
Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alex memikirkan semua perkataan Keyra yang cukup mengusik hati dan pikirannya.
'Apa kak Alex udah tahu kalau sebenernya kak Zea itu gak lumpuh?' Alex menggelengkan kepalanya.
"Gak mungkin Zea berbohong hal sebesar ini," gumam Alex.
'Kak Alex juga harus tahu kalau luka dia tak separah yang kakak pikirkan! Please buka mata kakak. Jangan bodoh!' Perkataan Key beberapa saat lalu kembali berputar-putar di kepalanya.
"Masa sih gue bodoh? Tapi gue sangat yakin kalau Zea gak mungkin bohong," ucap Alex bermonolog.
'Gak masalah kalau saat ini kak Alex gak percaya sama Key. Tapi Key tetep bakalan buktiin ke kak Alex kalau Zea gak cacat ataupun lumpuh!'
"Liat Key yang seyakin itu, kok gue jadi ragu ya sama Zea. Atau emang bener apa yang di ucapin Keyra tadi?"
Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Jujur saja saat ini hatinya mulai bimbang. Karena semua orang mengatakan luka Zea tak separah itu. Tapi disisi lain Alex juga bingung, karena kaki kiri Zea terlihat lemas dan tak bisa di gerakan.
'Apa mungkin Zea berakting semeyakinkan ini?' tanya Alex dalam hati.
"Lex, are you oke?" tanya Zea saat melihat wajah kusut Alex begitu masuk ke dalam ruang rawat inapnya.
"Gue gak pa-pa kok. Kamu sendiri gimana? Udah gak sakit lagi kakinya?" tanya Alex yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.
"Udah mendingan kok Lex."
"Hah? Jadi bener apa yang di katakan Keyra? Kalau sebenernya kaki kamu gak mati rasa?" Alex yang tadi hanya iseng ingin membuktikan ucapan Keyra kini justru mendapati jawaban yang mengejutkan dari Zea.
Deg
__ADS_1
Zea diam membeku. Dia mengrutuki kebodohannya yang lupa jika saat ini sedang berpura-pura jika kaki kirinya mati rasa. 'Mampus gue.'
"Zee jelasin ke gue!" perintah Alex dengan wajah memerah menahan amarah.
"Lo dengerin gue dulu Lex. Maksud gue yang mendingan itu darah yang keluar dari kiki gue udah gak sebanyak tadi. Bukan sakit di kaki gue," sahut Zea berkilah.
"Udah deh Zee gak usah bohong lagi!" sentak Alex.
"Gue gak bohong Lex. Kaki kiri gue emang mati rasa. Kalau lo gak percaya, pukul kaki gue sekuat tenang lo!" perintah Zea menantang.
Alex terdiam. Dia tak mungkin melakukan hal gila itu hanya untuk membuktikan ucapan Keyra. Alex tak mau gegabah. Kalaupun Zea sedang berbohong, masih banyak cara yang bisa dia lakukan untuk membuktikannya nanti.
"Kenapa diam? Pukul Lex pukul kaki gue," teriak Zea sembari memukul-mukul kakinya sendiri.
"Stop Zee!" Alex menahan tangan Zea yang seakan tak mau berhenti memukul.
"Cukup Zee cukup! Gue percaya," Alex langsung memeluk Zea dengan sangat erat. Jujur saja Alex takut jika apa yang Zea lakukan akan membuat luka di kakinya semakin terluka parah.
"Lepasin gue Lex lepas. Lo gak percaya sama gue kan? Lo lebih percaya sama perempuan tadi? Perempuan yang udah buat gue jatuh di kamar mandi dan juga buat luka gue kembali mengeluarkan darah. Kenapa Lex? Kenapa lo justru lebih percaya dia." Zea berteriak dengan suara parau akibat tangisannya.
"Bukan gitu Zee. Sumpah gue gak maksud gitu."
"Udah deh Lex. Gak pa-pa kalau lo emang lebih percaya sama dia daripada gue yang udah ngorbanin diri gue sendiri demi elo. Gak pa-pa gue beneran gak pa-pa kalau lo gak percaya sama gue. Gue emang gak pantes lo percaya setelah apa yang dulu pernah gue lakuin ke elo," ucap Zea dengan suara yang semakin tak jelas karena beriringan dengan suara tangisannya.
Sedangkan saat ini Alex hanya bisa mengucapkan kata maaf dan maaf. Karena dia sadar jika Zea terbaring di rumah sakit seperti ini juga karena menolong dirinya.
"Gue capek Lex capek. Setelah pengorbanan gue sejauh ini, elo justru gak percaya sama gue. Sakit Lex, sakit hati gue," ucap Zea merancau.
__ADS_1
"Rasanya gue pengen mati aja kalau tahu hidup gue bakalan sehancur ini. Gue cuma punya elo di hidup gue Lex. Dan elo justru gak percaya sama gue. Jadi buat apa gue hidup." Zea kembali meronta sekuat tenaga agar bisa melepaskan diri dari rengkuhan Alex.
"Maafin gue Zee, maaf gue gak maksud buat gak percaya sama elo. Maafin gue." Alex tak menyangka ketidak percayaannya pada Zea kembali membuat gadis itu berada di titik terendahnya. Bahkan sampai kembali berniat mengakhiri hidupnya.
"Lo gak perlu minta maaf Lex," sahut Zea sinis. "Lagi pula gue yakin lo udah mulai bosen jagain orang cacat kayak gue. Jadi cepat atau lambat gue juga bakalan tetep mati. Dan gue milih mati lebih cepet. Biar penderitaan gue juga cepet berakhir."
"Please stop Zee! Jangan pernah ngomong gitu lagi. Gue gak suka." Alex melepaskan pelukannya dan menatap Zea dengan sangat intens.
"Trus gue harus ngomong apa Lex?" tanya Zea tersenyum sinis. "Nyatanya hidup gue udah hancur sejak kaki ini gak bisa di gunain lagi. Dan sekarang gue juga udah gak punya siapa-siapa lagi. Elo satu-satunya orang yang gue punya justru percaya sama orang lain."
"Hidup lo belum berakhir Zee. Gue yakin kaki lo bakalan sembuh. Dan ada gue di sini buat elo Zee. Inget masih ada gue."
"Lo hanya ada saat ini aja Lex. Tapi gak untuk kedepannya. Dan gue tahu itu."
"Gue bakalan selalu ada buat lo Zee. Please jangan berfikir kalau gue bakalan ninggalin elo."
"Bullshit." Zea berkata dengan ketus.
"Gue bicara jujur Zee. Gue gak bakalan ninggalin lo! Gue akan selalu disisi lo kapan pun lo mau." Alex berkata dengan sangat yakin.
"Kalau gitu buktiin! Biar gue bisa percaya sama lo," sahut Zea kembali menantang Alex.
"Oke gue buktiin," ucap Alex. "Lo mau bukti apa dari gue?"
"Lo bilang lo gak bakalan ninggalin gue. Jadi gue pengen lo buktiin dengan cara lo jadiin gue milik lo," jawab Zea.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Nikahin gue sekarang Lex!" pinta Zea.