
Keyra menatap ke arah suaminya yang terlihat sedang sibuk mengirim pesan untuk seseorang.
"Siapa kak?" tanya Keyra sesaat setelah Alex memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Zea nanyain kita," jawab Alex hingga membuat wajah Keyra di tekuk. Jujur saja dia tak suka suaminya itu berbalas pesan dengan siluman ular itu.
"Hey kenapa wajahmu cemberut gitu?" tanya Alex saat melihat perubahan ekspresi wajah istrinya.
"Gak pa-pa," jawab Keyra singkat dan langsung memfokuskan pandangan pada layar di depannya.
"Jangan cemberut gitu Yang. Kakak gak kirim pesan aneh-aneh kok ke Zea. Sumpah," ucap Alex yang menyadari perubahan ekspresi wajah Keyra sesaat setelah mengetahui jika dirinya berkirim pesan dengan Zea.
"Kalau sayang gak percaya, sayang boleh cek HP kakak." Alex kembali merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel miliknya. Namun tangan Keyra justru menahannya.
"Gak usah kak. Keyra percaya kok." Keyra berkata dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Alex ikut tersenyum, akhirnya istrinya sudah kembali seperti biasanya. "Sini Yang!" Alex menuntun kepala istrinya agar bersandar di bahunya.
"Kakak tau gak?" tanya Keyra sesaat setelah mengalungkan tangannya di lengan Alex.
"Tau apa Yang?"
"Sebenernya menonton film dengan pasangan adalah salah satu mimpi Keyra," jawab Keyra.
"Benarkah?" tanya Alex sembari menatap wajah istrinya di tengah-tengah minimnya cahaya di dalam ruangan bioskop.
"Hmm..." Keyra menganggukan kepalanya. "Keyra pikir, Keyra gak bakalan bisa wujudin mimpi itu. Karena di usia Keyra yang hampir menginjak delapan belas tahun, Keyra gak pernah pacaran. Mungkin gak ada yang mau sama gadis jelek kayak Keyra," ucapnya dengan tersenyum kecut mengingat dirinya yang bisa di bilang tak pernah dekat dengan seorang pria.
__ADS_1
"Heii... Siapa yang bilang kamu jelek?" tanya Alex tak suka dengan ucapan istrinya itu. "Kamu itu cantik Yang, sangat cantik. Bahkan kamu gadis tercantik yang hadir di hidup kakak."
"Jangan bohong deh kak. Mana mungkin Keyra gadis tercantik."
"Itu memang kenyataan sayangku. Kakak berani bersumpah jika yang kakak ucapkan itu sebuah kebenaran," ucap Alex dengan sangat serius.
Bukankah cantik itu relatif? Jadi Alex berkata jujur 'kan, jika dirinya mengatakan istrinya adalah gadis tercantik yang pernah dia temui di dunia ini.
"Baiklah Keyra percaya," ucap Keyra yang mengendurkan belitannya di lengan Alex. "Terimakasih udah mau nerima Keyra jadi pasangan kakak," ucap Keyra dengan pandangan fokus menatap kedua mata suaminya.
Alex menganggukan kepalanya. "Aku Kim Alexander akan selalu ada disisi Keyra Luvhina Salsabila. Kemarin, sekarang dan selamanya," ucap Alex dengan bersungguh-sungguh.
Hingga detik selanjutnya sebuah ciuman mendarat di bibir Keyra, ciuman yang sangat lembut dan mesra. Hingga detik selanjutnya Keyra justru larut dalam suasana mesra yang di bangun oleh suaminya. Bahkan dia memberanikan diri untuk membalas ciuman suaminya itu.
Dan pada akhirnya kemesraan mereka berakhir saat lampu di dalam ruang bioskop kembali menyala. Hingga membuat kemesraan mereka dilihat oleh beberapa orang.
"Kami suami istri! Kami bebas melakukan apapun dan dimanapun," sahut Alex yang sebenarnya juga merasa malu karena ketahuan melakukan hal mesum di tempat umum. Namun dia juga harus membela harga dirinya, apalagi saat ini mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja di gerebek dan menjadi tontonan banyak orang.
"Tapi setidaknya kalian tahu tempat!" sahut salah satu dari mereka sebelum akhirnya berbondong-bondong keluar karena film yang mereka tonton memang sudah berakhir.
"Sayang udah sepi gak ada orang. Ayo kita keluar!" ajak Alex.
Keyra memberanikan diri mengangkat wajahnya dari dada Alex. Lalu mengintip dan mengawasi setiap sisi ruangan bioskop yang memang sudah kosong.
"Beneran udah gak ada?" tanya Keyra memastikan.
"Iya sayang. Ayo kita pulang. Ini udah jam sembilan lebih. Takutnya mommy nungguin kita pulang," ucap Alex yang memang sudah kembali kerumah sejak semalam.
__ADS_1
~
"Mbak, mbak..... Bangun mbak!" Seorang pelayan menggoyangkan bahu Zea yang saat ini sedang tertidur dengan wajah yang dia sembunyikan di antara dua lengannya.
"Eugh...." Zea merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Beberapa kali dia mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan itu.
"Kenapa mbak? Calon suami saya udah dateng?" tanya Zea sesaat setelah mengimpulkan setengah kesadarannya.
"Belum mbak!" jawab pelayan itu.
"Trus ngapain bangunin saya. Saya ngantuk," ucap Zea kembali mencari posisi nyaman. "Nanti kalau calon suami saya udah dateng, baru kamu bangunin saya," sambung Zea.
"Tapi mbak, ini restoran sudah mau tutup. Bahkan setengah jam lagi mall ini juga tutup," ucap pelayan itu hingga membuat kesadaran Zea kembali dengan sempurna.
"Hah, seriusan?" tanya Zea sembari mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Dan benar saja. Hanya tinggal dirinya saja pelangan yang masih berada di restoran itu.
"Iya mbak," jawab pelayan itu. "Jadi gimana mbak pembayaran untuk makanan yang mbak dan teman-teman mbak pesan tadi?"
"Tunggu bentar lagi deh mbak. Calon suami saya ada di mall ini kok. Dia lagi nonton," ucap Zea mencoba bersabar menunggu kedatangan Alex. Apalagi pria itu sudah memberi tahu jika dia akan datang kembali ke restoran ini.
"Bioskop disini juga sudah tutup mbak. Bahkan sejak setengah jam yang lalu. Jadi lebih baik mbak segera bayar sekarang. Karena kami tak punya waktu untuk menunggu lagi," ucap pelayan itu dengan ekspresi tak seramah sebelumnya.
"Sabar dong mbak," sentak Zea. "Saya juga nunggu calon suami saya. Karena dia yang bakalan bayarin semuanya. Lagian saya juga gak akan kabur," ucapnya dengan ketus.
"Tapi mbak kita sudah mau tutup. Jadi tolong kerja samanya. Mbak bisa hubungi calon suami mbak dan minta calon suami mbak segera kemari," ucap pelayan yang tak lagi memberi toleransi.
__ADS_1
"Iya, iya. Saya telfon ini," sahut Zea sembari melakukan panggilan ke nomor Alex.