She'S Mine

She'S Mine
Berhati-hati


__ADS_3

Alex terdiam begitu mendengar pendapat Dad Kim. Kalau boleh jujur, disudut hati Alex yang terdalam dia juga merasa curiga akan hal itu. Bahkan sejak pertama Zea berkata kakinya tak bisa di gerakan lagi.


Namun disisi lain, Alex juga tak bisa sepenuhnya mencurigai Zea tanpa alasan yang jelas. Lagi pula menurut Alex tak ada keuntungan apapun jika Zea sampai berbohong hingga sejauh ini.


"Alex rasa Zea sedang tidak berbohong Dad," ucap Alex setelah beberapa saat termenung.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Dad Kim heran. Ya walaupun Dad Kim tahu jika Alex jauh dari kata pintar, tapi setidaknya Dad Kim yakin jika Alex tak sebodoh itu hingga mempercayai Zea sampai seperti ini.


"Ya karena Alex ngerasa gak ada untungnya buat Zea bohong soal hal sebesar ini," jawab Alex.


"Dad rasa dia berbohong karena kamu!" ucap Dad Kim mengutarakan pandangannya tentang penyebab Zea yang kemungkinan besar saat ini sedang berbohong.


"Maksud Daddy?" tanya Alex tak mengerti.


"Gadis itu sepertinya menyukai kamu Kim. Mungkin dengan cara ini, dia berharap kamu bisa jadi miliknya," jawab Dad Kim. Namun perkataannya justru membuat Alex tertawa. "Kenapa ketawa?" tanya Dad Kim heran.


"Alex gak nyangka kalau Daddy selucu ini," jawab Alex masih dengan sisa tawa di bibirnya.


"Maksud kamu gimana? Dad gak ngerti."


Alex menghela nafas panjang untuk menetralkan suaranya setelah cukup lama menertawakan Dad Kim. "Gini Dad. Kalau menurut daddy Zea pura-pura lumpuh karena ingin bersama Alex, itu salah besar."


"Kok bisa?"


"Tentu saja bisa, karena beberapa bulan yang lalu Alex pernah nembak Zea. Dan Daddy tau? Zea justru menolak Alex. Jadi, kalau dia memang ingin bersama Alex, harusnya udah sejak beberapa bulan yang lalu kita pacaran," jawab Alex menjelaskan. "Sampai sini Daddy ngertikan?"


"Tapi Kim. Daddy masih ngerasa ada yang janggal dengan yang terjadi saat ini. Dad hanya khawatir jika gadis itu berniat tidak baik sama kamu."


"Daddy tenang aja. Alex udah besar. Alex juga bisa jaga diri Alex. Dan Alex janji akan tetap berhati-hati," ucap Alex meyakinkan agar Dad Kim tak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya lagi.


Dad Kim hanya bisa menghela nafas panjang. Karena dia tak mungkin memakasa Alex percaya tanpa adanya bukti yang nyata. "Baiklah kalau kamu sudah berkata seperti itu, Daddy gak bisa ngomong apa-apa lagi," ucap Dad Kim. "Kalau gitu Dad pulang dulu. Nanti biar pak Slamet sama Mbak Siti kesini buat gantian jagain Zea."


"Gak perlu Dad. Malam ini biar Alex yang jaga Zea. Nanti tolong minta pak Slamet buat bawain baju ganti aja buat Alex," ucap Alex.


"Kamu yakin akan menginap disini?" tanya Dad Kim memastikan.

__ADS_1


"Ya Alex yakin," jawab Alex dengan cepat. "Karena walau bagaimana pun Zea bisa ada di sini karena nolongin Alex," sambung Alex.


"Ya sudah terserah kamu aja." Dad Kim bangkit dari duduknya. Lalu menepuk sekilas bahu sang putra sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Alex sendirian.


"Alex akan berhati-hati Dad. Dan Alex akan cari tahu sendiri, apakah saat ini Zea sedang berbohong atau tidak," gumam Alex sembari menatap punggung Dad Kim yang semakin lama semakin menjauh.


~


Sudah dua hari Alex menjaga Zea di rumah sakit. Dan sudah dua hari pula Alex memperhatikan setiap gerak-gerik Zea. Namun sejauh ini tak ada hal mencurigakan sama sekali.


