She'S Mine

She'S Mine
Asli atau KW


__ADS_3

Akhirnya Alex mengangkat panggilan telepon dari Zea setelah beberapa kali panggilan.


"Hallo Lex. Lo dimana? Kok belum kesini? Gue masih nunggu di restoran nih, cepetan balik kesini ya!" Zea mencerca Alex dengan berbagai pertanyaan sembari melirik sinis ke arah pelayang yang saat ini masih setia berdiri di sampingnya.


"Gue udah ada di rumah. Lo langsung pulang aja! Gak perlu nunggu gue!" perintah Alex.


"Tapi Lex gue gak bisa pulang sebelum gue bayar semua makanan yang lo pesen. Setidaknya lo transferin ua......."


Tut.. Tut.. Tut..


Telepon terpurus sebelum Zea menyelesaikan ucapannya. Dan seakan tak mau menyerah, Zea kembali menghubungi nomor telepon Alex, namun sayangnya kali ini Alex tak lagi mengangkat panggilan telepon darinya. "Ahh....sial..." umpat Zea dalam hati.


"Gimana mbak?" tanya pelayan yang sejak tadi menunggu kepastian dari Zea.


"Sabar kenapa sih mbak!" sentak Zea. "Saya juga lagi usaha ini," ucapnya sembari mengetik pesan dan mengirimkannya ke Alex.


[Lex, kalau lo gak bisa kesini tolong transferin duit ke rekening gue dua puluh juta aja buat bayar semua pesenan lo]


Semenit, dua menit, Alex hanya membaca pesan dari Zea tanpa berniat membalasnya.


[Lex bales dong! Ini kan buat bayar pesenan lo. Masa lo gak ada tanggung jawabnya sama sekali]


Zea mulai kesal dan tak bisa menahan emosinya. Apalagi saat ini manager restoran sudah ikut mendatanginya.


[Lex]


[Alex, please bales]


Berbagai umpatan sudah di lontarkan Zea untuk Alex. Bahkan semua nama hewan di kebun binatang sudah dia absen satu persatu demi meluapkan kekesalannya pada pria itu.


"Jadi gimana mbak?" tanya manager restoran menyela.

__ADS_1


"Sabar dong pak. Ini chat saya belum di bales," sahut Zea dengan wajah kesalnya karena terus di desak untuk segera membayar tagihan makanan tadi.


"Kami sudah terlalu lama bersabar mbak. Kami juga mau tutup. Memang mbak mau tidur di dalam mall ini? Disini kalau malem horor lho mbak," ucap manager itu sembari menampilkan ekspresi takutnya.


Zea yang mendengar kata horor seketika itu juga langsung merinding. Bulu kudunya berdiri. Ya walau sebenarnya tak perlu di beri tahu pun Zea mengetahu jika mall sudah tutup tentu saja di dalam mall akan terasa sangat menakutkan.


"Gimana mbak? Bisa kita melakukan pembayarannya sekarang?" tanya manager itu untuk kesekian kalinya.


"Maaf pak, tapi saya tidak memiliki uang sebanyak itu," ucap Zea dengan kepala yang sudah menunduk malu.


"Mbak jangan bercanda deh. Saya tidak semudah itu untuk di bohongi. Saya bisa liat semua barang-barang yang mbak pakai itu mahal. Bahkan ponsel milik mbak itu adalah salah satu ponsel tipe terbaru yang baru rilis bulan ini. Dan harga barunya pun masih tembus di angka puluhan juta," ucap manager itu sembari melirik ponsel mewah yang berada di genggaman tangan Zea.


Zea mengikuti pandangan pria itu. Dia menatap ponsel kesayangannya yang baru dia beli dua minggu yang lalu sebelum drama kecelakaan yang dia buat. Dan benar apa yang di katakan manager itu jika harga ponselnya memang sangat mahal. Tapi untuk menuruti gengsinya, semahal apapun barang itu, akan tetap Zea beli.


"Jadi lebih baik mbak bayar sekarang! Atau mbak akan berurusan dengan keamanan mall atau mungkin kepolisian." Maganager itu berkata dengan dibumbui sedikit ancaman.


