
Ayura dan Ello langsung berjalan mendekat ke arah meja makan dimana Alex terlihat sangat telaten menyuapi istrinya.
"Pagi mom," sapa Ello yang langsung mencium punggung tangan mom Lisa dan diikuti oleh Ayura.
"Tumben pagi-pagi udah kesini Ra." Keyra bertanya sembari menatap heran ke arah Ayura yang saat ini sudah mendudukan tubuhnya di sampingnya.
"Tadi pagi mommy telfon. Katanya semalem kak Key masuk rumah sakit. Jadi pagi-pagi Ayura kesini buat liat keadaan kak Keyra. Soalnya mommy bilang kak Key pulang pagi ini," jawab Ayura panjang lebar. Dan di balas anggukan samar oleh Keyra.
"Ya ampun kak, ini kepala kakak sampe di perban begini? Emang lukanya parah banget ya?" tanya Ayura yang saat ini menatap ngilu kepala Keyra yang di balut perban.
"Gak kok Ra. Ini gak separah yang kamu bayangin," jawab Keyra sembari memegang perban di kepalanya.
"Tetep aja kak Key terluka karena ulah nenek lampir itu," sahut Ayura kesal. "Ini semua semua gara-gara kakak dan kak Alex," sambung Ayura sembari menatap tajam ke arah Ello dan Alex secara bergantian.
"Kok jadi nyalahin kita," sahut Alex dan Ello hampir bersamaan. Bahkan keduanya saling pandang karena tak mengerti kenapa mereka berdua bisa di salahkan atas apa yang terjadi pada Keyra.
"Ya iya lah gara-gara kakak berdua. Kan kak Ello yang punya ide buat ngerjain neneh sihir itu dulu sebelum mengungkap semuanya. Dan kak Alex......" Ayura menatap ke arah Alex. "Dan kak Alex justru menyetujui ide gak guna kak Ello," sambung Ayura dengan tatapan kesalnya. Apalagi akibat ulah dua pria ini, Keyra harus terluka hingga kepalanya di perban. Sungguh Ayura tak tega melihatnya. Dia bahkan tak bisa membayangkan seandainya berada di posisi Keyra saat ini.
"Yang.. kok kamu jadi nyalahin kakak sih. Kalau kamu gak setuju dengan ide kakak, harusnya sejak awal kamu ngasih tau kakaknya. Bukannya malah marahin kakak kayak gini," ucap Ello membela diri. Dia tak mau disalahkan begitu saja atas ide untuk mengerjai Zea lebih dahulu, karena Ayura sendiri sudah tau sejak awal tentang ide itu. Lagi pula Ello juga tak menyangka jika dengan mengulur waktu untuk mengungkap kebenaran justru membuat Keyra terluka.
"Ohh... Jadi kakak nyalahin Ayura?" Ayura bertanya dengan diiringi tatapan kesal ke arah suaminya.
Ello tersenyum kaku. "Bukan gitu sayang. Bukan," jawab Ello sembari mengusap lembut bahu istrinya. "Kamu gak mungkin salah. Kamu bener, selalu bener. Kalaupun ada yang harus di salahkan, itu bukan istri kakak yang cantik ini. Tapi Alex," sambung Ello. Jujur dia takut istrinya marah dan berakhir dengan nanti malam dirinya tak mendapatkan jatah iya iya.
__ADS_1
"Kok lo jadi nyalahin gue." Alex menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung. Kenapa jadi dirinya yang di salahkan? Dia kan hanya mengikuti saran Ello.
"Iya elo lah. Kenapa juga lo mau nerima ide dari gue buat ngerjain mak lampir itu lebih dulu. Dasar gak punya pendirian," balas Ello sarkas.
Alex membelalakan matanya tak percaya. Bisa-bisanya sahabatnya itu berucap dengan seenak jidatnya.
"Udah kalian ini malah debat," sela mom Lisa yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa dua gelas jus apel untuk Ello dan Ayura.
"Kalian berdua udah sarapan belum? Kalau belum ayo ikut sarapan," ajak mom Lisa yang sudah mendudukan tubuhnya di kursi.
"Belum/Udah," jawab Ayura dan Ello bersamaan.
Ello menatap heran ke arah istrinya. Bukankah sebelum kesini mereka sudah makan nasi goreng buatan bi Sari? Lalu kenapa istrinya berkata jika belum sarapan?
"Yang bukannya tadi kita udah sarapan?" tanya Ello berbisik.
Ello tersenyum saat melihat wajah memelas istrinya. Sebegitu inginnya kah Ayura makan bubur abalone, hingga dia rela berpura-pura belum sarapan. "Kenapa harus berbohong? Mom Lisa tak akan melarang kamu makan bubur abalone buatannya," ucap Ello masih dengan berbisik.
"Ayura malu kak. Masak kecil-kecil makannya banyak," jawab Ayura dengan berbisik juga. Walaupun kehamilannya hampir berjalan enam bulan, nyatanya tubuh Ayura tetap seperti dulu. Hanya perutnya saja yang semakin membesar.
"Tapikan kamu lagi hamil Yang. Jadi gak pa-pa kalau makan sering-sering. Karena ada dua nyawa yang membutuhkan asupan makanan."
"Tetep aja Ayura malu kak."
__ADS_1
"Ehem...." Suara deheman menghentika perdebatan antara Ello dan Ayura. "Kalian itu sangat tidak sopan. Bisik-bisik di depan kita. Kalian ngomongin kita ya?" tanya Alex yang entah kenapa tiba-tiba berbicara dengan formal pada sepasang suami istri di hadapannya.
"Enggak. Kita gak ngomongin kalian kok," bantah Ello dan Ayura.
"Kalian ini kalau kumpul ribut mulu," sela mom Lisa mulai pusing melihat perdebatan unfaedah di hadapannya.
"Alex duluan mom," sahut Ello.
"Enak aja. Ello mom," bantah Alex yang tak terima lagi-lagi di salahkan.
Mom Lisa menggelengkan kepalanya samar. Sejak kecil Ello, Alex dan Mike memang selalu berdebat tak penting. Namun persahabatan mereka tak perlu di ragukan lagi. Karena pada dasarnya mereka sudah seperti saudara kandung. Kalau dekat akan selalu bertengkar namun kalau berjauhan mereka akan saling rindu walaupun mereka tak pernah mengungkapkannya. "Kalian berdua sama aja."
"Tidak. Kita beda mom," sahut Alex tak setuju di samakan dengan sahabat lucnatnya.
"Iya kita beda. Ello lebih baik dari Alex," sela Ello dengan pedenya.
"Enak aja. Gue lebih baik dari elo. Gue juga tampan."
"Oke lo boleh lebih tampan sedikit dari gue tapi gue lebih mapan."
"Gue juga bisa lebih map..awww.... sakit Yang," rengek Alex saat mendapat cubitan dari istrinya.
"Diem.."
__ADS_1
Ello tertawa terbahak saat melihat wajah memelas Alex. Namun tawa itu langsung musnah saat Ayura menatap tajam kearahnya. Dan dua pria beristri itu langsung terdiam dengan wajah memelasnya.
"Ckckck... dua putra mommy ternyata takut sama bininya," ledek mom Lisa.