She'S Mine

She'S Mine
Rumah Sakit


__ADS_3

Saat hendak berbalik, Alex merasakan tubuhnya di dorong hingga melayang ke samping dan berakhir dengan terjatuh di lantai.


Brug


"Auww......" pekik Zea sesaat setelah terdengar suara keras dari benda yang terjatuh.


Alex yang saat ini masih terduduk di lantai langsung menatap ke sumber suara. Dia membulatkan kedua matanya saat melihat Zea terkulai lemah dengan kaki bercucuran darah segar.


"Zee/Zea...." pekik Alex dan seluruh crew disana. Mereka semua langsung berlari mendekat ke arah Zea yang saat ini tertimpa softbox.


"Zee are you oke?" tanya Alex sesaat setelah beberapa crew memindahkan softbox dan stand lighting yang menimpa Zea.


"Sakit Lex," rintih Zea dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Cepat panggil ambulans! " perintah Hiro pada salah satu stafnya.


"Zee kamu tenang ya. Semuanya akan baik-baik aja," ujar Alex menyemangati Zea.


"Sakittt......" Zea kembali merintih sebelum akhirnya tubuhnya melemas dengan kedua matanya yang mulai terpejam.


Tak butuh waktu lama ambulans pun datang. Akhirnya Zea di bawa ke rumah sakit terdekat dengan di temani oleh Alex dan juga Hiro.


"Dia akan baik-baik aja Lex." Hiro menepuk bahu Alex sesaat setelah Zea masuk ruang IGD.


"Tapi dia terluka karna nolongin gue kak," ucap Alex lirih. Dia merasa sangat bersalah. Apalagi saat melihat luka Zea yang pasti terasa sangat menyakitkan.


"Semua terjadi karena kecelakaan Lex dan ini bukan salah lo! Gue juga yakin Zea akan baik-baik aja." Hiro mencoba menenangkan Alex yang kini sedang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Zea.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pintu ruang IGD terbuka. "Bagaimana keadaannya dok?" tanya Alex pada dokter yang baru saja keluar dari balik pintu IGD.


"Sejauh ini semuanya masih dalam kondisi cukup baik. Hanya saja ada beberapa luka yang harus kita jahit di kakinya. Dan untuk lebih jelasnya nanti kita akan kembali melakukan pemeriksaan setelah pasien siuman," ujar dokter menjelaskan.


Alex menghembuskan nafas lega. "Apa kami boleh melihatnya sekarang dok?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kalian boleh melihatnya sekarang. Karena setengah jam lagi pasien akan di pindahan ke ruang perawatan," jawab dokter paruh baya itu.


Dan disinilah Alex dan juga Hiro, berdiri tegak di sisi ranjang yang berada di dalam ruang IGD. Keduanya menatap iba Zea yang saat ini masih tertidur di atas ranjang pasien.


"Gue balik duluan ke tempat pemotretan. Dan karena ada kecelakan kerja seperti ini, otomatis pemotretan harus kita undur," ucap Hiro setelah beberapa saat mereka saling terdiam.


"Iya kak. Makasih udah anter Zea," sahut Alex tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Hiro. Karen fokusnya kini masih tertuju pada gadis yang sudah menyelamatkan dirinya.


Sudah setengah jam lebih sejak Zea di pindahkan ke ruang inap, namun Alex tak melihat tanda-tanda gadis itu akan bangun. Hingga hal itu membuat Alex cukup khawatir.


"Zee, kenapa lo belum bangun juga? Please cepet bangun Zee. Gue khawatir sama lo?" gumam Alex sembari menggenggam tangan Zea.


Hingga tak lama berselang, kedua mata Zea yang masih tertutup kini mulai terlihat bergerak gelisah. Dan dengan perlahan Zea nampak membuka kedua matanya.


"Zee... kamu udah bangun?" Alex yang tadinya sedang duduk kini langsung berdiri tepat di samping ranjang Zea.


Zea mengalihkan pandangan ke arah Alex. "Gue dimana?" tanya Zea lirih.


