
Mendengar pertartanyaan dari dad Kim membuat dokter itu menatap ke arah pria paruh baya itu sembari tersenyum hangat.
"Kami sangat yakin jika peralatan medis kami berfungsi dengan seharusnya. Apalagi pihak rumah sakit baru memperbaharuinya sebulan terakhir. Jadi kami bisa memastikan jika tak ada kesalalahan dalam pemeriksaan kali ini," jawab dokter itu menjelaskan. "Jika tuan masih meragukan hasil pemeriksaan kami, kami sarankan untuk mencoba cek kembali ke rumah sakit lain untuk lebih memastikan," sambung dokter itu memberi saran.
Dad Kim menatap sekilas ke arah Alex lalu kembali menatap dokter itu sambil menganggukan kepalanya. "Baiklah dok. Kami akan memastikan kondisi Zea di rumah sakit lain," ucap Dad Kim memutuskan. "Kalau begitu kami permisi dok. Dan terimakasih banyak."
Keduanya pun keluar dari ruang dokter dengan wajah Alex yang masih terlihat bingung. 'Apa mungkin Zee bohongin gue? Tapi untuk apa? Buakan kah gak ada untungnya dia bohongin gue?' batin Alex terus bertanya-tanya.
"Kamu gak perlu khawatir Kim, Daddy akan lakukan apapun agar gadis yang sudah menolongmu kembali sehat seperti semula." Alex menatap ke arah Dad Kim lalu menganggukan kepalanya.
"Kita liat keadaan dia sekarang. Daddy pengen ketemu gadis yang udah nolongin kamu," ucap Dad Kim dan lagi-lagi di balas anggukan kepala oleh Alex.
Begitu masuk kedalam ruang inap. Alex langsung berlari saat melihat Zea kini sedang memegang pisau buah.
"Zee, apa yang mau lo lakuin?" Alex merebut pisau buah itu dan membuangnya jauh ke sudut ruangan.
"Gue mau mati aja Lex, mau mati," ucap Zea. "Gak ada yang peduli lagi sama gue. Semua orang ninggalin gue," uacp Zea dengan diiringi isakan menyayat hati.
"Ssssttt... Jangan pernah berfikir buat kayak gitu lagi. Gue ada di sini buat lo Zee. Gue gak akan ninggalin lo sendirian." Alex berkata sembari memeluk tubuh Zea. Rasanya tak tega melihat keadaan Zea saat ini.
Alex tahu jika saat ini Zea hanya memiliki seorang ayah. Dan Zea pernah berkata jika beberapa bilan yang laku ayahnya pergi meninggalkan Zea begitu saja. Hingga saat ini Zea hanya tinggal sebatang kara.
"Lo bohong Lex. Lo bohong. Lo pasti bakalan ninggalin gue kayak bokap gue. Kalian sama aja. Gak ada yang peduli sama gue."
"Gue udah janji sama lo, kalau gue gak bakalan ninggalin elo. Dan gue bakalan nepatin janji gue."
Sedangkan Dad Kim sejak tadi hanya memperhatikan Alex dan Zea dari ambang pintu. Jujur saja sejak berbicara dengan dokter tadi, Dad Kim merasa ada sesuatu yang janggal. Namun Dad Kim yang tak mau mencurigai orang sudah menolong putranya, memilih untuk berfikir positif pada Zea.
"Dad sini!" pinta Alex sesaat setelah berhasil menenangkan Zea.
"Siapa?" tanya Zea berbisik.
__ADS_1
"Bokap gue," jawab Alex tersenyum sembari mengusap pipi Zea yang basah.
"Hallo Zea. Saya Daddy Alex," ucap Dad Kim memperkenalkan diri. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Masih seperti tadi om. Kaki Zea yang terluka gak bisa di gerakin. Bahkan mati rasa," jawab Zea dengan wajah sendunya.
"Saya akan bantu pengobatan kamu sampai sembuh. Dan rencananya saya akan memindahkan kamu ke salah satu rumah sakit terbaik di Singapura," ucap Dad Kim.