"Tapi saya gak bohong pak. Saya gak punya uang sama sekali." Zea yang mulai ketakutan langsung membuka semua isi dompetnya yang hanya menyisakan uang tunai satu jutaan.


"Bagaimana dengan saldo di rekening anda? Saya yakin isinya saldo anda lebih dari cukup untuk membayar semua tagihan restoran kami," ujar manager itu yang masih menyakini jika Zea adalah orang kaya.


"Astaga mbak-mbak." Manager itu menggelengkan kepalanya tak percaya. "Ternyata saya benar-benar menemui orang yang ekonominya sulit tapi gayanya elit," sindir manager itu.


"Selagi gaya saya tak mengurangi beras di rumah anda, tolong jaga mulut anda!" ucap Zea dengan lantang. Jujur saja dia tak terima mendengar sindiran manager itu.


"Baiklah, maafkan mulut saya yang sudah terlalu lancang." Manager itu menundukan kepalanya sebagai permohonan maaf.


"Hmm...."


"Tapi disini saya harus tetap meminta hak restoran kami. Mbak harus tetap membayar semua makanan yang sudah mbak pesan."


"Saya bakalan bayar kalau saya punya uang. Tapi disini saya gak bisa bayar. Bapak liat sendirikan seluruh saldo saya tidak mencapai lima belas juta," ucap Zea mulai frustasi terus di desak untuk membayar makanan yang sama sekali tak dia pesan.

__ADS_1


'Awas lo Keyra. Gue yakin Alex ngelakuin ini ke gue karena lo yang bujuk. Dan gue bersumpah bakalan bales lo setelah gue lepas dari restoran sialan ini.'


"Kalau mbak gak punya uang, mbak bisa pakai ponsel milik mbak itu," ucap manager restoran itu.


"Enak aja bayar pake HP saya. Ini saya beli harganya dua kali lipat dari yang harus saya bayarkan ke restoran ini," tolak Zea menatak-menatah. Tentu saja dia tak mau rugi. "Kalau mau saya bayar pake tas saya aja," sambung Zea memberi solusi.


"Maaf mbak, tapi saya gak tau tas mbak ini asli atau KW. Saya juga gak mau ambil resiko." Manager itu menolak tegas solusi yang Zea berikan.


"Enak aja bapak kalau ngomong. Walaupun ukurannya kecil kayak gini, tapi saya bisa jamin kalau tas ini seratus persen asli," ucap Zea tak terima tas miliknya di bilang KW. Ya walaupun dulu dia membeli second tapi setidaknya tasnya benar-benar asli bukan imitasi.


"Maaf mbak, tapi saya sudah bilang. Saya gak mau ambil resiko," ucap pria itu.


"Tapi kalau bayar pake HP saya yang rugi," sahut Zea.


"Itu semua terserah mbak. Kalau mbak tidak menyetujui solusi yang saya berikan, dengan senang hati saya akan membawa mbak ke pihak keamanan mall. Dan jangan salahkan saya jika pada akhirnya mbak harus bermalam di mall ini atau mungkin bermalam di balik jeruji besi." Manager itu kembali memberi ancaman. Karena sejujurnya dia sudah mulai lelah berdebat tanpa ada hasil seperti ini.


Sejenak Zea terdiam. Dia juga tak bisa membuang-buang waktu seperti ini. Apalagi dia hanya punya sisa waktu tiga hari untuk menjerat Alex.


"Baiklah. Kalau anda mau ponsel saya. Silahkan ambil," ucap Zea yang langsung menyodorkan ponselnya dengan kasar. 'Gue bisa dapetin sepuluh ponsel seperti itu dari Alex.'


"Terimakasih mbak atas kerja samanya." Manager dan pelayan tadi menunduk memberi hormat.


"Dasar mata duitan." Zea menatap sinis ke arah pelayan dan manager di hadapannya sembari berdiri dari kursi rodanya. Dan tanpa permisi Zea mendorong kursi rodanya dan meninggalkan kedua orang di hadapannya yang kini tengah menatapnya heran.


"Kenapa dia pakai kursi roda kalau bisa jalan?"


.


.


.

__ADS_1


Makin sepi aja nih, udah mulai pada bosen ya๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Btw jangan lupa kasih like sama komen ya, syukur-syukur kasih vote sama hadiah๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2