'Gue kangen banget sama elo Key,' batin Alex sembari menatap foto Keyra di galery ponselnya yang dulu sempat dia ambil secara diam-diam.


Sudah dua hari tak bertemu membuat perasaan rindu itu terasa begitu besar. Rasanya Alex ingin segera pulang dan memeluk gadis yang Alex yakini jika saat ini benar-benar sudah mengisi hatinya.


Selama dua hari ini Alex sama sekali tak meninggalkan rumah sakit karena Zea yang memang tak mau di tinggal sendirian. Bahkan saat asisten rumah tangga Alex ingin bergantian menjaga Zea, gadis itu selalu menolak dan keukeuh hanya mau Alex yang menjaganya.


"Lex, lo lagi ngapain?" tanya Zea yang baru saja terbangun dari tidur siangnya.


Alex menatap ke arah Zea. "Gak ngapa-ngapain kok," jawab Alex sembari memasukan ponselnya kedalam saku celana.


"Kenapa disitu? Sini!" pinta Zea sambil menepuk sisi kosong ranjangnya.


Zea menganggukan kepala sebagai jawaban. Dan sama seperti biasanya, Alex pun menyuapi Zea dengan sangat telaten.


"Lex, gue pengen ngomong," ucap Zea sesaat setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Iya, tapi minum dulu." Alex mengulurkan segelas air putih ke arah Zea.


"Sekarang boleh ngomong?" tanya Zea sesaat setelah menghabiskan segelas air putih yang di berikan Alex padanya.


"Tentu saja. Lo mau ngomong apa?" Alex balik bertanya.


"Emm... lo masih inget kan janji lo sama gue beberapa hari yang lalu?" Zea kembali bertanya.


"Janji gue yang mana Zee?" Alex mengerutkan dahinya seolah sedang mencoba mengingat janjinya pada Zea.

__ADS_1


"Yang kamu......"


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan pintu hingga membuat Zea tak melanjutkan ucapannya.


"Itu siapa ya yang ngetok pintu?" tanya Alex setelah menatap sekilas pintu ruang rawat inap yang masih tertutup rapat.


Zea mengangkat kedua bahunya tak tahu. Karena Zea merasa tak ada satupun keluarga ataupun kerabat yang mengetahui jika dirinya berada di rumah sakit. "Atau mungkin mbak Siti nganter makan siang," ucap Zea. Karena memang setiap jam makan siang, asisten rumah tangga Alex itu akan datang membawakan makan siang untuk majikannya.


"Tapi biasanya mbak Siti langsung masuk kalau udah ngetok pintu sekali," jawab Alex tak yakin jika asisten rumah tangganya lah yang datang.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Udah liat dulu Lex," perintah Zea yang juga cukup penasaran dengan siapa yang mengetuk pintu ruang rawat inapnya.


"Iya. Gue liat dulu." Alex berdiri dari duduknya dan berjalan santai menuju ke arah pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


Seolah tak sabar, pintu itu kembali di ketuk untuk kesekian kalinya. Namun kali ini ketukan terdengar sedikit lebih kencang.


"Iya- iya sabar," ucap Alex sembari memutar gagang pintu dan menarik daun pintu ke dalam hingga menimbulan suara gesekan antara daun pintu dengan lantai.


"Kenapa lama sekali," gerutu seorang gadis dengan wajah kesalnya. Sedangkan Alex kini justru diam terpaku menatap gadis di hadapannya itu.


"Kak....."


"Keyra kamu disini?" Alex mendekat dan langsung memeluk gadis kesayangannya. Dia tak menyangka jika orang yang sejak tadi mengetuk pintu adalah Keyra, gadis yang sangat dirindukannya.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Alex begitu melepaskan pelukannya. Dia sangat senang, akhirnya kerinduannya dibayar tunai saat ini juga.


Keyra mengangkat rantang makanan di tangannya. "Mommy minta Key buat nganter ini untuk makan siang kak Alex."

__ADS_1


"Mommy emang paling ngertiin gue," gumam Alex tersenyum senang. Bukan karena rantang makan siangnya. Tapi karena gadis yang membawa rantang makan siang itu.


"Lex siapa yang dateng?"


__ADS_2