
Suster baru saja melepaskan selang infus yang sejak semalam terpasang di tangan Keyra. Dan itu artinya gadis yang hampir menginjak usia delapan belas tahun itu sudah di izinkan pulang.
"Sus, bisa tolong bawakan kursi roda?" tanya Alex pada suster yang hendak meninggalkan mereka.
"Bisa mas," jawab suster itu sebelum akhirnya pergi mengambilkan apa yang Alex pinta.
"Kak..."
"Hmm, kenapa sayang?" tanya Alex sembari menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga.
"Untuk apa kakak minta kursi roda pada suster?" tanya Keyra heran.
"Tentu saja untuk kamu sayang. Masa untuk kakak. Kan yang sakit kamu bukan kakak," jawab Alex dengan tangan yang saat ini sedang mencubit gemas hidung istrinya.
"Key bisa jalan kak. Yang sakit itu kepala Key bukan kaki. Dan itu artinya kita gak butuh kursi roda." Keyra berkata sembari mencoba turun dari ranjang pasien.
"Stop sayang. Jangan bergerak!" Alex menahan tubuh Keyra agar tak menginjakan kakinya di lantai rumah sakit.
"Kenapa lagi sih kak?" tanya Keyra heran.
"Walaupun kamu bisa jalan, tapi kamu harus tetep pakai kursi roda." Alex menjawab dengan tegas seakan tak ingin ada bantahan dari istrinya.
"Tapi kak....."
"Gak ada tapi-tapian sayang. Lagian apa salahnya sih pakai kursi roda?" tanya Alex. "Si nenek lampir aja sehat walafiat milih pakai kursi roda masa kamu enggak," sambung Alex yang kini kembali kesal saat mengingat sosok Zea.
"Tapi kita kan beda kak."
"Beda? Maksudnya?" tanya Alex tak mengerti.
__ADS_1
"Zea pakai kursi roda karna ingin mendapat perhatian dari kak Alex. Sedangkan Key tak perlu melakukan hal licik semacam itu. Karena kakak selalu perhatian sama Key sekalipun Key gak sakit sama sekali. " Keyra menjawab sembari menatap Alex dengan tatapan cintanya. Dia sangat-sangat bersyukur memiliki suami perhatian. Ya walaupun seorang pengangguran.
"Kamu benar Yang. Kamu diam aja kak Alex udah klepek-klepek. Apalagi kamu bergerak melakukan sesuatu. Bisa jadi kakak salto, koprol atau bahkan sampai jungkir balik karena terlalu terpesona," ujar Alex sembari mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Ckk.. gombal." Keyra tersenyum dengan satu tangan yang sempat memukul pelan bahu suaminya.
"Maaf mas menunggu lama, ini kursi rodanya," sela seorang perawat yang kini sudah membawakan sebuah kursi roda untuk Keyra.
"Makasih mbak," ucap Alex dan di balas anggukan kepala oleh perawat itu.
"Ayo Yang duduk di kursi roda," pinta Alex yang kini sudah mendekatkan kursi roda ke sisi istrinya.
"Key jalan aja kak," tolak Keyra yang merasa dirinya baik-baik saja dan tak memerlukan benda itu.
"Pakai kursi roda atau kakak gendong?" Alex memberikan pilihan. Dia masih cukup khawatir dengan keadaa istrinya itu.
Dengan bibir yang sudah mengerucut tajam, akhirnya Keyra memilih duduk di kursi roda daripada harus di gendong oleh suaminya. Dia masih punya malu untuk tak melakukan hal seperti itu di depan umum.
Hingga pada akhirnya mom Lisa setuju untuk pulang asalkan Alex terus memberi kabar padanya tentang perkembangan menantunya itu.
"Sayang, gimana keadaan kamu? Kok udah pulang? Apa sudah baikan? Kenapa pakai kursi roda? Apa kakimu juga terluka?" Mom Lisa langsung melontarkan rentetan pertanyaan saat melihat kedatangan putra dan menantunya.
"Key baik-baik aja mom. Dan kaki Key juga gak pa-pa. Hanya saja kak Alex yang terlalu berlebihan hingga Key harus duduk di kursi roda ini," keluh Key pada mertuanya.
"Tidak sayang. Alex tak berlebihan. Ini memang harus di lakukan agar kamu cepat sembuh," ucap mom Lisa hingga membuat Keyra melongo. Dia tak percaya ibu mertuanya berfikir hal yang sama dengan suami potektifnya.
"Tuh Yang dengerin kata mommy. Semua ini kakak lakuin demi kebaikan kamu," sahut Alex dengan senyum yang mengembang di wajahnya karena merasa memiliki pendukung.
"Udah gak usah debat," sela mom Lisa. "Lebih baik Keyra sarapan dulu dan minum obat setelah itu baru istirahat. Mommy udah bikinin kamu bubur abalone spesial. Kamu pasti suka," ucap mom Lisa yang kini sudah mendorong kursi roda Keyra ke arah ruang makan.
__ADS_1
"Dad kemana mom? Kok gak keliatan?" tanya Alex yang mengikuti langkah kedua wanita kesayangannya itu.
"Dad masih tidur. Dia baru pulang dari kantor polisi jam setengah enam tadi," jawab mom Lisa sembari mengulurkan sendok ke arah Keyra. "Mau mom suapin atau makan sendiri?" tawar mom Lisa pada menantunya.
"Key makan sendiri aja mom," jawab Key sembari menerima sendok dari mertuanya.
"Jangan sayang. Biar kakak aja yang suapin." Alex berkata sembari mengambil alih sendok yang berada di tangan Keyra.
"Key bisa sendiri kak," kata Key dengan wajah memelasnya.
"Jangan bantah. Lebih baik kamu duduk diam dan Aaa....." Alex menyodorkan sendok berisi bubur abalone ke arah mulut istrinya. Hingga mau tak mau Keyra menerima suapan dari suaminya itu.
'Huh.. sepertinya kak Alex bakalan semakin posesif dan aku gak bakalan bisa lagi melakukan apapun sesuka hatiku,' batin Keyra dengan diiringi helaan nafas beratnya.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Alex khawatir saat tak sengaja mendengar helaan nafas berat istrinya.
"Keyra gak pa-pa kak."
"Benarkah?"
"Iya kak. Udah buruan suapinnya. Keyra laper," ucap Key yang malas berdebat dengan suaminya.
Tak berselang lama, terdengar beberapa langkah kaki datang mendekat ke arah ruang makan. Dan detik selanjutnya sebuah teriakan mengagetkan semua orang disana.
"Kak Key," teriak Ayura sembari berjalan cepat ke arah Keyra.
"Sayang jangan lari-lari. Inget ada anak kita di perut kamu," pekik Ello yang was-was saat melihat tingkah istrinya itu.
Selalu saja begitu. Selalu lupa jika dia sedang hamil. Tetap saja bertingkah seperti anak kecil. Padahal sebentar lagi sudah akan menjadi seorang ibu.
__ADS_1
"Maaf kak lupa." Ayura nyengir dan mulai memelankan langkah kakinya. Hingga Ello yang tak ingin Ayura kembali berulah langsung menggandeng tangan istrinya dengan posesif.