"Lo ada di rumah sakit. Tadi lo nolongin gue sampe lo terluka," ucap Alex mengingatkan. "Lo baik-baik aja kan Zea?"


"Hah.. Kamu serius Zee?" tanya Alex tak percaya. Pasalnya tadi dokter mengatakan jika keadaan Zea cukup baik.


"Lo gak percaya sama gue?" tanya Zea sembari memegang kakinya yang terluka.


"Sorry bukan maksud gue gak percaya Zee. Tapi tadi kata dokter........."


"Gue yang ngerasain Lex. Bukan dokter!" ucap Zea sedikit menyentak hingga membuat Alex tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Gue panggilin dokter!" Alex yang kini kembali merasa khawatir dengan keadaan Zea memilih langsung berlari keluar. Dia bahkan lupa jika di dekat ranjang ada tombol nurse call.


Tak lama berselang, Alex kembali masuk dengan seorang dokter dan dua orang perawat yang akan memeriksa Zea.


"Lebih baik masnya tunggu di luar!" perintah seorang perawat.

__ADS_1


Alex berdiri gelisah tepat di depan pintu ruang inap. Dia masih sangat khawatir dengan keadaan Zea saat ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kaki Zea? Apa yang harus Alex lakukan? Karena walau bagaimanapun Zea terluka karena menyelamatkan dirinya.


Drt.. Drt.. Drt..


Suara dering telepon mengagetkan Alex. Namun tanpa menunggu lama dia pun langsung mengangkat panggilan telepon yang tak lain dari sang Daddy.


"Hallo Dad..."


"Kim gimana keadaan kamu? Kata Hiro kamu tertimpa lighting. Apa ada luka serius? Kamu di rumah sakit mana sekarang? Daddy mau susulin kamu sekarang." Dad Kim mencerca Alex dengan banyak sekali pertanyaan. Bahkan terdengar jelas jika saat ini Dad Kim sangat mengkhawatirkan putra semata wayangnya itu.


"Dad Alex baik-baik aja. daddy gak perlu sekhawatir itu sama Alex. Lagi pula bukan Alex yang tertimpa lighting, tapi Zea. Zea terluka karena nyelametin Alex. Dan sekarang Alex masih di rumah sakit buat jagain dia," sahut Alex menjelaskan.


"Kamu beneran gak pa-pa?" tanya Dad Kim kembali memastikan.


"Yes Dad. I'm Oke."


"Syukurlah. Tapi dad akan tetap menyusulmu. Jadi beri tahu daddy, kamu ada di rumah sakit mana sekarang?"


Alex pun memberitahu nama dan alamat rumah sakit sebelum akhirnya panggilan telepon mereka berakhir. Dan saat itu juga bertepatan dengan dokter yang keluar ruang inap Zea.


"Gimana dok? Apa yang terjadi dengan kaki Zea?" tanya Alex tak sabar ingin mengetahui keadaan Zea.


"Untuk sekarang saya belum bisa memastikan penyebab pasien tidak bisa menggerakan kakinya. Karena kita harus melakukan pemeriksaan rontgen lebih dahulu, untuk mengetahui penyebab pasti kenapa kaki pasien tak dapat di gerakan," ujar dokter itu menjelaskan.


"Kapan pemeriksaan itu akan di lakukan dok?" tanya Alex lagi.


"Setengah jam lagi suster akan kembali kesini untuk menjemput pasien," jawab dokter itu.


Setelah mendapat penjelasan singkat tentang kondisi Zea, Alex langsung masuk kedalam ruang inap untuk melihat keadaan Zea.


Dan dari tempatnya berdiri, Alex dapat melihat jelas Zea yang sedang menangis. Rasanya tak tega, tapi Alex tak tau harus berbuat apa.


"Zee, maafin gue," ujar Alex yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.

__ADS_1


"Kaki kiri gue gak bisa di gerakin lagi kayak dulu Lex. Gue lumpuh. Gue cacat," ucap Zea dengan suara parau akibat tangisannya.


__ADS_2