She'S Mine

She'S Mine
Kondisi Zea


__ADS_3

Alex menatap iba pada Zea sembari menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Enggak Zee enggak, kaki lo bakalan baik-baik aja," ucap Alex mencoba menenangkan.


"Lo salah Lex. Kaki gue ini gak ada gunanya lagi Lex. Gak ada." Zea berkata dengan kedua tangan yang hampir memukul kakinya yang terluka. Namun dengan cepat Alex menahan tangan Zea.


"Jangan kayak gini Zee! Gue yakin kaki lo bakalan sembuh kayak dulu lagi."


"Sekarang gue cacat Lex, cacat," teriak Zea dengan wajah frustasi bercampur air mata.


Alex yang tak tega pun langsung memeluk Zea. Dia dapat merasakan tubuh Zea yang bergetar karena tangisannya. Dan dengan perlahan Alex mengusap punggung Zea. Berharap dengan cara itu dapat sedikit menenangkan gadis di pelukannya.


"Dengan kaki gue yang gak guna ini, gue gak bisa raih impian gue jadi model. Lo tahu kan Lex cita-cita gue selama ini?" Alex menganggukan kepalanya. Dulu saat mereka dekat, Zea pernah memang bercerita tentang mimpi dan cita-citanya pada Alex.


"Lo harus yakin Zee, kalau kaki kamu bakalan baik-baik aja. Lo bisa raih impian lo lagi. Lo bakalan jadi model seperti yang lo cita-citain," ujar Alex masih dengan tangan yang terus mengusap punggung Zea.


"Tapi kaki gue gak baik-baik aja Lex. Gue gak bisa jadi model lagi. Bahkan dengan kaki gue yang kayak gini, gak bakalan ada lagi cowok yang mau sama gue. Gue bakalan sendirian seumur hidup gue Lex. Gue bakal sendirian," ujar Zea dengan suara yang semakin melemah.


"Gue bakalan selalu ada buat lo Zee. Gue gak akan biarin lo sendirian," sahut Alex yang merasa semakin bersalah. Andai saja Zea tak menolongnya, mungkin dirinya lah yang akan meraskan apa yang Zea rasakan saat ini.


"Itu gak mungkin Lex. Gak mungkin! Lo gak bakalan mungkin selalu ada buat gue. Lo punya masa depan lo sendiri sama pasangan lo nanti. Dan itu artinya gue bakalan selalu sendiri. Gue gak mau Lex. Gue gak mau sendirian. Lebih baik gue mati aja. Lagi pula sekarang udah gak ada gunanya gue hidup. Masa depan gue udah ancur," ucap Zea yang kini mulai meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Alex.


"Enggak Zee enggak. Please lo jangan ngomong gini Zee. Gue yakin kaki lo akan sembuh seperti dulu lagi," ucap Alex semakin mengeratkan pelukannya. "Gue bakalan bakalan lakuin apapun asalkan kamu bisa jalan seperti semula."


"Lo bisa ngomong gitu karena lo gak jadi gue Lex. Lo enak masih punya dua kaki yang semuanya berfungi dengan sempurna," sahut Zea penuh emosi. "Sedangkan gua? Kaki gue yang normal cuma satu Lex cuma satu!" ucap Zea dengan berteriak.


"Coba lo bayangin jadi gue! Bayangin hidup lo bakalan sendirian dan kesepian karena gak bakalan ada lagi yang mau deketin lo bakan jadiin lo pasangan. Bayangin Lex. Bayangin gimana rasanya!" Zea berkata dengan air mata yang kembali membanjiri kedua pipinya.

__ADS_1


"Kalaupun lo beneran gak bisa jalan lagi. Gue bakalan selalu ada buat lo Zee. Gue gak bakalan pernah biarin lo sendirian ataupun kesepian. Dan gue bakalan jadi pasangan lo," sahut Alex dengan spontan.


"Lo beneran mau jadi pasangan gue Lex? Lo gak bakalan ninggalin gue?" tanya Zea mencoba mengurai pelukannya.


