She'S Mine

She'S Mine
Rencana Pertama


__ADS_3

Setelah mencatat pesanan Alex, pelayan itu menatap ke arah Zea. "Kalau mbaknya pesen apa?" tanya pelayan itu pada Zea dengan wajah sedikit iba pada gadis lumpuh di hadapannya.


Pasalnya sejak tadi tak ada satu pun dari Alex ataupun Keyra yang menawari ataupun menanyai Zea perihal menu pesanannya. Bahkan keberadaan Zea seolah-olah tak kasat mata.


"Samain aja sama mereka mbak," jawab Zea yang mencoba terlihat seramah mungkin. Padahal saat ini hatinya sudah berubah menjadi abu karena sejak tadi terbakar cemburu dengan sikap Alex yang begitu memperhatikan Keyra.


"Baiklah, tunggu sebentar ya mbak, mas. Pesanannya akan kami siapkan dulu," ucap pelayan itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja mereka.


Tak butuh waktu lama hingga tiga mangkuk bakso plus tiga gelas jus jeruk tersaji di meja mereka.


"Zee, liat itu deh." Alex tiba-tiba menunjuk ke arah luar restoran hingga membuat Zea mengikuti arah yang di tunjuk oleh Alex. "Kamu liat cowok itu kan? Itu Reno bukan sih?" tanya Alex yang sengaja mengalihkan perhatian Zea.


Sedangkan di sisi lain, Keyra kini langsung sibuk mencapurkan obat ke mangkuk bakso milik Zea. Ya, dia memang sengaja memesan bakso agar Zea ikut memesan makanan berkuah itu. Karena jika Zea ikut memesan bakso maka rencana Keyra akan berjalan lebih mudah karena obat yang dia masukan akan mudah larut dan tercampur.


"Mana sih Lex?" tanya Zea yang sampai sekarang masih belum melihat sosok Reno yang di maksud oleh Alex.


"Itu Zee yang pakai baju merah," ucap Alex sembari melirik ke arah istrinya yang kini sudah memberi tanda oke dengan jari-jari tangannya.


"Yang baju mereh gendong anak itu?" tanya Zea memastikan.


"Iya itu," jawab Alex yang kini sudah fokus dengan mangkuk bakso di hadapannya.


"Bukan Lex. Reno kan tubuhnya proporsional. Gak gemuk dan pendek kayak gitu," balas Zea terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu, bisa-bisanya Alex mengira bapak paruh baya itu Reno.


"Oh bukan ya? Berarti gue salah liat," sahut Alex. "Udah makan dulu bakso kamu Zee, nanti keburu dingin," perintah Alex sembari menyodorkan mangkuk bakso milik Zea.

__ADS_1


"Iya Lex, aku makan ini." Zea tersenyum saat kembali mendapat perlakuan manis dari Alex. Padahal sejak tadi dia menjadi sosok yang terabaikan.


"Bagus, jangan lupa abisin," ucap Alex lagi. Dan tentu saja Zea dengan senang hati menuruti perintah Alex untuk menghabiskan bakso miliknya.


Disisi lain tanpa sepengetahuan Zea, kini Alex dan Keyra sedang saling pandang seolah mengatakan jika rencana pertama mereka sudah berhasil.


"Mau nambah Zee?" tanya Alex saat melihat Zea benar-benar menghabiskan baksonya, bahkan hingga tetesan kuah terakhir.


"Udah Lex, aku udah kenyang," jawab Zea sesaat setelah menengguk jus jeruknya.


"Sayang pelan-pelan makannya," ucap Alex pada Keyra. "Liat nih sampe kuahnya cemong kemana-mana," ucap Alex lagi sembari mengusap bibir Keyra dengan ibu jarinya.


"Sayang?" tanya Zea saat mendengar Alex memanggil Keyra dengan sebutan yang harusnya di tujukan untuknya.


Terdengar suara kentut yang cukup keras di ikuti dengan bau yang menyengat sebelum Alex menyahuti ucapan Zea.


"Zee, lo kentut?" tanya Alex sembari menutup hidungnya saat indara penciumannya mulai mencium bau busuk.


"Maaf Lex, gue gak sengaja." Zea menundukan kepalanya sembari memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mulas. Bahkan karena terlalu mulas dia mengabaikan rasa malunya hingga dirinya kembali ketut untuk kesekian kalinya.


"Mending lo ketoilet sana. Sumpah, bau banget ketut lo," usir Alex sembari megibas-ngibaskan tangannya.


"Iya kak. Mending kak Zea ke toilet dulu sana. Ini bau banget. Takut pengunjung lain ngamuk," sahut Keyra ikut mengusir Zea.


Dan mau tau mau Zea pun buru-buru pergi ke toilet. Karena pada kenyataannya dia juga sudah tidak tahan saat sesuatu di dalam perutnya mulai mendesak ingin keluar.

__ADS_1


"Yang, itu beneran nenek lampir gak bakalan kenapa-napa?" tanya Alex khawatir. Bukan khawatir pada Zea tapi khawatir pada Keyra yang bisa saja di penjara jika terjadi sesuatu pada Zea.


"Kakak tenang aja. Itu cuma obat pencuci perut kok. Palingan kak Zea cuma bakalan keluar masuk toilet aja," jawab Keyra mencoba menenangkan kekhawatiran Alex. "Sebenernya pengen Keyra sih tadi bakso nenek lampir di campur sama racun tikus. Tapi ternyata Keyra tak setega itu," ucapnya sambil terkekeh.


"Kamu itu." Alex yang merasa lega langsung menarik tubuh Keyra kedalam pelukannya. "Maafin kakak udah libatin kamu di dalam masalah kakak," ucap Alex yang merasa bersalah karena istrinya harus ikut di repotkan dengan permasalahannya.


"Kakak jangan ngomong gitu," sahut Keyra tak suka "Kita kan suami istri. Udah seharusnya kita selalu ada untuk satu sama lain."


Alex menganggukan kepalanya. "Ya udah kita lanjutin rencana selanjutnya," ucap Alex sembari melepaskan pelukannya.


"Ya udah yuk." Keyra berdiri lalu mengambil tas Zea yang ada di atas meja.


~


"Ahh.. sial, ini kenapa perut gue mules banget," gerutu Zea yang sudah bolak balik masuk ke dalam toilet untuk kesekian kalinya.


Setelah hampir satu jam bertapa di dalam toilet, akhirnya perut Zea sudah mulai kembali normal hingga dia memutuskan untuk kembali.


"Dimana mereka?" Zea menatap meja yang dia tempati tadi telah kosong tanpa ada Alex dan juga Keyra. "Handphone gue? Astaga, tadi ada di dalam tas," gumam Zea yang baru ingat jika dirinya lupa membawa tasnya karena terlalu terburu-buru.


"Ckk... dimana sih mereka?" Zea masih menggerutu kesal sebelum akhirnya seorang pelayan datang menghampirinya.


"Mbak, ini tasnya," ucap pelayan itu sembari mengulurkan tas milik Zea yang tadi sempat dititipkan oleh Keyra.


"Ahh, makasih mbak. Btw, mbak tau kemana teman-teman saya?" tanya Zea dengan kedua tangannya yang menerima uluran tas miliknya.

__ADS_1


__ADS_2