Zea diam membeku. Namun disisi lain Alex terlihat sangat senang. "Daddy beneran mau pindahin Zea ke Singapura?"
"Ya. Walaupun di Indonesia peralatan medis sudah sangat canggih, namun tak ada salahnya kan kita coba di rumah sakit sana," sahut Dad Kim. "Daddy pikir mungkin Zea lebih cocok berobat disana. Dan Dad berharap dengan cara itu bisa mempercepat kesembuhannya."
"Gimana Zee? Lo setuju kan? Gue janji bakalan temenin lo saat berobat di sana," ucap Alex penuh semangat sembari menatap Zea dengan penuh harap.
"A-aku......."
"Kim, Dad keluar dulu. Ini Genta telfon," sela Dad Kim sembari menunjuk ponsel di tangannya.
"Lex... Gue, emm... maaf, tapi gue gak mau berobat kesana Lex. Gue mau berobat disini aja," jawab Zea penuh permohonan.
"Tapi lo dengerkan kata daddy tadi? Mungkin lo lebih cocok dengan pengobatan disana. Jadi menurut gue lebih baik kita coba berobat disana. Lo mau kan?" tanya Alex dengan sedikit bujukan.
Zea menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau Lex. Gue mau di sini aja. Please jangan paksa gue."
"Tapi Zee...."
"Please Lex. Hargai keputusan gue," pinta Zea penuh permohonan.
"Tapi ini demi kesembuhan lo Zee."
"Gue tahu Lex. Gue tau lo peduli sama gue. Tapi kali ini aja tolong dengerin permintaan gue. Gue cuma mau di rawat disini. Gak di singapur ataupun rumah sakit lain," sahut Zea keukeuh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Tapi Daddy......"
"Please bujuk bokap lo demi gue. Lo gak mau kan pesikis gue tertekan?" tanya Zea dengan ekspresi memelas.
Alex menghela nafas berat. Tentu saja dia tak mau pesikis Zea tertekan. Bisa-bisa gadis itu melakukan percoban bunuh diri lagi.
"Baiklah. Gue bakalan ngomong sama bokap gue biar lo tetap di rumah sakit ini," ucap Alex mengalah. "Kalau gitu gue keluar dulu."
Alex berdiri di sisi pintu ruang inap sembari menatap Dad Kim yang terlihat sedang berbicara serius dengan papi Genta. Hingga setengah jam berlalu Dad Kim baru mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kamu disini Kim?" tanya Dad Kim yang baru menyadari keberadaan Alex.
"Iya Dad. Ada yang mau Alex bicarain," jawab Alex dan mendudukan tubuhnya di kursi besi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bicara apa?" Dad Kim ikut duduk tepat di samping putranya.
"Zea gak mau di pindahin ke rumah sakit di Singapur," ucap Alex memulai pembicaraan mereka.
"Kenapa?" Dad Kim mengerutkan dahinya heran.
"Entahlah." Alex menjawab sembari mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia lebih nyaman di rumah sakit ini."
"Daddy boleh berpendapat sesuatu?" tanya Dad Kim pada sang putra.
"Pendapat apa Dad?" Alex menjawab dengan pandangan mata lurus kedepan. Jujur saja dia bingung harus bagaimana lagi saat ini agar Zea bisa kembali berjalan dengan normal.
"Entah kenapa Dad ngerasa gadis itu sedang berbohong," ucap Dad Kim penuh kehati-hatian.
Seketika itu juga Alex menatap ke arah sang Daddy. "Maksud Daddy apa?" tanya Alex tak mengerti.
"Dokter bilang semuanya baik-baik saja. Tapi gadis itu berkata kakinya gak bisa di gerakin bahkan mati rasa," ujar Dad Kim. "Dan saat kita memberi solusi agar dia mau berobat ke rumah sakit di Singapura, dia justru menolaknya. Apa kamu gak merasa ada yang mencurigakan?"
__ADS_1