanya dan sepasang suami istri lucknat. Namun ternyata dia salah. Saat ini semua orang sedang menatapnya dengan ekspresi sama. Yaitu ekspresi aneh.
"Ngapain kamu pake selimut segala?" tanya mom Lisa yang menatap tubuh putranya yang saat ini tertutup selimut dan hanya menyisakan wajahnya saja yang terlihat. "Apa kamu sakit?"