"Hmm... iya. Jadi lo jangan takut sendirian lagi Zee. Karena gue bakalan selalu ada buat lo!" Alex menjawab sembari mengurai pelukannya pada Zea.


"Janji lo bakalan jadi pasangan gue?" tanya Zea dengan pandangan fokus menatap kedua mata Alex.


"Kalau kaki lo gak bisa kembali seperti dulu lagi, gue janji bakalan jadi pasangan lo. Biar gue bisa jagain lo terus," ucap Alex. Dia berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Selain karena takut Zea bunuh diri, Alex juga merasa yang terjadi pada Zea karena dirinyalah penyebabnya. Hingga Alex merasa harus bertanggung jawab sepenuhnya.


"Makasih Lex. Dan gue pegang janji lo!" ucap Zea sembari memeluk Alex.


'Maafin gue Zee. Lo kayak gini karena gue. Dan gue berharap semoga kaki lo baik-baik aja,' batin Alex.


Zea baru saja di bawa masuk ke dalam ruang radiologi untuk pemeriksaan lebih lanjut agar dokter dapat mengetahui penyebab kaki kiri Zea tak bisa di gerakan.


"Kikim...." Dad Kim berjalan mendekat ke arah putranya yang saat ini duduk tak jauh dari ruang radiologi.


Alex mengangkat kepalanya yang sedang menunduk. "Dad....."


"Kamu beneran gak pa-pa?" tanya Dad Kim begitu mendudukan tubuhnya di samping putranya.


"Iya dad. Alex gak pa-pa," jawab Alex. "Tapi Zea....."


"Siapa Zea?" Dad Kim kembali bertanya.

__ADS_1


"Dia yang nolongin Alex."


Dad Kim menganggukan kepalanya. Karena sedikit banyak Dad Kim sudah mengetahui kronologi kejadian dari Hiro. "Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Kaki Zea gak bisa di gerakin Dad. Bahkan mati rasa," ujar Alex lirih.


"Bagaimana bisa?" Dad Kim membulatkan mata seolah tak percaya. Apalagi Hiro mengatakan jika ini bukanlah kecelakaan berat. Lalu bagaimana bisa Alex berkata jika kecelakaan itu menyebabkan luka separah ini?


"Alex juga gak tau Dad. Sekarang dokter lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui pasti penyebab Kaki Zea tak bisa di gerakan," ucap Alex menjelaskan. "Alex takut Dad. Alex takut luka Zea parah. Apalagi Zea terluka gini karena nolongin Alex."


"Kamu tenang dulu Kim. Dad yakin dia akan baik-baik aja. Dad akan lakukan pengobatan apapun agar gadis itu sembuh dan bisa berjalan normal seperti dulu lagi," ucap Dad Kim memcoba menenangkan sang putra yang terlihat jelas kini sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Thanks Dad." Alex memeluk Dad Kim. Alex merasa sangat bersyukur memiliki ayah yang selalu ada untuknya.


Setelah pemeriksaan menyeluruh pada Zea, kini Alex dan Dad Kim sudah berada di ruang dokter yang menangani Zea.


"Jadi bagaimana hasilnya dok?" tanya Alex tak sabar.


Terdengar helaan nafas berat sebelum dokter itu menjawab pertanyaan Alex. "Kami sudah melalukan berbagai macam pemeriksaan pada kaki pasien. Dan semua hasilnya cukup bagus. Tak ada yang perlu di khawatirkan."


"Lalu kenapa kaki Zea gak bisa di gerakin dok? Bahkan Zea bilang dia tak merasakan apapun."


"Jujur saja ini sesuatu yang belum pernah terjadi pada pasien-pasien saya sebelumnya. Ini termasuk hal langka. Karena dari hasil pemeriksaan semuanya baik, hanya ada luka sobekan yang tak begitu parah," ucap dokter menjelaskan. "Bahkan kami sudah mengulang dua kali pemeriksaan rontgen, namun hasilnya tetap sama. Semua normal dan gak ada masalah serius dengan kaki pasien."


"Maaf dok, tapi apakah alat pemeriksaan di sini sedang tidak ada kerusakan?" tanya Dad Kim dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2